
Evina menatap mobil yang berjalan beriringan, ada lebih dari 10 mobil yang semuanya berlogokan kerajaan Underland berisikan para pengawal kerajaan yang akan menjemput sang Raja dan juga pangeran yang di sekap oleh penduduk yang sedang berkonflik.
Ia mengusap perutnya sambil terus berharap semoga Raja dan pangeran Brendan dalam keadaan selamat dan juga bisa kembali ke istana.
Entah mengapa perasaannya merasa sangat gelisah, jantungnya seolah berdebar kencang seakan sesuatu yang buruk sedang terjadi, entah apa itu dia juga tidak mengetahui nya dengan pasti.
Dirinya pun berjalan menuju ke dalam istana sembari menyimpan tanda tanya di dalam hatinya.
Pangeran Brendan berlari kencang, dirinya masih berusaha untuk bisa keluar dari dalam hutan, tangannya masih terasa gemetar setelah menjatuhkan sang Raja ke dalam jurang.
Ia sedikit mengusap air mata yang sedikit membasahi pelupuk matanya, meratapi kepergian sang Kaka karena perbuatan dirinya, entah kakak nya itu selamat atau tidak ia tak mengetahuinya dengan pasti, ia hanya berharap jika kakaknya itu tidak pernah kembali.
Meski ia membenci sang Kaka namun Raja Arezz tetaplah saudaranya, ia merasa berduka meski tak menyesali sama sekali perbuatannya.
Setelah jauh berlari dengan menembus kegelapan malam di dalam rimbunnya hutan, ia pun akhirnya sampai di jalan utama, meski jalanan tidak terlihat sempurna karena masih di buat seadanya namun ia sangat bersyukur karena bisa terbebas dari para penduduk yang menyekapnya di sana.
Sang pangeran nampak berhenti sebentar untuk mengatur napas serta mengusap keringat yang membasahi tubuhnya, keadaan fisik sang pangeran sungguh terlihat mengenaskan, rambutnya terlihat berantakan serta baju nya compang camping tak beraturan.
Ia pun duduk di atas jalanan, berharap jika ada kendaraan yang melintas sehingga dia bisa meminta pertolongan atau pun sekedar menumpang untuk bisa kembali ke istana.
Sampai tak lama kemudian, terlihat dari kejauhan iring iringan mobil kerajaan yang akan melintasi tempatnya beristirahat.
Dengan segera ia bangkit lalu berdiri di tengah jalan untuk menghentikan kendaraan yang lampunya terlihat menyala benderang dari kejauhan.
Sang pangeran pun melambaikan tangan.
''Berhenti...! tolong aku," pangeran Brendan berteriak sambil melambaikan kedua tangannya.
__ADS_1
Sakti yang duduk di bagian depan di dalam mobil dapat mengenali jika yang sedang berdiri di tengah jalan adalah pangeran Brendan, namun ia merasa heran melihat Pangeran Brendan hanya sendiri tanpa di dampingi oleh yang mulia Raja Arezz.
Mobil pun berhenti tepat di depan tubuh pangeran.
Sakti serta pangeran Brian segera keluar dari dalam mobil, berlari menghampiri sang pangeran.
"Pangeran Brendan...! mengapa kau hanya sendiri di mana Yang mulia raja?" tanya Sakti dengan raut wajah penasaran.
Pangeran Brendan menangis sesenggukan, Iya bersimpuh di atas tanah lalu berkata.
"Kakakku telah tewas, dia jatuh ke bawah jurang saat sedang di kejar oleh mereka. Hu..hu..hu..!" ucap pangeran Brendan dengan air mata yang membasahi pipinya.
"Apa....?" Sakti terkejut dan duduk lemas di atas jalan.
"Jangan bercanda kak?" pangeran Brian mengguncangkan tubuh sang Kaka.
"Iya...! maafkan aku karena tidak bisa menjaganya,hu..hu..hu..!"
Pangeran Brian beserta Sakti menangis sesenggukan sambil duduk di atas jalanan, mereka berdua menyesal karena tidak ikut mendampingi yang mulia raja. Terutama Sakti, ia sungguh sangat terpukul karena tidak bisa melindungi junjungannya yang sudah sedari kecil ia jaga.
Sebastian terlihat mengusap pundak Sakti, ia seolah dapat merasakan kesedihan yang di rasakan oleh Sakti, karena ia pernah mengalaminya saat Raja Arthur yang menjadi junjungan sedari belia, pupus beberapa waktu yang lalu.
''Kalian bertiga kembalilah ke istana, akan menyelesaikan segala urusan yang berada di sini, serta aku akan mengutus beberapa orang untuk mencari jasad yang mulia Raja agak bisa segera di kebumikan,'' ujar Sebastian.
''Tidak...! aku ikut denganmu, aku ingin membalaskan dendam ku kepada ketiga orang yang tadi menyekap ku dan juga kakak ku,'' jawab pangeran Brendan dengan wajah kesal.
''Tidak pangeran, kau harus segera pulang ke istana, kau harus segera mempersiapkan diri untuk menjadi menjadi pengganti yang mulia Raja yang telah tiada,'' pinta Sebastian.
Mendengar perkataan kepala pengawal, membuat pangeran Brendan tersenyum tipis.
__ADS_1
Apakah impianku akan segera terwujud? ( batin sang pangeran berucap)
''Sakti, aku harap kau bisa tegar atas apa yang menimpa yang mulia Raja, kuat kan dirimu,'' lirih Sebastian.
''Izinkan aku untuk ikut dengan kalian, aku ingin mencari dan memastikan jika yang mulia Raja benar benar telah wafat saat aku melihat jasadnya dengan kedua mataku sendiri,'' pinta Sakti masih dengan terisak.
''Baiklah kau boleh ikut dengan kami, pangeran Brian, saya mohon bawa kaka mu ini kembali ke istana dengan selamat.''
''Baik, aku akan membawa kak Brendan kembali ke istana. Kalian hati hati, meski ini terdengar mustahil, tapi aku sungguh berharap kalian bisa menemukan kakakku dalam keadaan selamat,'' jawab pangeran Brendan dengan wajah yang masih di penuhi dengan air mata.
''Kami akan berusaha semaksimal mungkin pangeran,'' jawab Sebastian.
Mereka pun berpisah, pangeran Brian bersama kakaknya kembali ke istana dengan di temani oleh beberapa orang pengawal. Sedangkan Sebastian serta Sakti dan beberapa orang pengawal lainnya menuju daerah konflik, untuk menyelesaikan masalah yang berada di sana sekaligus mencari jasad Raja Arezz.
Di perjalanan pangeran bersandar di sandaran kursi, matanya nampak melihat keluar jendela memandang pekatnya malam, ia kembali membayangkan saat Raja Arezz melayang di udara hendak terjatuh dari atas tebing dengan wajah sang Raja yang menatap ke arah dirinya.
Tatapan mata sang Raja sungguh membuatnya resah, Entah mengapa kini bayangan kakaknya tersebut terus menari-nari di dalam otaknya seolah menghantui dirinya, membuat matanya yang hendak terlelap tiba tiba terkejut seketika.
''Tidak...!" pangeran Brendan tersentak lalu membuka mata.
"Kamu kenapa kak?"
Nafas sang pangeran tersengal sengal seolah sedang tertekan, ia pun menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan, mencoba menenangkan perasaan nya dan detak jantungnya yang seolah berdebar kencang tak beraturan.
"Apa kamu baik baik saja kak?" tanya pangeran Brian sambil memberikan botol air mineral untuk segera di minum oleh sang Kaka, agar perasaan nya sedikit tenang.
Pangeran Brian berfikir mungkin kakaknya itu syok setelah melihat kematian dari Raja Arezz dan merasa tertekan karena telah gagal menjaga Raja negeri ini. Tidak terpikirkan sedikit pun jika orang yang telah membunuh sang Raja adalah kakak kandungnya sendiri.
Ia pun memandang wajah sang kakak dengan perasaan iba.
__ADS_1