
Setelah kemarin istana di sibukkan dengan acara pernikahan pangeran kedua mereka dengan Evina, sekarang para pelayan kembali di sibukkan dengan acara pelantikan yang akan segera di laksakan dalam waktu satu Minggu lagi.
Semua pelayan tampak sibuk mempersiapkan acara dengan membersihkan seluruh istana dan mendekorasi ulang Aula istana yang sempat di gunakan untuk acara pernikahan.
Pangeran Arezz yang merupakan putra mahkota yang akan segera memangku jabatan sebagai Raja masa depan, tampak ikut turun menyaksikan para pelayan tersebut dalam mempersiapkan acara untuk dirinya.
Ratu Emillia yang masih tak rela jika tahta harus di turunkan kepada anak tirinya, masih mencoba mencari cara untuk menggagalkan acara pelantikan tersebut, ia nampak sedang berdiri mondar mandir di dalam kamarnya.
Sampai pada akhirnya pangeran Brendan masuk ke dalam kamar.
''Ibunda sedang apa? mengapa dari tadi mondar mandir seperti itu?''
Ujar sang pangeran lalu duduk di kursi yang terdapat di dalam kamar Ratu Emillia.
''Gara gara rencana kamu yang gagal total, sekarang kita akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan tahta kembali,'' Ratu terlihat sangat kesal.
''Sudahlah Bu, seperti nya ibu harus menyerah, tidak ada yang berani menentang titah Baginda Raja, kecuali jika ibu ingin di usir dari istana.''
''Dasar anak tidak tahu diri.''
''Terus aku harus bagaimana Bu?''
''Sudahlah, pergi kau dari kamar ibu, melihat wajahmu membuat ibu merasa bertambah kesal.''
''Baiklah.. jika itu yang ibu inginkan,'' berdiri dan hendak pergi.
''Tunggu...''
''Ada apa lagi, tadi katanya aku di suruh keluar?''
''Jika kau sudah merasa bosan, lebih baik kau segera ceraikan istri mu itu.''
''Apa maksud ibu? mengapa urusan rumah tanggaku jadi di bawa bawa seperti itu?''
''Ibu masih tidak rela kamu hanya menikahi seorang pelayan rendahan seperti dia.''
''Jangan ikut campur dengan urusan rumah tangga ku, aku yang akan memutuskan seperti apa rumah tangga ku kedepannya,'' pangeran kembali berjalan dengan perasaan kesal.
''Dasar anak kurang ajar,'' Ratu berteriak, namun tak di anggap oleh pangeran Brendan.
***
Trok trok trok...
Pangeran Arezz mengetuk pintu kamar ayahanda nya.
__ADS_1
''Ada apa ayah memanggil hamba kemari?''
''Kemari dan duduklah...''
''Baik ayah...''
''Sepertinya telah terjadi bencana besar di kota Barsom, deras semalam menyebabkan tanah di sekitar air terjun mengalami longsor, sehingga mengubur daerah yang berada di bawahnya.''
''Apa...?'' pangeran terkejut, kota Barsom adalah kota yang penuh dengan kenangan dirinya bersama Evina.
''Baik Baginda hamba akan ke sana sekarang juga.''
''Bawa serta kedua adikmu, agar mereka bisa membantu mu dalam mengevakuasi semua penduduk yang berada di sana.''
''Maksudnya, Brendan serta Brian?''
''Iya, bawa mereka berdua.''
''Hamba juga ingin ikut bersama ketiga kakakku ayahanda,'' sang putri tiba tiba saja masuk ke dalam kamar dan mendengar percakapan mereka berdua.
''Apa maksudmu putri? di sana berbahaya,'' ujar pangeran.
''Tidak apa apa kak, aku ingin membantu para penduduk di sana, aku mohon bawa aku bersamamu.''
Sang Raja nampak sedang berfikir sejenak.
''Beneran baginda?'' Putri Elisa merasa sangat senang.
''Ia... karena kau juga seorang putri kerajaan ini, maka kau harus mencoba merasakan kesakitan yang sedang di hadapi oleh Rakyat dan menghibur mereka agar mereka tidak terlalu bersedih, mudah mudahan dengan kehadiranmu dapat mengurangi kesedihan mereka semua.''
''Baik ayahanda.''
''Kami akan segera bersiap siap ayahanda, hamba pamit.''
Keduanya keluar dari dalam kamar Baginda Raja.
***
''Kamu mau kemana?'' tanya Evina kepada suaminya yang terlihat sedang bersiap siap memakai pakaian.
''Aku akan pergi ke kota Barsom,Baginda Raja mengutus kami semua ke sana, karena telah terjadi bencana besar di kota itu.''
''Apa...? kota Barsom?''
Pangeran Brendan mengangguk.
__ADS_1
''Bolehkah aku ikut? kota itu kota kelahiran ku, ada terdapat makam kedua orang tuaku di sana, aku ingin melihat keadaan pusara ibu dan ayahku.''
''Memang kau boleh juga ikut kok, mendampingi adik bungsu ku yang ku yang juga akan ikut ke sana.''
''Mengapa tidak mengatakan nya padaku dari tadi, mungkin saja jika aku tahu, aku akan segera bersiap siap juga,'' ucap Evina kesal.
''Cepatlah, aku tunggu di bawah,'' pangeran Brendan berjalan keluar dari dalam kamar.
''Tunggu lah aku tak akan lama.''
Ia segera berganti pakaian dengan memakai celana jeans serta atasan bermotif bunga yang sederhana.
Setelah itu, Evina pun menyusul suaminya ke lantai bawah.
Di lantai bawah sudah berkumpul seluruh putra putri raja dan juga beberapa pelana dan pengawal yang akan ikut bersama menuju tempat bencana.
Karena mungkin mereka akan menghabiskan beberapa hari di sana, sudah tampak pula beberapa koper yang berisikan pakaian.
Rombongan para pangeran serta putri menaiki mobil masing masing, di belakang mobil mereka nampak satu buah mobil kontainer yang berisikan bantuan bahan makanan serta pakaian yang akan di salurkan kepada korban bencana di kota Barsom.
Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya mereka sampai di gerbang kota Barsom.
Kota dengan sejuta keindahan itu kini telah berubah menjadi kota bencana, banyak bangunan bersejarah yang biasa nya tertata rapih dan indah saat pertama kali memasuki kota tersebut, kini telah berubah total, banyak dari bangunan tersebut telah terkubur oleh tanah longsor, bahkan cafe Monalisa pun sudah tak terlihat bentuknya lagi.
Ke Lima anggota keluarga kerajaan tampak berdiri di depan gerbang dengan gapura besar yang sudah tinggal setengah karena separuh dari gapura tersebut telah ambruk berserakan di jalanan.
Evina menatap dengan wajah sedih ke seluruh kota yang tampak sudah tidak berpenghuni, karena seluruh penghuninya telah mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Ia pun berjalan ke depan dengan hati terluka, karena harus melihat kota kelahirannya luluh lantah karena tanah longsor yang di sebabkan oleh hujan deras yang mengguyur kota tersebut selama berhari-hari.
Pangeran Brendan memegangi tangan sang istri, ia seperti dapat merasakan kesedihan yang sedang di rasakan oleh istrinya tersebut.
''Hati hati Ev....'' ucap pangeran Brendan melangkah bersama sang istri.
Yang lainnya pun nampak berjalan di belakang mereka, Sakti memegang tangan sang putri saat gadis cantik itu mulai menapakkan kakinya, di atas puing gapura dan berjalan menuju tempat bencana.
Pangeran Brian berjalan tepat di belakang sang Kaka, pangeran Arezz.
''Kemana para penduduk? mengapa kota ini terasa sepi sekali?'' tanya pangeran Brian.
''Sepertinya mereka semua berkumpul di alun alun kota, karena tempat itu luas dan cukup untuk menampung setengah dari penduduk di sini,'' jawab Evina.
''Di mana tempat itu, bisakah kau menunjukannya kepada kami?''
''Tentu saja, tempatnya lumayan sedikit jauh dari sini, kita harus berjalan sekitar 30 menit untuk bisa sampai ke sana.''
__ADS_1
*****