
''Lepaskan aku...'' Permaisuri Emillia berontak berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan tangan Sakti, lalu matanya di buat terkejut seketika saat melihat putra kesayangannya berlutut di depan Raja Arezz di dalam aula, dia berhenti berontak dan hanya menatap wajah sang Raja dengan tatapan tajam.
Raja Arezz memandang Permaisuri dengan tatapan dan senyum sinis, lalu menghampirinya.
''Apa kabar yang mulia Permaisuri?'' tanya Raja Arezz dengan tersenyum kecut.
''Kamu...?'' jawab Permaisuri melayangkan pandangan tak percaya.
''Iya, ini aku. Apakah kau sudah menikmati posisimu sebagai Permaisuri? sayang sekali posisi itu akan segera hilang, dan kamu akan segera mendekam di dalam penjara,'' ucap Raja Arezz tersenyum sinis.
''Apa maksudmu? aku tidak melakukan apapun.''
''O ya...? kalau begitu, berarti putramu yang akan menanggung hukuman karena kejahatan besar yang telah dia lakukan, dia berani mencelakai'ku Raja negeri ini, apa kau tahu itu sama saja dengan sebuah pengkhianatan?''
Permaisuri terperangah, wajahnya berubah ketakutan seketika menatap putranya, dia tahu betul jika hukuman bagi pengkhianat adalah ''KEMATIAN.''
Permaisuri berlutut seketika, telapak tangannya di tempelkan di depan wajahnya dengan tatapan yang terlihat memohon belas kasihan.
''Yang mulia Raja, aku mohon lepaskan putraku, dia tidak bersalah, aku adalah dalang di balik semua ini, aku yang menyuruhnya untuk mencelakai'mu, aku mohon hukum saja aku,'' pinta Permaisuri dengan linangan air mata.
''Ha... ha... ha... Kalian ibu dan anak sungguh membuat aku terharu, ternyata kasih sayang kalian begitu kuat, mencoba melindungi satu sama lain. Tapi sayangnya aku tidak berniat untuk hanya menghukum salah satu dari kalian, kalian berdua akan mendapat hukuman yang sama,'' jawab Raja tertawa renyah.
''Lali bagaimana dengan Ratu Evina? bukankah dia wanita yang kau cintai? apakah kau juga akan menghukumnya?'' tanya Raja Brendan memandang wajah sang kakak.
Raja Arezz membungkuk di depan adiknya, dia menatap wajah Raja Brendan, melayangkan tatapan tajam dengan senyum sinis yang mengembang di kedua sisi bibirnya.
''Tentu saja, dia istrimu, dia akan mendapatkan hukuman yang sama dengan dirimu, dari awal dia masuk ke istana, kamu benar-benar telah menghancurkan hidupnya, dan sekarang dia juga harus mati sia-sia karena ulah kejahatan yang telah kau lakukan,'' jawab Raja berusaha tegar.
''Apakah kamu tahu bahwa Adam sebenarnya adalah anak kandungmu?'' Permaisuri menatap wajah Raja Arezz.
Sang Raja terperangah merasa sangat terkejut, begitupun dengan putranya, keduanya menatap wajah sang Permaisuri dengan tatapan tidak percaya.
__ADS_1
''Apa maksud ibu?'' tanya Raja Brendan.
''Iya... aku diam-diam melakukan tes DNA kepadanya, dan ternyata tidak ada kecocokan sama sekali dengan DNA-mu, lalu anak siapa lagi jika bukan anak dia?''
''Tidak mungkin? Adam itu putraku, hiks... hiks... hiks...'' Raja Brendan menangis pilu.
Sementara itu, Raja Arezz terdiam, masih mencoba mencerna perkataan yang keluar dari bibir permaisuri, dia berdiri lalu naik ke atas singgasana. Berdiri di sana dengan penuh karisma.
''Mulai saat ini, aku akan mengambil alih kembali Tahta yang memang sejak awal adalah milikku. Dan kalian berdua akan mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatan yang telah kalian lakukan,'' ucap Raja dengan suara yang menggema di seisi Aula.
''Lalu bagaimana dengan Evina? Aku mohon jangan hukum dia. Dia tidak bersalah sama sekali? lagi pula kau sangat mencintainya,'' ujar Raja Brendan memohon.
''Dan untuk Ratu Evina, dia akan mendapatkan hukuman yang sama, namun karena dia memiliki seorang bayi yang harus dia beri ASI, maka untuk sementara dia akan menjadi tahanan kamar, dan tidak akan di jebloskan ke penjara, sampai tiba saatnya hukuman itu di jatuhkan,'' jawab Raja.
''Aku mohon jangan hukum dia, yang mulia, aku yang salah, hiks hiks hiks,'' Raja Brendan terus memohon.
''Kepala pengawal, cepat bawa dua orang ini ke dalam penjara.''
''Baik yang mulia.''
Raja Arezz tidak menghiraukan ucapan Permaisuri, dia tidak ingin terlihat terprovokasi dengan ucapan tersebut, padahal di dalam hati, dia sungguh merasakan gejolak yang menyiksa batinnya, namun sebisa mungkin sang Raja mencoba untuk menyembunyikannya.
Setelah Sakti dan Sebastian membawa kedua orang penjahat ke keluar dari dalam Aula, Raja pun duduk dengan perasaan yang berkecamuk memikirkan ucapan yang tadi di lontarkan oleh Permaisuri Emillia.
Bisa di bilang sebenarnya Raja Arezz termakan ucapan Permaisuri, dia pun mengusap kasar wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Mencoba menenangkan diri dan mengatur perasaannya.
Selama satu jam dia duduk di Singgasana dengan perasaan gundah yang menyelimuti hatinya, dia pun memutuskan untuk pergi ke kamar bayi Adam. Sang Raja turun dari singgasana dan berjalan menuju meninggalkan Aula.
Sakti yang sudah kembali dari penjara setelah mengantarkan kedua orang penjahat itu segera mendampingi Raja yang berjalan menuju kamar Adam, dia pun berjalan cepat karena sudah tidak sabar untuk menemuinya.
Para pelayan yang tadi berlarian saat melihat Raja membawa pasukan sekarang terlihat telah kembali ke tempat kerjanya masing-masing, mereka membungkuk begitu dalam memberi penghormatan saat sang Raja melintas di hadapan mereka.
__ADS_1
Ceklek
Raja membuka pintu kamar yang di jaga oleh dua orang prajurit, karena Ratu Evina sedang berada dalam masa hukuman penjara kamar.
Raja pun masuk ke dalamnya dengan langkah yang terlihat gontai, sang Ratu menatap wajah Raja Arezz yang perlahan mendekati dirinya yang sedang menggendong Adam di dalam pangkuannya.
''Yang mulia Raja,'' Ratu membungkuk memberi hormat.
''Adam... apakah benar dia sebenarnya adalah putraku?'' tanya Raja mendekat dan menatap wajah Adam dengan tatapan sayu.
''Apa? darimana kamu mendengar hal tersebut?''
''Dari Permaisuri Emillia, dia mengatakan bahwa dia telah melakukan tes DNA secara diam-diam,'' jawab Raja menjelaskan.
Ratu Evina terdiam. Apakah benar sang Permaisuri melakukan hal tersebut? Pantas saja selama ini sikap permaisuri acuh tak acuh kepada putranya tersebut, beliau bahkan tidak pernah mengunjunginya sama sekali, apalagi menggendongnya. Ternyata memang ini alasannya.
''Bolehkah aku menggendong Adam?''
''Tentu saja, yang mulia.''
Raja pun meraih Adam dengan kedua tangannya, menggendong dan menimang dengan penuh kasih sayang. Dia menatap lekat wajah bayi tampan itu dengan seksama.
''Aku akan melakukan tes DNA kembali, untuk memastikan apakah yang di ucapkan oleh Permaisuri itu benar atau tidak,'' ucapnya dengan menatap wajah Ratu Evina.
''Baiklah, aku akan mengikuti semua keputusan yang mulia,'' jawab Evina dengan tubuh yang sedikit di bungkuk'kan.
''Apakah kau sudah mendengar tentang hukuman yang akan di terima oleh suami'mu?''
''Iya, aku sudah mendengarnya, aku tahu, aku juga akan mendapatkan hukuman yang sama, aku ikhlas menerimanya, namun dengan satu syarat,'' ucap Ratu dengan menatap lekat wajah Raja Arezz.
''Maksud kamu apa?''
__ADS_1
''Aku ikhlas mendapat hukuman mati karena kejahatan yang telah di lakukan oleh suami'ku, tapi aku minta kau menjaga Adam dan membesarkannya dengan baik,'' ucap sang Ratu dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.
__________----------_________