
Pangeran Brendan masuk ke ruangan pesta bersama sang istri, dengan menggunakan warna pakaian yang hampir sama yaitu warna Fink, membuat mereka terlihat seperti pasangan yang sangat serasi dan suami istri yang saling mencintai.
Pangeran Arezz tampak langsung bisa mengenali Evina walau ia mengenakan topeng berbentuk hewan seperti kelinci.
Postur tubuhnya yang kecil serta pinggang yang terlihat sangat ramping, membuatnya begitu mudah di kenali meski wajahnya tertutup dengan sangat rapat.
Pangeran Brendan menggenggam erat jemari Evina, dia terlihat begitu mencintai istrinya tersebut, membuat pangeran Arezz cemburu melihatnya.
Mereka pun duduk di sebuah kursi di dalam ruangan.
''Kamu tunggu sebentar di sini ya, aku ambilkan dulu minuman untuk kita berdua,'' ucap pangeran Brendan kepada istrinya.
Evina mengangguk dan tersenyum di dalam topeng.
Pangeran Arezz memperhatikan gerak gerik Evina. Sebenernya ia ingin menghampiri wanita itu untuk sekedar menanyakan kabar ataupun bertegur sapa, namun ia segera mengurungkan niatnya saat adiknya sendiri yang merupakan suami dari wanita itu menghampiri Evina.
Mereka terlihat bahagia dan saling mencintai, membuat hati sang pangeran seperti teriris menyaksikan kebersamaan mereka berdua.
Suasana pesta semakin ramai, keadaan ruang pesta yang remang remang dengan musik melow membuat siapapun yang berada di sana pasti merasa nyaman.
Pangeran Brendan mengulurkan tangannya kepada sang istri, ia pun mengajak istri tercintanya berdansa yang langsung di sambut dengan senyuman oleh sang istri tercintanya.
Mereka berdua pun berdansa pelan, suara riuh tepuk tangan tampak terdengar di seisi ruang pesta, melihat dan menyaksikan sepasang pengantin baru yang berdansa di iringi music clasic nan melow, membuat siapapun yang melihatnya serasa iri kepada mereka berdua.
''I Love you...'' pangeran Brendan membisikan kata di telinga sang istri.
''I Love you to...'' jawab Evina membalas ucapan sang suami.
Sungguh pangeran Brendan merasa sangat bahagia mendengar jawaban dari istri tercintanya, ia tidak pernah merasa sebahagia ini dalam mencintai seorang wanita.
__ADS_1
Setelah keduanya selesai berdansa, mereka kembali duduk di tempat semula, dengan keringat dan senyuman yang senantiasa menghiasi bibir keduanya.
Tak lama kemudian, ada seorang pelayan yang berbisik di telinga pangeran Brendan, dan membuat sang pangeran berdiri dan meninggalkan ruang pesta secara tergesa gesa.
Evina pun merasa heran dengan apa yang telah di dengar oleh suaminya tersebut, sehingga membuat nya harus segera pergi di sana, namun ia pun tak bisa bertanya karena sang pangeran pergi dengan begitu cepatnya.
Ia pun hanya duduk menunggu, ia merasa yakin jika suaminya tersebut akan segera kembali untuk menjemputnya.
Sampai kemudian satu orang pelayan menghampiri dirinya dan menawarkan satu gelas minuman kepadanya, tanpa merasa curiga sedikitpun Evina menerima dan langsung meneguk minuman itu dengan hanya sekali tegukan.
Setelah meminum minuman tersebut kepala Evina tiba tiba terasa pusing, ia pun berjalan hendak meninggalkan ruangan pesta.
Saat ia sedang berjalan, tiba tiba saja ada seseorang yang meraih tangannya, berpakaian persis seperti suaminya, membuatnya hanya pasrah ketika sosok yang berpakaian persis seperti suaminya membawanya ke sebuah kamar.
Pandangan Evina sudah mulai memudar, ia pun hanya pasrah ketika orang tersebut membaringkannya di atas tempat tidur, lalu pergi begitu saja meninggalkan dirinya.
Ia pun berjalan menghampiri wanita tersebut dan membuka topeng yang menutupi wajahnya.
''Evina....?'' ujar pangeran Arezz yang merasa sangat heran mengapa wanita itu berada di sana.
''Kemarilah suamiku,'' Evina setengah terpejam.
Ia menarik lengan pangeran Arezz untuk berbaring dengan dirinya di atas ranjang.
Sang pangeran mencoba menolak, namun karena tubuh indah nan molek itu begitu menggoda membuat dirinya hanya pasrah saat tubuhnya mulai bersentuhan dengan wanita yang kini adalah istri dari adiknya sendiri.
Keduanya saling berpelukan, hingga bibir mereka pun bersentuhan dan saling bertautan, tubuh Evina seolah telah benar benar terangsang hingga ia pun membuka dengan sendirinya pakaian yang ia kenakan.
Pangeran Arezz pun sudah benar benar di ambang batas, ia menerima setiap sentuhan dari tangan Evina yang seperti nya sudah berada di puncak birahi, ia bahkan merasa kewalahan menerima gejolak menggelora yang seperti nya sudah menguasai batin wanita tersebut.
__ADS_1
Entah sadar atau tidak, namun apa yang sedang di perbuat oleh wanita tersebut seperti bukan dirinya yang sebenarnya, ia terus berpacu di atas tubuh polos pangeran yang dia kira sebagai suaminya.
Suara ******* itu perlahan keluar dari mulut wanita yang kini seolah tidak sadar dengan apa yang ia lakukan, meraung dan berteriak merasakan kenikmatan surga dunia, dan akhirnya nya kenikmatan itu pun mencapai puncaknya, hingga tubuh kurus nan ramping itu pun bergetar mencapai ujung kenikmatan.
Kini keduanya terkulai lemas di atas ranjang, pangeran Arezz sungguh tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada wanita tersebut, meskipun ia pun mendapat kan keuntungan dengan meraih kenikmatan tapi sungguh hatinya diliputi berbagai pertanyaan.
**
Pangeran Brendan mencari keberadaan sang istri, Evina yang semula duduk di kursi kini tiba tiba telah tiada, ia pun bertanya kepada beberapa orang yang berada di sana, sampai pada akhirnya ada yang memberitahukan dia bahwa Evina sedang berada di dalam kamar bersama sang putra mahkota.
Pangeran Brendan merasa tersentak, ia sungguh tidak percaya dengan apa yang di ucapakan oleh pelayan tersebut, karena merasa penasaran ia pun berjalan menuju kamar yang di sebutkan oleh pelayan.
Pangeran Brendan pun sampai di depan kamar tersebut, mencoba mengintip dari celah pintu yang tak tertutup kurci, meski celahnya kecil namun ia bisa melihat dengan jelas siapa yang sedang berada di dalam sana.
Hatinya sungguh terkejut, sekujur raganya serasa tersentak, hingga ia hanya bisa berdiri menatapi sepasang manusia yang sedang tertidur di dalam sana.
Ingin rasanya ia mendobrak pintu dan menghabisi mereka berdua, namun hatinya terlanjur sakit sehingga yang bisa ia lakukan hanya meratap dengan linangan air mata dan rasa kecewa.
Akhirnya ia pun pergi dari tempat itu, merasakan sekujur raga serta jiwanya hancur bagai tertimpa puluhan bahkan ratusan duka nestapa.
Sungguh ia merasakan penghianatan, yang meluluhlantahkan kebahagiaan yang baru saja di raih nya. Pangeran Brendan berjalan tak tentu arah, kedua kelopak matanya sudah basah dengan deraian air mata.
Sampai akhirnya ia pun bertemu dengan ibunda nya yaitu Ratu Emilia.
''Kamu kenapa putraku? mengapa wajahmu seperti ini? siapa yang telah membuatmu menangis seperti anak kecil begini?" ucap Sang Ratu sambil memegang wajah putranya dengan kedua tangannya.
Wajahnya terlihat sedih, namun dalam hatinya, sungguh sang Ratu merasa sangat bahagia, karena akhirnya rencana yang di buatnya berjalan seperti yang ia harapkan.
*****
__ADS_1