KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA

KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA
Hak Seorang Suami


__ADS_3

Evina menghentikan langkahnya, berfikir sejenak, memang yang di katakan oleh suaminya barusan benar adanya, apakah ia sanggup membuka gaun panjang itu sendirian? sedangkan semua pelayan yang tadi mendampingi nya sudah tidak lagi berada di sana.


''Mau aku bantu?''


Ucap Pangeran dengan tersenyum nakal.


''Mmmm--''


Evina hanya bergumam.


''Sudah, tak usah malu lagi, kita sudah menjadi sepasang suami istri, kau tak usah merasa risih jika aku melihat kemolekan tubuh kurus mu ini.''


Pangeran Brendan berjalan menghampiri Evina dan tanpa berfikir panjang lagi, dirinya membuka resleting panjang yang berada di punggung kecil istrinya.


Evina nampak sedikit terkejut, namun ia mencoba bersikap setenang mungkin, karena dirinya memang membutuhkan bantuan dari suaminya untuk membuka dan membantu dirinya melucuti gaun panjang yang ia kenakan.


Evina memejamkan mata, saat tangan pangeran Brendan mulai menurunkan resleting yang panjang nya sampai mencapai pinggang, lalu sedikit demi sedikit membuka gaun panjang itu dari tubuh kecilnya.


''Cukup pangeran, sampai sini saya bisa membukanya sendiri.''


''Benarkah...?''


Evina mengangguk.


''Tidak...! aku akan membantumu sampai gaun cantik nya benar benar terlepas dari tubuhmu,'' dengan tersenyum.


''Tapi pangeran...!''


''Sudah kau diam saja...''


Tangan kekar dan kokoh itu pun, mulai menurunkan gaun panjang itu, meski merasa tidak nyaman, Evina tetap terdiam sampai gaun itu benar benar terlepas dari tubuhnya.


Kini yang tersisa hanya pakaian dalam tipis transparan yang tersisa di tubuhnya, sangat tipis hingga bagian dalam yang menutupi bagian inti serta gunung kembarnya nya benar benar terlihat menggoda di mata.


''Saya harus membersihkan diri dulu Pangeran.''


Evina membuat alasan agar suaminya tak menyentuh dirinya.


Namun...


Karena sudah terlanjur tergoda oleh kemolekan yang ada balik bayang bayang baju tipis nan menerawang itu, sang pangeran tak menghiraukan ucapan istrinya dan langsung menggendong tubuh Evina ke atas ranjang.


''Mulai sekarang kau adalah istri ku, jadi aku berhak atas tubuh dan juga hatimu.''


Sesaat setelah Evina berbaring di atas ranjang.


''Dirimu boleh memiliki tubuhku. Namun tidak untuk hati ku, kau tahu sendiri hati ini sudah menjadi milik siapa sejak awal.''

__ADS_1


Evina memandang wajah suaminya dengan tatapan tajam.


''Aku tak peduli....!''


Tanpa berfikir panjang, pangeran Brendan melucuti seluruh pakaian yang berada di tubuh istrinya, hingga tak bersisa.


Lalu dirinya pun menagih haknya sebagai seorang suami di malam pertama nya.


Entah mengapa setiap sentuhan yang di layangkan oleh suaminya itu seolah terasa hambar tak berasa, Evina seperti tidak dapat merasakan gairah seperti yang ia rasakan saat bercinta dengan mantan kekasihnya.


Dia pun hanya terdiam mengikuti setiap permainan yang di lakukan suaminya itu di atas tubuh polosnya,


meraba hingga meremas semua bagian di dalam raganya, sampai akhirnya sang suami mencapai puncak kenikmatan dan jatuh terkulai di atas raga polosnya.


Dengan nafas yang ter engah engah pangeran Brendan mengangkat kepalanya dan menatap wajah cantik Evina.


''Apa kau sedang memikirkan kakakku?''


''Tidak....! apa maksud pangeran?''


''Jika kau berani memikirkan dia saat sedang bercinta dengan ku, aku akan membuat tubuhnya tersiksa.''


Lalu dengan hentakan yang sangat keras ia kembali menghantamkan roket miliknya, hingga membuat Evina meringis kesakitan dan hampir saja berteriak.


Argh....


''Pelan pelan pangeran, saya mohon...''


Masih dengan hentakan kerasnya.


''Baik, saya berjanji.''


Setelah mengucapkan hal itu, barulah Pangeran Brendan memperlambat permainannya, maju mundur hingga Akhirnya berputar, ingin memancing gairah sang istri agar mengimbangi permainan nya.


Namun usahanya sia sia, karena Evina masih terdiam dengan wajah polos, hanya wajahnya saja sesekali terlihat meringis kesakitan karena hentakan roket miliknya.


Karena usaha nya tidak membuahkan hasil ia pun mencapai puncak sendiri, dan kembali terkulai lemas di atas raga polos sang istri.


Kemudian Ia pun menarik tubuhnya dan tidur tepat di samping Evina.


***


Sang Raja Arthur berjalan bersama pengawal pribadinya, Sebastian. Ia hendak berkunjung ke kamar putra nya untuk menghibur sang putra karena telah di tinggal menikah oleh sang kekasih.


Ceklek..


Raja membuka pintu kamar pangeran Arezz dan masuk ke dalamnya.

__ADS_1


Di dalam kamar ia mendapati putra kesayangannya sudah duduk terkulai dengan satu botol whisky di dalam genggaman tangannya.


''Arezz....''


Raja memanggil dengan perasaan iba.


''Yang mulia Raja, sedang apa anda di kamar saya?''


Pangeran Arezz menjawab dengan mata setengah terpejam, dan sudah sedikit mabuk karena minuman yang di minumnya.


''Ayah minta maaf karena telah membuat hatimu patah.''


''Hatiku patah, ayahanda... benar benar patah, tidak ada rasa sakit yang bisa menandingi sakit yang sedang hamba rasakan saat ini. Tapi demi bakti ku kepada mu, aku rela menerima rasa sakit ini.''


''Kami harus kuat putraku, ayah mu ini akan segera mencarikan jodoh yang cocok untuk mu, yang akan menemani mu duduk di singgasana.''


''Tidak yang mulia hamba mohon jangan lakukan itu.''


Sang pangeran bersujud hingga keningnya menyentuh lantai.


''Hamba masih ingin sendirian ayahanda, anggap saja ini adalah pemintaan hamba yang sungguh dari lubuk hati yang paling dalam, hamba akan menuruti semua perintah yang mulia, namun tidak yang satu itu, hamba ingin melupakan rasa sakit dalam hati hamba terlebih dahulu, karena telah melihat wanita yang sangat hamba cintai menikah dengan adik hamba sendiri.''


''Bangunlah nak, kenapa kamu sampai seperti ini?''


Raja meraih tubuh putranya lalu membantu nya kembali berdiri.


''Baiklah, ayahanda tidak akan memaksamu.''


''Terima kasih yang mulia.''


Pangeran Arezz membungkuk sebagai tanda terima kasih nya, namun karena ia sedang dalam keadaan mabuk, sehingga usahanya itu hanya membuat dirinya jatuh tersungkur ke atas lantai.


Raja Arthur pun kembali meraih tubuh pangeran, kali ini ia memapah tubuh sang putra ke atas ranjang agar bisa beristirahat, sungguh sang Raja merasa sangat iba melihat keadaan pangeran yang terlihat sangat menyedihkan, namun apalah daya, nasi sudah menjadi bubur dan semuanya sudah terjadi sesuai dengan titah kerajaan nya.


Pangeran pun berbaring di atas tempat tidurnya, dengan bantuan dari Raja Arthur yang memapahnya sampai ke sana, sang Raja dapat melihat jika kelopak mata yang terpejam itu kini mulai menitikkan air mata di setiap sudutnya.


Air mata kesedihan dan air mata luka nestapa, pangeran Arezz yang selama ini di lihatnya selalu kuat dalam menghadapi setiap masalah yang di alaminya, kini terlihat rapuh.


Dan kemudian...


''Hu..hu..hu..''


Tangis sang pangeran benar benar pecah, ia memeluk tubuh Ayahanda nya dan menangis tersedu, hingga suara tangisnya sampai terdengar oleh Sebastian yang sedari tadi berjaga di depan pintu kamarnya.


''Aku sungguh mencintainya ayahanda. hu..hu..hu..''


''Mengapa ayah tega memisahkan aku dengan dia, hu..hu..hu..''

__ADS_1


Sang Raja hanya terdiam sambil mengelus punggung putra kesayangannya tersebut.


****


__ADS_2