KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA

KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA
Sembilu


__ADS_3

Evina mencoba turun dari atas ranjang, tubuhnya seolah bergetar setelah menahan nyeri dari inti tubuhnya.


Siksaan yang bertubi tubi di terima oleh tubuh rampingnya, sehingga membuatnya meringis kesakitan karena bekas sabetan gesper sang suami merobek hampir seluruh raganya.


Ia pun berjalan menuju kamar mandi dengan dalam keadaan polos tanpa memakai apapun, berjalan tertatih-tatih menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya serta bagian inti nya.


Di kamar mandi, iya mencoba membasuh seluruh luka dengan meringis kesakitan, bukan hanya tubuhnya yang merasa nyeri, namun seluruh hati dan jiwanya seolah sakit.


Hiks..hisk..hiks..


Menangis di kamar mandi, dengan luka sembilu di hati dan jiwanya. Entah mengapa nestapa seolah tak henti henti nya menghampiri kehidupannya.


Ia pun menangis di bawah guyuran air shower yang membasahi tubuhnya.


*


*


Hari yang di tunggu pun tiba, yaitu hari di mana Raja Arthur akan benar benar turun tahta.


Semua Anggota kerajaan dan para pejabat hadir di Aula kerajaan, pangeran Arezz pun sudah bersiap dengan pakaian kebesarannya, duduk di samping sang Raja dengan gagah perkasa.


Raja Arthur tampak mengenakan Mahkota kebesarannya yang sebentar lagi akan segera ia serahkan kepada putra kesayangannya.


Dan tanpa menunggu lama lagi, sekertaris kerajaan segera mengumumkan jika Arthur menyerahkan kan Tahta kerajaannya kepada putra sulung nya yaitu pangeran Arezz, yang di sambut dengan riuh tepuk tangan dari semua yang hadir di sana.


Dan penyerahan Tahta itu semakin di kuatkan dengan penyerahan mahkota yang di sematkan langsung oleh Raja Arthur sendiri.


Kini pangeran Arezz telah resmi menjadi Raja di kerajaan Underland, Raja muda dengan sejuta karisma, dan di harapkan bisa meneruskan serta menjalankan tugas yang dahulu di emban oleh Ayahanda.


Dengan gagah perkasa Raja Arezz berdiri di depan Singgasana, menerima tepuk tangan dan teriakan dari semua yang hadir di sana.


''Hidup Raja baru kita, Raja Arezz...'' suara riuh menggema di seluruh ruangan.


''Hidup Raja Arezz...''


''Hidup Raja Arezz...''


Semua yang berada di sana tampak sangat berbahagia, kecuali Ratu Emilia dan Putra kesayangan, wajah mereka seperti tersenyum dengan di paksakan melihat Raja baru duduk di singgasana.


Evina pun nampak hadir, di sana, duduk berdampingan dengan suami tercintanya, menggunakan gaun panjang berwarna hijau menutupi seluruh tubuhnya yang penuh dengan luka.

__ADS_1


Ia menatap ke arah Raja baru, dengan senyum mengembang di kedua sudut bibir mungilnya. Menyaksikan orang yang di cintai nya duduk di singgasana.


*


*


Setelah penyerahan Tahta selesai di selenggarakan, pesta pun di adakan, pesta untuk menyambut Raja baru di kerajaan Underland, tak hanya di istana, pesta besar besar nampak di adakan di seluruh penjuru negeri.


Semua Rakyat nampak larut dalam suku cita perayaan. Mereka berharap Raja baru mereka akan membawa perubahan serta kemajuan bagi negeri tercinta.


*


*


Raja Arezz nampak sedang berjalan setelah mengikuti perayaan, ia hendak kembali ke kediamannya yang terletak di lantai paling tinggi, karena dirinya sekarang adalah Raja penguasa kerajaan Underland, maka kamarnya pun di pindahkan ke kamar paling besar yang terletak di lantai paling tinggi di istana.


Saat ia sedang berjalan tak sengaja ia bertemu dengan wanita pujaan hatinya, wanita tersebut pun nampak sedang menaiki tangga menuju lantai tiga dimana kamarnya berada.


Raja melintas tepat di hadapan Evina, dan Evina pun membungkuk memberi hormat kepada Raja.


Saat Raja hendak berjalan setelah berada di depan wanita tersebut, tiba tiba saja ia menghentikan langkahnya, dan menyuruh semua yang berada di sana untuk pergi meninggalkan dirinya, kecuali Evina.


Perlahan Raja berjalan mendekati Evina, yang masih dalam keadaan menunduk.


''Hamba baik baik saja, yang mulia,'' jawab Evina masih dalam keadaan menunduk, seolah menatap lantai yang terdapat pantulan wajah dirinya.


''Kamu bohong?'' Raja meraih dagu Evina, dan menghadapkan wajahnya tepat berhadapan dengan wajah dirinya.


Evina hanya terdiam.


''Aku tak tahu apa yang terjadi kemarin malam, namun sepertinya dirimu dijebak oleh orang yang tidak bertanggung jawab,'' ucap Raja melepaskan tangannya dari dagu Evina.


''Saya berharap orang yang telah menjebak hamba bukan Baginda Raja sendiri,'' kembali menunduk.


''Tentu saja bukan, untuk apa aku melakukannya?''


Evina hanya terdiam.


''Kamu fikirkan baik baik, siapa kira kira yang akan melakukan hal tersebut? dan mendapatkan keuntungan dari renggangnya hubungan mu dengan adikku yang terlihat sedang bahagia bahagia nya?''


Evina terlihat berfikir sejenak.

__ADS_1


Bukankah ibu mertuanya yaitu Ratu Emilia sangat tidak suka melihat putranya begitu mencintai dirinya. Apakah mungkin dia melakukan hal tersebut, batinnya berkecamuk.


''Evina....'' Raja membuyarkan lamunannya.


''Apa yang membuatmu melamun?''


''Tidak yang mulia, saya permisi,'' Evina pun hendak pergi namun gaun panjang yang di kenakan nya terinjak oleh kakinya sendiri, sehingga bagian belakang gaunnya robek, membuat punggungnya yang penuh dengan luka yang di akibatkan oleh sabetan gerper suaminya pun terekspos.


Raja yang dapat melihat semua itu, segera menghampiri Evina lalu membuka pakaian luarnya untuk menutupi punggung wanita tersebut.


''Tubuh mu kenapa?'' tanya sang Raja.


''Hamba tidak apa apa,'' Ia pun hendak melangkah, namun tangan Raja meraih pergelangan tangannya yang sontak membuat Evina meringis kesakitan.


Kemudian Raja membuka gaun yang menutupi pergelangan Evina, dan ia pun merasa sangat terkejut tatkala melihat banyaknya luka yang seperti nya memenuhi lengan kecil Evina.


''Tangan mu Ev...!"


Kemudian ia juga membuka bagian tubuh lainnya yang tadi sempat sedikit terekspos akibat robekan gaun yang di kenakan oleh Evina.


Raja seperti kembali menahan pilu, melihat tubuh wanita yang di cintai nya penuh dengan luka.


"Apakah suami mu melakukan ini padamu Ev...?" tanya Raja dengan mata yang berkaca kaca.


Yang di tanya hanya terdiam, ia hanya menitipkan air mata mengingat semua yang telah di terima nya dari suaminya, akibat pengkhianatan yang ia lakukan.


"Ikut denganku," Raja menarik lengan wanita tersebut.


"Kita mau kemana yang mulia?"


"Ke kamar ku."


"Apa...?"


Ingin rasanya Evina menolak, namun ia tak bisa, karena cengkraman tangan Raja Arezz begitu kuat, sehingga tubuhnya seperti terseret begitu saja mengikuti gerak langkahnya.


Akhirnya mereka sampai di lantai paling tinggi, lantai sepuluh yang hanya di isi khusus oleh Raja Arezz. Jadi meskipun mereka hanya berdua di sana, tidak ada siapapun yang melihat mereka ataupun berani memasuki kamar Baginda Raja Arezz.


Ceklek...


Raja membuka pintu lalu masuk ke dalam nya, dengan masih dalam keadaan memegang pergelangan tangan Evina.

__ADS_1


Evina nampak merasa takjub melihat keadaan kamar yang begitu mewah dan megah.


*****


__ADS_2