
Kandungan Evina sudah menginjak usia 9 bulan, dia lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar, karena perutnya yang sudah membesar membuatnya malas untuk melakukan apapun.
tinggal menunggu hari saja untuknya bisa melahirkan, rasanya dia sudah tidak sabar untuk bisa berjumpa dengan bayi yang saat ini berada di kandungannya.
Saat ini dia sedang duduk di dalam kamarnya, di temani seorang pelayan yang sedang memijat kakinya yang terasa pegal. Kehidupannya sebagai seorang Ratu membuatnya selalu di temani oleh satu orang pelayan yang bertugas melayani Evina.
Pelayan itu pun terlihat sangat baik dan menghormati Evina, dan melayaninya dengan sepenuh hati tanpa ada keterpaksaan sedikitpun.
''Bella, kakiku pegal sekali, padahal seharian ini aku tidak melakukan apapun,'' ucap Evina kepada Bella yang dengan lembut memijat kakinya.
''Itu wajar yang mulia Ratu, memang jika sedang hamil tua seperti ini, kaki akan terasa seperti itu, bahkan ada yang kakinya sampai bengkak,lho.'' Jawab Bella.
''Oh ya...? tapi untung saja kakiku tak sampai bengkak ya.''
Dia menggeser tempat duduknya karena merasa tidak nyaman. Lalu tiba tiba saja perutnya terasa sangat sakit.
''Duh...! Bel, kenapa perutku sakit sekali ya,'' ucap Evina sambil memegangi perutnya, dan meringis kesakitan.
Bella pun panik seketika.
''Apa mungkin yang mulia akan melahirkan,'' ucapnya merasa cemas.
''Arrghh...! sakit sekali.''
''Tunggu sebentar yang mulia, saya akan segera memanggil pelayan lainnya dan memberitahukannya kepada Baginda Raja,'' Bella segera berlari dari dalam kamar.
Tak lama kemudian beberapa pelayan datang bersama Raja Brendan.
''Kamu kenapa Ev...? apa kamu akan segera melahirkan?'' tanya Raja Brendan panik.
''Sepertinya begitu perutku terasa sangat sakit,'' jawabnya dengan masih meringis kesakitan.
''Baiklah, aku akan segera membawamu ke rumah sakit. Kalian semua cepat persiapan perlengkapan bayi, aku akan membawa istriku sekarang, kalian nyusul ya,'' ucapnya lalu menggendong Evina dengan kedua tangannya.
''Baik, yang mulia.'' Ucap para pelayan yang berada di sana, menatap Evina dan juga Raja.
Di Rumah Sakit.
Evina segara di bawa di ruangan bersalin, dan Raja hanya menunggu di luar dengan perasaan cemas. Tak lama kemudian Putri Elsa dan Permaisuri segera datang setelah mendengar kabar dari pelayan.
__ADS_1
''Bagaimana keadaan Evina kak? apa dia sudah melahirkan?'' tanya sang putri.
''Belum, dia baru saja di bawa ke dalam ruangan.''
''Kita berdoa saja kak, semoga proses persalinan nya lancar, tanpa hambatan apapun,'' putri mengelus punggung sang Kaka dengan lembut.
''Jangan cemas begitu? sebentar lagi juga bayinya keluar,'' permaisuri berbicara dengan suara datar.
''Ibu, kenapa nada suaramu seperti itu?'' tanya Putri merasa heran.
''Memangnya ibu kenapa? ibu tidak bilang sesuatu yang salah ko, kakakmu ini tidak usah terlalu khawatir, lagi pula belum tentu bayi yang akan segera di lahir kan itu benar benar darah daging nya,'' jawab permaisuri ketus.
''Ibu...! Jangan bilang seperti itu, kak Evina itu istrinya, tentu saja bayi itu adalah darah daging Kaka, ibu mengatakan hal yang sungguh menyakitkan.'' Jawab sang putri merasa kesal.
Permaisuri hanya terdiam sambil menunjukan wajah yang tidak merasa bersalah sedikitpun. Sejujurnya, ia malas berada di sana, kalau bukan karena putri Elisa yang memintanya untuk memberi dukungan kepada Raja Brendan, selain dia tidak terlalu suka kepada menantunya itu, dia juga merasa jika Evina bukanlah menantu idaman baginya.
Baginya, Evina sama sekali tidak pantas bersanding dengan Raja, apalagi mengingat bahwa Evina adalah mantan kekasih dari Raja Arezz yang dia kira sudah tiada, membuatnya semakin kesal apabila melihat wajah menantunya tersebut.
Satu jam kemudian, terdengar suara tangis bayi dari dalam sana, Raja Brendan pun tersenyum senang, lalu berdiri hendak masuk ke dalam ruangan.
Namun, karena Dokter segera keluar dari dalam, Raja pun menghentikan langkahnya dan bertanya terlebih dahulu kepada Dokter tersebut.
''Selamat, Baginda, Ratu Evina melahirkan seorang putra, dengan selamat dan tanpa kurang satu apapun,'' jawab Dokter.
''Syukurlah,'' Raja mengusap wajah dengan kedua tangannya merasa lega.
''Bolehkah saya masuk dan melihat bayi ku, Dokter?''
''Tentu saja, Baginda.'' Dokter mempersilahkan.
Raja Brendan pun langsung berlari memasuki ruangan bersalin, dengan wajah dan senyuman gembira terlihat dari kedua sisi bibirnya.
Raja berdiri di samping tempat tidur, Evina yang sedang tergolek lemah setelah melahirkan. Tangannya tampak memangku bayi laki laki yang terlihat sangat tampan.
''Ini bayiku?'' Raja bertanya sambil menatap bayi yang berada di pangkuan Evina, matanya terlihat berkaca kaca tak percaya bahwa akhirnya dia memiliki seorang putra.
''Bolehkan aku menggendongnya?'' tanya Raja.
''Tentu saja,'' Evina menjawab dengan tersenyum.
__ADS_1
Raja memangku bayi kecil nan tampan itu, bayi yang masih merah itu menatap Raja lalu menangis. Suaranya seolah menggema membuat Raja Brendan panik seketika.
''Eak...eak...eak...''
Suara Bayu menangis.
''Cup... cup... cup, sayang, Ini ayah mu nak, jangan menangis sayang, cup... cup... '' Raja tersenyum sambil menimang nimangnya.
Tak lama kemudian, bayi itu pun terdiam lalu tertidur di pangkuan sang Raja. Sungguh hati Raja Brendan merasa sangat bahagia, senyum mengembang terlihat tak pernah terhenti dari bibirnya, dia sama sekali tidak menyangka bahwa dia memiliki seorang putra, dan tentu saja putranya itu akan menjadi putra mahkota, menggantikan dirinya, kelak.
''Bayi kita akan di beri nama siapa ya?'' tanya Evina.
''Oh iya, aku tidak sempat memikirkannya,'' jawab Raja.
Mereka berdua terdiam sejenak, memikirkan nama yang cocok untuk putra kesayangan. Sampai akhirnya Evina menemukan nama yang cocok untuk bayi tampannya.
''Adam...! aku akan menamai bayi kita dengan nama Adam, bagaimana? bukankah nama itu cocok untuk dia?'' ucap Evina dengan tersenyum.
''Nama yang bagus, aku setuju. Wahai putra kesayangan ayah, ayahanda mu ini menamai mu dengan nama Adam, semoga kau jadi anak yang baik dan juga Sholeh, dan suatu saat nanti kau akan menggantikan ayah sebagai seorang Raja di kerajaan Underland ini,'' Raja berbisik di telinga bayi Adam.
_____-----_____
Raja Arezz yang sudah berganti nama menjadi Ryan, sudah sampai di kota, dia sudah menetap di sana selama beberapa bulan, tentu saja dia bersama Flora, yang selalu ia jaga dan sudah ia anggap sebagai adik sendiri.
Hari ini mereka berdua berencana untuk mencari pekerjaan, karena bekal yang di berikan oleh kakek sudah semakin menipis, sudah dipakai untuk makan dan membayar uang sewa tempat tinggal, mereka harus segera mendapatkan uang agar mereka berdua bisa bertahan hidup.
Ryan dan Flora berjalan ke sebuah pasar, keduanya bertanya ke setiap toko yang berada di sana, apakah toko mereka membutuhkan seorang pekerja, lama berjalan namun keduanya tetap belum bisa mendapatkan pekerjaan.
Akhirnya mereka pun duduk di emperan sebuah toko yang terlihat sudah tutup dan di tinggal oleh pemilik nya.
''Apa kamu capek?'' tanya Ryan memandang wajah Flora yang terlihat berkeringat.
''Lumayan, ternyata mencari pekerjaan tak semudah yang di bayangkan, ya?'' Flora mengusap keringat di pelipis wajahnya.
Ryan hanya tersenyum.
Beberapa saat kemudian, tiba tiba saja ada seorang pria yang memanggil nama Raja dengan nama aslinya, dengan suara bergetar dari kejauhan.
''Raja Arezz...?'' pria itu memanggil dengan suara yang terdengar syok dan sedikit berteriak.
__ADS_1
_______________---------_______________