
Pangeran Brendan masuk ke ruangan pasca Operasi untuk menemani istrinya yang masih dalam keadaan tidak sadar.
Ia pun memandang lekat wajah sang istri yang masih terpejam, kedua tangannya yang kecil tampak di infus dan di beri transfusi darah, membuat hati pangeran terasa sakit melihat nya.
''Bangun Ev...'' dengan menggenggam tangan kecil nan kurus itu.
Mata sang pangeran nampak berkaca kaca, mengingat perilaku jahat yang pernah ia lakukan kepada wanita yang telah menjadi istrinya tersebut.
Ia sungguh menyesali semuanya, dan berjanji mulai saat ini akan bersikap lebih baik lagi kepada istrinya tersebut.
Ia pun tampak mulai mengusap air mata yang perlahan turun dari pelupuk matanya, entah mengapa hatinya di rundung nestapa melihat keadaan sang istri yang begitu mengenaskan di matanya.
Tanpa di sadari ia pun terlelap dengan menyandarkan kepalanya di samping tempat tidur.
***
Beberapa jam kemudian.
Evina mulai membuka matanya, ia merasakan nyeri di sekujur tubuhnya, kedua tangannya seperti tidak dapat di gerakan karena mungkin efek obat bius yang belum menghilang sepenuhnya dari tubuhnya.
Ia menatap ke sekeliling ruangan, dan nampak terkejut melihat suaminya yang terpejam sambil menunggu dirinya di samping tempat tidurnya.
Ia pun mengira jika yang sedang tertidur dan menunggu dirinya adalah pangeran Arezz, sehingga jemari nya perlahan meraih Kepala nya lalu mengusap nya dengan lembut dan penuh perasaan.
Pangeran Brendan pun membuka kedua matanya saat tangan lembut Evina mengusap kepalanya.
Ia pun mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Evina.
''Kamu sudah bangun Ev...?''
Evina menghentikan gerakan tangannya seketika, ternyata yang berada di sampingnya adalah suaminya, bukan laki laki yang tadi sempat ia harapkan berada di sana.
''Sejak kapan kamu di sini?'' tanya Evina.
''Sejak kamu masuk Rumah Sakit, apakah kau tak ingat sedikit pun?''
Evina hanya menggelengkan kepalanya, ia merasa bersalah karena telah mengira suaminya sebagai orang lain, membayangkan wajah pangeran Arezz yang seharusnya sama sekali tidak boleh ia lakukan.
''Sebentar Ev, aku akan memanggil Dokter untuk memeriksa keadaan mu,'' bangkit dan berjalan keluar ruangan.
__ADS_1
Evina mengangguk lalu tersenyum.
Tak lama kemudian Dokter pun datang bersama perawat, mereka segera mengecek organ vital pasca operasi yang telah di terimanya.
Setelah memastikan jika keadaan Evina sudah benar benar membaik, Dokter pun akhirnya memperbolehkannya untuk dibawa ke ruang Rawat Inap.
***
''Bagaimana keadaan Evina? Sakti?''
Tanya Pangeran Arezz sesaat setelah dirinya bangun.
''Dia sudah dibawa ke ruangan rawat inap, Pangeran tidak usah cemas karena ada suaminya yang menjaga di sana.''
''Kau benar, seharusnya aku tidak terlalu mencemaskan dia, ada adikku yang sekarang berada di sisinya,'' dengan perasaan sedih.
Iya pun mencoba bangkit lalu duduk di atas tempat tidur, sekujur tubuhnya masih terasa lemas namun dia mencoba untuk bangun dan duduk bersandar bantal di belakang punggungnya.
Sakti mencoba untuk melarang nya bangun, namun sang pangeran memaksa dan akhirnya Sakti pun membantunya.
''Seharusnya aku berada di kota Barsom, aku harus segera kembali ke sana dan membantu para relawan,'' lirik sang pangeran.
''Aku tidak apa apa,'' sambil mencoba turun dari ranjang.
''Jangan pangeran, saya mohon,'' Sakti menghentikan.
''Tapi mereka semua sedang membutuhkan aku di sana.''
''Ada pangeran Brian dan juga Putri, para pengawal kerajaan juga banyak yang sedang membantu di sana, pangeran beristirahat lah dulu, saya mohon dengan sangat, pangeran harus menjaga tubuh yang sangat berharga ini,'' Sakti terlihat sangat cemas.
''Baiklah...! Maaf karena telah membuat mu khawatir,'' pangeran Arezz memandang wajah Sakti.
''Terima kasih karena telah mendengar ucapan saya.''
''Kau juga harus beristirahat, aku tahu tubuhmu sangat letih karena terus menjagaku sedari pagi.''
''Iya pangeran, saya juga akan beristirahat bersamamu di sini.''
***
__ADS_1
Satu Minggu kemudian.
Keadaan di tempat bercanda sudah mulai terkendali, karena pihak kerajaan yang dengan sigap segera memberi bantuan sehingga membuat para penduduk kota cepat bangkit dari ketepurukan.
Banyak dari mereka yang sudah kembali ke tempat tinggalnya ataupun ke tempat usahanya, untuk mulai merapikan dan membersihkan dari puing puing bangunan yang berserakan.
Sang Calon Raja masa depan pun sudah kembali ke kota Barsom untuk membantu proses pemulihan kota tersebut.
Satu persatu bangunan yang roboh mulai di perbaiki, meski kondisinya tak seindah dan sealami dulu lagi, namun itu semua sudah cukup bagi mereka untuk kembali mengais rezeki di tempat itu.
Bos Alberto merasa sangat senang karena cafe miliknya akhirnya bisa di perbaiki kembali, dengan di bantu dan di biayai oleh pihak kerajaan, hatinya sungguh sangat beruntung karena memiliki calon raja masa depan yang baik hati dan bertanggung jawab seperti pangeran Arezz.
''Terima kasih pangeran, berkat bantuan dari kerjaan, kami penduduk kota Barsom akhirnya bisa bangkit kembali dari keterpurukan,'' ujar Alberto kepada Pangeran Arezz yang saat ini sedang berdiri di sampingnya.
''Tak usah berterima kasih, itu sudah menjadi kewajiban ku untuk membantu rakyat yang sedang membutuhkan,'' tersenyum menatap Alberto.
''Bagaimana kondisi kakimu?'' tanya nya lagi kemudian.
''Sudah membaik pangeran, berkat bantuan darimu dan Evina waktu itu, akhirnya saya bisa selamat, jika tidak mungkin saya sudah benar benar terkubur di bawah puing puing cafe Monalisa ini.''
Pangeran tersenyum mengingat kembali kejadian itu.
''Bagaimana keadaan Evina?'' tanya Alberto.
''Entahlah, sekarang ada suaminya yang selalu mendampingi nya, jadi aku tidak terlalu memperhatikan keadaanya,'' pangeran Arezz menunduk tampak sedih.
''Maaf pangeran, saya tak bermaksud untuk mengusik luka di dalam hatimu.''
''Tak apa apa, tidak usah di fikirkan,'' dengan sedikit tersenyum.
**
Karena keadaan kota Barsom yang sudah mulai pulih, maka para pangeran, serta putri kembali ke istana.
Mereka semua mengakhiri dan telah berhasil menangani bencana besar yang telah menimpa kota Barsom, kota itu sekarang sedang menata kembali kota mereka, dan mencoba segera bangkit dari ketepurukan.
Seluruh penduduk tampak melambaikan tangan ketika rombongan mobil kerajaan mulai meninggalkan kota tersebut, mereka berteriak mengucapkan terima kasih sekeras kerasnya, bahkan tak sedikit dari yang merasa terharu dan menitikkan air mata saat rombongan mobil itu mulai berjalan menjauh sampai akhirnya tak terlihat lagi.
Seperti Alberto, ia nampak menangis tersedu, melihat pangeran Arezz orang yang terlah menyelamatkan hidupnya, benar benar pergi dari kota Barsom, Alberto berjanji, suatu saat nanti ia akan membalas jasa sang pangeran karena telah membuat nya masih bisa berdiri dengan tegak di cafe Monalisa.
__ADS_1
*****