
Jangan lupa like, koment, gift, dan vote agar author semangat menulis lanjutan chapter novel ini.
Mohon kritik dan saran yang membangun agar novel ini lebih baik lagi, jangan sungkan langsung berikan komentar cabe sahabat readers di kolom komentar.
Untuk update sudah normal 2 chapter/hari pukul 20.00 WIB, maaf belum bisa crazy up lagi, maaf jika alur terlalu lambat. Yang kurang suka skip aja.
Semua orang terdiam beberapa saat melihat gerakan jurus Asmarini yang begitu lincah. Namun yang membuat mereka terpukau adalah karbara binjaka yang dipegang Asmarini, dengan sekali tebas batu sebesar rumah terbelah menjadi dua.
"Sekarang para empu semuanya sudah melihat pusaka yang aku buat. Bagaimana keputusannya?" Tanya Wijaya pada 600 peserta pandai besi. "Kami bersedia mengabdi pada kerajaan Dharma Ayu." Teriak serentak 600 peserta pandai besi dengan berlutut satu kaki.
"Aku akan mencuri pusaka itu sekarang dan memberikannya pada gusti kosawa sri maharaja baduga, pasti beliau menyukainya." Batin Empu kuningrat dengan menyeringai licik. Empu Kuningrat menghilang dari pandangan, Wijaya merasakan ada sesuatu yang aneh akan terjadi. Maputi aksanya ia aktifkan untuk melihat sekeliling.
"Oh jadi dia ya, menarik!" Wijaya yang menyeringai jahat, memasukan mahkota kurusetra ke dalam ripela aksa di telapak tangan kanannya. Jubah kosawa kurusetra gunakan berganti menjadi set baju ereti vrases (pembunuh gelap/ANBU) dan mengeluarkan kunai.
Wijaya menghilang dari pandangan, semua orang terkesiap. Wijaya muncul di belakang Asmarini dan langsung mengangkat tangan seperti akan menangkis serangan.
TANG...SYAT...SYAT...
"Cih, sial! berani kau menghalangiku bocah bau kencur. Rasakan ini!" Empu kuningrat kembali melesat ke arah Wijaya lalu mengayunkan braza (ninjato) pada kepala Wijaya dengan melompat. Wijaya berhasil menangkis serangan Empu Kuningrat dengan kunainya dan menendang dadanya, Empu Kuningrat terpelanting namun bisa menyeimbangkan diri dengan kedua telapak kaki bergesekan dengan tanah.
__ADS_1
BANG...KRASAAAK....
Resi Siwak Merah yang melihat celah, segera melesat ke arah Asmarini juga untuk mencuri karbara binjaka dengan melayangkan pukulan ke arah rahang Asmarini. Pangeran Wiralodra bereaksi cepat menendang pukulan Resi Siwak Merah, adu pukulan dan tendangan pun tak dapat dihindarkan.
BANG...SWUSH...SHUA...
Resi Siwak Merah terpundur 20 meter karena perbedaan tingkatan, Pangeran Wiralodra yang berada di tahap Mahasura Asor, sedangkan Resi Siwak merah di tingkatan Praburata Asor. "Cih, cecunguk macam kau berani mengacau di wilayahku. Aku pastikan kau pulang tinggal nama!" Pangeran Wiralodra berdecih dengan raut muka geram.
Lalu menghilang dari pandangan dan melepaskan pukulan ajian pancer bantala, lembu berlian (Kerbau berlian), ke arah perut Resi Siwak Merah. Resi Siwak Merah berhasil menangkis pukulan Pangeran Wiralodra, namun pertahanannya tertembus hingga perutnya juga berlubang.
"Guhak!" Resi Siwak Merah memuntahkan darah, dan tewas seketika dengan lidah menjulur keluar, serta mata melotot. "Aku sudah katakan kau pasti pulang tinggal nama, hahahaha!" Pangeran Wiralodra tertawa keras seperti seorang psikopat.
Semua orang di sekitarnya yang melihat itu bergidik ngeri dan badan gemetaran. Wijaya terus bertarung tanpa henti dengan Empu Kuningrat hinga bertukar gerakan ratusan jurus, Wijaya hanya bermain-main dengan Empu Kuningrat dengan terus mengelak serangan Empu Kuningrat.
JLEB...CRASH...
Braka itu langsung menusuk kepala Empu Kuningrat tepat di dahinya. Empu Kuningrat mengucurkan banyak darah dan tewas seketika. Di tengah kemelut Empu Cakrana diam-diam memperhatikan Prabu Surya dan menunggu waktu yang tepat untuk menikamnya.
Manggala yang sedang di atas langit memperhatikan gerak-gerik semua orang, melihat ada yang janggal dengan gerakan Empu Cakrana yang tiba-tiba mendekati Prabu Surya dari belakang. Empu Cakrana hendak bersiap menikam punggung Prabu Surya, tapi Manggala dari atas langit dengan bidikan reinka aksa (mata reinkarnasi) tahap pertama menarik busurnya dengan kuat dan cepat.
__ADS_1
SHUA..SWUSH...JLEB...
Anak panah yang dilesatkan Manggala mengenai ubun-ubun Empu Cakrana. Prabu Surya terkesiap dengan teriakan Empu Cakrana yang berada di belakang tubuhnya. Prabu Surya membalikan badan dan melihat kepala Empu Cakrana sudah tertancap anak panah yang terbuat dari pancer banu (elemen air). "Hampir saja nyawaku melayang tertusuk Empu sialan ini!" Gumam Prabu Surya dalam batinnya.
"Sepertinya mereka sengaja melakukan ini dan sudah direncanakan untuk membuat keributan. "Wijaya bergumam dalam batinnya, dengan maputi aksa Wijaya terus mengamati kondisi halaman istana saat ini. Wijaya mengedarkan pandangannya mencari musuh dalam selimut yang menyamar sebagai peserta pandai besi.
"Cepat para penjaga amankan istana!" Teriak Prabu Surya, semua ricuh. Para peserta bawana juga ikut ricuh. "Tenang, tenang, tak usah panik. Kami bisa mengatasinya, kembalj berbaris."
Patih Duryudana segera mengamankan Ratu Endang dan Putri Sukmasari ke dalam istana. Sementara Asmarini memunggungi Wijaya, juga dengan maputi aksa mengedarkan pandangan untuk mencari pembuat onar yang lain. "Kang mas, ada 100 orang yang siap menyerang. Apakah benar kang mas?" Tanya Asmarini memastikannya pada Wijaya.
"Benar nyi mas. Mereka berada di kerumunan timur dan barat, sepertinya mereka menargetkan kakek prabu. Cepat lindungi kakek Prabu! ingat jangan gegabah!" Perintah Wijaya. "Baik kang mas!" Asmarini bergegas melompat-lompat ke arah Prabu Surya.
Wijaya mengedarkan pandangan dengan maputi aksa yang bisa menembus sampai titik molekul, dan menemukan 200 orang mempunyai tato dua kepala naga di lengan kanan. Tiba-tiba Wijaya melayang 10 meter dan berteriak, "Aku tahu apa yang kalian cari. Tapi aku pastikan jika kalian menemukannya, kalian pulang tinggal nama."
Wijaya yang melayang lenyap dari pandangan, dengan kecepatan cahaya menotok 200 orang yang mempunyai tato dua kepala naga di lengannya. Meskipun mereka berada di tengah kerumunan barat dan timur, Wijaya sangat mudah melumpuhkan 200 orang dalam sekejap dengan menotok lumpuh tubuh mereka.
TSUK...TSUK...TSUK...
Lalu Wijaya kembali ke tempat ia melayang dan berteriak, "cepat berkumpul di depan pintu aula istana!" Para pandai besi berlari ke arah istana, namun tersisa 200 orang mematung di halaman istana. Semua orang dalam batinnya bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan mereka.
__ADS_1
Wijaya mendekati salah satu pandai besi yang lumpuh karena terkena totokan Wijaya, lalu membuka lengan mereka. Dan benar saja ada tato dua kepala naga di lengan mereka, "Kakek prabu, apakah mengenal tanda tato ini?" Tanya Wijaya menunjukan tato di lengan salah satu pandai besi.
"Sepertinya aku mengenalnya, tapi tanda apa itu?" Pikir Prabu Surya dan mengelus dagu, lalu berjalan ke tengah halaman istana mendekati Wijaya.