
Sudah lebih dari satu Minggu Evina di rawat di Rumah Sakit, dan karena kondisi nya sudah semakin membaik Evina pun sudah di perbolehkan pulang oleh Dokter yang merawat nya.
Evina kembali ke istana dengan di temani oleh beberapa orang pelayan yang selalu setia menemani nya di Rumah Sakit.
Karena kini ia calon menantu Raja, maka ia pun di beri kamar khusus yang lebih besar dan juga mewah. Dengan langkah yang masih terasa lemas Evina pun masuk ke dalam kamar yang sudah di sediakan untuk dirinya.
Ceklek...
Evina membuka lalu masuk ke dalam kamar, matanya tampak berkeliling melihat seisi kamar yang terlihat sangat luas serta di lengkapi dengan barang barang mewah di dalam nya.
Dirinya sama sekali tidak pernah berpikir akan memiliki kamar yang luas nya bahkan 10 kali lipat dari tempat tinggalnya di kota Barsom.
Ia berbaring di ranjang besar yang terletak tepat di tengah tengah kamar, meringkuk dengan posisi memeluk kedua lututnya, meratapi nasib buruknya.
Saat ia hendak memejamkan mata, tiba tiba saja seseorang membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam.
Ceklek..
Seseorang membuka pintu kamar, Evina pun mencoba berdiri untuk melihat siapa yang masuk ke dalam kamarnya.
''Halo sayang... calon istriku...'' pangeran Brendan berjalan menghampiri Evina yang sudah berdiri ketakutan di samping ranjang.
Tangannya tampak sedikit bergetar tatkala melihat wajah laki laki yang telah merenggut kesucian nya, sekujur tubuhnya terasa kaku saat bayang bayang malam itu kembali singgah di dalam otaknya.
''Kamu mau apa?'' Evina mundur satu langkah dari tempatnya nya berdiri, saat tubuh kekar dengan wajah yang tersenyum nakal berjalan semakin mendekat ke arah dirinya.
''Kenapa? mengapa kamu takut di dekati oleh calon suami mu ini,'' dengan tersenyum menyebalkan.
''Jangan mendekat,'' mundur beberapa langkah.
__ADS_1
''Hei....! kamu kenapa? tak usah takut, toh kita akan segera menikah, kamu harus bersiap untuk hidup menderita karena kekasihmu itu lebih memilih Tahta dan mencampakkan dirimu begitu saja,'' meraih pinggang Evina lalu menarik nya sangat dekat dengan dirinya.
''Lepaskan....'' Mencoba melepaskan diri.
''Lepaskan...? kenapa aku harus melepaskan mu? kamu sendiri yang lebih memilih menjadi istri ku di banding meminta kekasih mu itu membawa mu pergi dari sini, jadi mulai saat ini kau harus menyiapkan mental mu untuk menerima konsekuensi atas pilihan yang telah kau buat,'' pangeran Brendan memainkan jarinya di wajah Evina, sehingga membuat gadis itu semakin ketakutan.
''Kamu telah merampas kesucian ku, apa tidak ada itikad baik sedikit pun di dalam hatimu untuk meminta maaf padaku atau sekedar menunjukan rasa penyesalan telah menghancurkan hidup seseorang,'' ujar Evina dengan tatapan tajam.
''Menghancurkan hidupmu...? apa tidak salah? berkat perbuatanku itu, sekarang kau menjadi calon menantu Raja, itu artinya aku telah mengangkat derajatmu dari seorang pelayan rendahan menjadi seorang bangsawan, seharusnya kau berterima kasih kepadaku.''
Evina hanya terdiam.
''Pernikahan kita akan di selenggarakan dua Minggu lagi dari sekarang, jadi aku harap kamu bisa melupakan kakakku dan mulai belajar melayani ku sebagai seorang istri,'' pangeran Brendan mendekatkan bibirnya hendak mencium Evina, namun Evina segera memalingkan wajahnya sehingga bibir pangeran Brendan tidak mengenai bibirnya.
Karena merasa kesal, ia pun meraih dengan kasar wajah Evina lalu benar benar mendekatkannya tepat berhadapan dengan wajah dirinya, ia pun mencium bibir Evina dengan kasar hingga membuat gadis itu serasa tidak dapat bernafas dan hanya bisa terpejam.
Setelah merasa puas, pangeran Brendan pun melepaskan bibirnya dan memeluk gadis itu lalu berbisik di telinga nya.
Evina hanya terdiam mendengar semua itu, sekujur raganya serasa mati rasa, dia pun seolah hanya membiarkan saat bibir laki laki itu kembali melahap bibir mungilnya.
Setiap sentuhan yang yang di layangkan oleh laki laki yang akan segera menjadi suaminya itu seolah tidak dapat membangunkan gairah cinta di dalam tubuhnya.
Setelah merasa puas pangeran Brendan pun keluar dari dalam kamar, meninggalkan Evina di atas ranjang dalam keadaan meringkuk menahan kesal.
Setelah laki laki itu puas memainkan dirinya, Evina pun beranjak dari tempat tidurnya nya lalu berjalan menuju kamar mandi, dirinya ingin segera membersihkan tubuhnya yang telah di gerayangi oleh tangan kotor pangeran Brendan.
***
Istana sedang di ramaikan oleh para pelayan yang sedang sibuk mempersiapkan acara pernikahan pangeran ke dua, karena ini adalah acara pernikahan yang pertama di selenggarakan, maka sang Raja ingin acara ini di adakah semeriah dan semewah mungkin.
__ADS_1
Siapa pun boleh datang menyaksikan perhelatan besar ini, yang akan di adakan di Aula kerajaan.
Di saat semua sedang sibuk dengan tugas masing masing, pangeran Arezz yang masih belum bisa menerima kenyataan, menatap dengan sinis ke arah para pelayan.
Sang pangeran yang biasa bersikap ramah dan sopan serta selalu menebarkan senyum pada siapa saja yang di temui nya, kini berubah drastis, senyum yang selalu di perlihatkan nya seolah telah menghilang, di gantikan oleh tatapan sinis nan brutal yang kini ia perlihatkan kepada semua orang.
''Kaka...'' putri Elisa menghampiri Pangeran Arezz yang sedang berjalan.
''Ada apa,'' pangeran menghentikan langkahnya.
''Kaka mau kemana?''
''Bukan urusanmu,'' jawab sang pangeran, lalu pergi begitu saja dari hadapan adik bungsunya tersebut.
Putri yang menyadari perubahan sikap dari kakaknya itu hanya bisa memandang punggung sang Kaka dengan perasaan iba, hati siapa yang tidak patah melihat wanita yang di cintai nya akan segera menikah dengan orang lain, apa lagi laki laki itu adalah adiknya sendiri, sungguh sang putri dapat merasakan kesedihan yang mendalam yang saat ini sedang di rasakan oleh kakak pertama nya itu.
Rupanya pangeran Arezz mendatangi kamar Evina, diri nya ingin meyakinkan wanita pujaan hatinya prihal keputusan yang telah di buatnya itu.
Ceklek...
Pangeran Arezz membuka pintu kamar lalu menutup nya kembali dengan pelan.
''Ada apa pangeran kemari? silahkan keluar sebelum para pelayan melihat kedatangan dirimu dan melaporkan nya kepada calon suami saya,'' ujar Evina berdiri sambil memandang pangeran yang sedang berjalan ke arah dirinya.
''Apakah keputusan mu itu masih bisa di ubah Ev, sebelum terlambat,'' pangeran berdiri tepat di hadapan Evina.
''Maaf, aku tak bisa,'' menunduk lalu mundur beberapa langkah dari hadapan sang pangeran.
Pangeran meraih tubuh ramping Evina dengan kasar lalu mendekapnya di dalam pelukannya.
__ADS_1
*****