KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA

KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA
Rencana Untuk Mempertemukan Ratu Evina dengan Sang Raja.


__ADS_3

''Apa...? kakakku masih hidup?'' sang Putri bertanya dengan berkaca-kaca, pelupuknya telah penuh dengan air mata, yang siap meleleh membasahi pipi putihnya.


Sakti hanya mengangguk.


''Apakah itu mungkin? mereka bilang kak Arezz sudah meninggal? hiks... hiks...hiks...'' ucapnya lagi dengan air mata yang mulai berjatuhan.


''Dan apakah kamu tahu Flora ini siapa? dia adalah orang yang telah merawat Raja Arezz selama ini, dari mulai dia tak berdaya sampai bisa sehat kembali seperti sedia kala.''


Putri menatap ke arah Flora, berdiri lalu memeluk tubuhnya dengan linangan air mata.


''Maafkan aku, Flora, aku sama sekali tidak tahu kalau kamu sebenarnya adalah Dewi penolong kakakku, hiks... hiks... hiks...!''


Flora hanya terdiam, membiarkan lengan sang putri memeluknya sambil meluapkan kesedihan, menangis sesenggukan.


''Dimana kakakku sekarang?'' Putri melepaskan pelukannya dan bertanya dengan menatap wajah Flora.


''Saat ini Ryan berada--- eu maksud saya, Raja Arezz, dia berada di rumah kawannya yang bernama Alberto.''


''Bisakah kau membawaku ke sana, aku mohon, aku sangat ingin bertemu dengan dia, aku sangat rindu dengan kakakku, hiks... hiks... hiks...!"


Kemudian Sakti menghampiri sang putri dan memeluknya, dia mendekap dengan sangat erat tubuh sang putri di dalam pelukannya.


Kemudian Sakti pun membawa kekasihnya tersebut duduk kembali, dan kali ini Flora pun di persilahkan duduk berdampingan dengan sang Putri.


Sakti mulai menceritakan secara mendetail mengenai kondisi Raja Arezz yang sebenarnya, bahkan ia pun menceritakan tentang rencananya untuk mempertemukan sang raja Arezz dengan Evina, berharap agar dengan melakukan hal tersebut ingatan sang Raja cepat kembali.


"Aku akan membantu kalian, aku berjanji, akan membuat rencana yang baik agar kak Evina bisa keluar dari istana tanpa di curigai boleh Raja Brendan," ucap Putri dengan tekad yang bulat.


"Syukurlah, aku berharap rencana kita akan berjalan dengan lancar, tanpa satu hambatan pun," Sakti mengelus punggung Putri Elisa.


Mereka pun berdiskusi untuk membuat rencana untuk mempertemukan Ratu Evian dengan Raja Arezz, setelah diskusi berjalan dengan sangat panjang, akhirnya mereka menemukan cara yang tepat dan pastinya tidak akan di ketahui boleh Raja Brendan.


Dan setelah mereka sepakat dan yakin dengan rencana yang mereka buat, Flora pun segara pamit untuk kembali bekerja sebagai pengasuh bayi Adam.

__ADS_1


"Mohon maaf Putri, sepertinya saya harus segera kembali bekerja karena saya telah meninggalkan pekerjaan saya terlalu lama," Flora berpamitan.


"Iya, silahkan...!" jawab sang Putri.


Flora berdiri dan hendak melangkah keluar dari dalam kamar.


"Tunggu, Flora...!" Putri memanggil Flora.


"Iya Putri, apakah masih ada yang bisa saya bantu?" Flora menghentikan langkahnya dan kembali berbalik.


"Tidak, aku hanya ingin meminta maaf, karena tadi telah salah sangka padamu, sekaligus, aku juga ingin mengucapkan terima kasih karena telah merawat kakakku hingga dia pulih," ucap Putri berterima kasih dengan sangat tulus.


"Sama-sama Putri, saya permisi sekarang,'' Flora membungkuk, berbalik dan melanjutkan langkahnya.


_____-----_____


Ratu Evina menggendong putra kesayangannya, menimang dengan penuh kasih sayang menatap wajah tampan sang putra, melihat bayi Adam membuat dirinya teringat besok Laki-laki yang yang kini telah tiada dan sempat mengisi hatinya, dan juga cinta pertama baginya.


Raja Arezz adalah satu-satunya Pria yang berhasil memasuki hatinya, dan sampai saat ini masih memiliki tempat tersendiri di dalam sana. Meski dia mengira sang Raja sudah tiada, namun dia merasa yakin bahwa Raja Arezz masih hidup di suatu tempat di muka bumi ini.


Entah mengapa hatinya masih menolak kepergian mantan kekasihnya tersebut. Sepertinya itu adalah sebuah firasat baginya, bahwa sang Raja memang benar-benar masih hidup dan dalam keadaan sehat meski hilang ingatan.


Saat dia sedang larut dalam lamunan, Flora masuk ke dalam kamar dengan sebelumnya mengetuk pintu terlebih dahulu.


''Maaf, Ratu. Tadi saya ada keperluan mendesak, sehingga saya harus pergi sebentar,'' ucap Flora dengan membungkukkan tubuhnya.


''Iya, tidak apa-apa ko, Adam juga tidak rewel, dari tadi dia tertidur seperti ini,'' jawab Ratu Evina dengan nada dan suara yang terdengar sangat lembut di telinga.


Flora pun mengucapkan terima kasih lalu berjalan menghampiri sang Ratu, meraih tubuh bayi Adam dan menggendong dalam dekapannya.


Setelah bayi Adam berada dalam dekapan Flora, sang Ratu masih menatap wajah putra kesayangannya, dengan tatapan sendu dan penuh kasih sayang.


''Apa Ratu masih ingin menggendong nya?'' tanya Flora yang pandangannya masih tak luput dari bayi yang di gendongnya.

__ADS_1


Ratu hanya tersenyum.


''Bukankah dia sangat tampan?'' kemudian dia bertanya sembari menatap wajah pengasuh bayinya.


''Iya, tentu saja, Ratu. Dia tampan sekali, mata, hidup, alis dan bibirnya terlihat sangat sempurna,'' jawab Flora menatap wajah bayi Adam dengan seksama.


''Iya, betul sekali, aku sangat bahagia karena memiliki putra yang sangat tampan, di tambah lagi saat melihat dia, membuatku mengingat seseorang.''


''Kalau boleh tahu, siapa orangnya?'' tanya Flora merasa penasaran.


Ratu Evina tersenyum lalu menunduk, matanya terlihat berkaca-kaca menahan kesedihan yang seketika datang.


''Dia adalah mendiang Raja Arezz, Laki-laki yang pernah singgah di dalam hatiku,'' jawab Ratu pelan dan masih dalam keadaan menunduk merasa sedih.


''Raja Arezz?''


Ratu Evina menganggukan kepalanya.


Flora menatap wajah sang Ratu yang terlihat sangat anggun dan juga cantik rupawan, matanya yang sayu dengan bola mata berwarna coklat nan indah di lengkapi dengan bulu mata lentik, membuat kecantikannya serasa sempurna.


Selain itu, Ratu Evina juga memiliki kepribadian yang baik dan juga pengayom, tak heran jika Raja Arezz Laki-laki yang ia kenal dengan nama Ryan sangat mencintai sang Ratu.


''Apakah yang mulia Ratu masih mencintai dia, Raja Arezz?''


Ratu Evina terdiam, menatap wajah putra satu-satunya, dan mengingat mantan kekasihnya yang dia kira telah tiada. Dia pun tersenyum tipis, kemudian menatap wajah Flora dengan tatapan sendu seperti menahan kesedihan.


''Apalah daya, meskipun aku masih sangat mencintainya kini dia telah tiada dan aku sudah menjadi istri dari adiknya sendiri, meski entah mengapa, aku merasa yakin, bahwa dia masih hidup dia suatu tempat, meski tak tahu dimana dan seperti apa dia sekarang,'' jawab sang Ratu dengan air mata yang mulai turun dari pelupuk matanya.


Flora merasa sangat iba, ingin rasanya dia memberitahukan kepada sang Ratu bahwa orang yang sangat dia cintai memang masih hidup dan dalam keadaan sehat, namun apalah daya, Flora tidak bisa berbuat apa-apa, dirinya takut salah bicara, dan membuat Raja Arezz berada dalam bahaya.


___________-----------______________


-

__ADS_1


__ADS_2