
Evina perlahan memasukan tubuhnya ke dalam air sungai yang terlihat jernih, gaunnya yang pendek tampak sedikit mengambang sehingga memperlihatkan bentuk tubuh kecilnya dan ramping seolah tanpa daging.
''Ayo temani aku main air...'' Evina berteriak sambil melambaikan tangannya.
Sang pangeran tersenyum senang melihat senyum lebar yang mengembang dari bibir mungil Evina, senyuman yang sudah beberapa hari ini tidak pernah terlihat dari wajah wanita cantik yang sebentar lagi akan menjadi istri dari adiknya tersebut.
Ia pun membuka baju yang di kenakan nya, lalu masuk ke dalam air dan menghampiri gadis itu dengan bertelanjang dada.
Dengan posisi yang begitu dekat, sang pangeran dapat dengan jelas melihat bentuk serta lekukan tubuh Evina yang basah dengan air sungai setinggi dada orang dewasa.
''Apa kamu baik baik saja bermain air di sini? kamu kan baru saja sembuh,'' ujar sang pangeran berdiri tepat berhadapan dengan tubuh Evina.
''Tidak...! aku malah merasa sangat segar, air sungai yang jernih ini seolah membasuh setiap permukaan kulit di tubuhku,'' jawabnya sambil tersenyum.
''Benarkah...?''
Evina mengangguk.
''Aku senang melihat mu tersenyum,'' ujar pangeran sambil merapikan rambut panjang Evina yang terurai.
''Hari ini, aku ingin melupakan masalahku sejenak, dan menikmati setiap detik kebersamaan ku bersamamu yang mungkin tak akan pernah aku rasakan lagi di kemudian hari,'' jawab Evina, lalu mendekatkan wajahnya dan mencium dengan lembut bibir sang pangeran.
Pangeran pun menyambut dengan hangat bibir ranum Evina lalu mengulumnya dengan lembut, tangannya tampak ia lingkarkan di pinggang ramping nan kecil milik wanita cantik yang bernama Evina tersebut.
Evina melingkarkan kedua kakinya di atas pinggang kekar pangeran yang sama sama berada di dalam air, saling mengulum dan berputar menikmati setiap sesapan yang mungkin tak akan lagi mereka dapatkan.
Gairah yang selama ini tertidur seolah terbangun kan, oleh lingkaran kaki jenjang Evina yang semakin kuat mengapit pinggangnya.
''Aku mencintaimu,'' ujar Evina, sesaat setelah melepaskan ciumannya.
''Aku juga mencintaimu,'' jawab sang pangeran.
Mereka pun kembali saling menautkan bibir, menenggelamkan nya begitu dalam dengan lebih agresif dan lebih bergelora, tangan sang pangeran tampak tanpa ragu meraba dan meremas gunungan indah yang seolah mengambang di dalam air.
Evina pun hanya membiarkan tangan itu meraba setiap jengkal raga hingga ke bagian inti miliknya.
__ADS_1
Saat sedang asyik bercumbu, hujan pun tiba tiba datang, membuat gairah keduanya semakin tak tertahankan.
''Dingin...'' ujar Evina lalu melepaskan kedua kakinya.
''Kita ke tempat tinggal yang pernah kita tempati dulu yu, aku sudah memesan tempat itu untuk tempat kita beristirahat.''
Evina mengangguk.
Mereka berdua pun keluar dari dalam air lalu berjalan menyusuri sungai, dengan di iringi hujan deras yang membasahi tubuh keduanya.
Hujan deras dengan petir yang menggelegar seolah tidak membuat langkah mereka goyah, kedua nya tetap berjalan dengan bergandengan tangan, seraya mengembangkan senyum bahagia dari bibir keduanya.
Akhirnya mereka pun sampai, sebuah kontrakan kecil yang dahulu pernah di singgahi oleh pangeran bersama Sakti.
Pintu pun dapat di buka begitu saja karena memang sengaja tidak di kunci sama sekali.
Ceklek...
Pangeran membuka pintu lalu masuk ke dalam bersama Evina yang sudah tampak mengigil kedinginan.
''Tidak ada cara lain, kita harus membuka pakaian dan membiarkan nya kering terlebih dahulu baru kita bisa memakai nya lagi.''
''Apa....'' Evin membelalakan bola mata bundarnya.
Pangeran Arezz mengangguk.
Evina tampak sedang berfikir sejenak, untuk mempertimbangkan tawaran laki laki yang saat ini berada di hadapan nya.
Setelah cukup berfikir dan merasa yakin, dan lagi pula tak ada cara lain lagi akhirnya nya ia mengikuti saran dari pangeran Arezz.
Perlahan ia mulai membuka Resleting gaun yang ia kenakan, lalu ia melepaskan gaun tersebut dan menggeraikan nya agar air yang terdapat di pakaian tersebut mulai turun dan pakaian perlahan akan mengering.
Ia pun meraih kain lebar untuk menutupi tubuhnya, dua penutup gunung pun ia lepaskan begitupun dengan pelindung intinya.
Kini keadaan gadis itu sudah benar benar polos, semua yang menutupi raganya sudah terlepas tak bersisa.
__ADS_1
Sang pangeran pun melakukan hal sama, hanya saja ia sengaja tidak membuka pelindung senjata tajamnya, mungkin karena merasa takut jika senjata bambu runcingnya itu akan hilang kendali.
Evina meringkuk di dalam selimut, matanya terlihat sedikit terpejam karena letih setelah berjalan di bawah guyuran hujan.
Sampai akhirnya sang pangeran menemaninya berbaring di dalam selimut dengan keadaan yang sama polosnya seperti dirinya.
Seolah ingin meneruskan pendakian yang belum sempat di selesaikan di sungai, keduanya saling berpelukan dan menyalurkan hasrat masing masing.
Entah mengapa, setiap sentuhan yang berasal dari tangan Pangeran Arezz seolah membangunkan gairah cinta yang selama ini terpendam.
Akhirnya mereka pun sama sama saling melampiaskan gairah dan hasrat yang bergejolak di dalam jiwa, berputar dan bergoyang saling memuaskan dengan suara rintihan dan *******, sampai akhirnya bisa melepaskan serta meraih kepuasaan secara bersamaan.
Sang pangeran berbaring dengan tangan terlentang, kepala Evina pun tampak di sandarkan di atas tangan yang kokoh dan juga kekar itu, nafas kedua nya masih tak beraturan, dengan peluh yang membasahi seluruh badan.
''Maafkan aku,'' ujar pangeran menatap wajah wanita yang kini sedang terpejam..
''Tidak pangeran, kau tak perlu meminta maaf, karena aku juga menginginkan ini,'' membuka mata lalu menatap ke arah sang pangeran.
Pangeran tersenyum dan mengecup bibir mungil nan ranum yang langsung di sambut dengan senang oleh gadis cantik bertubuh langsing tersebut.
***
Sakti sedang menunggu di dalam mobil, karena hari ini di beri waktu istirahat oleh junjungan nya yang sedang merajut cinta dengan wanita pujaan hatinya.
Sakti pun memutuskan untuk mengisi hari liburnya dengan mengajak Putri Elisa jalan jalan ke suatu tempat untuk membayar hutang yang pernah di janjikan.
Sang putri tampak menghampiri Sakti, tidak seperti biasanya, yang selalu mengenakan gaun panjang nan mewah, kali ini ia berpakaian sederhana layaknya gadis remaja pada umumnya.
Rock jens pendek dengan kaos polos berwarna putih, serta sepatu kets dengan warna senada menjadi pilihannya hari ini, membuat wajah cantiknya terlihat begitu sempurna dengan wajah polos dengan make up tipis yang sedikit menghiasi wajah mungilnya.
Sakti tersenyum melihat kedatangan putri Elisa yang tampak sangat berbeda dari biasanya, ia pun membukakan pintu mobil dan mempersilahkan sang putri masuk ke dalamnya.
''Kita mau kemana?'' tanya Sakti menatap ke arah putri Elisa.
''Terserah kamu saja, aku akan ikut kemanapun dirimu membawa ku pergi,'' jawab sang putri sambil terus dan menatap ke arah laki laki yang begitu di sukai nya.
__ADS_1
*****