
Wijaya dan Asmarini menandatangani surat perjanjian kerjasama bisnis antara restoran Kala Asta dan Kadipaten Maung Bahari.
"Saudaraku Maung Bodas! apakah paman Jatmiko ada bersamamu sekarang?" tanya Wijaya membatin melalui telepati. "Tidak ada yang mulia gusti Prabu, Lurai Jatmiko sedang mengurusi pembangunan jalur irigasi di sungai basudara." Jawab Maung Bodas melalu telepati.
"Begini kami berhasil membuat kontrak dengan pihak kerajaan Dharma Ayu khususnya Restoran Kala Asta, untuk mengirimkan 100 ton ikan. Apakah bisa di siapkan?" tanya Wijaya membatin melalui telepati.
"Sendiko yang mulia gusti prabu! kami akan menyiapkan pengirimannya esok hari, kita kekurangan kereta kuda untuk mengirimkan peti ikannya. Mungkin aku akan meminjam dahulu ke istana julang emas." Jawab Maung Bodas melalui telepati. "Baik, aku tunggu kabar baiknya," batin Wijaya melalui telepati.
"Nona 100 ton ikannya akan dikirim besok pagi, aku sudah menghubungi saudaraku di Kadipaten Maung Bahari!" ucap Wijaya dengan tersenyum ramah.
"Baik tuan, tapi kami belum bisa menyiapkan kereta kudanya, mungkin esok hari kami akan menyiapkan kapal besar dan 100 ekor kuda." Ucap Asmarini.
"Tidak apa-apa nona untuk sementara kami saja yang mengirimkannya terlebih dahulu, aku lihat restoran nona sangat ramai. Jika kami tak mengirim sekarang stok ikan nona akan habis jika 10 ton!" ucap Wijaya.
__ADS_1
Asmarini memberi kantung uang kepada Wijaya sebagai bayaran pengiriman ikan dengan jumlah 10 ton yaitu 5 tera.
Mereka berdua keluar dari ruangan Asmarini menuju rombongan yang sedang makan, "Bagaimana yang mulia gusti prabu apakah sudah selesai?" tanya salah satu nelayan. "Ya sudah selesai, jika kalian masih lapat tambah saja lagi makanannya, tenang saja aku yang traktir. Malam ini kita menginap dahulu besok kalian baru pulang duluan, aku ada beberapa urusan yang harus di selesaikan. Aku akan mencarikan penginapan dahulu untuk kalian semua." Ucap Wijaya tersenyum ramah.
"Tuan tidak perlu, semua makananya aku yang bayar. Dan untuk mereka beristirahat biar kami yang menyediakannya. Kami juga punya penginapan Kala Asta di dekat pantai, nanti paman Boksawa yang akan menghantarnya. Tuan Wijaya ikut dahulu denganku bertemu Raja Surya di herehuisa pamilya Kusuma." Ucap Asmarini tersenyum manis.
"Baik nona, terima kasih banyak" Wijaya mengangguk pelan dan menaruh tangan kanannya di dada sebelah kiri. "Kalian beristirahatlah! jika masih lapar tambah saja makanannya, mumpung di traktir Nona Asmarini jangan sungkan, aku pergi dahulu!" ucap Wijaya tersenum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Sendiko gusti prabu!" ucap serentak semua rombongan Wijaya.
Wijaya dan Asmarini keluar dari restoran Kala Asta, lalu masuk kereta kuda. "Mohon maaf tuan Wijaya demi keamanan pamilya kami, tuan harus memakai penutup mata!" Asmarini mengikatkan penutup mata pada Wijaya. Asmarini tidak tahu jika Wijaya sedang mengaktifkan maputi aksanya untuk melihat letak herehuisa pamilya Kusuma.
Kereta kuda itu melesat sangat cepat sampai-sampau tidak terlihat oleh semua orang dalam pandangan mereka, Akhirnya mereka sampai di tepi pantai. "Ajian aksamala baureksa, samudra bajangkara!" Asmarini merapal ajiannya dan menangkupkan tanganya dengan keras.
PLAK...
__ADS_1
Lautan terbelah dua membentuk jalan, perlahan kereta kuda berjalan melewati jalan laut. Sisi kanan dan sisi kiri gelombang air laut setinggi 10 meter, kereta kuda berjalan cepat kembali lalu menghilang.
Mereka akhirnya sampai di istana bawah laut yang selimuti gelembung air yang besar, dan kereta kuda yang di kendarai Asmarini dan Wijaya masuk ke dalam gelembung air.
Gelombang air laut yang membentuk jalanan langsung kembali seperti semula. Wijaya dan Asmarini turun dari kereta kuda lalu menuju aula herehuisa.
***Untuk update author terus usahan sehari empat kali, untuk waktunya tidak menentu ya sahabat ksatria.
**Terima kasih para readers masih setia membaca Novel pertama author Ksatria langit nusantara.
mohon maaf jika tulisannya masih amburadul, masih terus memperbaiki.
Semoga para readers bisa menikmatinya.
__ADS_1
Yuk nikmati membaca sambil minum kopi jeng gorengan singkong**.