KSATRIA LANGIT NUSANTARA

KSATRIA LANGIT NUSANTARA
MENGHABISI KONGKENG, BONGKENG, DAN CONGKENG BAGIAN 2


__ADS_3

Hiruk pikuk kota julang emas begitu sangat ramai, lampu-lampu dari kristal yang didapatkan dari alas apuy penangsang begitu sangat indah menerangi jalanan.


"Sungguh luar biasa kota ini, namun ironi kerajaan tak sepeser pun mendapatkan upeti dari kota ini. Pantas saja kerajaan Brabang Sari menjadi Kerajaan terkecil dan termiskin di kekosawaan Majapahit. Aku berjanji akan merebutnya dari Bandit sialan itu!" guman Wijaya Kusuma.


Wijaya terus menelusuri jalanan kota yang begitu indah, untuk mencari penginapan sekaligus mencari informasi mengenai toko trio naria astuci.


Wijaya berhenti di sebuah penginapan yang cukup sederhana bertuliskan Sadewa, lampu kristal yang temaram. Warna cat Penginapan yang sudah mulai pudar, pengunjungnya pun tidak terlalu ramai, namun terletak di pusat kota.


Wijaya Kusuma masuk penginapan Sadewa menuju meja khusus untuk memesan kamar, seorang wanita berambut hitam legam, bersanggul dan bertusuk konde dengan memakai kebaya berwarna jingga, serta wajah yang cukup menawan. Wanita duduk dengan wajah tertunduk lesu, ada raut kesedihan terpatri dari wajahnya.


"Maaf nona!, aku mau memesan kamar untuk satu minggu!, apakah masih ada kamar yang kosong sekalian dengan makannya juga?" Panggil Wijaya pada nona yang menjaga meja pemesanan.


"Oh maaf tuan!, aku sedang melamun. Ada tuan biayanya 30 kiga permalam, dengan makan 3 kali sehari 20 kiga, totalnya 350 kiga tuan!, dan ini kunci kamarnya. Jika ada yang perlu dibantu panggil saja saya tuan!" Nona penerima pesanan kamar sambil tersenyum manis.


"Oh ya ini uangnya, terima kasih! aku mau bertanya toko pakaian di sebelah mana ya? dan toko trio naria astuci di sebelah mana ya? aku mau membeli senjata soalnya!" Wijaya memberikan kantung uang yang isinya 3 mega.


"Toko pakaian disini hanya ada toko pakaian buta sanga letaknya tuan dari penginapan ini


ke kanan lalu lurus 100 meter sebelah kiri jalan pertigaan pusat kota. Untuk toko trio naria astuci dari toko pakaian buta sanga, tuan lurus lewati pertigaan pusat kota jarak 50 meter sebelah kiri jalan," Nona penerima pesanan kamar menerima kantung itu dengan mata terbelalak, "tuan! uangnya terlalu banyak, ini sisanya saya kembalikan."


"Tidak apa-apa anggap saja bonus karna kamu telah membanty saya menunjukan tempat toko senjata dan pakaian," ucap Wijaya Kusuma dengan tersenyum manis.


DEGH...DEGH...DEGH...


"Ya, dewata agung! baru kali ini aku melihat laki-laki setampan ini!" guman nona penjaga meja pemesanan kamar dengan pipi merah merona dan jantung berdebar kencang.


Wijaya lalu pergi menuju kamar untuk membersihkan diri dan sejenak merebahkan badannya. Perut Wijaya pun terasa lapar, setelah 1 jam membaringkan diri. Wijaya pun beranjak menuju meja makan penginapan.


"Nona! saya mau makan, tolong hidangkan makanan untukku!" pinta Wijaya Kusuma dengan tersenyum manis.


DEGH...DEGH...DEGH...


"Ba-ba baik tuan!, a-a-aku segera menyiapkannya!" ucap nona resepsionis dengan terbata-bata dan pipi merah merona.

__ADS_1


"Ada apa dengan nona itu?, aneh sekali apakah badanku bau ya?, padahal aku sudah mandi tadi!" Wijaya membatin sambil mencium pundak dekat ketiak kanan dan kirinya. "ah sudahlah, yang penting pesona ketampananku tidak pudar, hahahaha!."


Nona resepsionis menghidangkan makanannya dengan sangat gugup di meja Wijaya Kusuma, Wijaya pun makan dengan tenangnya. Setelah makan Wijaya pun pergi meninggalkan penginapan Sadewa menuju toko pakaian buta sanga.


Banyak perempuan yang memandang Wijaya dengan ekspresi terkagum-kagum melihat ketampanan Wijaya. Dan banyak laki-laki menampakan wajah penuh iri pada pesona ketampanan Wijaya.


Wijaya akhirnya sampai di toko bertuliskan buta sanga dan melihat-lihat pakaian. Wijaya membeli beberapa pakaian diantaranya jubah yang bertudung, pakaian set ninja, dan pakaian pendekar biasa. Wijaya mengganti pakaiannya di kamar ganti dengan pakaian set ninja seperti anbu dan memakai topeng bercorak itik total yang harus dibayar Wijaya sebesar 2000 kiga, sungguh murah bagi Wijaya dengan uang yang sangat banyak.


Setelah ia keluar dari toko buta sanga, Wijaya mengaktifkan maputi aksa mencari keberadaan trio naria astuci di toko mereka dan bandit sedang berada di mana, "bagus pucuk di cinta ulam pun tiba, mereka sedang melakukan pertukaran di kamar dagang rahasia toko trio naria astuci, waktunya beraksi!."


Wijaya dengan memakai pakaian set ninja, seperti anbu pergi menuju toko naria astuci dengan berjalan cepat. Wijaya takut jika tidak bergegas mangsanya akan pergi.


Wijaya sampai dan masuk ke dalam toko, disana ada pelayan yang tengah duduk di meja kasir, "Tuan ada yang bisa dibantu?" tanya pelayan toko naria astuci dengan tersenyum ramah.


"Aku mencari senjata khusus," Wijaya menyerahkan lencana trio keng, "kongkongkow," ucap Wijaya dengan nada dingin.


"Tuan datang ke toko yang tepat, mari saya antar!" pelayan toko menghantarkan Wijaya ke ruang bawah tanah, lalu menekan sebuah panel.


TAK...


GRAAAAAAG....


"Silahkan tuan, masuk!, letakan lencana itu di sana," pelayan menyerahkan kembali lencana trio keng dan menunjukan tempat lencana trio keng untuk menaruhnya sebuah panel. Pintu besi terbuka pelayan toko meninggalkan Wijaya dan kembali ke atas.


GRAG...GRAG...GRAG...


Wijaya menyusuri tangga yang menurun, terlihat sebuah ruangan rahasia yang cukup besar. Ada beberapa hajdut berpakaian ninja yang sedang berjaga.


"Katakan sandinya," perintah salah satu hajdut yang memakai pakaian ninja dan memegang kunai serta mengarahkan kunainya pada Wijaya.


"Kongkongkow," ucap Wijaya dengan nada yang datar.


hajdut membuka pintu rahasia dengan menekan panel dan menunjukan jalan, di belakang Wijaya dua hajdut lain mengikuti.

__ADS_1


Mereka sampai ke ruangan rahasia berisikan banyak senjata, Wijaya mengedarkan pandangannya pada seluruh senjata untuk mengecek detail senjata ternyata semua senjata cukup bagus di tingkat inggil dan Konta.


Wijaya pun di suruh duduk di sebuah meja bundar ada 3 orang dengan pakaian yang sama dan muka yang sama , berbadan sedikit gemuk dan pendek, yang satu memiliki codet di pipi bernama Kongkeng, yang satu botak dengan gigi tonggos Bongkeng, yang satu memiliki penutup mata di sebelah kanan bernama Congkeng.


Dan ada pula laki-laki berbadan tegap, tinggi dengan rambut acak hitam, memakai jubah bercorak tiga kepala srigala dan ikat kepala bercorak bawang merah dan bawang putih yang digores horizontal.


"Rupanya pemimpin bandit Dirgacitra seorang ksatria pelarian, oh dia juga seorang Samura dan senjata yang keren," Wijaya membatin sambil mengelus dagunya.


"Tuan apa yang bisa kami bantu?" Kongkeng tersenyum jahat sambil memainkan cincin batu akiknya.


"Aku ingin membeli senjata dalam jumlah banyak untuk membantai penduduk desa Lembarawa, aku pembunuh bayaran yang di kirim pihak kerajaan Brabang Sari, karena pihak kerajaan sudah bosan dengan keadaan mereka," ucap Wijaya dengan sorot mata yang tajam untuk memancing mereka.


Wijaya membuka topengnya dan alangkah kagetnya trio naria astuci melihat wajah Wijaya, "Pa-pa-pangeran Wijaya Kusuma!" Trio naria astuci ucap serentak dengan nada terbata-bata.


Wijaya menonaktifkan maputi aksa dan mengaktifkan mata barunya yaitu evolusi dari wiel Aksa Buwana Aksa ( mata bulan).


SRIIING...


Mata bulan mengirimkan ilusi tak terbatas pada trio naria astuci, pemimpin bandit Dirgacitra bergidik ketakutan terkena aura pembunuh Wijaya, badannya gemetar tak karuan dan keringat dingin membasahi tubuhnya, mulutnya seakan terkunci dengan wajah pucat pasi.


Trio naria astuci terkena ilusi, tatapan matanya kosong lalu Wijaya mengirimkan telepati, "Bunuh dirimu sendiri!."


"Namjara ratak," teriak trio naria astuci. Trio naria astuci mengambil kameya. Kongkeng menebas lehernya sendiri dengan kameyanya. Bongkeng menusuk-nusuk mata, hidung, mulut, dan jantungnya. Congkeng menyayat-nyayat perutnya sampai ususnya terburai keluar.


Ketiga trio naria astuci mati mengenaskan, pemimpin bandit Dirgacitra, bernama Dirga jaya terduduk lemas lantai dan ingin memuntahkan isi perutnya melihat kejadian itu. Dirga jaya pun kebingungan kenapa trio naria astuci membunuh diri mereka sendiri.


**Terima kasih para readers masih setia membaca novel pertama author Ksatria langit nusantara.


mohon maaf jika tulisannya masih amburadul, masih terus memperbaiki.


Semoga para readers bisa menikmatinya.


Yuk nikmati membaca sambil minum kopi jeng gorengan singkong.

__ADS_1


Mohon dukung author dengan memberikan like koment dan gift jika berkenan.


Jika suka silahkan klik tombol favorit**.


__ADS_2