
Sakti sedang berjalan hendak menuju kamar pangeran Arezz. Lalu tak sengaja ia melihat Evina sedang berjalan menuju lantai tiga, karena merasa curiga dia pun diam diam mengikuti Evina, sampai akhirnya Sakti melihat Evina memasuki kamar Pangeran Brendan.
Lalu dengan segera ia pun berlari ke kamar pangeran Arezz yang terletak di lantai satu dan melaporkan semua yang ia lihat kepada pangeran Arezz.
Pangeran Arezz terlihat sangat kaget saat mendengar hal tersebut, dia tampak sangat marah dan segera berlari menuju kamar pangeran Brendan.
Karena jarak dari kamar Pangeran Arezz menuju kamar Pangeran Brendan cukup jauh, sehingga memakan waktu yang lumayan lama untuk sampai ke sana.
Dengan nafas yang ter engah engah mereka berdua pun sampai di depan kamar itu dan segera membuka kamar saat mereka mendengar suara Evina menjerit.
Bruukkk....
Mereka berdua membuka pintu dengan sangat keras, meski pintu tidak dalam keadaan terkunci namun karena pangeran Arezz sedang dalam keadaan emosi sehingga dia tidak ragu untuk membuka pintu lalu menendang nya dengan sangat keras sehingga terdengar bunyi yang sangat nyaring membuat pangeran Brendan terkejut, begitu pun dengan Evina yang sudah dalam keadaan menangis.
Pangeran Arezz berlari ke arah mereka berdua, lalu meraih kerah kimono yang dikenakan oleh Pangeran Brendan dan melayangkan tinju yang sangat keras ke wajahnya hingga dia pun jatuh ke lantai.
Sementara itu Evina yang masih dalam keadaan syok dan menangis, berdiri dan segera berlari untuk bersembunyi di belakang tubuh Pangeran Arezz.
Pangeran Brendan yang terkejut karena mendapat kan bogem mentah dari sang kakak mencoba untuk berdiri kembali, dengan tangan yang mengusap ujung bibirnya yang terlihat sedikit berdarah.
''Brengsek kamu, aku benar-benar malu memiliki adik sepertimu, kelakuanmu ini benar-benar sudah mencoreng nama baikmu sebagai seorang pangeran,'' ujar Pangeran Arezz dengan berapi-api.
Pangeran Brandan berdiri hendak membalas perbuatan dari kakaknya, namun Sakti yang berdiri tak jauh dari mereka, segera menghampirinya dan mengarahkan sebuah pistol tepat ke wajah Pangeran Brendan yang membuatnya menghentikan langkahnya seketika.
''Hei... kenapa kamu seperti ini, dia hanyalah seorang pelayan biasa, bukankah setiap pelayan yang ada disini berkewajiban untuk melayani tuannya dan mematuhi setiap perintah?'' sungut pangeran Brendan.
''Kamu boleh menginginkan siapapun, tapi tidak boleh wanita ini,'' jawab Pangeran Arezz.
''Kenapa tak boleh? apakah kau juga menginginkan nya? kita bisa bergantian memilikinya jika kau juga menginginkan pelayan ini.''
''Brengsek...'' pangeran Arezz hendak melangkah kembali dan menghantam Pangeran Brendan, namun Evina mencegahnya dengan cara menggenggam dengan sangat erat baju dari pangeran sehingga dia mengurungkan niatnya tersebut.
''Sudah hentikan aku tidak apa-apa,'' ucap Evina masih dengan lelehan Air Mata di kedua pipinya.
''Jika kamu berani menyentuh wanita ini lagi aku tidak segan-segan untuk melakukan hal yang lebih keji daripada ini, aku tidak peduli meski kau adalah adikku sendiri,'' pangeran Arezz menunjuk satu tangannya ke arah adiknya, lalu berbalik dan meraih tangan Evina untuk pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
''Semakin kau melarang ku, maka aku akan semakin menginginkannya, karena tidak ada satu pun wanita di istana ini tidak dapat aku miliki, termasuk wanita ini,'' ujar pangeran Arezz dengan sedikit berteriak.
Dan sontak ucapannya tersebut sukses membuat Pangeran Arezz semakin tersulut emosi, lalu dirinya berjalan kembali ke arahnya dan melayangkan tinju yang bahkan terlihat lebih keras dari pukulannya sebelumya.
Sehingga membuat pangeran Brendan terpelanting lebih jauh, dan darah segar pun kembali keluar dari dalam hidungnya.
''Jika aku sudah menduduki singgasana, aku pastikan bahwa aku akan mencabut gelarmu sebagai seorang pangeran, karena manusia bejat sepertimu sama sekali tidak pantas untuk menyandang gelar tersebut.''
Ucap pangeran Arezz yang lalu benar benar pergi meninggalkan kamar adiknya dengan menggenggam erat pergelangan tangan Evina untuk berjalan bersamanya, yang susul juga oleh Sakti di belakangnya.
Pangeran Brendan meringis kesakitan di atas lantai, tangannya tampak mengusap hidung serta bibirnya yang mengeluarkan darah segar.
Lalu dia mengepalkan kedua tangannya dan berniat di dalam hatinya jika dia akan membalas perbuatan kakaknya tersebut.
''Tunggu pembalasan ku Arezz, sekarang aku telah benar benar menemukan kelemahan mu, yaitu wanita itu...'' ujar nya pelan dengan sedikit tersenyum licik.
***
Pangeran Arezz membawa Evina ke dalam kamarnya, karena keadaan sudah larut malam sehingga tidak ada seorang pun yang melihat mereka berdua, kecuali Sakti yang kini ikut berjalan di belakang mereka.
Di dalam kamar.
Evina duduk di atas kursi, dirinya masih terlihat syok, jarinya terlihat mengusap air mata yang masih tersisa di pelupuk matanya.
''Apa kamu bodoh Ev? mengapa kamu bisa ada di sana malam malam begini?'' ucap Pangeran Arezz dengan sedikit emosi
''Aku hanya mengikuti perintah, aku tak tahu jika dia akan berbuat seperti ini padaku,'' jawab Evina dengan sedikit terisak.
Pangeran Arezz meraih tubuh kurus wanita yang berada di hadapan nya lalu mendekap dalam pelukannya, Evina pun menangis tersedu di pelukan sang kekasih seakan meluapkan semua kesedihan yang sudah sedari tadi ia tahan.
''Maafkan aku karena tak bisa melindungi mu, mulai saat ini aku pastikan jika adikku itu tak akan bisa lagi menyentuh tubuh mu,'' ujar pangeran Arezz lalu mengecup pucuk kepala wanita yang sangat di cintai nya itu.
Evina hanya mengangguk, lalu melepaskan pelukannya, dirinya memandang lekat wajah sang pangeran yang kini berada sangat dekat dengan wajahnya.
''Aku sangat mencintaimu,'' ucap pangeran secara tiba tiba.
__ADS_1
Evina menunduk tidak menjawab ucapan pangeran.
''Apakah masih ada rasa cinta untukku di dalam hatimu?''
Ujarnya lagi setelah tidak mendengar jawaban dari wanita di hadapannya.
''Maafkan aku,'' ucap Evina masih dalam keadaan menunduk.
''Kenapa...?''
''Aku merasa tidak pantas untuk bersanding dengan dirimu yang merupakan seorang pangeran, dan calon pewaris tahta, meski rasa cinta itu masih bersemayam di lubuk hatiku,'' jawab Evina masih dalam keadaan menunduk.
Pangeran terdiam sejenak.
''Apa yang harus aku lakukan agar dirimu benar benar mau menerimaku lagi? aku sama sekali tidak menginginkan Tahta itu dan aku juga tidak sedikit pun merasa bangga dengan status ku sebagai seorang pangeran? jika kau menginginkan nya maka aku melepaskan semua itu dan memulai hidup baru bersamamu,'' ujar pangeran dengan sangat tulus.
Evina menggeleng kan kepalanya.
''Tidak... ! kamu tak boleh melakukan itu hanya demi wanita biasa seperti aku, aku yakin kau akan menjadi Raja yang baik dan bijak kelak.''
''Baik lah, aku akan menjadi Raja dan duduk di singgasana, dan setelah itu aku akan mengeluarkan perintah untuk menjadikan mu sebagai pendampingku, dengan begitu tidak ada satupun yang bisa menentang ku.''
Lalu Evina tersenyum tipis.
''Itu namanya menyalah gunakan kekuasaan untuk kepentingan mu pribadi.''
Pangeran Arezz senang akhirnya bisa melihat Evina tersenyum.
Lalu ia meraih wajah Evina dan mengusapkan jarinya dan membersihkan sisa sisa air mata di kelopak matanya.
''Aku akan menunggumu sampai kapanpun, sampai kau benar benar siap untuk kembali padaku dan bersedia mendampingiku.''
Ujar pangeran Arezz dengan memandang lekat wajah wanita yang di cintai nya.
*****
__ADS_1