
Raja Arezz menggendong tubuh Evina ke atas ranjang, dengan bibir yang masih saling bertautan, keduanya mengabaikan perasaan gundah yang saat ini sedang menyelimuti relung hatinya.
Melupakan sejenak duka nestapa yang sedang menunggu mereka di depan mata. Setiap ******* dan helaan nafas yang keluar dari mulut keduanya membuat gairah yang sudah sejak lama di tahan kini kembali membuncah.
Dan tanpa rasa ragu lagi, kini keduanya berada di dalam pendakian panjang menuju puncak kenikmatan. Sang Ratu terlihat mengigit bibir bawahnya merasakan kenik**** saat roket sang Raja menghujam pelan, perlahan semakin masuk dan menyentuh ujung inti di dalam tubuhnya.
Keduanya berpacu mencapai puncak kenikmatan, saling bergantian menjadi pemain utama yang mengendalikan permainan dan di iringi oleh peluh dan keringat yang membasahi raga keduanya.
Rasa gundah dan gelisah tak lagi mereka rasakan, yang ada hanyalah kenikm*** yang tiada Tara yang kini menggelora memenuhi relung jiwa, keduanya pun mengerang bersama saat puncak itu berhasil di dapatkan oleh keduanya secara bersamaan, di barengi oleh lelehan larva pijar yang menyembur sempurna masuk ke dalam inti tubuh sang Ratu.
Raja Arezz terkulai lemas di atas raga polos indah milik sang Ratu, mereka saling menatap lalu tersenyum bahagia.
''Aku mencintaimu, meski kau bukan milikku lagi, namun perasaan cinta ini akan tetap abadi di dalam hati ini, wahai wanita cantik yang bernama Evina,'' ucap Raja berbisik di telinga Ratu Evina.
''Aku juga mencintaimu, wahai pria tampan dengan sejuta pesona, meski raga mu tak dapat kumiliki, namun cintamu akan selalu abadi dan ku simpan di dalam hati,'' Ratu membalas ucapan Raja dengan wajah tersenyum bahagia.
Rasanya mereka ingin menghentikan waktu jika itu memang dapat di lakukan, namun apalah daya, keduanya hanyalah manusia biasa yang hanya bisa menerima waktu yang bergulir begitu cepat, tanpa bisa di putar ataupun di hentikan.
Keduanya berbaring di dalam selimut yang menutupi raga polos tanpa sehelai benangpun, tangan dan Raja di rentangkan dengan kepala Ratu Evina di sandarkan di atasnya sembari lengan yang di lingkarkan di perut sang Raja.
Raja mengecup pucuk kepala sang Ratu yang terlihat memejamkan mata merasa lelah, karena pendakian yang mereka lakukan membuat tubuhnya sedikit terasa lemas.
''Jam berapa ini?'' tanya Ratu Evina membuka mata.
''Jam 10 malam,'' jawab Raja melirik jam dinding.
''Aku harus kembali ke kamar, kasihan Adam, dia pasti mencari'ku?'' ucap Ratu, mengangkat kepalanya lalu menatap wajah Raja Arezz dan mengecup pelan bibir lembutnya.
__ADS_1
Raja menyambut kecupan hangat itu dengan terpejam.
Setelah melepaskan kecupannya, keduanya bangkit dan meraih satu persatu pakaian yang tergeletak begitu saja di atas ranjang dan memakainya.
Ratu Evina bercermin, merapikan pakaian yang di kenakan, sang Raja pun menghampiri lalu melingkarkan lengan di perut Ratu Evina dari belakang, dia pun menyandandarkan kepala di pundak wanita cantik itu.
''Andai saja aku bisa menghentikan waktu,'' ucap Raja.
Ratu Evina tersenyum.
''Kita keluar yu, tak enak dengan yang lainnya, kita sudah terlalu lama berada kamar,'' ucap Ratu berbalik dan berdiri berhadapan dengan Raja Arezz.
Mereka saling menatap, pandangan mereka terlihat penuh dengan cinta dan juga kesedihan yang ingin di sembunyikan, bibir mereka pun tersenyum, namun senyum yang menyimpan banyak luka dan kekhawatiran. Kemudian keduanya berjalan keluar dari dalam kamar.
Ceklek...
Raja Arezz membuka pintu, lampu di luar kamar terlihat masih menyala meski hari sudah malam, namun mereka tidak mendapati siapa pun berada di sana, suasana serasa sangat sepi dan hening.
Ceklek...
''Adam dan Flora juga tak ada,'' sang Ratu panik seketika.
''Benarkah?'' Raja memasukan separuh kepalanya ke dalam kamar dan melihat sekeliling kamar.
''Barangkali mereka sedang di luar, mari kita lihat ke sana,'' Raja meraih pergelangan tangan sang Ratu dan saling berpegangan berjalan menuju halaman rumah.
Wajah sang Ratu terlihat sangat khawatir, bertanya-tanya dalam hatinya, dimanakah semua orang berada? sesampainya halaman, mereka mendapati semua orang sedang berkumpul sambil bersenda gurau, Adam pun tampak di gendong oleh Flora.
__ADS_1
Alberto tampak sedang membolak-balikkan irisan daging sapi dengan api kecil berada di bawahnya.
''Kalian sedang apa?'' Raja menghampiri mereka dengan tersenyum.
''Kami sedang membuat barbeque, Alberto spesial menyiapkan ini untuk kita,'' jawab Sakti berdiri.
''Wah, sepertinya enak sekali?'' tanya Ratu duduk di samping Flora.
''Tentu saja, tidak ada barbeque yang lebih enak dari buatan'ku,'' jawab Alberto penuh percaya diri.
''Baiklah, aku percaya, mana mungkin pemilik cafe terkenal seperti masakannya tidak enak? aku sudah tidak sabar untuk mencicipinya,'' jawab Raja Arezz memegangi perut datarnya.
Putri Elisa, Sakti, Raja Arezz, Ratu Evina, Alberto, dan Flora yang menggendong bayi Adam, mereka semua tersenyum bahagia, saling bercanda sambil menyantap makanan spesial yang buat oleh sang pemilik rumah.
Mencoba menikmati kebersamaan langka yang mungkin saja tidak akan pernah mereka dapatkan kembali, senyum bahagia terlihat mengembang dari bibir mereka masing-masing, tanpa mereka sadari bahwa masalah besar sedang menunggu mereka di depan.
____---____
Keesokan harinya.
Ratu Evina berpamitan kepada Raja Arezz karena harus segera kembali ke istana, begitupun dengan sang Putri.
Mereka berkumpul di ruang tamu untuk melakukan perpisahan. Raja Arezz memeluk tubuh sang Putri, Puri pun mengucapkan salam perpisahan dan berpesan kepada sang kakak untuk selalu sehat dan segera kembali ke istana.
Kini giliran Ratu Evina yang memeluk tubuh sang Raja, mengucapkan salam perpisahan, dia berusaha untuk tegar tanpa satu air mata sedikitpun, bibirnya tersenyum sembari memeluk tubuh Raja.
''Segeralah kembali ke istana, kau harus mengambil kembali tempat yang telah di ambil oleh adikmu, suamiku sendiri, aku akan menerima hukuman apapun yang di jatuhkan padaku,'' ucap Ratu Evina berbisik di telinga sang Raja.
__ADS_1
Raja hanya terdiam, lengangnya memeluk dengan sangat erat tubuh Ratu Evina.
___________----------___________