KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA

KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA
Selamat


__ADS_3

Beberapa jam yang lalu.


Seorang laki laki tua sedang berjalan di dalam hutan di tengah pekatnya malam, ia hendak berburu hewan untuk santapan makan makam, keadaan yang sedang krisis mengharuskannya mencari makan dengan cara berburu agar keluarga nya tetap bisa bertahan hidup.


Pandangan matanya tampak di kejutkan saat melihat sesuatu seperti sesosok manusia yang sedang berbaring dengan meringkuk di atas tanah di bawah tebing.


Karena penasaran ia pun menghampiri tubuh yang telah tergolek seolah tak bernyawa, laki laki tua itu menggoyangkan tubuh itu, mengecek pergelangan nadinya untuk memastikan apakan tubuh itu masih bernyawa atau tidak.


Mendapati tubuh yang berada di hadapan nya masih terdapat detak nadi meski sangat lemah dan tak beraturan, laki laki tua itu pun membawa nya ke tempat tinggalnya yang terletak tak jauh dari dalam hutan.


Sebuah gubuk bambu dengan atap jerami merupakan tempatnya tinggal selama ini, dengan di temani oleh istri serta anak perempuan nya.


Sang istri terkejut mendapati suaminya membawa seorang laki laki muda dalam keadaan tidak sadarkan diri ke rumahnya, ia pun bertanya dengan raut wajah penasaran.


''Siapa dia, suamiku?'' tanya sang istri yang juga sudah berusia paruh bawa, rambutnya terlihat putih di ikat di atas kepalanya.


''Bantu aku, sepertinya dia masih hidup,'' ucap sang suami saat akan membaringkan tubuh itu di atas ranjang yang terbuat dari bambu.


Ia mencoba mengecek kondisi pemuda yang di bawanya, tubuhnya terlihat penuh dengan luka lebam dengan luka sayatan di di lengan kirinya, ternyata sosok laki laki yang ia bawa adalah Raja Arezz yang terjatuh dari tebing akibat perbuatan pangeran Brendan.


Untung saja tubuh sang Raja di temukan sesaat setelah terjatuh, sehingga nyawanya masih bisa di selamatkan, Kakek itu, membuka baju sang Raja lalu membersihkan setiap luka yang berada di tubuhnya.


Sepertinya sang Raja benar benar mengalami luka yang sangat serius, hingga seluruh tubuhnya seperti orang yang sudah meninggal namun detak jantungnya masih terasa, meski sangat lemah.


''Kakek, nemu orang ini di mana? sepertinya dia bukan orang sembarangan, wajahnya terlihat sangat tampan, dan jika di lihat dari pakaian yang di kenakan nya, sepertinya dia juga seorang bangsawan?'' tanya sang istri dengan terus memandangi tubuh sang Raja yang sekarang sudah dalam keadaan telanjang dada, karena kakek tersebut sedang membersihkan luka yang berada di tubuh kekarnya, kemudian membalutnya nya dengan selembar kain bersih.

__ADS_1


''Aku Nemu di bawah tebing, sepertinya dia terjatuh dari atas, entah di sengaja atau tidak, untung kakek segera menemukannya, jika tidak, mungkin saja tubuhnya sudah di makan oleh hewan buas,'' ujar sang kakek menjelaskan.


Setelah tubuh sang Raja selesai di bersihkan dan luka pun di balut dengan kain, tubuh Raja pun di tutup dengan selimut tipis, sang kakek kembali meriksa denyut nadi Raja, dan ia pun merasa lega karena nadi sang Raja masih berdetak di dalam sana.


''Apa tidak sebaiknya, kita membawanya ke Rumah sakit yang berada di kota? aku takut nyawanya tidak tertolong apabila di biarkan seperti ini,'' ucap nenek merasa khawatir.


''Jika ke rumah sakit, dari mana kita dapat uang untuk membayar biayanya? untuk sehari hari saja kita masih susah.''


''Benar juga, kita serahkan saja sama yang di atas, apabila pemuda ini masih di beri kesempatan untuk hidup oleh yang maha kuasa, maka ia akan sadar kembali suatu saat nanti.''


 


Di istana, telah terjadi kekacauan besar, kabar sang Raja menghilang dan wafat dengan cepat tersebar, seluruh penghuni istana merasa sangat berduka sekaligus penasaran, mengapa yang mulia wafat namun jasad nya masih belum di temukan.


Di antara banyak yang orang yang sedang berduka, ada satu orang yang merasa senang dengan kepergian sang Raja.


Ya...! orang itu adalah Ratu Emillia, dia seolah merasa senang di antara duka yang sedang di rasakan oleh seluruh penghuni istana, bahkan seluruh negeri ini.


Sang Ratu tampak sedang tertawa bahagia sambil merentangkan kedua tangannya duduk di sebuah kursi di dalam kamarnya.


''Ha..ha..ha..! akhirnya semua cita citaku akan segera tercapai, aku akan segera menjadi permaisuri, penguasa tertinggi di kerajaan ini, karena sebentar lagi putra kesayanganku akan segera menjadi Raja,'' ucap nya pelan.


Trok trok trok


Pintu pun di ketuk dan pangeran Brendan masuk ke dalam kamar. Wajahnya terlihat tertekan.

__ADS_1


''Ada apa dengan wajahmu? seharusnya kau bahagia karena sebentar lagi kau akan segera di angkat menjadi Raja di negeri ini,'' tanya sang ratu dengan wajah heran.


''Aku takut Bu, aku takut jika kakakku tiba tiba kembali ke istana,'' pangeran Brendan memeluk kedua lututnya sambil duduk di atas kursi.


''Dia tidak akan kembali, percayalah pada ibu, meskipun tubuhnya tidak di temukan, bukan berarti dia masih hidup dan kembali ke sini, bisa saja hewan buas telah memangsa dirinya,'' Ratu mencoba menenangkan.


''Benarkah?'' pangeran menoleh dengan mata yang terlihat sayu dan sembab.


Sepertinya pangeran Brendan benar benar merasa tertekan, perbuatan yang telah ia lakukan kepada sang Kaka membuat jiwa nya terguncang, ada perasaan senang sekaligus sedih, bahkan rasa bersalah pun tiba tiba datang menghantui hatinya.


''Putraku, dengarkan ibu, kamu harus mempersiapkan diri, hempaskan rasa bersalah mu, yakinlah jika singgasana itu memang seharusnya milikmu. Kakakmu yang telah merebut nya dari, tempat itu adakan hak mu dari awal, karena kau anakku, Ratu negeri ini,'' ujar sang Ratu dengan memegang wajah sang putra dengan kedua tangannya.


Pangeran Brendan menatap wajah sang ibu, ia mencoba mencerna setiap perkataan ibundanya, memasukannya ke dalam hatinya lalu menjadikan itu sebagai keyakinannya.


''Iya Bu, mulai sekarang aku akan melupakan kejadian itu dan pokus mempersiapkan diri untuk menjadi Raja, lagi pula kakakku sudah mati, dan tidak akan pernah kembali lagi ke sini,'' wajah pangeran Brendan sudah terlihat tenang.


''Nah....! itu baru putraku, putra kesayanganku..." Ratu Emillia memeluk tubuh pangeran Brendan lalu mengelus rambutnya.


"Setelah suasana berkabung selesai, ibu akan segera mengusulkan kepada sekertaris kerajaan untuk segera mengisi kekosongan tahta, jadi mulai saat ini cobalah untuk menenangkan hatimu, dan melupakan semua yang telah kau lakukan kepada kakakmu itu, yakinlah bahwa Raja Arezz tak akan pernah kembali," ucap Ratu masih dalam keadaan memeluk putra kesayangannya.


"Baik Bu..! aku berjanji akan menjadi Raja yang kuat, sehingga tidak ada yang bisa merebut tempat itu lagi dariku."


Ratu semakin mendekap erat tubuh pangeran Brendan, seolah memberikan ketenangan dan dukungan agar kondisi mentalnya kembali pulih, seperti sedia kala.


 

__ADS_1


__ADS_2