KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA

KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA
Pernikahan Kerajaan


__ADS_3

Sang pengantin wanita tampak berjalan menuruni tangga, kecantikan yang paripurna terpancar dari wajah Evina, ia menapaki satu persatu anak tangga dan turun ke lantai bawah dengan di dampingi oleh beberapa pelayan yang sudah di tugaskan secara khusus untuk menemani pengantin wanita calon menantu Raja tersebut.


Pangeran Brendan tampak sudah menunggu di ujung tangga, dengan memakai pakaian tuksedo hitam yang membuat ketampanannya pun semakin sempurna, wajahnya tampak terkesima melihat kecantikan calon istrinya dengan balutan gaun indah nan mewah, ia pun mengulurkan tangannya dengan tersenyum saat Evina sudah mulai berjalan mendekatinya.


Evina pun menerima uluran tangan dari calon suaminya, dengan senyum yang di paksakan mengembang dari kedua sisi bibirnya.


Mereka berdua berjalan bak sepasang putri dan pangeran, menuju Aula istana, tempat acara pernikahan mereka di gelar.


Semua mata yang berada di sana nampak sangat terkesima melihat sepasang pengantin berjalan menuju tempat acara, banyak tamu undangan yang hadir di sana terkagum kagum dengan kecantikan Evina yang terpancar layaknya wanita bangsawan.


Pangeran Arezz yang duduk bersebelahan dengan Baginda Raja hanya bisa menatap mereka berdua dengan tatapan sedih dan sesal. Menyesal karena seharusnya yang berjalan beriringan dengan wanita cantik itu adalah dirinya, bukan adiknya.


Mata sang pangeran nampak sudah sedikit berkaca kaca saat sepasang pengantin itu mulai berjalan menuju Altar, untuk saling mengucapkan janji pernikahan.


Sang Raja yang menyadari jika putra kesayangannya dalam keadaan bersedih, hanya bisa meminta maaf di dalam hatinya.


Jauh dari lubuk hati yang paling dalam sang Raja sesungguhnya nya berat harus melihat sang putra kesakitan karena melihat wanita yang di cintai nya menikahi adiknya sendiri.


Akhirnya janji itu pun di ucapkan, janji sumpah setia sebagai sepasang suami istri, dan tak di ragukan keduanya sekarang sudah sah menjadi suami dan istri.


Pangeran mencium bibir istrinya, yang meski hanya di sambut dengan keterpaksaan dari Evina, mereka saling menautkan bibir dan dan berputar, membuat para tamu undangan bertepuk tangan dan bersorak, melihat kemesraan mereka berdua, kecuali pangeran Arezz, ia hanya menatap dengan tatapan dingin dengan luka menganga yang seolah melubangi hatinya.


Ada lebih dari 2000 tamu undangan yang hadir memenuhi seisi Aula dan istana, bahkan Rakyat pun di izinkan untuk memasuki istana dan menyaksikan secara langsung acara yang di gelar secara besar besaran tersebut.


Bos Alberto dan juga para karyawannya tampak hadir di sana, bagi mereka itu adalah kesempatan mereka untuk dapat memasuki istana dan melihat lihat bangunan megah dengan lebih dari 10 lantai itu.


Sakti yang melihat kehadiran mereka tampak berjalan dan menghampiri mantan bos serta mantan kolega nya sewaktu masih bekerja di cafe Monalisa.


''Apa kabar bos,'' Sakit menyalami satu persatu.


''Baik Sakti, bagaimana kabarmu?'' bos Alberto.

__ADS_1


''Saya juga baik bos.''


''Aku ingin sekali melihat kedua mempelai, bolehkan kau bawa aku masuk ke dalam dan melihat kedua pengantin?''


''Tentu saja, tempat ini terbuka untuk siapapun,'' Sakti menggiring bos Alberto dan semua temannya masuk ke dalam Aula.


Mereka tampak melihat lihat dengan mata yang berbinar binar, sungguh hati mereka merasa sangat senang bisa melihat Sang Raja Arthur serta Ratu Emillia meski hanya dari kejauhan.


Salah satu karyawan bos Alberto hampir saja memanggil nama Arezz saat ia melihat sang pangeran duduk dari kejauhan, namun Alberto segera menutup mulut, dan menyadarkannya jika yang ia panggil adalah seorang pangeran putra mahkota.


Dan yang mengejutkan lagi bagi mereka adalah saat mereka melihat mempelai wanita yang sedang bersanding dengan pangeran di atas pelaminan.


Mata mereka nampak terlihat tak berkedip karena yang menjadi mempelai wanita adalah Evina yang merupakan kekasih dari pangeran Arezz setahu mereka, bahkan bukankah beberapa hari yang lalu mereka berdua sempat berkunjung ke cafe Monalisa dan bahkan terlihat begitu mesra.


Namun pemandangan di depan mereka seolah membuat mereka sangat terkejut sampai sampai mereka semua membelalakan mata seolah terkesima.


''Sakti...! bukankah itu Evina? mantan rekan kerja kita?'' tanya salah satu dari mereka.


Mereka sungguh tidak menyangka jika Evina akan menikahi pangeran Brendan bukan bukan pangeran Arezz? sungguh kisah cinta yang rumit, yang sulit di mengerti oleh Rakyat biasa seperti kita, batin mereka berucap.


Bos Alberto tampak menatap dengan tatapan sedih ke arah Evina yang duduk di atas singgasana pengantin, dirinya mengetahui dengan pasti jika Evina dan pangeran Arezz merajut asmara dan saling mencinta, namun entah apa yang terjadi, sehingga gadis itu harus menikah dengan pangeran Brendan, bukan dengan laki laki yang selama ini menjadi kekasihnya.


Setelah serangkaian acara selesai di laksanakan di dalam Aula istana, kini tiba saatnya untuk berkeliling menggunakan kereta kencana, yang di iringi oleh seluruh pelayan istana yang ikut turun ke jalanan.


***


Akhirnya acara sakral itu selesai di laksanakan, acara pernikahan kerajaan yang akhirnya mengesahkan status Evina sebagai istri pangeran Brendan.


Evina hendak kembali ke dalam kamarnya, setelah hari yang sangat melelahkan itu sungguh menguras seluruh Energi dalam tubuhnya.


Ia pun berjalan dengan langkah gontai bersama para pelayan yang membantunya dan dengan setia selalu menemaninya.

__ADS_1


Salah satu pelayan nampak terlihat memasang wajah heran saat Evina hendak membuka pintu kamarnya.


''Maaf nyonya, bukankah mulai malam ini seharusnya nyonya sudah mulai pindah ke kamar pangeran Brendan?''


''O ya...?''


''Semua barang Nyonya yang berada di kamar ini, sudah di pindahkan ke lantai Tiga dimana kamar sang pangeran berada.''


Evina merasa dirinya belum siapa jika harus tinggal sekamar dengan pangeran Brendan, meski status mereka sudah sebagai suami istri. Namun apalah daya, mau tidak mau dia harus tetap melakukanya.


Ia pun akhirnya menaiki tangga menuju lantai tiga, dengan perasaan enggan dan takut menyelimuti seluruh hatinya.


Ceklek...


Evina membuka pintu kamar dengan sangat pelan, ia berharap jika suaminya sedang tidak berada di tempatnya, namun harapannya sia sia, karena sang suami sudah menunggu dirinya sedari tadi, ia sudah bersiap dengan memakai baju kimono serta sebotol whisky yang terlihat sudah siap di atas meja.


''Welcome istri ku tersayang,'' ujar pangeran Brendan dengan merentangkan kedua tangannya.


Evina berjalan menghampiri dengan perasaan takut.


''Maaf pangeran, saya harus membersihkan diri terlebih dahulu,'' jawab Evina dengan suara yang sedikit bergetar.


''Baiklah, aku beri kamu waktu 30 menit untuk membersihkan diri, setelah itu kau harus duduk di sini menemani suami mu ini minum segelas whisky untuk merayakan pernikahan kita.''


''Baik pangeran,'' Evina hendak melangkah ke dalam kamar mandi.


''Tunggu...! apakah kamu bisa melepaskan gaun panjang itu sendirian?''


Evina menghentikan langkahnya.


*****

__ADS_1


__ADS_2