
Kini sang Raja Arezz sudah meringkuk di atas lantai bersama pangeran Brendan, di kelilingi oleh tiga orang bertubuh besar dan juga tinggi.
Lalu mereka berdua dibawa ke dalam rumah tersebut dengan cara di bopong satu persatu. Mereka pun di ikat di sebuah kursi kayu.
''Mau kita apakan mereka berdua,'' tanya salah seorang dari mereka.
''Apa tidak sebaiknya kita interogasi dulu mereka setelah mereka bangun nanti?''
''Iya, kita akan melakukannya, kau ambilkan satu ember air untuk membangun kan mereka,'' pinta laki laki bertubuh besar yang tadi di panggil bos oleh mereka.
''Baik bos.''
Lalu tak lama kemudian.
Byur...
Wajah sang Raja di guyur oleh seember air dan membuatnya membuka mata seketika sambil terbatuk karena air yang di timpakan kepadanya masuk ke dalam hidung dan juga mulut nya.
Hal yang sama pun di lakukan kepada pangeran Brendan, ia pun membuka mata lalu menatap satu persatu orang yang sedang berada di sana.
''Kalian akan menyesal karena telah melakukan hal ini kepada kita berdua,'' ucap sang pangeran dengan wajah marah.
''Memangnya kalian siapa? pasti kalian hanya kacung nya si Bruno yang me mata matai daerah sini agar bisa menguasai mata air bersih yang terdapat di wilayah kami.''
''Tidak...! kami sudah bilang, kami tidak kenal dengan orang yang bernama Bruno," pangeran Brendan terlihat semakin geram.
"Diam kamu," ujar salah satu dari mereka dengan melayangkan pukulan di perut sang pangeran, yang sontak membuatnya langsung meringis kesakitan.
"Aku adalah Raja negeri ini, berani berani nya kalian melakukan hal seperti ini kepada kami," ucap Raja Arezz dengan berteriak.
"Ha..ha..ha.." mereka hanya tertawa terbahak bahak menanggapi ucapan Raja Arezz.
"Jika kamu adalah Raja, maka aku menantu Raja.."
"Kurang ajar kalian," pangeran Brendan semakin geram dan berusaha melepaskan diri dari ikatan tali yang membelenggu kaki serta kedua tangannya.
"Hentikan Brendan, kita harus tenang," Raja berusaha menenangkan adiknya.
__ADS_1
''Aku sungguh tidak berbohong, aku jauh jauh datang kemari karena menerima laporan jika di desa ini telah terjadi huru hara akibat krisis air bersih,'' Raja Arezz menjelaskan dengan suara tenang dan berwibawa.
Ketiga orang tersebut terlihat diam saja, seperti sedang memikirkan ucapan yang baru saja di ucapkan oleh Baginda Raja.
Suasana pun hening seketika.Ketiga orang tersebut hanya saling menatap satu sama lain, dengan tatapan tanda tanya.
''Sudahlah, aku akan memastikan dulu identitas kalian, nanti apabila kami sudah yakin dengan apa yang baru saja kau ucapkan, maka kami baru akan melepaskan kalian berdua.''
''Dasar bodoh, apa kalian pikir kalian akan selamat jika istana sampai tahu jika Raja serta pangeran nya di sekap dan di perlakuan seperti ini?'' sungut pangeran Brendan dengan menahan kesal.
Ketiganya nampak kembali terdiam, sampai akhirnya salah satu dari mereka meminta bukti yang nyata jika apa yang di katakan oleh Raja Arezz adalah benar.
''Baiklah...! aku akan membuktikan, jika aku adalah seorang Raja, kami kemari mengendarai mobil mewah berlogokan kerjaan Underland, mobil itu di parkir di gerbang menuju desa ini, coba kalian cek saja ke sana.'' ucap sang raja mencoba meyakinkan.
''Baiklah, salah satu dari kami akan memeriksa ke sana.''
Lalu laki laki bertubuh besar dan berkumis tampak berjalan keluar dari dalam rumah untuk memastikan yang baru saja di katakan oleh kedua sandera mereka benar atau tidak.
''Bagaimana ini, sudah lebih dari satu jam mereka masih belum kembali juga?'' Sakti terlihat khawatir.
''Aku juga sangat cemas, apa kita menyusul saja mereka ke sana?''
''Tidak...! jika kita melakukan itu, maka hidup kita pun akan berada dalam bahaya, siapa nanti yang akan memberi kabar kepada istana tentang apa yang terjadi pada yang mulia Raja?"
"Kamu benar, lalu apa yang akan kita lakukan?" pangeran Brian bertanya dengan wajah muram.
"Apa sebaiknya sekarang kita kembali saja ke istana, memberikan tahukan pesan terakhir dari Baginda Raja untuk meminta bantuan kepada Sebastian?"
"Aku setuju, kita harus segera memberitahukan hal ini kepada kepala pengawal, sebelum sesuatu yang buruk benar benar terjadi kepada kedua kakakku," ucap pangeran Brian yang menyetujui usulan dari pengawal pribadi kakaknya itu.
Keduanya pun berjalan sambil mengendap endap, keadaan yang sudah mulai gelap pun seolah memudahkan mereka untuk berjalan sambil terus waspada dan melihat ke sekeliling desa.
Akhirnya mereka pun sampai di mobil yang tadi mereka parkir di depan gerbang desa.
Dan dengan segera, mereka pun masuk ke dalam mobil menyalakan mobil lalu tancap gas agar bisa segera pergi dari tempat itu.
__ADS_1
Sesaat setelah mereka pergi, orang yang di utus oleh mereka yang menyekap Raja Arezz dan juga pangeran datang, mereka terlambat karena mobil yang di maksud oleh Raja Arezz sudah tidak berada di sana, dan ia pun mengira jika kedua orang itu benar benar berbohong dan hanya mengaku ngaku sebagai Raja dan pangeran.
Setelah memastikan dengan teliti, orang tersebut pun kembali ke rumah tadi dimana ia dan teman lain nya berada, untuk melaporkan jika di katakan oleh kedua orang yang mereka sekap adalah bohong.
Trok trok trok
Dia mengetuk pintu lalu masuk ke dalam rumah.
"Bagaimana? apakah yang katakan eh mereka berdua benar?"
"Semua yang mereka katakan bohong ketua, di sana sama sekali tidak ada mobil kerajaan yang terparkir di depan gerbang," jawab orang berkumis.
"Apa...?" Raja terkejut.
"Apa mungkin Sakti dan Brian meninggalkan kita di sini?" ucap pangeran Brendan pelan.
"Mungkin karena kita sudah terlalu lama pergi, mereka segera kembali ke istana untuk meminta bantuan," jawab Raja Arezz dengan berbisik.
"Kalian sungguh telah membodohi kami," ketua terlihat marah lalu
Plak...
Dia menampar pipi Raja Arezz dengan sangat keras hingga darah segar pun keluar dari sudut bibirnya.
"Hentikan...! berani berani nya kalian menampar Raja negeri ini," pangeran Brendan berteriak.
"Apa Raja...? ha..ha..ha.."
Plak...
Pangeran Brendan pun mendapat giliran.
"Terserah jika kalian tidak percaya dengan ucapan kita, namun kalian harus menunggu sampai pagi, karena para pengawal kerajaan akan segera datang kemari untuk menyelamatkan kita berdua," ucap Raja masih dengan nada tenang dan berwibawa.
"Diam kamu, tak usah mengarang, sekarang juga aku akan membawa kalian ke pimpinan kalian sebagai timbal balik agar mereka tidak menyentuh ataupun mengakui tanah yang terdapat sumber air bersih yang berada di daerah kami." sungut sang ketua, lalu mereka pun segera di seret keluar untuk di hadapkan kepada rival mereka yang bernama Tuan Bruno.
__ADS_1