
Sakti masih berdiri termenung saat Putri Elisa berjalan meninggalkannya, dirinya mencoba mencerna setiap perkataan yang di lontarkan dari bibir sang Putri.
Akhirnya ia pun kembali berjalan dengan wajah yang tampak sedang memikirkan sesuatu.
Sakti memang memiliki IQ yang tinggi, namun jika menyangkut urusan perempuan dirinya sama sekali terlihat bodoh, karena ia belum pernah merasakan yang namanya berpacaran apalagi mendekati seorang wanita, waktu yang ia miliki selama ini selalu dia habis kan untuk melayani Pangeran Arezz sebagai junjungannya.
Sementara itu Putri Elisa akhirnya sampai di tempat tujuannya, yaitu dapur istana, dirinya jauh jauh datang ke sana hanya untuk menemui pelayan wanita yang di sukai oleh kakaknya, pangeran Arezz.
Putri Elisa melihat Evina sedang membersihkan sayuran untuk di masakan oleh chef istana, kemudian ia pun menghampiri Evina.
''Hei kamu...'' ucap putri kepada Evina.
''Maksud putri saya?'' jawab Evina dengan menunjuk satu jarinya ke wajahnya sendiri.
Putri mengangguk.
Kemudian Evina pun berdiri dan berjalan menghampiri sang putri.
''Ada yang bisa saya bantu putri?'' ujar Evina yang sudah berdiri di hadapan putri Elisa.
''Bisakah kamu membawakan ku buah buahan seperti yang tadi kamu bawa ke kamar kakak ku?''
''Baik putri, saya akan segera mengantarkannya sekarang,'' jawab Evina dengan sedikit membungkuk.
Sang putri tampak menunggu Evina yang sedang menyiapkan buah buahan yang di pesannya, dirinya berdiri bersandar di tembok sambil membayangkan kembali pertemuannya dengan Sakti.
Wajah sang putri terlihat senyum senyum sendiri saat mengingat tatapan mata dan senyum manis Sakti yang tadi sempat di layangkan kepadanya.
Sampai akhirnya suara Evina yang tiba tiba terdengar di telinganya dan membuat semua lamunannya buyar.
''Buah buahan nya sudah siap putri,'' ucap Evina.
''Oh... ia baiklah, mari antar kan ke kamar ku,'' putri berjalan di depan Evina.
Sesampainya di kamar.
Putri mempersilahkan Evina duduk di kursi, namun Evina menolak dan memilih untuk duduk di lantai.
Namun sang putri memaksa hingga meraih tubuh Evina yang sudah berada di lantai untuk naik ke atas kursi.
__ADS_1
''Maaf putri, apakah pelayan seperti saya pantas untuk duduk berdampingan bersama putri?'' Evina tampak menunduk.
''Sudahlah, kamu bukan pelayan biasa, kamu adalah pelayan yang di cintai oleh kaka ku, pangeran Arezz, mungkin saja suatu saat nanti kau akan menjadi bagian dari keluarga ku, alias Kaka ipar,'' sang putri tersenyum.
Evina terlihat sangat terkejut mendengar ucapan Putri Elisa. Dari mana Putri tahu tentang kedekatannya dengan sang pangeran? apakah pangeran Arezz sendiri yang memberitahukan hal tersebut kepada adiknya ini, batin Evina berucap.
"Mohon maaf Putri, hubungan saya dengan pangeran tidak seperti yang putri bayangkan, saya memang mengenal beliau secara pribadi namun..." belum sempat Evina menyelesaikan ucapannya, tiba tiba pangeran Brendan masuk ke kamar putri tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Kaka, apaan sih, masuk ke kamar perempuan tidak ketuk pintu dahulu? bagaimana jika aku sedang berganti pakaian?" ucap sang putri dengan nada kesal.
Pangeran Brendan tidak menghiraukan ucapanya sang adik, mata nya hanya tertuju kepada Evina yang saat ini sedang duduk di samping adiknya.
"Sedang apa pelayan ini di sini?" tanya pangeran, lalu dirinya duduk tepat di samping Evina.
Evina merasa tidak nyaman karena Tubuhnya sedikit bersentuhan dengan pakaian yang di kenakan pangeran, sehingga ia pun sedikit menggeser posisi duduknya.
Putri Elisa tampak memperhatikan pandangan dari mata Kaka keduanya itu, saat tatapan mata sang Kaka hanya tertuju pada wajah cantik Evina, putri seolah mengerti jika Kaka keduanya juga seperti nya menyukai pelayan cantik yang saat ini sedang duduk di sampingnya.
"Oh ia... nama mu siapa, seperti nya kamu benar benar pelayan baru di istana ini?" tanya sang putri.
"Nama saya Evina putri," jawab Evina dengan menunduk.
"Sebenarnya ada apa Kaka kemari? apa Kaka tidak lihat jika dua orang perempuan sedang curhat masalah pribadi yang tak boleh di ketahui oleh kaum laki laki?" ujar Putri dengan nada ketus.
"Ya ampun Putri, sejak kapan kamu curhat dengan pelayan?" ujar pangeran masih dengan senyum nakalnya.
"Dia bukan pelayan biasa, dia pelayan yang sangat istimewa," ujar sang putri.
''Benar sekali, dia pelayan yang sangat istimewa, karena mungkin saja suatu saat nanti dia akan mendampingi ku sebagai seorang Ratu,'' ujar pangeran Brendan, lalu pergi begitu saja dari hadapan mereka berdua.
Perkataan yang baru saja di ucapkan oleh pangeran Brendan sukses membuat kedua wanita yang duduk di sana terkejut, keduanya saling melirik satu sama lain dengan wajah heran.
''Sepetinya ada cinta segitiga antara kedua kakakku, ini benar benar gawat, jika tebakan ku benar, maka akan Ade pertumpahan darah di istana ini, kedua pangeran yang sama sama menginginkan Tahta dan sama sama mencintai wanita yang sama.''
Ucap sang putri di dalam hatinya.
Sementara itu Evina hanya terdiam, dirinya tidak menyangka jika pangeran Brendan akan mengucapkan hal yang tidak masuk akal seperti itu.
''Sepertinya mulai saat ini kau harus sedikit berhati hati dengan kakakku yang satu ini, dia tipe orang yang akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.''
__ADS_1
''Aku pernah mendengar peringatan itu dari seseorang,'' jawab Evina dengan sedikit tersenyum.
''Oh ya...? siapa yang mengatakannya? apa kakakku, pangeran Arezz?''
Evina menggelengkan kepalnya.
''Lalu siapa jika bukan kakakku yang mengatakannya?''
''Pengawal pribadinya,'' jawab Evina singkat.
''Maksudmu Sakti?"
Evina mengangguk.
"Memang nya kamu mengenal Sakti secara pribadi juga?"
"Iya... saya mengenal dia sewaktu mereka berdua masih mengasingkan diri dari istana."
"Benarkah? jadi kamu mengenal kakakku dan Sakti dari semenjak mereka berdua tinggal di luar istana?"
Evina mengangguk lalu tersenyum.
"Wah benar benar tidak di sangka."
"Mohon maaf Putri, sepertinya saya harus segera kembali ke dapur istana, karena di sana masih banyak pekerjaan yang harus segera saya selesaikan," ucap Evina.
"Baiklah, maaf karena saya sudah mengganggu waktu kerjamu."
"Tidak sama sekali putri, saya sangat senang bisa berbincang dengan putri."
"Benarkah? jika begitu bolehkah aku memanggil mu kembali untuk sekedar menemani minum kopi, sejujurnya aku merasa kesepian tinggal di istana yang besar ini, tidak ada satu pun orang yang bisa aku ajak bicara, ketiga kakakku selalu di sibukkan dengan urusan mereka masing masing," ujar Putri Elisa yang tampak bersedih.
"Tentu saja putri, saya akan sangat senang sekali," jawab Evina dengan tersenyum.
"Baiklah, sekarang kamu boleh kembali ke tempat kerjamu, aku akan memanggilmu lagi nanti,'' ujar Putri dengan tersenyum ceria.
"Baik putri, saya permisi," Evina membungkuk lalu berbalik dan pergi dari kamar sang putri.
Putri tersenyum melihat kepergian Evina, dirinya merasa jika istana sebentar lagi akan di hadapkan pada Masalah yang sangat besar, kedua kakak laki lakinya sedang bersaing untuk mendapatkan tahta dan juga mendapatkan satu wanita yang sama.
__ADS_1
*****