
Pangeran Brendan dan juga pangeran Brian akhirnya tiba di istana, rupanya Evina masih berada di depan gerbang istana, berdiri di tengah kegelapan menanti kabar.
Evina pun langsung berlari menghampiri mobil yang perlahan berhenti tak jauh dari tempatnya berdiri.
Ia tersenyum menyebut kedatangan entah siapa, ia pun tak mengerti dengan isi hatinya, siapa yang sebenarnya ia tunggu, suaminya kah? atau mantan kekasihnya? batinnya serasa bergejolak di hadapkan pada sebuah Dilema.
Pangeran Brendan keluar dari dalam mobil, ia segera menyambut kedatangan sang istri yang berlari ke arah dirinya.
Pangeran pun merentangkan kedua tangannya hendak memeluk istrinya.
Namun apalah yang sebenarnya ada di dalam benak sang istri, sang istri malah menanyakan orang lain tanpa bertanya bagaimana keadaan suami nya, yang kini berada tepat di hadapannya.
''Dimana yang mulia Raja? mengapa dia tidak pulang bersamamu?'' tanya Evina dengan raut wajah khawatir.
Pangeran Brendan kembali menutup kedua tangannya, merasa kecewa, ternyata sang istri sama sekali tidak mempedulikan dirinya. Ia pun berjalan begitu saja tanpa menjawab pertanyaan sang istri.
''Mengapa kau diam saja? apa yang terjadi?'' Evina mengikuti langkah kaki pangeran Brendan dari belakang dengan terus memegangi perut besarnya.
Sang pangeran Brendan yang merasa kesal tidak menggubris pertanyaan sang istri, dia terus berjalan dengan wajah yang terlihat kesal.
Karena tidak mendapat jawaban dari sang suami, ia pun menghampiri adik ipar nya untuk bertanya prihal keadaan yang mulia Raja.
''Adikku...! apa yang terjadi, dimana yang mulia Raja?"
Pangeran Brian mencoba menjelaskan dengan perasaan berat dan mata yang terlihat berkaca kaca.
"Begini ka, sebenarnya yang mulia Ra--ja, telah te--was...!" ucap pangeran Brian dengan nada suara terdengar sangat berat.
"Apa...?" Evina sungguh terkejut, hingga tubuhnya hampir saja roboh, namun tangan pangeran Brian segera meraih tubuh Kaka iparnya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
''Tak mungkin Raja wafat?'' ucap Evina dengan mengelus perut dengan satu tangannya serta satu tangan lainnya terlihat menutup mulutnya.
Tanpa terasa buliran air mata mulai membasahi pipi putihnya, dada nya terasa sesak hingga ia pun menangis sesenggukan.
Ia kembali mengingat saat pertama kali bertemu dengan Raja Arezz, dan bayangan bayangan masa lalu pun kembali singgah mengisi penuh seluruh otak kecilnya.
''Arezz....hiks hiks hiks...!'' Evina Akhirnya duduk di atas lantai, karena lengan adik iparnya sama sekali tidak mampu menopang bobot tubuhnya yang sedang berbadan dua.
Ia pun menangis sejadi jadinya, meratapi kepergian mantan kekasihnya, hati dan seluruh jiwanya seakan tercabik cabik mengingat sosok sang Raja, laki laki yang pernah singgah di hatinya, dan sampai saat ini pun masih di cintai nya.
Rupanya pangeran Brendan menyaksikan sang istri yang duduk di atas lantai, menangisi kepergian kakanya karena perbuatan dirinya.
Karena merasa iba, ia pun berjalan menghampiri Evina lalu menggendong tubuh sang istri dengan kedua tangannya.
Dia membawa tubuh lemas Evina ke dalam kamar lalu membaringkannya. Evina masih tidak percaya jika Raja Arezz benar benar telah tiada, hingga dia pun kembali bertanya kepada suaminya di sela sela tangisnya.
''Jawab pertanyaan ku. Apa betul Raja telah wafat.hiks hiks...?''
Tangis Evina pun kembali pecah, meski tanpa suara, namun buliran air mata itu kian deras membasahi pipinya. Pangeran hanya bisa menatap wajah sang istri dengan tatapan sedih, meski tidak merasa bersalah atas apa yang telah ia perbuat, namun melihat kesedihan sang istri yang meratapi kepergian Raja membuatnya sedikit iba, karena walau bagaimana pun ia sangat mengetahui dengan jelas, jika istri nya itu masih sangat mencintai Raja Arezz.
Di desa yang sedang berkonflik, Sebastian berhasil menangkap tiga orang yang telah menyekap Raja dan juga pangeran Brendan, ketiganya langsung di bawa ke istana untuk di adili.
Setelah itu, pencarian pun di mulai, Sebastian, Sakti juga para pengawal yang ikut ke sana terlihat menyusuri hutan untuk mencari jasad dari Raja Arezz, namun pencarian yang di lakukan selama semalaman penuh pun tidak membuahkan hasil.
Mereka tidak dapat menemukan jasad Raja mereka di mana pun di hutan itu, bahkan di jurang tempat Raja terjatuh pun tidak ada jejak keberadaan nya sama sekali.
Akhirnya pencarian pun di hentikan sementara saat ayam mulai berkokok tanda pagi menjelang.
__ADS_1
Mereka berkumpul di satu tempat yang sama, untuk beristirahat sejenak.
''Mengapa jasad Raja tidak di temukan dimana pun? apa mungkin jasad beliau telah di makan oleh hewan buas?'' tanya Sakti masih dengan suara menahan kesedihan.
''Tidak mungkin, apabila hal itu terjadi maka kita pasti akan menemukan jejak atau sisa darah yang berceceran akibat gigitan hewan buas yang memakannya,'' jawab Sebastian.
''Lalu mengapa kita sama sekali tidak menemukan jasad beliau, padahal kita sudah menyusuri hutan ini berkali kali?'' Sakti masih merasa penasaran.
''Kamu tenang dulu, setelah matahari terbit, kita akan melakukan pencarian ulang, mudah mudahan saja jika keadaan terang benderang dapat membantu dan memudahkan pencarian kita,'' Sebastian menenangkan.
Sakti duduk di atas tanah masih dengan keadaan berduka, dirinya sungguh sangat terpukul dengan apa yang menimpa junjungan nya, ia pun kembali menyalahkan diri sendiri atas semua yang telah terjadi.
Air matanya kembali bergulir, meski tangisnya tak bersuara namun kelopak matanya yang terlihat penuh dengan air mata seolah menandakan jika hatinya sedang sangat berduka.
Sebastian menghampiri Sakti lalu mengusap punggung pemuda itu dengan lembut, seolah ingin menenangkan atau pun sekedar memberikan dukungan.
''Semua ini salahku, seharusnya aku tidak membiarkan Raja pergi sendirian, jika ada yang harus mati, seharusnya orang itu adalah aku, karena tugas seorang pengawal adalah melindungi junjungannya, dan mengganti kan kematian orang yang di lindungi nya,'' ucap Sakti masih dengan menangis sesenggukan.
''Tidak Sakti, semua ini sama sekali bukan salah mu, takdir lah yang menentukan nasib setiap manusia,'' ujar Sebastian merasa iba.
''Aku sungguh berharap jika yang mulia Raja bisa di ketemukan dalam keadaan hidup.''
''Mari kita sama sama berharap dan berdoa yang terbaik, semoga Raja bisa segera kita temukan,'' Sebastian menepuk punggung Sakti pelan.
Hari pun perlahan mulai terang, pencarian pun kembali di mulai, Sebastian yang memimpin pencarian membagi pasukannya menjadi dua bagian, satu pasukan di pimpin oleh nya dan satu pasukan lagi di pimpin oleh Sakti.
Mereka kembali menyusuri hutan belantara dengan harapan mereka masih bisa menemuka Yang mulia Raja dalam keadaan hidup.
Namun setelah seharian pencarian itu di lakukan Raja mereka sama sekali tidak dapat di temukan, sampai matahari berada di atas kepala, hingga sinarnya menerangi seisi hutan, tetap saja jejak Raja mereka tidak berada di mana pun di hutan itu.
__ADS_1