
Gadis yang berjalan menuju kamar pangeran Brendan ternyata adalah mainan baru sang pangeran untuk mengobati rasa kecewa nya kepada istrinya yang ia kira telah dengan sengaja mengkhianatinya dengan Kaka nya sendiri.
Dan gadis itu adalah Larissa, teman Evina sewaktu ia bekerja di cafe Monalisa, entah darimana mereka saling mengenal, namun kehadiran Larissa akan memperburuk hubungan Evina dengan suaminya.
Trok trok trok
Larissa mengetuk pintu kamar pangeran.
''Masuklah...'' ucap pangeran dari dalam sana.
Larisa pun masuk, ia tampak melihat lihat seisi kamar yang terlihat sangat mewah dan megah, bibirnya pun tersenyum licik tatkala ia mulai menampakan kaki di dalam kamar tersebut, merasa tidak sabar untuk segera menjadi pemilik dari kamar mewah nan megah itu.
''Saya di sini pangeran,'' lirih Larissa yang masih berdiri di depan pintu.
''Kemarilah...'' tanpa menoleh.
Gadis itu pun berjalan gontai bak model papan atas yang sedang show di atas panggung, ia sengaja memakai gaun mini berwarna merah, dengan sepatu high hill tinggi yang membuat tubuh pendeknya terlihat semampai, tak lupa ia pun memoles wajah cantiknya dengan polesan make up natural dengan lipstik berwarna merah. Sungguh membuat penampilannya menggoda bagi siapapun setiap laki laki yang melihatnya.
''Sini duduklah di sebelah ku,'' ucap sang pangeran yang tampak sudah tergiur melihat kemolekan tubuh Larissa.
Dengan senang hati gadis itu pun duduk di samping sang pangeran dengan menyilangkan kedua kakinya.
''Siapa namamu cantik? kita pernah bertemu sekali saat bencana yang melanda kota Barsom, betul...?''
''Benar pangeran, nama saya Larissa, sungguh sebuah kehormatan bagi saya dapat menemani pangeran di sini,'' lirih gadis itu dengan suara lembutnya.
''Kamu tahu aku sudah mempunyai istri?''
''Saya tahu pangeran,'' jawabnya masih dengan suara yang menggoda.
''Apa kau tidak keberatan bermain dengan pria beristri?''
''Saya sama sekali tidak keberatan pangeran, toh pangeran sebenarnya tidak mencintai istri pangeran yang bernama Evina itu bukan?''
__ADS_1
''Hei...! dari mana kamu tahu nama istriku? apa kau mengenalnya secara pribadi?"
"Iya benar Pangeran, kebetulan kami dahulu pernah bekerja di suatu tempat yang sama, yaitu cafe Monalisa."
"O ya... dunia memang sempit, sekarang kalian bertemu lagi di sini," ucap sang pangeran sambil memainkan rambut pendek Larissa.
"Mulai sekarang kamu akan menjadi wanitaku, dan jika memungkinkan suatu saat nanti aku akan menjadikanmu selir kerajaan, apakah kamu keberatan?"
"Tentu saja tidak pangeran, saya akan melayani dirimu dengan senang hati," jawab Larissa dengan senyum mengembang di kedua sisi bibir merahnya.
Saat mereka baru saja hendak bercumbu, tiba tiba saja sang istri masuk ke dalam kamar, dan ia pun sungguh terkejut melihat wanita lain yang sangat dia kenal sedang duduk berdua bersama suaminya.
"Larissa...?" Evina melotot sambil memanggil nama wanita itu.
Yang di panggil hanya tersenyum kecut.
"Sedang apa kamu di sini?"
"Eu... hai Ev... bagaimana kabar mu? tak di sangka kita akan bertemu lagi di sini," jawabnya dengan wajah yang seolah tidak merasa bersalah sedikitpun.
"Diam kamu...!" ujar pangeran dengan suara tinggi.
"Apa maksudnya semua ini?" wajah sang istri terlihat sangat marah.
"Apa lagi, kamu pasti sudah tahu maksudku, aku akan menjadikan dia selir ku," jawab nya dengan tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Jika kau menginginkan wanita ini silahkan, aku sama sekali tidak keberatan, tapi lepaskan dulu aku, aku akan mencari kebahagiaan ku sendiri di luar sana," jawab Evina dengan suara dan nada penuh penekanan.
"Larissa, kamu pulanglah dahulu, aku akan segera menghubungi mu lagi," pinta Pangeran Brendan.
"Baiklah... saya permisi," Larissa pergi dengan perasaan kesal, ia pun melirik ke arah Evina dengan tatapan tajam.
Dan Evina sama sekali tidak membalas tatapan wanita tersebut.
__ADS_1
Setelah Larissa benar-benar keluar dari kamar Pangeran Brendan, Evina pun menghampiri pangeran dan duduk disampingnya.
"Aku mohon lepaskan aku," pinta sang istri kepada pangeran Brendan.
''Apa... melepas mu? ha..ha..ha..'' sang pangeran tertawa terbahak bahak.
''Mengapa kau tertawa?'' Evina merasa muak.
''Aku tak ingin dan tak akan pernah melepasmu, aku akan membuatmu membayar semua pengkhianatan yang pernah kau lakukan dengan kakakku. Kamu tahu Ev, aku sangat mencintaimu, tulus... namun apa? kau malah mengkhianati kepercayaan dan cinta ku,'' ucap sang pangeran memendam kesedihan.
''Aku sudah bilang, aku di jebak. Aku sama sekali tidak sengaja melakukan hal itu.''
''Ha..ha..ha..! mana mungkin kau tidak sengaja melakukan itu, kau terlihat sangat menikmatinya saat melakukan bersama dia, sedangkan saat bercinta dengan ku, kau sama sekali tidak pernah melayani ku dengan baik apalagi sepenuh hati..! dan itu semua membuat hati ku sakit...'' ucap pangeran Brendan dengan tatapan wajah sedih.
''Kamu tahu Ev... perlahan aku sudah melupakan tahta, berkat kamu, dan aku juga mencoba menjadi laki laki yang lebih baik dan bertanggung jawab. Namun semua pengkhianatan mu membuat semua itu tak ada artinya lagi. Sekarang aku kembali menginginkan Tahta, dan akan merebutnya dengan sekuat tenaga. Dan kamu, istriku tercinta... aku tak akan pernah melepaskan dirimu, aku akan membuatmu menyesal karena telah berani mengkhianati cinta tulus suami mu ini,'' tambahnya lagi, lalu pergi begitu saja meninggalkan Evina dalam keadaan menangis terisak.
Semua ucapan yang di lontarkan oleh suaminya sungguh menusuk relung hatinya, mencabik cabik pertahanan seorang istri yang selama ini dia jaga dengan segenap jiwanya, bagaimana tidak, selama ini dia mencoba terus bertahan meski harus menahan sakit, dia pun mencoba tetap berdiri tegak meski di rendahkan oleh Ratu Emillia, dan sekarang suaminya sendiri secara terang terangan mengatakan bahwa dia akan membuat hidupnya menderita, apa belum cukup hidupnya sudah menderita dari awal. Batinnya sungguh bergejolak.
Evina pun hanya bisa menangis, meratapi nasibnya.
Saat ia sedang meratapi nasib buruknya, entah mengapa mulut nya tiba tiba saja merasa mual, perutnya terasa berputar hingga naik ke ulu hati, dan akhirnya...
''Uooo...'' Ia pun terasa akan mengeluarkan seluruh isi perutnya.
Evina pun berlari ke kamar mandi, sambil menutup mulut dengan kedua tangannya, dan di sana pun ia tampak muntah muntah sambil memegangi perut datar nya.
Apa yang terjadi padaku (batinnya berucap)
Ia pun berjalan kembali ke dalam kamar, entah mengapa seperti ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokan nya dan membuatnya ingin kembali muntah, dan akhirnya ia pun kembali ke dalam kamar mandi dan muntah tak henti hentinya.
Apa mungkin aku hamil (batinnya kembali berucap)
Ia pun kembali masuk ke dalam kamar sambil terus memegangi perutnya.
__ADS_1
*****