
''Kamu kenapa?'' tanya Raja Arezz yang merasa heran melihat perubahan raut wajah Ratu Evina.
''Oh... tidak ko, aku tidak apa-apa,'' jawab sang Ratu berbohong.
Raja termenung sejenak, ingatkan sekarang telah kembali seperti semua, itu berarti dia sudah mengetahui bahwa orang yang mendorong dirinya dari atas tebing adalah adiknya sendiri yang sekarang sudah menjadi Raja menggantikan dirinya.
Kemudian Raja menatap bayi yang sedang di gendongnya yang merupakan putra dari orang yang telah menyebabkan dirinya terluka hingga hilang ingatan.
Seharusnya dia membenci bayi ini, namun entah mengapa rasa benci itu tidak ada sama sekali, yang ada justru dia merasa sayang kepada bayi tersebut, sesuatu yang sangat tidak dia duga sama sekali.
Raja menatap bayi yang berada di dalam gendongannya dengan penuh kasih sayang, matanya bahkan seperti tidak berkedip dengan senyum yang sedikit mengembang, begitupun dengan sang bayi, Adam seperti membalas tatapan Raja Arezz dengan kedua mata indahnya, seraya memasukan jari mungilnya dalam mulut.
Tak lama kemudian pintu kamar'pun di ketuk, terdengar suara Sakti yang meminta izin untuk masuk ke dalam kamar.
Trok trok trok
''Bolehkah saya masuk, yang mulia?''
''Iya, silahkan, masuk saja.''
Sakti berjalan mendekat, dia berdiri di samping sang Raja.
''Mohon maaf, karena saya mengganggu waktu kalian, tapi ada sesuatu yang harus saya bicarakan dengan yang mulia,'' ucap Sakti.
''Baiklah, kita bicara di kamarku, kebetulan ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu juga,'' jawab Raja.
Kemudian Raja Arezz menyerahkan kembali bayi tersebut pada Flora, dan berjalan keluar dari kamar dengan diikuti oleh Sakti di belakangnya, namun sebelumnya dia mengatakan kepada Ratu Evina bahwa dia akan kembali ke sana untuk berbincang dengannya.
Sesampainya di kamar sang Raja yang terletak di sebelah kamar Ratu Evina, Raja segera menutup pintu dan menguncinya, dia sengaja melakukan hal itu agar tidak seorang pun yang mengganggu apalagi menguping pembicaraan mereka.
''Apakah betul ingatan yang mulia telah kembali sepenuhnya?'' tanya Sakti sesaat setelah keduanya duduk di sebuah kursi.
Raja mengangguk.
__ADS_1
''Itu berarti, yang mulia telah mengingat tentang siapa yang telah menyebabkan yang mulia terjatuh dari atas tebing?'' tanya Sakti dengan alis yang saling di tautkan.
Raja pun kembali mengangguk.
''Bolehkah aku mengetahuinya. Siapa orang yang telah berani membuatmu sampai seperti ini?''
Raja hanya terdiam.
''Apa tebakanku selama ini benar? Orang itu adalah...'' Sakti tidak meneruskan ucapannya, menunduk sebentar, lalu kembali mengangkat kepalanya dan menatap wajah sang raja.
''Orang itu adalah Raja Brendan?'' ucapnya lagi pelan.
Raja mengangguk lalu menunduk merasa sangat sedih, dirinya sungguh merasakan sakit di relung hatinya saat mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu saat adiknya yang bernama Brendan mendorong tubuhnya dari atas tebing dengan tersenyum tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Bayangan sang adik saat kejadian itu terjadi sungguh membuat perasaannya terluka, dia tidak menyangka sama sekali jika adiknya tersebut begitu tega melakukan hal tersebut kepadanya.
''Apakah kamu baik-baik saja, yang mulia?'' tanya Sakti menatap wajah Raja Arezz yang terlihat muram.
Sakti hanya terdiam, dia mengerti bagaimana perasaan sang Raja, bagaimana tidak sakit, adiknya sendiri tega melakukan hal yang sangat keji kepada orang yang notabenenya adalah seorang Raja, apalagi Raja Arezz adalah kakaknya sendiri.
''Apa yang akan kita lakukan sekarang? Raja Brendan harus segera turun tahta dan mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya, jika tidak, dia akan melakukan hal yang kembali kepadamu,'' tanya Sakti menatap wajah sang Raja.
Raja terdiam, dirinya sedang memikirkan apa yang akan dia lakukan sekarang, hatinya sungguh di selimuti rasa gundah yang mendalam, jika dia akan menghukum Raja Brendan sebagai seorang yang melakukan pengkhianatan, maka dia pun harus menghukum istri dan juga putranya.
Sementara dia sama sekali tidak bisa, apabila harus menyakiti Ratu Evina yang merupakan wanita yang masih dia cintai dengan segenap hatinya, namun jika hal itu tidak dilakukan, dia akan di cap sebagai Raja yang tidak bertanggung jawab dan membiarkan begitu saja kejahatan besar yang telah dilakukan oleh adiknya.
''Yang mulia Raja?'' Sakti memanggil namanya dan membuyarkan lamunannya seketika.
''Izinkan aku berfikir berpikir sejenak,'' jawab Raja mengusap wajahnya sendiri dengan kasar.
''Baik yang mulia, saya akan memberi waktu kepada yang mulia untuk berfikir, gunakan waktu yang mulia sepuas mungkin sampai yang mulia benar-benar merasa yakin tentang apa tindakan kita selanjutnya,'' jawab Sakti berdiri lalu undur dari hadapan sang Raja.
Kini Raja masih terdiam duduk sendiri di dalam kamar.
__ADS_1
'Apa yang harus aku lakukan sekarang?'
Ucapnya dalam hati.
Saat sang Raja sedang larut dalam fikiran'nya tiba-tiba saja pintu di ketuk dan Ratu Evina masuk ke dalam kamar.
''Bolehkan aku menemanimu di sini?'' Ratu Evina berdiri di depan pintu.
Raja pun tersenyum menatap wajah Ratu Evina, dirinya pun mengangguk lalu mempersilahkan wanita itu masuk ke dalam kamar.
''Apakah Adam sudah tidur?''
''Iya, dia segera tertidur setelah kau memberinya ASI,'' jawab Ratu Evina.
''Begitu...! Hmmm... berapa hari rencananya kamu akan tinggal di sini?'' tanya Raja.
''Aku dan Putri mendapatkan izin keluar dari istana hanya selama satu hari saja, besok aku harus segera kembali ke sana,'' jawab Ratu Evina.
''O ya...? mengapa cepat sekali, padahal aku ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi bersamamu dan juga Adam,'' jawab Raja merasa kecewa.
''Mau bagaimana lagi, suamiku hanya mengijinkan aku pergi selama satu hari saja, aku tidak berani membantahnya,'' Ratu menunduk.
''Ya sudah, tidak apa-apa.''
''Apa rencana'mu sekarang? apakah kau akan kembali ke istana?''
''Entahlah, aku sedang memikirkan'nya. Jika aku kembali ke sana, maka aku harus kembali menjadi seorang Raja, dan suami'mu harus turun tahta. Lalu bagaimana dengan mu dan anakmu? apa yang akan terjadi dengan kalian selanjutnya?'' jawab Raja dengan suara yang terdengar sedikit berat.
''Iya juga, sebenarnya aku sama sekali tidak keberatan jika harus kembali menjadi rakyat biasa seperti dulu lagi, kehidupan di dalam istana tidak membuatku merasa bahagia sama sekali, bahkan nafasku terasa sesak saat berada di dalamnya,'' ucap Evina memandang lekat wajah sang Raja.
Raja pun menunduk, masalahnya tidak sesederhana seperti yang baru saja di katakan oleh Ratu Evina, apabila dia kembali menjadi seorang Raja, maka dirinya harus bersedia menghukum Raja Brendan beserta keluarganya, karena hukuman bagi seorang pengkhianat sangatlah berat, yaitu, Kematian.
__________----------__________
__ADS_1