KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA

KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA
Pergi ke daerah konflik


__ADS_3

Sang Raja kembali memijat kepalanya yang tidak terasa pusing sama sekali, ia masih pening dengan urusan di dalam istana dan sekarang harus di hadapkan lagi dengan urusan mendesak yang berada di perbatasan.


Kedua urusan itu sama sama membuat kepala nya terasa akan meledak, tak lama kemudian kedua adiknya menghadap setelah di panggil oleh sekertaris istana untuk menghadap.


Pangeran Brian serta pangeran Brendan berjalan memasuki aula kerajaan secara beriringan.


''Kami di sini yang mulia,'' ucap keduanya secara bersamaan.


''Iya... ada sesuatu yang ingin saya katakan kepada kalian berdua.''


''Apa itu yang mulia.''


''Di perbatasan sedang terjadi huru hara, aku ingin kalian menemani ku ke sana untuk menyelesaikannya.'' ucap Raja.


''Baik yang mulia saya akan menuruti titah mau,'' jawab pangeran Brian.


Sedangkan pangeran Brendan hanya diam saja tidak menjawab sama sekali titah dari rajanya tersebut.


''Mengapa kamu diam saja Brendan?'' tanya sang Raja melihat wajah adik keduanya.


''Mohon maaf Baginda, bukan maksud saya untuk menentang titah mu, namun sepertinya hamba tidak bisa ikut bersama yang mulia, karena hamba harus menjaga istri hamba yang sedang hamil muda,'' jawab sang adik membuat alasan.


''Oya... aku sampai lupa tentang hal itu, kalau boleh bertanya berapa usia kandungan istrimu?''


''Kalau hamba tidak salah usia kandungan istri saya, bulan ini menginjak 4 bulan yang mulia.''


''Baiklah... aku akan memikirkan kembali apakah kau harus ikut atau tidak dengan ku, aku akan memberikan keputusan dalam wakti tiga hari, karena kita akan berangkat ke sana tiga hari lagi.''


''Baik yang mulai,'' jawab keduanya.


Setelah itu kedua pangeran pun undur diri, mereka berjalan mundur tiga langkah setelah itu baru berbalik meninggalkan Aula istana.


Sepeninggal kedua pangeran, Raja Arezz kembali larut dalam fikiran ya, memikirkan nasib Rakyat nya yang sedang bersitegang memperebutkan sumber air bersih, daerah yang sedang berkonflik itu terletak di paling ujung kerajaan Underland, daerah terpencil yang jauh dari peradaban kota. Jalan di daerah tersebut pun masih berupa tanah setapak tanpa bisa di lalui oleh kendaraan.


Bisa di bilang daerah itu adalah desa kecil yang masih memiliki peradaban asli yang belum tersentuh oleh peradaban modern.


_________


Pangeran Brendan keluar dari dalam Aula istana berjalan beriringan dengan sang adik, ia seperti sedang memikirkan titah dari sang Raja yang menyuruhnya untuk ikut dengan dirinya pergi ke sebuah desa kecil yang jauh dari istana.

__ADS_1


Setelah berjalan jauh dari Aula istana ia menghentikan langkahnya.


''Kenapa kakak berhenti?'. tanya Pangeran Brian.


''Kau duluan saja aku ingin menemui Baginda Ratu.''


''Baiklah.''


Mereka pun berpisah dan mengambil jalan yang berbeda.


Pangeran Brendan berjalan menuju kamar Baginda Ratu sedangkan pangeran Brian berjalan ke arah lain.


Sesampainya di depan kamar sang Ratu sang pangeran membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu.


"Saya di sini Bu," ucap sang pangeran lalu duduk di kursi dengan menyandarkan kepala nya di sandaran kursi.


"Ada apa? mengapa wajahmu terlihat muram?"


"Baginda Raja menyuruhku untuk menemani dirinya pergi ke sebuah desa kecil yang sedang berkonflik, namun aku sungguh malas untuk mengikuti perintah nya," ucap sang pangeran sambil memejamkan matanya.


Ratu nampak berfikir sejak, ia berdiri lalu berjalan mondar mandir membuat sang pangeran di buat risih melihatnya.


"Kamu sedang apa Bu? kepala ku sedang pusing, melihat ibu seperti ini membuat kepala ku bertambah pening."


Sang Ratu duduk di sebelah putra kesayangannya lalu berbisik di telinga sang putra.


Pangeran Brendan terlihat membelalakan bola matanya saat sang ibunda selesai berbisik.


"Apa maksud ibu?"


"Dasar anak bodoh! apa kau sudah menyerah untuk duduk di singgasana? hanya itu satu satu cara agar kamu bisa menjadi seorang raja."


"Tapi tetap saja bu, apa kita harus melakukan hal tersebut?"


"Ya sudah kau tak mau, biar ibu yang pergi ke sana dan melakukannya sendiri," dengan wajah marah.


Pangeran Brendan terdiam sejenak untuk berfikir, ia terlihat memandang langit-langit kamar dengan tatapan kosong.


"Baiklah, aku akan memikirkannya?"

__ADS_1


"Tak usah memikirkan nya, tapi kau harus melakukannya."


"Aku pergi dulu Bu, nanti aku beri kabar lagi ke ibu untuk memberi tahu keputusan apa yang akan aku buat," pangeran pun berdiri lalu berjalan meninggalkan kamar sang Ratu.


Sepeninggal putranya Ratu Emilia nampak tersenyum licik, ia sungguh berharap jika putranya tersebut akan mengikuti rencananya. Dan akhirnya impiannya untuk menjadikan sang putra Raja pun akan tercapai, dan dirinya akan menjadi permaisuri, penguasa tertinggi setelah Raja di istana dan di kerajaan Underland.


"Akhirnya semua cita cita ku akan segera tercapai...ha..ha..ha.." ucapnya pelan sambil tertawa menyeringai.


_____________


Pangeran Brendan duduk di kursi di dalam kamar nya, ia sedang memikirkan matang matang tentang rencana sang ibunda yang merupakan jalan pintas agar dirinya bisa dengan leluasa menjadi seorang Raja.


"Kamu kenapa suamiku?" tanya Evina sambil mengusap perutnya yang terlihat sudah sedikit berbentuk.


"Sepertinya aku akan pergi selama beberapa Minggu untuk menemani yang mulia Raja pergi ke sebuah desa berkomplik."


"Benarkah? apa kau bersedia melakukannya?"


"Entah lah, aku sungguh malas melakukannya."


"Jangan seperti itu suamiku, sebagai seorang pangeran sudah kewajiban mu untuk membantu tugas yang mulia Raja, kau tidak boleh menolaknya."


"Kau fikir pergi ke sana itu tidak bahaya? seenaknya saja kau bilang begitu, apa kau ingin aku mati di sana?"


"Tidak bukan seperti itu maksudku."


"Akh... sudahlah, kepala ku bertambah pusing mendengar ucapanmu." pangeran pun bangkit lalu pergi dari dalam kamar.


Evina hanya bisa menatap kepergian suaminya dengan menggelengkan kepalanya.


__________


Tiga hari kemudian Raja pun pergi ke tempat berkomplik. Dia pergi dengan di temani oleh kedua adiknya beserta Sakti sang pengawal pribadi yang selalu ikut kemana pun ia pergi.


Kepergian Sakti sendiri membuat putri Elisa merasa sedih, ia terasa berat melepas kepergian kekasih tercinta nya ke tempat berbahaya yang tentu saja akan mengancam keselamatan jiwa sang kekasih.


Begitupun Evina, ia pun merasa berat menatap kepergian sang suami, walaupun ia sering di sakiti oleh suaminya tersebut namun laki laki itu tetaplah suaminya.


Mereka berempat pergi menggunakan satu mobil yang sama, meski daerah itu merupakan daerah terpencil yang tak bisa di lalui kendaraan namun tetap saja mereka membutuhkan kendaraan itu untuk sampai di gerbang desa.

__ADS_1


Ke empatnya pun berangkat, dengan tatapan sedih dari putri Elisa dan juga Evina yang mengantar kepergian mereka sampai di depan gerbang Istana.


*****


__ADS_2