
Jangan lupa like, koment, gift, dan vote agar author semangat menulis lanjutan chapter novel ini.
Mohon kritik dan saran yang membangun agar novel ini lebih baik lagi, jangan sungkan langsung berikan komentar cabe sahabat readers di kolom komentar.
Untuk update sudah normal 1 chapter/hari pukul 20.00 WIB, maaf belum bisa crazy up lagi, maaf juga jika alur terlalu lambat. Yang kurang suka skip saja.
Bogatjana membawa kampala (tombak ganda pendek yang berbilah pedang pendek yang bisa menyatu). Dengan sorot mata tajam dan kuda-kuda yang tegap bagai badak siap menyeruduk targetnya.
"Pertandingan di mulai!" Teriak Patih Wirabumi. Wijaya mengeluarkan bedhama jenis braza (pedang ninjato) dari dalam ripelas aksa di telapak tangan kanannya.
Selama enam bulan Wijaya sudah membuat semua jenis senjata yang tertulis di kitab dewata adilaga. Dan tentu saja bahan bakunya menggunakan batu bintang bharatayudha.
"Haaaaaah!" penonton bersorak sorai dan bertepuk tangan suaranya memecah keheningan pagi.
"Ajian kampala, (teknik tombak ganda tanduk lembu)!" Bogatjana melesat cepat dan menusuk-nusuk Wijaya menangkis dengan braza miliknya.
TRANG....TRANG...TRANG...
Wijaya berpura-pura terdesak sampai kakinya di batas garis arena. "Cih hanya itu saja kemampuanmu, sungguh mengecewakan! ajian kampala (teknik tombak ganda, tanduk naga)!" Bogatjana memundurkan kedua lengan tangannya dan mengalirkan energi Chakra ke kampala lalu menusuknya kuat-kuat ke arah Wijaya yang sudah terpojok di garis arena.
SHUA...SWUSH...
Wijaya menyeringai licik dan menggunakan ajian braza, (teknik pedang ninjato,) untuk kampala Bogatjana secara cepat dan berhasil memotong bilah tombaknya menjadi dua.
SYAT...TANG...
Bilah tombak itu jatuh ke tanah dan tangan Bogatjana gemetaran. Bogatjana langsung melompat tiga kali ke belakang. Wijaya segera memasukan braza ke ripela aksa di telapak tangannya lalu tubuhnya berkedip dan melancarkan pukulan ke dada Bogatjana.
BAM...BAM...BAM...BAM...
__ADS_1
Bogatjana berhasil menangkis pukulan Wijaya dengan pukulan tangan kanan miliknya. Bogatjana dan Wijaya beradu pukulan di udara, gelombang kejutnya menghempaskan angin sampai ke kursi penonton.
Penonton laki-laki yang sedang berdiri bajunya sobek hingga bertelanjang dada.
"Woy sial bajuku jadi sobek begini, pertandingan macam apa membuat penonton menjadi setengah telanjang seperti ini." Teriak salah satu penonton.
"Ya aku juga jadi seperti ini!" Teriak penonton yang lain. Banyak juga penonton laki-laki yang sobek bajunya dan bertelanjang dada, pemandangan ini membuat penonton lain tertawa terbahak-bahak. "Coba saja ada wanita cantik seperti ini pasti menyenangkan." Teriak penonton lain.
"Dasar muka mesum tahunya begitu saja!" Umpat penonton perempuan di sebelahnya dan menoyor kepalanya. Wijaya dan Bogatjana terus beradu pukulan serta tendangan mereka berdua melayang di udara. Mereka sudah bertukar ratusan gerakan jurus dan puluhan ajian namun belum ada tanda-tanda satu pun yang akan tumbang atau kelelahan.
BAM...BAM...BAM...BAM...
"Hai kunyuk kau dari tadi memang ingin mempermainkanku ya. Dasar batu laut kau pikir bisa mempermainkanku kali ini kau akan kubuat seriud bertarung denganku. Ajian pancer bantala, melipat bumi (teleportasi)!"
CWUSZH...BAM
Tubuh Bogatjana berkedip lalu muncul di hadapan Wijaya dan melesatkan pukulan. Wijaya berhasil menangkis pukulan Bogatjana dengan lengannya, lalu tubuh Bogatjana berkedip kembali dan muncul di belakang Wijaya menghantamkan tendangan.
Wijaya menangkis tendangannya dengan lengan yang dia angkat ke atas tanpa menoleh ke belakang, seperti Wijaya sudah tahu lokasi Bogatjana akan muncul lagi. Bogatjana tak menyadari jika Wijaya sudah mengaktifkan buwana aksa. Prabu Raksa memperhatikan dari singgasananya, "Yang mulia mengaktifkan wiel aksa kah? tapi mata itu seperti bukan wiel aksa tapi mata dalam legenda pamilya Wijaya buwana aksa. Ti-tidak mungkin!" Pikir Prabu Raksa dengan mata terbelalak dan mulut menganga.
Wijaya terus menyeringai licik seakan tahu setiap kali Bogatjana muncul dari mana pun Wijaya selalu berhasil menangkis serangan Bogatjana.
CWUSHZ...BAM...
"Sial seranganku mudah sekali di patahkan padahal aku menyerangnya secara acak tanpa ada pola gerakan serangan!" Batin Bogatjana yang terus menyerang Wijaya dengen ajian pancer bantala melipat bumi.
"Apakah kau tak cape terus menyerang seperti itu, bukankah seranganmu mudahku patahkan! sehebat apapun kamu menyerang dan menggunakan ajian, hasilnya sama saja jika kau berada di wilayahku!" Teriak Wijaya. "Sekarang giliranku!"
SHUA...BAM...SHUA...BOOOM...
__ADS_1
Wijaya melesat cepat dan menghantamkan pukulan ke perut Bogatjana dan membuatnya terpental ke permukaan arena. Wijaya yang berada di udara mengangkat kakinya ke atas lalu tubuhnya berkedip dan menghantamkan kakinya ke perut Bogatjana. Gerakan Wijaya sangat cepat Bogatjana tak sempat mengelak dan terkena hantaman kaki Wijaya.
POFF...BOOOM....KRAK....DOOOM...
"Guhak!" Bogatjana memuntahkan darah segar dari mulutnya. Permukaan arena hancur retak, terbelah dan ambles oleh ajian baladewa siva naga futura (teknik pasukan dewa, tendangan naga terbang) yang dilepaskan Wijaya.
Bogatjana langsung pingsan. "Pemenangnya Wasesa Jaya!" Teriak Patih Wirabumi. Anarghya langsung mengambil semua uang taruhanya dan menyimpan ke gelangnya. Lalu turun dari kursi penonton dan berlari ke arah Wijaya.
Tiba-tiba awan gelap menutupi arena di halaman istana Kediri, petir menyambar dengan keras dan suaranya juga menggelegar hebat.
"Benar-benar firasat buruk." Batin Wijaya. "Ajian beluk sandarawa, bolo sewu (teknik pemanggi, seribu pasukan)!" Wijaya menggigit jempolnya lalu menempelkan kedua telapak tangannya ke tanah. Muncul rune sihir hitam yang sangat besar di permukaan tanah.
POFF....POFF...POFF...POFF...
Muncul Maung Bodas, Karbara Sayuta, Bleta Bora dan Kidang Kuning yang sudah berubah bentuk ke siluman sempurna.
GROAAAAAR...GROAAAAR...
Maung Bodas yang mempunyai loreng hitam dan kulit putih kemerahan, Karbara Sayuta juga dengan bulu coklat runcing, berkepala tiga keduanya meraung keras lalu berlutut keempat kakinya serta menundukan kepala.
Bleta Bora dan Kidang Kuning juga merunduk ke tanah. "Hormat pada yang mulia korawa kurusetra!" Teriak mereka berempat serentak. Wijaya membuka topengnya dan mengeluarkan mahkota kurusetra, bajunya sudah berubah memakai set pakaian jubah kosawa kurusetra dan sarung tangan kurusetra.
Semua orang berlutut satu kaki dan berteriak serentak "Hormat pada yang mulia paduka kosawa kurusetra!" aura maheswara milik Wijaya keluar dan menekan dengan penuh kehangatan pada semua orang yang hadir di sana.
Dari awan petir hitam muncul Mahapatih Suryadaksa yang melayang. "Kalian semua menyerahlah kosawa Kertarajaasa Jayawardhana akan mengampuni kalian. Tapi jika kalian menolak aku pastikan kerajaan Kediri akan rata dengan tanah seperti kerajaan Singosari dan Demak Bintoro!" Ancam Mahapatih Suryadaksa.
Wijaya tertawa terbahak-bahak. "Hahahaha, mahapatih tak bisa melihat tingginya gunung dan dalamnya lautan. Lihat kerajaan Kediri dan Demak Bintoro di wilayah kekuasaanku mereka semua menjadi naga, sedangkan kekosawaan Majapahit yang konon besar itu hanya seekor semut, melawan ibundaku saja kosawa itu seperti ayam sayur. Malah berani menantang kami, hahahahaha. Sungguh tak tahu malu!"
Mahapatih marah dan geram di hina seperti itu. Matanya memerah, otot-otot tubuhnya keluar dan meraung keras. "Aaaaaaaaargh! aku akan pastikan kau mati dan kuinjak-injak seperti cacing!"
__ADS_1
1 juta pasukan kekosawaan Majapahit sudah berada di wilayah perbatasan Kerajaan Kediri dan Singosari. Mereka siap menyerang, pasukan kerajaan Kediri sudah bersiap akan adanya serangan dadakan, disetiap perbatasan dipersenjatai bledog jurig, kereta wewe gombel dan seblungan gondorukem.