
''Apa maksud mu, aku sama sekali tidak mengerti?'' pangeran Arezz masih berpura-pura bodoh.
Sang adik berjalan menghampiri pangeran Arezz, lalu ia berbisik ditelinga kakaknya tersebut.
''Jangan kakak pikir aku tidak mengetahui tentang apa yang telah kakak lakukan dengan calon istriku itu, aku memaafkanmu kali ini, tapi ingat jika kejadian ini sampai terulang kembali maka akan ada pertumpahan darah di istana ini...! Ingat itu kak,'' ucap pangeran Brendan dengan senyum licik dan tatapan tajam seperti biasanya.
Pangeran Arezz tidak dapat berkutik sama sekali, memang apa yang dikatakan oleh adiknya itu semuanya benar adanya, ia hanya terdiam dan menatap dengan tatapan sinis.
''Mengapa kamu diam kak?'' berhenti berbisik lalu berdiri tepat di hadapan sang Kaka.
Pangeran Arezz mengepalkan kedua tangannya, namun sebisa mungkin dia mencoba meredam emosi yang mulai memenuhi hatinya.
''Apakah semua tebakan ku salah?'' pangeran Brendan kembali berucap, namun tatapan nya terlihat sangat tajam.
Sang kakak masih terdiam.
''Kamu lihat saja kak, aku akan membuat hidup wanita yang kau cintai sengsara dan menangis darah, atas kesalahanmu yang telah mencampakan dia begitu saja.''
Ucapan pangeran Brendan benar benar menyulut emosi sang kakak yang sudah sebisa mungkin untuk ditahannya.
Akhirnya nya pangeran Arezz mencengkram kerah baju sang adik dengan tatapan mata tajam seolah bola mata bundar nya itu akan melompat dari tempatnya.
''Silakan kamu lakukan apa yang kamu inginkan, karena aku sudah tidak peduli lagi dengan wanita itu, sekarang dia milikmu seutuhnya, dan tidak ada lagi urusannya dengan ku,'' jawab sang kakak, lalu melepaskan cengkraman tangannya dengan kasar sehingga membuat sang Adik hampir saja terjungkal.
Pangeran Brendan tertawa.
''Ha.. ha.. ha..! kau nantikan saja kak, setiap kejutan yang akan aku berikan kepada wanita itu setelah dia resmi menjadi istriku.''
__ADS_1
Pangeran Arezz tidak meladeni ucapan adiknya, dia lebih memilih pergi meninggalkan sang adik berbicara sendiri sambil tersenyum seperti orang gila.
Pangeran Arezz dengan di dampingi oleh Sakti, berjalan menuju kamar pribadi nya. Sejujurnya hatinya merasa sangat kesal mengingat setiap ucapan yang di lontarkan oleh adik nya tersebut.
Dia berusaha setenang mungkin saat Sang Ratu dan juga Pangeran Brendan mengancam akan membuat Evina menderita dan menangis darah, namun sesungguhnya, hatinya sungguh gelisah, dia hanya tidak ingin terlihat terprovokasi oleh ancaman mereka berdua, agar usaha mereka yang ingin membuat dirinya menyerah akan Tahta gagal total.
Sesampainya di dalam kamar, sang pangeran tampak berjalan mondar mandir di depan ranjang besar nya, Sakti yang berdiri tak jauh dari arah junjungannya berjalan pun sampai di buat pusing melihat kelakuan sang pangeran yang seperti nya sedang gelisah dan tentu saja banyak pikiran.
''Apa yang bisa hamba lakukan agar membuat pangeran tenang?' Sakti memberanikan diri berucap, setelah melihat hampir lebih dari satu jam sang pangeran melakukan hal tersebut.
Pangeran pun menghentikan langkah kakinya, dan berjalan ke arah pengawal pribadi nya itu.
''Apa yang harus aku lakukan untuk menyelamatkan gadis yang aku cintai terbebas dari laki laki jahat seperti adikku itu?''
''Apa maksud pangeran? jangan bilang dirimu termakan ancaman yang tadi di ucapkan oleh pangeran Brendan?''
''Saya harap pangeran bisa mengendalikan emosi dan perasaan mu, ingat ini di istana yang jumlah penghuninya tak terhitung banyaknya, dengan segala aturan dan kebijakan yang harus di patuhi oleh semua yang berada di dalamnya, tidak mungkin sang Ratu yang merupakan Wanita no satu yang paling di junjung tinggi harkat dan martabatnya, berani melakukan perbuatan yang dapat membuat nama baiknya tercoreng? dan lagi pula, masih ada Baginda Raja yang akan melindungi Evina apabila pangeran Brendan berani melakukan hal yang jahat kepadanya, jadi hamba minta pangeran berhenti cemas dan memikirkan hal yang tidak tidak. Lebih baik fokus saja pada proses pelantikan diri mu yang akan segera memangku tanggung jawab sebagai seorang Raja,'' ujar Sakti dengan panjang lebar.
Pangeran Arezz menghembuskan napas lega, apa yang baru saja di katakan oleh Sakti sungguh membuat rasa gundahnya sedikit memudar, ia pun tersenyum dan menepuk pundak pengawal pribadinya itu.
''Terima kasih, karena ucapanmu telah membuat hatiku sedikit lega, tak salah otakmu di juluki otak pintar.''
''Sama sama pangeran, Apa yang saya katakan hanyalah opini saya sebagai sesama penghuni istana besar ini,'' Sakti sedikit membungkuk saat mengatakan hal tersebut.
''Dalam kurun waktu tiga hari, pernikahan akan segera di adakan, aku harus benar benar menyiapkan mental karena harus melihat wanita yang sangat aku cintai bersanding di pelaminan dengan adikku sendiri,'' wajah pangeran kembali muram.
''Saya tidak dapat berkata apa apa pangeran, karena tidak ada yang lebih tahu bagaimana perasaan pangeran kepada Evina, selain saya.''
__ADS_1
''Bagaimana pun aku harus kuat, dan mencoba menerima semua ini, karena ini adalah pilihan yang telah kita berdua buat dan sepakati bersama.''
Sakti hanya terdiam.
''Baiklah, sekarang kau boleh tinggalkan aku sendiri, aku merasa letih sekali ingin segera beristirahat,'' ujar sang pangeran, lalu berbaring dan memejamkan kedua matanya.
''Baik pangeran, saya permisi,'' Sakti membungkuk lalu berbalik dan berjalan keluar dari dalam kamar.
Pangeran pun benar benar terpejam, sambil berfikir, bagaimana caranya agar ia bisa melindungi Evina tanpa di ketahui oleh siapapun.
***
Akhirnya hari itu pun tiba. Hari di mana acara pernikahan kerajaan di adakan, semua penduduk kerajaan Underland turun ke jalanan untuk menyambut pangeran mereka di arak menggunakan kereta kencana bersama pengantin wanitanya.
Karena ini adalah pernikahan pertama putra Raja di adakan, maka acara pun akan di selenggarakan dengan sangat mewah dan meriah.
Evina masih duduk di dalam kamarnya, terlihat beberapa pelayan sedang mendandani dirinya dengan begitu cantiknya.
Gaun berwarna biru muda serta berhiaskan renda berwarna pink panjang, tampak sudah membalut tubuh mungilnya nya, dengan riasan di wajahnya, yang membuat wajah cantiknya semakin terlihat sangat paripurna.
Tak lupa pula mahkota berhiaskan emas putih dan Permata melingkar di atas kepalanya dengan Rambut panjang bergelombang nya di tata sedemikian rupa, sehingga membuatnya seperti Ratu kecantikan yang memancarkan aura kemewahan yang tiada Tara.
Meski kecantikan nya terlihat sempurna, namun tidak dengan Raut wajahnya, raut wajah Evina terlihat muram, tidak tampak sedikit pun kebahagiaan yang terpancar dari sorot mata teduhnya.
Ia seperti seorang wanita yang di paksa menikah dengan laki laki yang sama sekali tidak di cintai nya, meskipun memang seperti itulah kenyataan nya.
__ADS_1
*****