KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA

KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA
Eksekusi


__ADS_3

''Aku sungguh kecewa padamu,'' ucap Raja masih dalam keadaan memeluk tubuh Evina.


''Maafkan aku, sungguh aku benar-benar meminta maaf kepadamu,'' tangis Evina tiba-tiba pecah begitu saja, tangis pilu yang membuat sang Raja mengeratkan pelukannya.


Kini keduanya menangis sesenggukan, di dalam pelukan, tangis yang sebisa mungkin mereka tahan, namun gagal melakukannya.


''Aku bisa saja membodohi mereka semua dan mengatakan dirimu sudah mati, kau bisa pergi jauh dari sini, dan aku akan sering mengunjungimu, aku mohon ubahlah keputusanmu Evina, aku mohon...'' Raja memohon dengan penuh harap.


Namun Evina hanya terdiam, dia semakin mengeratkan pelukan sang Raja dengan Adam berada di tengah-tengahnya.


Hati sang Raja sungguh merasa hancur berkeping-keping, sekeras apapun ia berusaha membujuk namun hasilnya tetap sia-sia, Evina masih tetap bersikukuh dengan keputusannya.


''Baiklah, jika itu memang keputusanmu, aku akan mengabulkannya karena memang itu yang kamu inginkan,'' Raja melepaskan pelukan tangannya, menatap wajah Evina dengan penuh rasa kecewa.


Ia pun pergi begitu saja, meninggalkan wanita yang di cintai'nya.


Evina menangis pilu sendiri, tangannya masih memeluk putra kesayangannya, memandang wajah tampan sang putra dengan berkali-kali mengucapkan kata maaf kepadanya.


''Maafkan ibumu ini nak, ibu sungguh lelah menjalani hidup ini, hiks hiks hiks...'' Evina dengan menatap wajah sang putra.


Adam yang masih terjaga menatap wajah ibunya, dia tersenyum dengan mengeluarkan suara kecil seolah sedang menghibur kesedihan yang di rasakan ibundanya.


''Ue... Ue...'' suara bayi Adam memecah kesedihan, Evina pun tersenyum seketika, merasa senang mendengar sang putra berbicara seolah memanggil dirinya.


''Iya... sayang... ibu sayang kamu,'' ciuman sang ibu mendarat di pipi mungil bayi Adam.


____-----____


Sehari Sebelum Hari Eksekusi.

__ADS_1


Sang Raja mengunjungi satu persatu terdakwa hukuman mati, Brendan, Emillia dan juga Evina. Dia sengaja mendatangi mereka semua untuk mendapatkan permintaan maaf sekaligus akan memberikan maaf, namun hukuman tetap di dapat.


Orang pertama yang dia kunjungi adalah adiknya, Brendan. Sang Raja jauh-jauh mendatangi penjara dimana dia berada, dia berdiri di balik jeruji menatap penuh iba tubuh adiknya yang terlihat begitu mengenaskan.


''Bagaiman perasaanmu, karena besok kau akan di eksekusi?'' tanya Raja.


Brendan menatap wajah Raja Arezz dengan tatapan tajam dan tidak menunjukan perasaan penyesalan sama sekali.


''Apa aku harus menjawab 'Aku baik-baik saja' sementara keadaanku sangat mengenaskan, atau aku harus berucap 'Maaf aku menyesal' lalu apa kau akan membatalkan hukuman? hah...'' ucap Brendan ketus.


''Apa kau benar-benar tidak merasa bersalah sama sekali karena telah mencelakai'ku untuk mendapatkan posisi Tahta?'' tanya raja merasa geram.


''Tidak, aku tidak menyesal, meski aku harus di hukum mati seperti ini, aku yakin kau juga tersiksa karena kau harus mengeksekusi istriku, wanita yang sangat kau cintai, meski mulutmu mengatakan tidak apa-apa, namun aku yakin hatimu bergejolak, karena harus merenggut nyawanya, dan aku merasa puas untuk itu, seumur hidupmu akan diliputi oleh rasa bersalah yang sangat besar, dan kamu tidak akan pernah hidup tenang, sampai kamu mati suatu saat nanti,'' ujar Brendan dengan mata yang berapi-api.


Raja yang merasa geram mencengkram baju lusuh Brendan dari balik jeruji, matanya tampak melotot menatap dengan tatapan yang penuh dendam.


''Brengsek kamu, dari awal dia masuk ke istana kamu sudah membuatnya menderita, kamu merenggut kesuciannya, memaksannya agar menikahi'mu, dan juga menyiksa tubuhnya, sekarang kau pula yang menyebabkan dia kehilangan nyawanya,'' jawab Raja Arezz dengan suara yang terdengar berapi-api dan penuh dengan dendam.


Sakti yang berada di sana menemani sang raja, meraih lengan Raja dan melepaskan cengkraman'nya, dia tidak mau kalau sampai Raja Arezz merasa terprovokasi dengan ucapan dari Brendan yang terlihat dan terdengar seperti orang yang tidak waras.


Sakti pun memapah tubuh Raja yang terlihat lemas karena termakan oleh ucapan Brendan.


''Sebaiknya kita segera kembali ke istana sekarang, tidak baik untukmu jika terlalu lama berada di sini,'' ucap Sakti mengajak Raja kembali.


Raja pun mengangguk dan hendak melangkah, namun dia seketika menghentikan langkah kakinya saat mendengar Brendan berteriak memanggil namanya.


''KAKA... KAK AREZZ, AKU SUNGGUH MINTA MAAF KAK, HIKS HIKS HIKS... TOLONG AMPUNI AKU,'' teriak Brendan dengan tangisan yang terdengar pilu.


Raja menoleh ke arah Brendan, sepertinya memang apa yang sedang menimpa Brendan benar-benar membuat otaknya terganggu, dia terus berteriak seperti orang yang telah hilang kewarasan'nya.

__ADS_1


Sang Raja pun tidak menghiraukan teriakan adiknya, dan kembali berbalik meneruskan langkahnya.


___---___


Setelah mengunjungi Brendan di penjara, sang Raja pun kembali ke istana dan pergi ke kamar putri dimana Emillia berada, berharap jika ibu tirinya itu Sudi meminta maaf kepada dirinya.


Ceklek


Raja membuka pintu lalu masuk ke dalamnya.


Emillia yang sedang duduk melamun seketika berdiri dan membungkuk memberi hormat. Raja pun duduk di atas kursi dengan Emillia yang berdiri tepat di hadapan nya.


''Apakah ada yang ingin ibu bicarakan kepadaku, sebelum waktu eksekusi besok?'' tanya Raja.


''Ibu sungguh meminta maaf kepada'mu, karena telah mencoba mencelakai mu, dan ibu sungguh menyesal, ibu sama sekali tidak pantas untuk mendapatkan gelar Ratu apalagi Permaisuri,'' jawab Emillia dengan penuh penyesalan.


''Aku memaafkan mu, ibu. Namun bukan berarti hukuman akan di batalkan begitu saja, aku melakukan ini agar besok setelah kau di eksekusi arwah'mu tenang di alam sana,'' jawab Raja menatap wajah Emillia.


''Aku menerima hukuman yang di berikan kepadaku dengan sangat ikhlas, karena aku memang pantas untuk mendapatkannya, kejahatan yang telah aku lakukan memang tidak dapat dimaafkan,'' ucap Emillia dengan mata yang berkaca-kaca.


Raja pun bangkit dan memeluk tubuh ibu tirinya, dia mengusap punggung sang ibu seolah memberi kekuatan.


Selesai mengunjungi Emillia sang Raja pun hendak mendatangi kamar Evina, namun dirinya hanya berdiri di depan pintu, kakinya terasa berat untuk masuk ke dalam sana, alhasil dia pun berbalik dan mengurungkan niatnya.


Ke Esokan Harinya.


Hari itu pun tiba, hari dimana Eksekusi akan di laksanakan, mereka yang di eksekusi akan meminum ramuan beracun yang di campur dengan minuman.


Eksekusi akan di laksanakan pukul 9 pagi dengan Sebastian yang akan menjadi Eksekutor'nya, dan orang pertama yang di Eksekusi adalah Brendan yang berada di dalam penjara Istana.

__ADS_1


Sebastian mulai memasuki penjara dengan membawa ramuan beracun, dia pun di dampingi oleh lebih dari 10 orang yang akan menjadi saksi.


_____________---------______________


__ADS_2