
Ratu Emillia berjalan tergesa menuju Aula istana, ia ingin segera menemui suaminya yang sedang duduk di singgasana, setelah mendengar kabar angin yang cepat menyebar di seisi istana membuatnya ingin segera bertanya, tentang kabar yang sudah banyak di bicarakan oleh semua penghuni istana.
Raja Arthur yang sudah melihat sang istri berjalan dari kejauhan, melihat raut wajah nya yang terlihat kesal membuat sang raja sudah dapat menebak jika keputusan yang ia buat sudah terdengar oleh telinga sang Ratu Emillia.
Dengan nafas yang tak beraturan, akhirnya Ratu sampai di hadapan suaminya, setelah mengatur helaan nafas dari paru paru nya lalu keluar dari bibir sensualnya, barulah sang Ratu mulai berujar.
''Saya di sini Baginda,'' Ratu memberi salam.
''Ada apa kemari? kau bisa menungguku ku di kediamanku, kenapa harus jauh jauh datang kesini?'' tanya Raja Arthur.
''Mohon maaf Baginda, jika kedatangan saya mengejutkan Baginda, ada sesuatu yang harus segera saya tanyakan.''
''Apa itu?''
Ratu terdiam sejenak, ia mencoba mengatur nafas serta merangkai kata supaya ucapannya tidak menyinggung sang Raja.
Meski yang sedang duduk di singgasana itu adalah suaminya, namun jika beliau sudah duduk di kursi singgasana, suaminya itu tetaplah seorang Raja yang harus ia hormati meski statusnya adalah Ratu negeri ini.
''Mohon maaf Baginda, harap tarik kembali titah Baginda tentang penyerahan tahta kepada Pangeran Arezz, serta rencana pernikahan Pangeran Brendan dengan seorang pelayan rendahan itu,'' Sang Ratu tampak sedikit membungkukkan tubuhnya.
Raja hanya terdiam, memandang Ratu Emillia dari atas singgasana.
''Hamba sebagai Ibu dari pangeran Brendan sangat menentang pernikahan itu yang mulia, putra saya berhak untuk mendapatkan pendamping hidup dari wanita bangsawan yang sederajat dengan dirinya,'' Ratu meneruskan ucapannya.
''Tapi putra kesayanganmu telah melakukan perbuatan tak senonoh kepada wanita tersebut. Putra yang kau banggakan itu sudah melakukan tindakan yang tak bermoral yang telah mencoreng nama baiknya sebagai seorang pangeran. Aku sebagai ayah kandung nya sendiri merasa malu mempunyai anak bejat seperti dia,'' Raja berbicara lalu memalingkan muka.
''Hamba sebagai ibunya mohon maaf atas kelakuan pangeran Brendan, apa yang ia lakukan kepada wanita itu hanyalah nafsu sesaat dan sebuah kesalahan yang tidak terlalu fatal. Bukankah sudah sepantasnya seorang pelayan melayani dan mematuhi junjungannya?'' tidak merasa iba atau pun kasihan kepada wanita yang sedang di bicarakan nya.
Raja tersenyum sinis, dirinya tahu betul jika putra keduanya menuruni sifat angkuh dan sombong dari Ratu Emillia yang sekarang sedang berdiri di hadapannya.
''Lalu mau mu apa? apa kau mau putra mu menjadi pengecut dan lari tanggung jawabnya sebagai seorang laki laki?''
Ratu hanya terdiam.
''Apa kau tidak merasa iba sama sekali pada wanita yang bernama Evina yang telah di ambil kesuciannya secara paksa? dan sekarang wanita itu sedang terbaring lemah di Rumah Sakit?''
__ADS_1
Sang Ratu masih terdiam.
''Sebagai sesama wanita seharusnya kau bisa merasakan kesakitan yang teramat dalam jika berada di posisi wanita itu? atau, kau tidak merasa simpati sama sekali dengan dia? dimana kebajikan mu sebagai Ratu negeri ini yang merupakan ibu dari setiap dara yang tinggal di kerajaan Undeland?''
Sang Ratu tidak dapat berkutik.
Ucapan sang Raja terasa sangat menohok di hatinya, hingga mulut yang semula berbicara dengan lantang melontarkan setiap ucapan, kini seolah terkunci rapat.
Ratu Emillia pun membungkuk lalu berbalik, meninggalkan sang Raja Arthur dengan perasaan kesal.
Raja Arthur yang melihat kepergian istri nya begitu saja, hanya bisa menghela nafas panjang, baginya keputusan yang sudah ia buat sudah bersifat mutlak, tak ada yang akan bisa merubahnya, meski pun orang yang bersangkutan nya sekalipun.
***
Setelah dari Aula istana, Ratu Emillia pergi ke kamar putra kesayangannya, dengan wajah geram dan tangan yang kepalkan, Ratu pun masuk ke dalam kamar pangeran tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Cekrek...
Ratu membuka pintu lalu masuk ke dalam, ia berteriak memanggil putranya kesayangan.
''Dimana kamu anak tak tahu diri?'' tambahnya lagi.
Tak lama kemudian sang putra yang di panggil pun keluar dari kamar mandi, dengan mengenakan kimono serta handuk kecil yang sedang ia usapnya di rambut nya yang terlihat basah.
''Ada apa ibu kemari?'' ujar sang pangeran dengan polosnya.
Ratu berjalan ke arah pangeran yang berdiri seolah tidak sedang terjadi apa pun.
Kemudian...
Plaak....
Ratu Emilia melayangkan tamparan yang sangat keras ke pipi kiri putranya, yang sontak membuat Pangeran benar-benar terkejut dan meringis kesakitan.
Arghh...
__ADS_1
Pangeran meringis kesakitan seraya mengusap pipi kirinya.
''Ada apa bu? ibu tak lihat luka bekas pukulan Kaka ku saja masih belum kering? sekarang di tambah dengan tamparan dari ibu, apa ibu pikir rasanya tak sakit,'' pangeran terlihat marah.
''Kamu pantas mendapatkan nya, kelakuan mu benar benar membuat ibu mati Kutu di hadapan ayah mu itu, kenapa kamu harus meniduri pelayan rendahan itu dan mencoreng nama baik mu sebagai seorang pangeran? Haaaahhh....'' Ratu menunjuk satu jari nya ke arah wajah pangeran Brendan.
''Jadi ibu sudah tahu?'' Pangeran tersenyum.
''Tentu saja ibu tahu, semua penghuni istana ini sudah tahu kelakuan bejatmu itu,'' Ratu membulatkan bola mata bundarnya.
Sang pangeran hanya tersenyum santai, ia berdiri di depan cermin sambil menatap wajahnya yang kembali mendapatkan luka memar.
''Wajah tampan ku jadi kembali ternoda,'' ucapnya sambil melebarkan kedua sisi bibir nya.
''Mengapa kau bisa sesantai itu?'' Ratu Emilia bertambah geram, melihat putranya seolah tidak merasa khawatir sedikitpun.
''Apa maksud ibu? jangan terlalu cepat berspekulasi. Aku mempunyai rencana yang sangat bagus Bu, agar aku bisa naik tahta menggantikan kakakku,'' pangeran menatap wajah sang ibu dengan wajah yang sangat serius.
''Apa maksudmu?'' tanya ratu dengan wajah heran.
Lalu Pangeran Brendan terlihat berbisik ditelinga ibunya tersebut.
Setelah sang putra selesai berbisik, wajah Ratu yang semula kesal kini berubah tersenyum.
''Apa kamu yakin rencana mu itu akan berhasil?'' tanya Ratu dengan tatapan tajam.
''Aku yakin 100 persen bu, aku sudah berbicara langsung kepada kakakku, dan dia berkata akan memikirkan tawaran ku itu.''
Sang ibunda manggut manggut sendiri tanda dirinya mengerti dengan maksud dari putra kesayangannya tersebut.
''Awas saja jika rencana mu sampai gagal, ibu sama sekali tidak Sudi jika harus mendapatkan menantu dari kalangan rakyat jelata seperti wanita yang bernama Evina itu,'' ucapnya dengan penuh penekanan.
''Ibu tenang saja, aku sama sekali tidak berniat untuk benar benar menikahi dia,'' ujarnya pangeran Brendan mencoba meyakinkan.
Setelah sang ibunda mendengar semua itu dari putra nya, ia pun segera keluar dari dalam kamar dengan senyum yang terlihat mengembang dari kedua sisi bibir nya.
__ADS_1
*****