KSATRIA LANGIT NUSANTARA

KSATRIA LANGIT NUSANTARA
TABIB JENIUS


__ADS_3

Jangan lupa like, koment, gift, dan vote agar author semangat menulis lanjutan chapter novel ini.


Mohon kritik dan saran yang membangun agar novel ini lebih baik lagi, jangan sungkan langsung berikan komentar cabe sahabat readers di kolom komentar.


Untuk update sudah normal 1 chapter/hari pukul 20.00 WIB, maaf belum bisa crazy up lagi, maaf juga jika alur terlalu lambat. Yang kurang suka skip saja.


Esok paginya. Wijaya dan Anjasmara sedang terbang di udara, mereka melintasi perbatasan Demak Bintoro terkejut.


"Apa yang terjadi di perbatasan ini kemarin? Apakah terjadi perang? Tapi kalau perang seperti pembantaian karena hanya ada satu pihak yang kalah." Gumam Wijaya yang sedang memperhatikan prajurit Majapahit yang mati dari atas langit.


"Ya benar kang mas. Kosawa Kertarajasa ingin menyerang Brabang Sari kemarin. Aku dijadikan umpan untuk memancing kang mas agar tak berada di wilayah Brabang Sari. Tapi nampaknya Majapahit mendapat kekalahan telak." Jawab Anjasmara.


"Ayo kita bergegas!" Pinta Wijaya.


Mereka terbang dengan buru-buru agar cepat sampai di istana Brabang Sari. Setelah 30 menit terbang akhirnya mereka berdua sampai dan turun perlahan di halaman istana Brabang Sari.


"Hormat pada yang mulia pangeran Wijaya!" Teriak serentak ksatria binting yang berjaga dengan membungkuk hormat.


"Terima kasih paman semua, silahkan kembali berjaga!" Ucap Wijaya dengan sopan.


"Ternyata kang mas adalah pangeran Brabang Sari." Batin Anjasmara.


Mereka berdua masuk ke dalam aula istana. Di dalam aula hanya ada 5 orang, Shintadewi, Manggala, Asmarini, Sarja dan Ratu Adingrum yang duduk di singgasananya.


"Nenek Ratu dan ibunda salam hormat untukmu. Aku pulang!" Ucap Wijaya sambil membungkuk hormat.


"Puji Syukur dewata, kamu kembali nak! ibunda sangat mengkhawatirkanmu." Ucap Shintadewi sambil memeluk Wijaya.


"Puji syukur dewata, kang mas kembali!" Ucap Manggala dan Asmarini serentak. Asmarini lalu memeluk Wijaya juga, Manggala juga mendekati Wijaya untuk memeluknya namun Wijaya tidak memperbolehkannya dengan alasan Wijaya masih normal.


Wijaya melepaskan pelukan Shintadewi dan Asmarini. "Perkenalkan ini saudara baru kita namanya Anjasmara Sasongko, dari pamilya Sasongko pangeran dari kerajaan Gadang Ambarawa." Wijaya menunjuk Anjasmara dengan jempol kanannya.


"Saya Anjasmara Sasongko. Senang berkenalan dengan saudara semua. Salam hormat pada yang mulia Ratu!" Anjasmara menangkupkan tangan lalu membungkuk hormat.


"Ini ibundaku Shintadewi Puntadewa. Dan itu nenek Ratu Adiningrum Puntadewa, perempuan cantik ini saudaraku Asmarini Kusuma dan Laki-laki yang tampan kekar seperti kamu, saudaraku juga Manggala Saputra!" Ucap Wijaya memperkenalkan semua orang yang berada di dalam aula istana pada Anjasmara.


"Nenek Ratu! Kakek Prabu dan Kakek Patih dimana? tidak terlihat sejak tadi?" Tanya Wijaya.


"Mereka berada di ruangan khusus pengobatan, sedang dirawat oleh kakek Dewanata. Namun dari kemarin, kakek Dewanata bahkan ibundamu tak sanggup menyembuhkan luka dalam kakek prabu, kakek patih dan paman Jatmiko." Jawab Ratu Adiningrum.


"Paman Jatmiko juga terluka? aku kira tak akan terluka, soalnya punya ajian serat jiwa, hehehe." Canda Wijaya untuk mencairkan suasana.

__ADS_1


"Mereka terluka akibat bertarung dengan kosawa Kertarajasa Jayawardhana kemarin. Untung saja ibumu berhasil mengalahkan kosawa bedebah itu, tapi entah Kertarajasa masih hidup atau sudah mati. Soalnya ibumu memukulnya hingga terpental sampai laut pantai selatan." Ucap Adiningrum.


"Gluk!" Manggala dan Anjasmara menelan salivanya. "Kejamnya seorang wanita kalau marah sungguh mengerikang." Batin mereka berdua dengan wajah pucat pasi.


"Baik, aku akan melihatnya. Serahkan saja padaku, aku tahu mereka terkena penyakit apa. Aku pernah menangani penyakit ini lalau tidak salah namanya kutukan sambadra. Luka dalam mereka memang tidak bisa disembuhkan."Ucap Wijaya menyolek hidung dengan jempol kanannya.


Wijaya pergi menuju ruang khusus pengobatan diikuti Ratu Adiningrum, Shintadewi, Asmarini, Manggala dan Anjasmara. Di dalam ruangan, Prabu Angga, Patih Arya dan Jatmiko terlentang dengan nafas terengah-engah.


"Ajian zamankhawala, Maputi Agni (teknik medis, api putih)!" Dari ripela aksa di telapak tangan kiri Wijaya muncul api seukuran bola baseball yang melayang. Wijaya menggerakan telapak tangan ke depan, maputi agni bergerak masuk ke dalam dada Prabu Angga. Setelah 5 detik keluar lalu masuk ke dalam dada Patih Arya, dan begitu pula hal yang sama terjadi pada Jatmiko.


Nafas mereka kembali normal, demam mereka juga kembali normal. "Akhirnya sudah sembuh, fyuh!" Wijaya mengelap keringat di dahinya. Wijaya menyimpan kembali maputi aksanya.


"Wijaya ini benar-benar pemuda jenius. ajian zamankhwala maputi agni adalah teknik terlarang dan beresiko tinggi. Malah Wijaya melakukannya dengan mudah, dia selalu membuat kejutan." Batin Ratu Adiningrum.


Di dalam kitab jagat saksana yang di miliki pamilya (keluarga/klan) Puntadewa. Ada 7 jenis ajian zamankhwala (teknik medis) tingkat tinggi yang berhubungan dengan energi pancer (elemen)



Ajian Zamankhwala maputi agni (Api putih).


Ajian Zamankhwala, aigua rumi (air keabadian dengan warna merah, semerah darah).


Ajian Zamankhwala, Bayu suta (Angin penenang warna anginya hijau).


Ajian Zamankhwala, Bajra Rudra (Petir regenerasi, warnanya ungu).


Ajian Zamankhwala, imu bhayangkara (hisapan kegelapan, warnanya nila)


Ajian Zamankhwala, (hati malaikat, warnya kuning terang).



Namun tak ada satupun anggota pamilya Puntadewa yang berhasil menguasai ajian zamankhwala tingkat tinggi. Karena latihannya yang berat juga sangat lama dan membutuhkan konsentrasi yang sangat tinggi.


"Ternyata kang mas benar-benar sangat sakti mandraguna!" Batin Anjasmara, Asmarini, dan Manggala.


"Semua jenis ajian hampir semua di kuasai, pantas kalau dia memberi gelar dirinya sang maha jenius. Untung saja kang mas orang yang baik, kalau jahat sudah dipastikan ia akan menjadi bencana untuk benua nusantara." Gumam Asmarini.


Ajian pancer agni (eleman api)


Ajian Pancer banu (elemen air)

__ADS_1


Ajian pancer bajra (elemen petir)


Ajiam pancer bantala (elemen tanah)


Ajiam pancer bayu (elemen angin)


Ajian pancer bhayangkara (elemen kegelapan)


Ajian pancer baswara (elemen cahaya)


Ajian bedhama (teknik senjata)


Ajian kanuragan (teknik beladiri/taijutsu)


Ajian aksamala ( teknik segel/fuinjutsu)


Ajian sandarawa (teknik pemanggil/kuchiyose).


"Baik, semuanya biarkan mereka beristirahat dahulu!" Ucap Wijaya. "Ibunda, aku menagih janji padamu!"


"Oh, ya ibunda lupa, hehehe. Baik mari kita ke halaman istana untuk mengajarimu ajian aksamala!" Ajak Shintadewi.


"Kang mas ikut. Aku juga mau belajar!" Ucap serentak Anjasmara, Asmarini, dan Manggala. Mereka melihat satu sama lain.


"Kamu ikut-ikutan saja denganku!" Tunjuk Asmarini pada Manggala.


"Kamu juga!" Tunjuk Manggala pada Anjasmara.


"Kamu juga, ikut-ikutan!" Tunjuk Anjasmara pada Asmarini.


"Kamu!"


"Kamu!"


"Kamu!"


"Diaaaam!, kalian ini seperti anak kecil saja! kalian boleh ikut semua. Ya kan ibunda?" Wijaya berteriak pada mereka bertiga yang bertengkar lalu bertanya pada Shintadewi dengan nada lembut.


"Boleh!" Ucap Shintadewi dengan tersenyum lebar melihat saudara-saudara Wijaya seperti anak kecil yang bertengkar.


Mereka berlima pergi menuju halaman istana, kecuali Ratu Adiningrum menunggu di kamar khusus pengobatan untuk menjaga Prabu Angga, Patih Arya, dan Jatmiko.

__ADS_1


__ADS_2