
Jangan lupa like, koment, gift, dan vote agar author semangat menulis lanjutan chapter novel ini.
Mohon kritik dan saran yang membangun agar novel ini lebih baik lagi, jangan sungkan langsung berikan komentar cabe sahabat readers di kolom komentar.
Untuk update sudah normal 1 chapter/hari pukul 20.00 WIB, maaf belum bisa crazy up lagi, maaf juga jika alur terlalu lambat. Yang kurang suka skip saja.
Efek jubah naga gokarya hanya bekerja kepada pendekar yang berada dibawah tahap Suryarama radius 500 meter. Shintadewi kini sudah berada di tahap Mahasura inggil, Jatmiko ditahap Suryarama inggil, Prabu Angga ditahap Suryarama inggil, dan Patih Arya di tahap Suryarama baharu.
"Sialan kau kosawa bangsat!" Teriak serentak mereka berempat.
"Hahahaha, hahahaha, hahahaha, pasukan yang banggakan sangat payah hanya sekali serang langsung lumpuh, hahahahah!" Ejek Kertarajasa yang melayang diudara lalu tertawa jahat.
Prabu Angga melesat cepat menerjang kosawa Kertarajasa, mereka beradu ribuan pukulan dan tendangan. Bahkan ribuan gerakan jurus dengan sangat cepat, hanya pendekar di tahap Suryarama yang dapat melihatnya.
SHUA...BAM...DAK...DUK...DAK...DUK...
Prabu Angga bergerak cepat dengan ajian pancer bantala, gamana moga (meringankan molekul). Tubuhnya sangat ringan, cepat dan lincah namun daya rusaknya begitu kuat. Kosawa Kertarajasa juga tak mau kalah bergerak cepat dengan ajian badranaya agni, vashja agni (baju api).
Pertarungannya sangat sengit, setelah 30 menit belum ada tanda-tanda siapa yang akan tumbang dahulu. "Ajian badranaya agni, agni kambala (pukulan api)." Kosawa Kertarajasa tangannya diselimuti api yang menyala-nyala lalu melesat ke arah dada Prabu Angga.
"Ajian pancer bantala, bantala seina (dinding tanah)!" Prabu Angga menghentakan kedua telapak tangannya ke tanah untuk membuat dinding tanah yang besar dan tebal. Namun pukulan api Kosawa Kertarajasa begitu kuat, dinding tanah jebol terkena hantaman pukulan dan Prabu Angga juga terpental sangat jauh.
BANG...KRAK...BOOM..BANG...SHUA...BOOM.
Dada Prabu Angga menghitam karena terkena pukulan api, dan memuntahkan darah berwarna hitam pekat. Ia memegang dadanya, "uhuk, uhuk, uhuk, kekuatannya meningkat begitu drastis."
Shintadewi segera menghampiri Prabu Angga dengan raut muka sedih bercampur marah. "Ayahanda! ajian jagat saksana, kusuma jiwa!" Shintadewi segera menempelkan kedua telapak tangannya untuk menyalurkan energi Quantum miliknya. Namun tidak bisa menyembuhkan luka dalamnya hanya meringankan rasa sakitnya saja.
__ADS_1
Kini Patih Arya dan Jatmiko menyerang Kosawa Kertarajasa. Patih Arya menarik rimoranya dan menggunakan ajian rimora, naga braka vrasa (pedang pembunuh naga). Kosawa Kertarajasa juga menarik keris kiai panca giwala dari pinggangnya. Mereka bertiga senjata, pukulan dan tendangan, Jatmiko sampai mengeluarkan ajian serat jiwa tingkat IV serat gulung jagat, untuk menghadapi kosawa Kertarajasa.
"Dulu ajian itu sangat hebat namun sekarang tak ada gunanya di depanku." Cibir Kertarajasa. "Ajian badranaya agni, naga agni (naga api)!" Kertarajasa salto ke belakang dua kali lalu menangkupkan tangan, dadanya membusung, mulutnya mengembung dengan pipi berwarna merah menyala lalu menyemburkan api yang sangat besar berbentuk siluet naga.
PLAK...TAP...TAP...SWUSH...
"Bedebah, kita tak sempat mengelak!" Teriak Patih Arya sambil menahan semburan api dengan rimoranya. Sedangkan Jatmiko meningkatkan ajian serat jiwa tingkat VI serat buto agni untuk menghalau semburan api. "Dasar kutu kurap kalian pikir ajian badranaya agni kekuatannya sama dengan ajian pancer agni bodoh sekali, hahaha."
Api itu tidak bisa ditahan, semakin lama semakin besar dan panas, radiusnya yang tadi 50 meter membesar sampai 500 meter. Jatmiko dan Patih Arya mengalami luka bakar yang sangat serius tertelan semburan api Kosawa kertarajasa.
Tubuh mereka menghitam gosong, Shintadewi yang sedang merawat Prabu Angga segera melesat untuk menolong Jatmiko dan Arya. "Paman, apa kau tidak apa-apa?" Shintadewi menggoyangkan tubuh Jatmiko lalu Arya. "Ajian jagat saksana, kusuma jiwa!" Shintadewi meletakan telapak kanan di dada Jatmiko dan Telapak kiri di Arya. Tubuh mereka yang menghitam kembali bersih namun luka dalamnya belum bisa disembuhkan.
Shntadewi memindahkan mereka berdua ke tempat Prabu Angga dengan ajian pancer bajra kidang kuning. "Aaaaaargh! kali ini aku tunjukan apa itu kekuatan kitab terlarang! Bedebah!" Teriak Shintadewi.
"Ajian aksamala baureksa, minaru prabangkara (teknik segel, segel dewa naga)!" Tubuh Shintadewi diselimuti aura emas dan dahinya muncul tanda segel bulatan kepala naga. Kekuatannya meningkat dan tingkatannya naik dari mahasura asor ke dewata asor.
POFF...POFF...POFF..
"Hmmm, beraninya keroyokan. Ajian badranaya agni, karjaisu naga gokarya (Auman naga gokarya)!" Kertarajasa menyarungkan kembai keris kia panca giwala. Tangan kanan Kertarajasa diselimuti api yang berkobar-kobar dan memukulkannya ke tanah. Muncul ribuan siluet berbentuk tentakel gurita berwarna merah menyala seperti api yang berkobar-kobar dan menyerang Ribuan kembaran diri Shintadewi.
SHUA...SHUA...SHUA...POFF...POFF...POF...
Kembaran diri Shintadewi yang terkena tentakel api langsung menghilang, dari seribu hanya tinggal 500 kembaran diri. Tapi Shintadewi juga tidak bodoh, ia terus melakukan ajian baladewa among slira untuk mengalihkan perhatian Kertarajasa.
Lalu melesat cepat dengan ajian pancer bajra kidang kuning lalu menghantam dada Kertarajasa dengan ajian pancer bantala lembu bharatayudha. Kertarajasa yang lengah terkena dadanya dan terpental jauh, sejauh 20 kilometer dan menabrak batu karang di laut pantai selatan.
Pukulan memang sangat kuat, teknik pukulan yang terkuat di benua nusantara dan belum pernah ada yang sanggup menandingi pukulan lembu bharatayudha milik Shintadewi.
__ADS_1
BANG...SHUA...SWIIIING...BOOM...KRAK...
JDAAR...
"Guhak!" Kertarajasa memuntahkan banyak darah segar dari mulutnya dan terkapar tak bisa bangun lagi. Jika pendekar di tahap praburata pasti langsung tewas seketika dan tubuhnya menjadi bubur darah jika langsung terkena pukulan lembu bharatayuda.
"Wanita itu ternyata sangat kuat, untung saja menggunakan ajian badranaya agni, veta badranaya agni (jubah badranaya agni), dan vashja agni (baju agni). Kalau tidak aku sudah pasti mati, aku harus memaksimalkan kekuatan batu mustika naga gokarya. uhuk, uhuk, uhuk. "Ajian pancer agni, melipat agni (melipat api)!"
CWUSZH...BLAR...
Kertarajasa berteleportasi ke istana agung Majapahit. Kertarajasa berjalan tertatih memegang dadanya, darah merembes keluar dari mulutnya. "Kanda, apa yang terjadi?" Tanya Ratu Dyah ayu kencana Wijaya.
"Nanti saja bicaranya dinda, panggilkan Resi kuncung putih dan Nyai Situ Bagendit!" Pinta Kertarajasa.
"Baik kanda!" Ratu Dyah Ayu memapah tubuh Kertarajasa lalu membawanya ke tempat peristirahatan kosawa. "Penjaga! panggilkan Resi Kuncung Putih dan Nyai Situ Bagendit!"
"Sendiko yang mulia Ratu!"
Kembali ke Shintadewi. Manggala dan Asmarini sedang memapah Jatmiko serta Arya, sedangkan Prabu Angga dipapah Shintadewi. Manggala dan Asmarini tidak ikut berperang karena mereka di perintah Prabu Angga untuk melindungi markas pusat tempat persenjataan Brabang Sari yang di beri nama Elang Loka.
Pasukan Brabang Sari sudah kembali ke markas pusat Elang Loka, persenjataan super Brabang Sari juga sudah berhasil di amankan.
"Mari kita kembali ke istana. Ajian minaru Sokajaya (teknik segel dewa, kecepatan cahaya)!" Shintadewi mengedarkan pandangannya, muncul bayangan istana Brababg Sari. Muncul rune sihir berwarna emas dengan radius 10 meter, tubuh mereka semua diselimuti aura berwarna emas lalu menghilang.
CWUSZH...
10.000 prajurit Brabang Sari juga siuman dari pingsannya. Mereka kembali ke markas pusat menyusul pasukan lain yang sudah sampai di sana, Sarja yang memimpin 10.000 pasukan itu.
__ADS_1