KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA

KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA
Melarikan diri


__ADS_3

Raja Arezz dan juga pangeran Brendan di seret secara paksa menuju keluar rumah, tangan keduanya di ikat seuntas tali dengan sangat kuat sehingga mereka sulit untuk melepaskan diri apa lagi lari.


''Kalian akan menyesal karena telah melakukan ini pada kami,'' pangeran Brendan berteriak dengan sangat kencang.


''Diam kamu,'' ucap salah satu dari mereka.


Mereka di bawa ke sebuah tanah lapang yang luas, berada di tengah tengah nya dalam keadaan tangan terikat.


Tanah lapang itu di kelilingi oleh hutan yang rimbun dan gelap gulita, pangeran Brendan nampak melihat sekeliling ia merasa merinding mengingat pasti di dalam hutan terdapat banyak hewan buas yang pasti telah siap memangsa mereka berdua, ia pun berdiri membelakangi sang Kaka lalu berbisik.


''Kak, kita harus bisa melarikan diri, jika tidak kita akan mati sia sia di sini,'' ucapnya dengan berbisik.


''Iya, kemari kan tangan mu, aku akan mencoba membuka ikatan yang berada di belakang tanganmu, setelah itu kau juga harus membuka punya ku,'' jawabnya dengan suaran pelan.


''Baiklah kak.''


Sang pangeran berdiri tepat di belakang sang Raja, mendekatkan tangan nya yang terikat tepat di punggung sang Raja, agar dia bisa membuka ikatan yang membelenggu tangannya.


Saat ketiga orang yang menyekap mereka lengah, sang Raja dengan segera mencoba membuka ikatan tangan pangeran dengan mata memandang ke arah tiga orang itu sambil tetap waspada.


Ketiga orang bertubuh besar itu seperti sedang berunding sehingga mereka tidak terlalu memperhatikan pangeran dan juga Raja.


Setelah bersusah payah, akhirnya sedikit demi sedikit ikatan itu pun terbuka.


''Cepat buka punyaku Brendan,'' ucap sang raja.


Dan dengan segera sang pangeran pun melepaskan ikatan tangan sang Kaka.


Mereka pun akhirnya bisa terbebas, lalu segera berlari sekuat tenaga saat ketiga orang itu lengah dan tidak memperhatikan keduanya.


Kaki mereka hampir saja sampai di hutan belantara saat salah satu dari mereka menyadari kepergian keduanya, dan dengan segera ketiganya mengejar sambil terus menembakan busur panah yang memang sudah sedari tadi di bawanya.


Satu anak panah melesat hampir saja mengenai sang Raja hingga ia pun terjatuh ke atas tanah.


''Kak, cepat bangun,'' Pangeran meraih lengan Raja lalu membantunya berdiri dan berlari.


''Cepat kejar mereka,'' dengan berteriak dan berlari mengejar.

__ADS_1


Ketiga orang itu berlari semakin mendekat, dengan tatapan mata tajam serta wajah garang, sambil terus menembakan anak panah.


Pangeran dan juga Raja berlari dengan kencang, sampai mereka benar benar terbebas dari ketiga orang yang mengejar mereka, keduanya bersembunyi di balik pepohonan yang tinggi di dalam hutan.


Raja tampak memegangi lengannya yang terlihat mengeluarkan darah segar, rupanya anak panah yang tadi di tujukan kepadanya sempat menyerempet lengan kiri nya hingga merobek sedikit lengannya.


Raja pun nampak kesakitan sambil menutup luka yang semakin banyak mengeluarkan darah.


''Tanganmu terluka kak,'' pangeran Brendan memperhatikan lengan sang Kaka.


''Tak apa apa, kita harus berlari keluar dari hutan ini,'' ucap Raja dengan wajah yang meringis kesakitan.


''Kita harus membalut luka mu terlebih dahulu.''


''Tidak ada waktu, kita harus terus berlari, jika tidak mereka akan menemukan kita.''


Mereka pun kembali berlari, sampai akhirnya mereka tiba di tebing tinggi dan curam.


''Jalan buntu,'' ucap sang pangeran dengan menatap ke bawah tebing.


''Bagaimana ini?'' jawab Raja dengan memperhatikan ke sekeliling hutan.


Ia pun nampak berfikir untuk melakukan hal yang di rencanakan ibundanya kepada Raja Arezz, sesuatu yang dapat membuatnya naik tahta menggantikan kakaknya.


Pangeran Brendan berjalan mendekat ke arah Raja, dengan tatapan serta wajah tersenyum licik.


''Apa yang kamu lakukan?'' tanya Raja sembari berjalan mundur dan tepat berada di pinggir tebing.


''Maafkan aku kak, aku harus melakukan ini,'' pangeran masih tersenyum licik nan sinis.


''Aku mohon jangan melakukan ini, ada apa dengan mu?''


''Aku akan menggantikan posisimu, dan menjalankan amanah Ayahanda untuk menjadi Raja yang baik dan bijak, kamu tidak usah khawatir dan beristirahat lah dengan tenang.''


''Tidak-----'' Raja berteriak dengan kencang saat lengan adiknya mendorong bahu nya lalu ia pun terjatuh ke dalam jurang.


''Brengsek kamu Brendan,'' suara Raja menggema seraya tubuhnya seperti melayang di udara menuju dasar jurang.

__ADS_1


''Ha..ha..ha..! maafkan aku kak, hanya ini satu satu nya cara agar aku bisa mewujudkan impian ibunda yang sangat ingin melihat ku duduk di singgasana, semoga kau tenang di alam sana," pangeran Brendan memperhatikan tubuh kakaknya yang perlahan tak terlihat karena termakan pekatnya nya malam.


Ia pun kembali berlari, meninggalkan tempat itu, dengan wajah senang, karena akhirnya bisa menyingkirkan kakaknya, dan berfikir bahwa dia akan segera menjadi Raja menggantikan sang Kaka.


Di istana, Sakti dan juga pangeran Brian segera berlari menuju tempat para pengawal kerajaan berada, ia mencari kepala pengawal yang bernama Sebastian yang merupakan pengawal kepercayaan mendiang Raja Arthur.


Sakti menceritakan apa yang menimpa mereka kepada Sebastian, dan dengan segera Sebastian mengumpulkan para pengawal kerajaan untuk pergi ke desa tersebut agar bisa dengan cepat menyelamatkan Raja mereka dan juga pangeran Brendan.


Evina sedang meringkuk di dalam kamarnya, entah mengapa malam ini dirinya merasa gelisah dan sedikit pun tak bisa terpejam.


Ia pun memutuskan untuk turun dari atas ranjang, dan berjalan menuju balkon untuk mencari udara segar.


Dirinya pun berdiri di atas balkon, memandang langit gelap pekat yang hanya di hiasi sedikit bintang yang terlihat berkilauan mewarnai gelapnya malam.


Sampai tiba tiba saja dirinya terusik oleh suara ramai para pengawal di bawah sana, mereka seperti sedang terburu buru hendak pergi ke suatu tempat bersama Sakti dan juga pangeran Brian.


Ada lebih dari 30 pengawal yang seperti nya sedang bersiap untuk pergi dengan senjata Laras panjang tampak di lengan mereka masing masing.


Ada apa ini, mengapa mereka seperti akan pergi berperang? (batin Evina berucap)


Evina mengelus perutnya yang terlihat semakin membesar, lalu karena penasaran ia pun berlari keluar dari kamarnya dan hendak menghampiri dan bertanya kepada Sakti dan juga pangeran Brian.


Ia pun menuruni tangga, dan berlari keluar istana dan berharap jika mereka berdua masih berada di sana.


''Sakti...!"


Evina berteriak memanggil Sakti yang sudah hampir saja memasuki mobil.


Sakti menoleh dan berdiri menatap Evina yang perlahan berlari mendekat.


"Ada apa? di mana Raja dan juga suamiku?" tanya Evina dengan wajah cemas.


"Mereka masih di sana, kami akan segera menjemput mereka berdua."


"Apa maksudmu?"


"Aku harus segera pergi, jika tidak? keselamatan Raja dan pangeran akan terancam."

__ADS_1


 


__ADS_2