
Sang pangeran masih memperhatikan pelayan yang kini dalam keadaan berjongkok dan menunduk sedang merapikan selimut yang tadi berjatuhan di lantai.
Sementara Pelayan tersebut masih belum menyadari jika pangeran kini sedang berjalan pelan ke arahnya dan menatap dirinya.
Saat dirinya telah selesai merapikan selimut tersebut ia pun hendak bangkit dan berdiri, namun saat tubuhnya sudah dalam keadaan setengah berdiri dirinya terkejut melihat sepasang kaki yang sudah sudah berada di hadapannya.
Ia pun menatap kaki tersebut lalu memperhatikan dengan kedua matanya dengan masih dalam keadaan hendak berdiri.
Kini akhirnya tubuhnya benar benar sudah berdiri tegak lalu seketika dirinya berteriak histeris melihat pangeran Arezz dalam keadaan setengah telanjang dengan hanya berbalut handuk kecil menutupi bagian intimnya.
''Aaaaa....'' Pelayan itu berteriak,lalu berbalik sambil menutup mulutnya.
''Saya mohon maaf pangeran, saya sungguh tidak bermaksud melihat Pangeran dalam keadaan seperti itu,'' ucap pelayan tersebut tanpa melihat wajah dari sang pangeran.
Sementara itu Pangeran Arezz pun terlihat terkejut, bukan karena pelayan itu melihat dirinya dalam keadaan setengah telanjang, namun ia terkejut karena pelayan yang ia lihat adalah wanita yang sedang ia cari selama ini.
''Ev..Evina...'' Pangeran terdengar menyebut nama pelayan tersebut dengan sedikit tergagap.
Evina pun membelalakan matanya sangat sabar, ketika ia mendengar seorang pria menyebut namanya, dengan suara yang masih ia kenali sampai saat ini.
Evina hendak berbalik, namun kemudian ia mengurungkan niatnya ketika mengingat pangeran yang berada di belakangnya hanya memakai handuk kecil.
''Maaf pangeran, sebenarnya anda siapa? mengapa anda mengetahui nama saya?'' tanya Evina yang masih dalam keadaan memunggungi pangeran.
''Ini aku Ev... Arezz,'' ucap Pangeran dengan nada lembut.
Evina sungguh terkejut, dia bahkan sampai menjatuhkan selimut yang tadi sudah di tata rapih di tangannya.
Evina hendak membalikkan badan untuk melihat jika laki-laki yang ada di belakangnya ini memang benar-benar Arezz, namun lagi lagi dia mengurungkan niatnya, karena tidak ingin melihat Pangeran dalam keadaan seperti itu.
''Maaf Pangeran, tapi bisakah pangeran berpakaian terlebih dahulu,'' ucap Evina.
Arezz langsung berlari karena malu, dirinya sampai tidak sadar jika tubuhnya masih setengah telanjang.
''Kamu diam dulu di situ, jangan ke mana-mana, ini perintah,'' ucap Arezz dengan sedikit berteriak dari balik pintu kamar mandi.
__ADS_1
Dan tak lama kemudian Pangeran Arezz pun keluar dari dalam kamar mandi, dengan mengenakan kimono berbahan handuk yang kini telah menutupi tubuh kekarnya.
Arezz tampak berjalan pelan ke arah Evina yang masih dalam keadaan memunggungi dirinya.
''Evina...'' panggil Arezz dengan suara pelan.
''Apakah Pangeran sudah berpakaian?''
''Iya...'' jawab Pangeran Arezz singkat.
Lalu Evina memberanikan diri untuk membalikkan tubuhnya dengan sedikit pelan, memutarkan sedikit demi sedikit tubuh kurusnya dan akhirnya melihat sosok pangeran berada tepat di hadapannya.
''Arezz...'' suara Evina sedikit bergetar saat memanggil nama itu.
''Iya ini aku Ev...'' jawab pangeran.
Evina memandang lekat wajah laki laki yang selama ini dia cari, begitu pun dengan Pangeran, ternyata apa yang dikatakan oleh ibundanya tadi, kini benar benar terjadi pada dirinya.
Wanita yang selama ini dia rindukan, ternyata berada sangat dekat dengan dirinya, pangeran hendak meraih tubuh Evina dan memeluknya, namun Evina mundur tiga langkah dari hadapan Pangeran sehingga tangannya tidak sampai untuk meraih tubuh Evina.
''Maaf pangeran saya kemari untuk menyimpan dan mengganti selimut yang berada di sini dengan yang baru,'' ucap Evina lalu berjalan menuju tempat tidur dan menyimpan lalu mengganti selimut yang berada di atasnya.
Evina hanya terdiam tanpa menjawab, tangannya masih sibuk melakukan pekerjaan yang sedang ia kerjakan saat ini.
Setelah pekerjaannya selesai Evina pergi meninggalkan kamar Pangeran dengan membungkuk terlebih dahulu kepadanya, sebagai tanda hormat pelayan kepada seorang pangeran.
''Ev... Evina,'' Pangeran terlihat terus memanggil namanya dan hendak mengejar Evina, namun ia mengurungkan niatnya karena Evina berjalan dengan sangat begitu cepat.
Pangeran hanya diam berdiri tepat di depan kamarnya, dirinya memandang lekat punggung wanita yang sangat dirindukannya berjalan menjauh, namun ia sungguh tidak mengerti mengapa Evina terlihat tidak mengenalinya, dan bersikap acuh padanya.
Apa mungkin dia marah, karena dirinya telah membohonginya selama ini? Batin Arezz berucap.
Dia pun kembali ke dalam kamar, dalam keadaan gundah yang kembali menyelimuti hatinya.
***
__ADS_1
Evina berjalan dengan cepat, dirinya ingin segera sampai di tempat istirahatnya, pelupuk matanya telah terisi penuh terisi oleh air mata yang sedari tadi sebisa mungkin dia tahan.
Pertemuannya kembali dengan Arezz sungguh membuatnya sangat kecewa, karena ternyata selama ini Arezz telah menyembunyikan identitasnya sebagai seorang pangeran dan membohongi dirinya mentah-mentah.
Akhirnya ia pun sampai di tempat nya biasa melepas lelah, sebuah ruangan kecil dengan beberapa tempat tidur bertingkat tempat dirinya serta pelayan lain beristirahat.
Evina berbaring di atas tempat tidur, dirinya meluapkan semua kesedihan lalu menangis tersedu dalam keadaan berbaring memeluk satu buah bantal menutupi wajahnya.
Di satu sisi Evina merasa senang akhirnya bisa bertemu dengan laki laki yang selama ini ia cari, namun di sisi lain hatinya sungguh sangat kecewa karena laki-laki tersebut ternyata adalah seorang Pangeran negeri ini, dan selama ini ia tidak mengetahui hal tersebut sama sekali.
Setelah selesai meluapkan kesedihannya, Evina kembali bangkit dan mengusap sisa air mata yang masih sedikit membasahi pelupuk matanya, dirinya masih harus menyelesaikan pekerjaan nya sebagai seorang pelayan yang bertugas sebagai pencuci selimut.
***
Pangeran tampak sudah berpakaian rapi, wajahnya terlihat sangat tampan dengan memakai kemeja berwarna merah dengan celana hitam sebagai pelengkapnya. Pagi ini ia akan menghadiri sebuah pertemuan penting dengan Perdana menteri.
Ketika dirinya hendak keluar dari dalam kamar, tiba tiba ada satu orang pelayan yang menghampiri nya dan menyampaikan pesan dari Baginda Raja agar Pangeran segera menghadapnya.
Pangeran Arezz pun mengangguk dan segera berjalan menuju kamar baginda Raja.
Baginda Raja tampak sedang duduk di kursi mewah yang berada di dalam kamar, di sebelahnya pun sudah ada Ratu Emillia yang duduk mendampingi Sang Raja.
Pangeran mengetuk pintu lalu masuk ke dalam kamar.
''Saya di sini Ayahanda,'' ucap Pangeran membungkuk lalu berjalan menghampiri ayahanda nya.
''Duduk lah pangeran,'' pinta Raja.
Pangeran mengangguk lalu duduk.
''Ada apakah gerangan Ayahanda memanggil saya kemari?''
''Ada sesuatu yang ingin Ayahanda bicarakan denganmu, prihal calon pendamping hidup mu kelak, perempuan yang akan menyandang gelar sebagai Ratu negeri ini.''
Pangeran nampak sangat terkejut, dirinya sama sekali belum siap untuk mengambil Tahta apalagi mencari calon Ratu sebagai pendamping nya.
__ADS_1
''Maksud Ayahanda apa? saya sama sekali tidak mengerti dengan apa yang Ayahanda bicarakan,'' jawab pangeran dengan nada lembut dan intonasi yang sangat sopan.
*****