
Wijaya memberikan uang 1 tera pada Empu Culuk 1 kwintal bongkahan batu bintang bharatayudha dan 10.000 tanaman naga api.
"Terima kasih yang mulia prabu! hamba akan segera laksanakan." ucap Empu Culuk sambil menunduka kepala dan meninju telapak tangan.
"Jika ada kekurangan bahan untuk membuat senjata langsung kabari saudaraku Maung Bodas, biar segera aku mencarikannya." Ucap Wijaya Kusuma.
"Sendiko yang mulia gusti prabu!" ucap Empu Culuk sambil menundukan kepala.
"Perkenalkan ini kelurga baru kita, binatang suci Karbara Sayuta atau Siluman serigala berkepala tiga!" Ucap Wijaya sambil menujuk Karbara Sayuta dengan jempol kananya.
"Namaku Karbara Sayuta mohon bantuan dan kerjasamanya!" Ucap Karbara Sambil menundukan kepala dan meninju telapak tangannya.
"Untuk sementara beristirahatlah saudaraku! sekarang kita punya dua binatang suci sebagai tambahan kekuatan tempur kita. Perang sudah mulai berkecamuk di wilayah kekosawaan Majaphit. Kita harus segera mengantisipasi jika kita terseret dalam peperangan." Ucap Wijaya Kusuma.
"Ya benar dari telik sandi yang kita kirim untuk mencari Nyai Sindang Barang, melaporkan pembantaian sepihak yang di lakukan kosawa Kertarajasa Jayawardahan terhadap Kerajaan Singosari." Ucap Jatmiko.
"Mereka mulai berlaku semena-mena," Empu Culuk menggertakan gigi dan menghantam Meja bundar hancur luluh lantak menjadi serpihan.
BOOM...
"Tenang kakek Empu! tenang ini semua bisa di selesaikan dengan kepala dingin!" ucap Wijaya sambil memegang pundak Empu Culuk.
"Ya ayah Wijaya benar, tenanglah! kita pasti bisa menbalaskan dendam paman Anusapati!" Jatmiko juga ikut menenangkan dengan memeluk Empu Culuk dari belakang.
Kematian Anusapati merupakan pukulan telak bagi Empu Culuk karena Anusapati merupakan sahabat dekat Empu Culuk dan Resi syudawirat yang sudah dianggap saudara sendiri.
"Yang mulia paduka! hamba meminta izin untuk pergi ke wadas putih untuk menjemput 20.000 pasukanku Karbara Daksa (siluman serigala tanah) sebagai tambahan kekuatan tempur Kadipaten Maung Bahari!" ucap Karbara Sayuta.
"Aku akan ikut denganmu Saudaraku!, aku akan mengambil pusaka yang aku segel di Goa wadas putih, pusaka sakrama pancer semesta dan beberapa batu untuk membuat meriam bledog jurig serta senjata lainnya." Ucap Empu Culuk.
"Baiklah kakek dan saudaraku Karbara hati-hati di jalan. Jika ada kesulitan segera hubungi aku! oh, ya markas ini aku beri nama istana Giriyera" ucap Wijaya Kusuma.
__ADS_1
"Sendiko yang mulia paduka!" ucap mereka serentak dengan menundukan kepala dan meninju telapak tangannya.
Mereka semua bubar dari rapat peningkatan kembali ke tempat masing-masing, sedangkan Wijaya pergi ke atas bukir batu karang di atas istana Giriyera.
Untuk membuat ramuan peningkat hasil panen selama 3 jam tanpa henti menggunakan jahe emas, menghasilkan 10.000 ramuan dengan mengkonsumsi 100% chakra.
Wijaya juga berhasil membuat ramuan parantaja efektifitas 100% menggunakan 20.000 daun bintang dengan tambahan bahan batu bintang bharatayudha sebanyak 20.000 selama 4 jam tanpa henti mengkonsumsi 80% mana.
Bintang malam sudah bertebaran di langit, Wijaya kembali membuat ramuan dan pil tehostin ( penambah energi) efektifitas 100%. Menggunakan 1000 rumput biru dan batu bintang bharatayudha selama 2 jam berhasil membuat 4000 pil dan ramuan mengkonsumsi 30%.
Wijaya meminum 10 pil tehostin untuk mengembalikan kembali energi chakranya yang sudah habis.
Lalu melanjutkan membuat 5000 bola rajahtava (peledak) dengan menggunakan daun naga api dan batu bintang bharatayudha selama 5 jam tanpa henti mengkonsumsi 1000% chakra dan menghabiskan 100 pil tehostin.
Pil dan ramuan yang dibuat Wijaya kini sudah naik tingkatan di tingkat kapala. Sedangkan bola rajahtava yang dibuat Wijaya hanya di tingkat konta.
Karena Wijaya berhasil membuat senjata bola rajahtava di tingkat konta tentu daya ledaknya 200% ditambah tambahan batu bintang bharatayuda jadi 600%. Satu bolah rajahtava mampu membunuh 50 orang sekali lempar.
Bahan-bahan pembuat obat dan bola rajah tava di alas apuy penangsang sudah habis Wijaya keruk semua tak tersisa.
"Hoaaaam, ngantuk sekali mata ini!" Ucap Wijaya lalu tertidur pulas di atas bukit batu karang.
****
Pagi hari ayam berkokok dengan sangat keras membangunkan Wijaya yang tertidur pulas. Hanya 3 jam Wijaya tidur.
"Hoaaam, sudah pagi ya!" Wijaya yang masih mengantuk melayang perlahan turun ke istana Giriyera. Wijaya lalu masuk kamarnya dan membersihkan diri, di dalam istana hanya ada beberapa ksatria binting dan ksatria bujaga yang sedang berjaga.
Beberapa pelayan wara-wiri menyiapkan makanan untuk Wijaya. Hari ini Wijaya akan pergi mengantar ikan pesanan kerajaan Dharma ayu sebanyak 10 ton.
Sudah ada 50 kereta kuda yang membawa ikan masing-masing 200 kilogram, dan 50 nelayan yang ditemani 50 lija serta 50 berah adilaga. Jadi dalam kereta kuda ada 3 orang nelayan sebagi kusir, lija sebagai penjaga di depan dan berah adilaga sebagai penjaga belakang kuda.
__ADS_1
Sedangkan Wijaya memakai set pakaian ereti vrashes dan topeng motif kelinci berjalan di depan. Setelah satu jam perjalanan dari pintu gerbang barat Kadipaten Maung Bahari.
Akhirnya mereka sampai di Wilayah perbatasan Bandit agrariyin dan merupakan wilayah perbatasan antara desa Soka dan Kadipaten Maung Bahari.
Wijaya melambaikan tangan sebagai tanda berhenti 50 kereta kuda berhenti. Wijaya merasakan ada satu orang yang sedang mangawasi dari balik pepohonan.
"Keluarlah aku tahu kau di pohon sebelah sana!" Wijaya menunjuk satu pohon pinus yang besar.
SHUA...SHUA..SHUAA
Tiga anak panah dari Danra (crossbow tangan dipakai para vrashes) melesat cepat, Wijaya salto kebelakang untuk menghindari anak panah.
TAB..TAB...TAB...
Anak panah hanya mengenai tanah.
Sementara para lija dan berah adilaga yang melihat serangan anak panah menuju Wijaya Kusuma segera turun dari kereta kuda untuk bersiap untuk melindungi Wijaya. Namun Wijaya melambaikan tangan untuk tenang.
Wijaya mengeluarkan kunai dan danai dari ripela aksa di telapak tangannya. Lalu memegang kunai di tangan kirinya dan melempar danai ke arah pohon pinus besar.
SHUA...SHUA..SHUA...TRANG...TRANG...TRANG...
Hajdut berhasil menangkis serangan Wijaya dan berlari masuk ke dalam hutan. Wijaya merapal ajian baladewa among slira, 100 kembaran diri muncul dan menjaga 50 kereta kuda yang membawa 10 ton ikan. Sementara Wijaya yang asli mengejar hajdut yang kabur dari belakang pohon pinus.
**Terima kasih para readers masih setia membaca Novel pertama author Ksatria langit nusantara.
mohon maaf jika tulisannya masih amburadul, masih terus memperbaiki.
Semoga para readers bisa menikmatinya.
Yuk nikmati membaca sambil minum kopi jeng gorengan singkong.
__ADS_1
Mohon dukung author dengan memberikan like koment dan gift jika berkenan.
Jika suka silahkan klik tombol favorit**.