
Pasukan kuda yang dipimpin Pokra dan Sumitra sampai di tempat Wijaya, mereka terperangah melihat keadaan sekitar yang sudah hancur luluh lantak sampai jarak radius 50 meter. Mayat bergelimpangan dan banyak yang hangus.
"Pemuda gila! berani-beraninya kau mengacau di tempatku, tangkap dia dan seret ke kediaman pemimpin kota!" perintah Pokra dengan berteriak.
10 pasukan kuda membawa buntar jagala menerjang Wijaya.
TUKRAK...SHUA...TUKRAK...SHUA...
Wijaya hanya menghindari serangan pasukan berkuda dengan lincah seperti menari, dan gerakan menghindari Wijaya ini membuat pasukan berkuda kesal bukan kepalang.
Wijaya terus menghindari serangan pasukan berkuda, "pemuda gila kau hanya seorang pengecut seperti ayam yang terus menghindar," ucap salah satu pasukan berkuda memprovokasi Wijaya.
Wijaya mundur dan menghentakan kuda-kuda, "apakah kamu yakin bisa menahan seranganku?" Wijaya menyeringai jahat. "Ajian bedhama amogasakti pamungkas, braza (naga slasha)/(tebasan naga)," Wijaya mencabut braza dari sarungnnya dan menebas horizontal, muncul siluet berbentuk sabit selebar 10 meter melesat cepat menuju pasukan berkuda.
Pasukan berkuda mencoba menahan serangan naga slasha dengan buntar jagala, namun kepala kuda, buntar jagala dan badan pasukan berkuda terbelah dua, darah bercipratan kemana-mana serta mati seketika.
SLASH...SYAT...SYAT...SYAT...CRAT...CRAT...CRAT...
Pokra, Sumitra dan 90 pasukan berkuda terkesiap, bagaimana mungkin ada satu senjata yang bisa membunuh 10 orang dalam satu tebasan.
"Jangan takut! maju terus! tangkap hidup atau mati! jangan beri celah! jika ada yang berhasil aku beri hadiah tambahan 1 giga!" teriak Sumitra menyemangati 90 pasukan berkuda yang tersisa.
90 Pasukan berkuda yang mendengar perkataan Sumitra menjadi bersemangat dan menerjang Wijaya Kusuma dengan membabi buta.
SWASH...SWUSH...SWASH...SWUSH...
Wijaya yang diserang puluhan tusukan buntar jagala, hanya bisa menghindar tanpa bisa menyerang balik. Tubuh Wijaya Kusuma banyak terkena sayatan ujung tombak. Darah menetes membasahi tubuh Wijaya Kusuma.
Wijaya mundur dengan salto kebelakang 3 kali, "hahahaha, pasukan berkuda julang emas memang sangat hebat seperti julukannya, pasukan emas neraka!" Wijaya menyeringai jahat dengan sorot mata yang tajam lalu menyarungkan kembali taiga maung loka.
"Ajian bedhama amogasakti, braza (sewu maung sakrama)/(seribu cakar harimau)," Wijaya merapal ajian braza lalu melesat cepat hilang dari pandangan mata dan langsung menebas 30 leher pasukan berkuda.
SLASH...SLASH...SLASH...SYAT...SYAT...SYAT...CRAT...CRAT...CRAT...
__ADS_1
Tubuh Wijaya dilumuri banyak darah yang terciprat dari tebasan braza ke kepala pasukan berkuda emas neraka. Kuda mereka lari tunggang langgang, 30 kepala menggelinding ke tanah.
Moral pasukan berkuda langsung jatuh, "Jangan menyerah dia itu hanya bocah tengik yang beruntung menggunakan braza, ayo serang dia! kepung bocah tengik itu, jangan lepaskan. Aku akan ikut menyerang dan aku tambah 1 giga lagi hadiahnya," teriak Pokra membakar semangat pasukan berkuda emas neraka yang tersisa.
"Hah, ayo bantai!" teriak serentak semua pasukan berkuda emas neraka. Pasukan berkuda emas neraka kembali bersemangat dan menerjang Wijaya kembali dengan serangan lebih cepat.
TUKRAK...TUKRAK..TUKRAK...SHUA...SHUA...
SHUA...SWUSH...SWUSH...SWUSH...
Karna serangan terlalu cepat Wijaya tidak bisa melakukan gerakan menghindar, terpaksa menangkis serangan dengan taiga maung loka.
TRANG...TRING...TRANG...TRING...
Luka sayatan di tubuh Wijaya bertambah banyak, darah terus mengaliri seluruh tubuh Wijaya. Bahkan wajahnya sudah banyak luka bekas sayatan buntar jagala yang di arahkan oleh para pasukan berkuda emas neraka.
Wijaya bimbang, seluruh energinya dari tingkat mana sampai Qi sudah terkuras habis gara-gara membuat taiga maung loka.
Sedangkan energi chakranya tersisa 80% karena mengeluarkan 2 ajian braza, setiap mengeluarkan ajian braza mengkonsumsi 10% chakra.
"Hahahaha," Wijaya tertawa terbahak bahak dengan seringai jahat. "Ajian jagat saksana, kusuma jiwa," Wijaya merapal ajian bertipe zamankhwala, mengkonsumsi chakra 30%. Tubuh Wijaya diselimuti aura hijau terang staminanya pulih meski hanya 15% luka-lukanya lenyap seketika dan sembuh sedia kala. Wijaya mengelap darah di seluruh badannya.
Sumitra bersiap membidik Wijaya dengan nuolianya (panah), "ajian pancer agni, laukausa nuolia agni." Sumitra melesatkan anak panah yang besar dengan panjang 3 meter dan diameter anak panah 20 centimeter. Anak panah melesat cepat membidik jantung Wijaya.
SHUA...
"Ajian bedhama amogasakti pamungkas, braza (elang prita biktima)/(elang menyergap mangsa)," Wijaya melesat menebas anak panah yang melesat dan meningkatkan berat braza dengan ajian sagisaga, gamana katakawa.
"Mati kau bocah tengik, hahaha!" teriak Sumitra dengan tertawa dan anak panah yang dilesatkan Sumitra bertabrakan dengan braza milik Wijaya.
BOOOM...KRAK...KRAK...KRAK...SWUSH...SHUA...
Anak panah terbelah dua, Wijaya keluar dari kepulan asap yang terjadi karena benturan anak panah dan braza. Kemudian Wijaya terus meluncur menuju Sumitra dan pasukan berkuda emas neraka.
__ADS_1
"Tidak mungkin, senjata setingkat konta bisa terbelah dua!" teriak sumitra dengan mata terbelalak.
BOOOOOOOM....
Suara ledakan tebasan braza Wijaya menghantam kepala Sumitra dan terus meluncur ke tanah. Ledakan yang sangat dahsyat menimbulkan gelombang kejut dengan jarak radius 30 meter.
60 pasukan berkuda tewas seketika dengan tubuh menjadi bubur darah, sedangkan Pokra berhasil menghindar dengan berlari cepat sebelum tebasan braza Wijaya mengenai tanah. Muncul kawah dengan kedalaman 10 meter dan diameter radius 30 meter.
Chakra Wijaya tersisa 30% karena menggunakan ajian braza elang prita biktima mengkonsumsi chakra 40% dan ajian sagisaga gamana katakawa dua kali, mengkonsumsi chakra 10%.
"Tak kusangka pemuda bau kencur sepertimu bisa mengalahkan pasukan berkuda emas neraka yang tanpa tanding!, aku yakin energimu sudah hampir habis, hahahah! aku akan membunuhmu" teriak Pokra dengan raut wajah penuh kesombongan.
Pokra melepas sarung buntar jagala yang menutupi ujung tombak buntar jagala dan menarik pedang pendek seperti wakizashi di pinggang belakangnya. Kemudian berlari cepat menuju Wijaya, dan menyerang dengan menusuk serta menebas Wijaya dengan Buntar jagala.
SLASH...SLASH...SLASH...SYAT...SYAT...SYAT...TRANG...TRING...TRANG...TRING...
Wijaya coba menghindari serangan tusukan Pokra, beberapa kali menangkisnya dengan Taiga Maung Loka, "gawat! energiku sudah hampir habis aku akan memancing ksatria gila itu, untuk keluar dari pusat kota menuju hutan," Wijaya membatin sambil menghindar terus menghindar dan menangkis serangan Pokra.
Ketika pertahanan Pokra terbuka, Wijaya menendang perut Pokra dengan keras.
BANG...SHUA...BOOM...
"Akh! Guhak," pekik Pokra lalu memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Pokra terpental cukup jauh sampai 200 meter menabrak dinding pemukiman penduduk kota julang emas. Wijaya mendekati Pokra dan meloncat melewati tubuh Pokra serta berlari melompati atap rumah penduduk untuk kabur meninggalkan Pokra, "Ksatria bodoh kejar aku kalau bisa!" teriak Wijaya memprovokasi Pokra.
Pokra terporvokasi dan bangun dari jatuhnya, karna tendangan Wijaya Kusuma sebelumnya, segera Pokra melompati atap rumah penduduk untuk mengejar Wijaya.
**Terima kasih para readers masih setia membaca Novel pertama author Ksatria langit nusantara.
mohon maaf jika tulisannya masih amburadul, masih terus memperbaiki.
Semoga para readers bisa menikmatinya.
__ADS_1
Mohon dukung author dengan memberikan like koment dan gift jika berkenan.
Jika suka silahkan klik tombol favorit**.