KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA

KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA
Merawat Ibunda Emillia


__ADS_3

Apa yang membawamu datang ke sini, putri Elisa?'' tanya Raja Arezz memandang sang putri dari atas Tahta.


''Mohon maaf atas kelancanganku yang mulai, saya tidak bermaksud untuk menentang titah'mu yang meminta saya untuk tidak menghadiri sidang ini untuk menjaga perasaan saya, Saya menerima keputusan yang yang mulia berikan kepada ibunda saya, karena memang kejahatan yang telah beliau lakukan sangatlah berat, namun ada satu permohonan yang ingin saya minta darimu,'' ucap Sang Putri dengan nada suara yang terdengar berat.


''Apa yang ingin kau pinta dariku Putri Elisa?''


''saya mohon, sebelum hukuman itu dijatuhkan saya ingin ibunda tinggal di kamar saya, izinkan saya untuk menemani hari-hari terakhirnya, sampai hukuman itu dijatuhkan satu minggu lagi, saya mohon yang mulia kabulkan permintaan saya ini,'' minta Sang Putri dengan bersujud di bawah singgasana.


Raja terdiam sejenak memandang tubuh adiknya yang saat ini bersujud di bawah dirinya, karena merasa sangat iba, dia pun mengabulkan permintaan Sang Putri dengan catatan, kamar Putri Elisa harus dijaga ketat oleh para pengawal istana.


''Baiklah aku akan mengabulkan permintaanmu, anggap saja ini sebagai rasa baktiku kepada ibunda'mu,'' jawab Raja Arezz.


''Terima kasih yang mulia, saya sungguh-sungguh mengucapkan banyak terima kasih, saya berjanji ibunda tidak akan pergi kemanapun karena hamba akan selalu menjaga dan merawatnya sampai hukuman itu benar-benar dijatuhkan,'' ucap Sang Putri dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.


Emilia yang berdiri tak jauh dari tempat Sang Putri merasa terharu dengan sikap yang ditunjukkan oleh Putri satu-satunya tersebut, dia pun meneteskan air mata menatap wajah Putri dengan tatapan menyesal karena telah menjadi Ibu yang jahat.


Putri menghampiri ibundanya, dia memeluk tubuh Emillia lalu menangis didalam pelukannya. begitupun dengan Emilia, dia menangis tersedu-sedu sembari, mengucapkan kata maaf secara berkali-kali.


''Maafkan Ibu nak, putriku tersayang, karena Ibu tidak bisa menjadi Ibu yang baik, Ibu telah menjadi Ibu yang sangat jahat, dan ibu pantas untuk mendapatkan hukuman itu,'' ucap sang ibunda dengan penuh penyesalan.


''Iya, Bu. aku sudah memaafkan semua kesalahan ibu, sekarang mari ikut ke kediamanku, aku akan merawatmu dengan baik,''jawab Putri Elisa lagu memapah tubuh Sang Ibunda ibunda, berjalan menuju kamarnya.


Sementara Brendan dia tetap jebloskan ke dalam penjara dan akan menetap di sana selama satu minggu sampai hukuman mati diberikan.

__ADS_1


Sesampainya di dalam kamar, Putri Elisa membersihkan wajah ibundanya dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih layak.


Sang ibunya hanya terdiam saja saat Putri kesayangannya membersihkan tubuhnya dengan kain basah lalu memakaikan tubuhnya dengan pakaian yang baru.


Sang Ibu menatap wajah Putri Elisa, tatapannya terlihat sendu dengan air mata yang memenuhi kelopak matanya.


''Terima kasih Putri ku sayang, karena kamu sudah sudi menerima Ibu di sini, Ibu sungguh tidak betah berada di penjara,'' ucap sang ibu dengan tatapan penuh kasih sayang.


''Sama-sama, Ibunda. Ini hanyalah bentuk terakhir baktiku kepada ibu. andai saja Ibu tidak serakah dan melakukan hal yang jahat kepada kak Arezz, mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi, tapi sudahlah tidak usah terlalu dipikirkan toh hal itu sudah terjadi dan ibu akan segera menerima hukumannya, meski aku merasa sangat sedih dengan hal itu, hiks hiks hiks,'' Putri berucap dengan berlinang air mata, merasa sedih karena akan segera kehilangan sang ibu.


Kemudian mereka pun saling berpelukan.


''Maafkan Ibu, nak. Seharusnya ibu tidak berbuat seperti itu, hiks hiks hiks,'' sang Ibu menangis sesenggukan di dalam pelukan putrinya.


''Ibunda, aku sudah mendengar semua keputusan hukuman yang akan dijatuhkan kepada mu, Bu. aku merasa sangat sedih saat mendengarnya, mengapa ibu sampai tega melakukan hal seperti itu kepada kak Arezz? hiks hiks hiks...'' ucap sang pangeran menangis tersedu-sedu di dalam pelukan sang ibu.


''Maafkan Ibu, Pangeran Brian. Ibu memang bersalah dan menyesali perbuatan ibu, Ibu pun akan menerima hukuman yang telah ditentukan oleh raja Arezz, dengan ikhlas, karena ibu memang pantas untuk mendapatkannya, hiks hiks hiks...'' jawab sang ibunda dengan menangis sesenggukan di dalam pelukan sang pangeran.


Pangeran Brian melepaskan pelukannya dan menatap wajah sang Ibu lalu merapikan rambutnya yang terlihat sedikit berantakan, dia pun mengusap air mata yang membasahi wajah ibundanya.


''Aku akan berada disini untuk merawat ibu bersama Putri Elisa, mari kita nikmati saja kebersamaan kita untuk terakhir kalinya, karena tidak ada lagi yang bisa aku lakukan selain ini, Bu,'' ucap sang pangeran.


Dirinya memang tidak bisa melakukan apa-apa untuk menyelamatkan nyawa sang Ibu dan juga kakaknya, karena memang dia merasa jika ibunda serta sang kakak telah melakukan hal yang jahat, dan harus menerima konsekuensi dari apa yang telah mereka lakukan, meski sebenarnya hatinya terasa sakit dan juga terluka karena akan segera kehilangan kakak serta ibunda tercintanya.

__ADS_1


___---___


Malam hari Raja Arezz sengaja mengunjungi kamar Evina untuk bertemu dengan Adam putra kesayangannya.


Dia masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Evina merasa sedikit terkejut dia berdiri lalu mempersilahkan Raja duduk.


''Ada apa gerangan yang mulia mengunjungi saya disini?'' tanya Evina dengan wajah menunduk.


''Aku datang ke sini untuk menemui Adam, selain itu, ada sesuatu juga yang aku ingin bicarakan dengan mu,'' jawab sang raja, menatap wajah bayi Adam yang saat ini berada dipelukan Evina.


''Apa itu?'' tanya Evina merasa penasaran.


''Aku ingin bertanya kepadamu untuk yang terakhir kalinya. Apakah keputusanmu itu bisa diubah? aku akan mencari cara untuk menyelamatkan mu, kamu bisa pergi dari kerajaan ini dan tinggal di sebuah desa kecil yang tidak diketahui oleh siapapun?'' tanya Raja menatap wajah Evina dengan penuh harap.


''Tidak...! keputusanku sudah bulat dan tidak dapat diubah lagi,'' jawab Evina.


''Kau ini sungguh keras kepala, aku sungguh kecewa padamu. Apa kamu tidak memikirkan perasaan ku? dan juga putramu ini yang masih bayi?''


''Aku percaya padamu, bahwa kamu akan merawat putra kita dengan baik dan penuh kasih sayang, jadikan dia putra mahkota, didik dia menjadi Laki-laki yang bertanggung jawab, agar dia bisa menjadi Raja yang baik dan bijak seperti dirimu.''


Raja memeluk tubuh Evina dengan penuh kasih sayang dan kesedihan yang mendalam.


''Maafkan aku karena telah membuatmu kecewa, aku benar-benar lelah menjalani hidup ini, dan sekarang aku ingin beristirahat dengan tenang, di alam sana.'' ucap Evina terlihat tegar memandang wajah sang Raja.

__ADS_1


___________--------____________


__ADS_2