
Pangeran Arezz memeluk tubuh sang kekasih, dirinya menangis dengan tersedu mendengar ucapan sang kekasih bahwa dia akan menerima titah sang Raja untuk menikah dengan adiknya.
Evina pun tampak melingkarkan kedua tangan di punggung laki laki pujaan hatinya, dengan lelehan air mata memenuhi bola mata nan indahnya lalu turun membasuh pipi tirus nya.
Keduanya tampak saling meluapkan kesedihan masing masing.
Evina melepaskan pelukannya, ia pun mengusap setiap buliran air mata yang terus mengalir dengan derasnya.
''Maafkan aku karena harus mengambil keputusan ini, memang terasa berat untuk ku, namun sepertinya ini yang terbaik untuk kita.'' ujar Evina masih dengan terisak.
''Tidak... aku yang seharusnya meminta maaf padamu, karena kegagalanku untuk melindungi mu, kau harus menerima semua ini,'' jawab sang pangeran.
''Aku hanya berharap kamu bisa menjadi Raja yang baik dan bijak, yang bisa mengayomi Rakyat nya. Mulai saat ini kita harus bisa melupakan semua kenangan dan setiap hal yang pernah terjadi di masa lalu,'' ucap Evina.
''Apa keputusan mu masih bisa di ubah? tolong pikiran kembali, aku.. aku---'' sang pangeran tidak dapat lagi berucap, karena kesedihan yang ia rasakan sungguh mendalam, sehingga setiap kata yang akan ia lontarkan seperti tertahan.
''Aku mohon ikhlaskan aku pangeran,'' masih dengan deraian air mata.
Pangeran Arezz tidak menjawab, ia berbalik lalu berjalan dan pergi dari ruangan itu dengan perasaan hancur karena harus berpisah dengan kekasihnya.
Evina menatap kepergian sang kekasih, yang akan segera menjadi Kaka iparnya, ia pun kembali meluapkan seluruh kesedihan nya dengan menangis dengan menutup wajah cantiknya dengan kedua tangannya.
Ia yakin jika keputusan yang telah di buat nya adalah sangat benar, bagaimana pun pangeran Brendan telah merebut kesuciannya, itu berarti dia harus menerima pertanggungjawaban dari laki-laki tersebut.
*
Pangeran Arezz berjalan dengan langkah yang gontai, kakinya terasa lemas hingga ia pun menjadikan tembok sebagai tumpuan tangannya agar kuat dalam melangkah.
Keputusan Evina sungguh membuat nya merasa nyeri sampai ke ulu hati, sampai kakinya pun tak dapat lagi berpijak lalu dia ambruk seketika.
Sang pangeran menyandarkan tubuhnya di tembok berwarna putih yang membentang di sepanjang lorong Rumah Sakit, ia pun menunduk lalu meluapkan semua kesedihan yang sudah tidak dapat lagi ia tahan.
Sakti yang sedang berjalan segera lari dan menghampiri sang pangeran, dirinya merasa heran melihat keadaan junjungannya yang terlihat menyedihkan.
''Ada apa pangeran? mengapa kamu seperti ini?'' tanya Sakti sembari meraih tubuh Pangeran untuk kembali berdiri.
Pangeran menatap wajah Sakti dengan linangan air mata yang terlihat sudah membanjiri wajah tampannya.
''Mari saya bantu berjalan menuju mobil,'' sambil mencoba memapah sang pangeran.
__ADS_1
Akhirnya pangeran Arezz dapat berjalan dengan bantuan dari pengawal pribadinya tersebut.
Sesampainya di mobil, Pangeran hanya terdiam, mulutnya seperti terkunci rapat tanpa sepatah katapun, Sakti yang menyetir di sebelahnya tak berani bertanya apa apa, dirinya hanya fokus mengendarai mobilnya nya agar selamat sampai tujuan.
*
Keesokan harinya.
Para pelayan sedang berkerumun, membicarakan gosip yang beredar, tentang pernikahan pangeran ke dua yang akan segera di selenggarakan dalam waktu dekat.
Karena kabar dengan begitu cepatnya menyebar, akhirnya berita itu pun sampai di telinga putri Elisa.
Putri Elisa pun tampak sedang berjalan dengan cepat menuju kamar Kaka pertama nya, ia ingin segera menanyakan kebenaran kabar yang sedang hangat di bicarakan oleh para pelayan.
Tok tok tok
Sang putri mengetuk pintu lalu masuk ke dalam kamar, ia mendapati kakak pertamanya tersebut sedang berbaring dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya.
Putri pun berjalan menghampiri sang kakak, lalu menarik selimut yang menutupi tubuh kakaknya dengan kedua tangannya.
''Bangun kak, mengapa kau malah tertidur di situasi seperti ini?'' ujar sang putri merasa kesal.
Pangeran Arezz yang masih dalam keadaan terpuruk hanya terus terdiam, dirinya seolah membiarkan selimut tebal tersebut menyingkap dari tubuh kekarnya.
''Kenapa Putri, aku sedang tidak ingin bercanda dengan mu,'' akhirnya menjawab meski dengan suara yang terdengar berat.
''Apa benar Evina akan segera menikah dengan Kak Brendan?'' tanya sang putri.
Orang yang di tanya hanya mengangguk dengan di paksakan.
''Mengapa kamu diam saja ketika kekasihmu itu di rebut oleh orang lain? bukankah Kaka sangat mencintai dia?'' tanya Putri Elisa dengan perasaan heran.
''Jawan kak,'' Putri berteriak karena tidak mendapat jawaban.
Pangeran Arezz pun akhirnya duduk dengan bersila, matanya tak sembab karena terlalu lama menangis.
''Kaka tak bisa berbuat apa apa karena ini titah dari ayahanda kita,'' ucap pangeran singkat.
''O ya....? ko bisa? memangnya Kaka tidak bilang kalau Evina itu sebenarnya kekasih kakak?'' putri mengerutkan keningnya.
__ADS_1
Pangeran Arezz mengangguk.
''Lalu mengapa Evina malah di nikahkan dengan kak Brendan? bukan dengan mu?'' putri semakin geram.
Sang pangeran hanya terdiam.
''Sepertinya aku harus bicara dengan ayahanda, karena beliau telah salah membuat keputusan,'' Putri hendak berjalan.
''Tunggu...'' pangeran menahan dengan memegang pergelangan tangannya.
''Jangan putri, ayahanda hanya akan marah padamu jika kamu berani menentang titah kerajaan nya,'' ucap pangeran dengan wajah muram.
''Terus Kaka akan menerima begitu saja, kekasih yang Kaka cintai menikah dengan adik Kaka sendiri?'' sang putri mengerutkan keningnya.
Pangeran hanya mengangguk.
Putri Elisa duduk di ranjang sang Kaka, dirinya merasa sangat kasihan dengan keadaan yang sedang menimpa kakaknya tersebut.
''Kisah cintamu sungguh menyedihkan kak, wanita yang sangat Kaka cintai harus menikah dengan adik mu sendiri, aku sungguh merasa sangat sedih menyaksikannya,''' sang putri dengan nada lembut.
Pangeran kembali tak menjawab ucapan adik bungsunya, ia hanya kembali meraih selimut tebalnya lalu menutup seluruh tubuhnya, bahkan kali ini kepalanya pun ikut tenggelam di dalam selimutnya tersebut.
Sang putri yang melihat hal itu hanya terdiam, dia pun berdiri dan berjalan keluar dari dalam kamar, memberi ruang kepada sang Kaka untuk menenangkan hatinya yang sedang patah dan terluka.
*
Ratu Emillia mendatangi kamar Pangeran Brendan, membuka pintu dengan kasar dan masuk ke dalam kamar.
''Brendan...'' berteriak memanggil.
Namun putranya tersebut sedang tidak berada di tempat. Ia pun mencari ke seisi kamar namun hasil nya sia sia, karena putra nya tersebut seperti nya sedang berada di luar Istana.
Akhirnya iapun kembali berjalan ke luar dari dalam kamar, dengan perasaan geram dan kesal yang memenuhi seluruh isi kepalanya.
Karena ia gagal bertemu dengan putra kesayangannya, akhirnya ia memutuskan untuk mendatangi kamar Pangeran Arezz.
Dan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, ia pun masuk ke dalam kamar, lalu berteriak memanggil pangeran Arezz.
''Arezz...! dimana kamu?'' suaranya menggema di seisi kamar.
__ADS_1
Ia pun berkeliling di dalam kamar mencari keberadaan Pangeran Arezz.
*****