KSATRIA LANGIT NUSANTARA

KSATRIA LANGIT NUSANTARA
KESEDIHAN YANG MENDALAM


__ADS_3

Peperangan hanya akan meninggalkan duka dan nestapa, namun peperangan yang di menangkan melindungi generasi baru yang berhasil dipertahankan.


Wijaya membakar gunungan mayat jauhetu rota dengan berdeva agni, api yang berwarna hijau lebih panas dari azula agni.


BLARR..BRATAK...BRATAK...


Semua mayat jauhetu rota langsubg jadi jebu, Jatmiko pun datang ke tempat Wijaya, disusul para pasukan Maung lodaya yang dipimpin Maung Bodas.


BRAG...BRUG...BRAG...BRUG...


Para penduduk desa Lembarawa pun keluar dari rumahnya bersama para penduduk maung Bodas dan Bleta Permoda. Mereka semua menangis haru antara sedih dan bahagia, di satu sisi kemenangan peperangan terhadap jauhetu rota yang selama ini merampas hasil panen padi dan ikan mereka. Disatu sisi mereka seperti kehilangan saudara dan sanak famili mereka yang baru mereka kenal tapi rela membela mereka dan gugur di medan perang.


Wijaya yang umurnya masih lima tahun pun tak kuasa menahan air mata kehilangan saudara seperjuangannya, air matanya jatuh deras di pipi Wijaya. Wijaya menyeka air matanya namun terus turun begitu deras, karena kehilangan orang yang sangat berarti bagi Wijaya yaitu keluarga.


Ya, mereka bagi Wijaya adalah keluarga meski baru beberapa hari bertemu.


Jatmiko menepuk pundak kanan Wijaya dan mengelusnya, "Pangeran setiap jiwa akan menemui ajalnya, tapi kita tidak tahu diri kita akan bertemu ajal dimana? sakit kah? peperangan kah? bencana kah? kecelakaan kah? atau hanya kematian biasa?. Kita hidup dari yang mati, dan kita mati untuk yang hidup. Jangan sia-siakan perjuangan mereka, kebebasan hari ini adalah karena perjuangan mereka, kemenangan hari ini adalah kemenangan dari mereka. Terimalah dan ikhlaskanlah jiwa mereka untuk pergi menuju dewata agung di alam keabadian."


Maung Bodas berubah kembali menjadi manusia dan menepuk pundak kiri Wijaya serta mengelusnya, "Aku sudah melalui banyak peperangan dan melihat banyak saudaraku mati, tapi satu hal yang membuat aku terus bertahan hidup dari kesedihan kehilangan mereka, yaitu pengorbanan hidup mereka demi masa depan kita yang hidup lebih baik."


Mendengar Jatmiko dan Maung Bodas mengatakan itu hati Wijaya kembali menghangat, kesedihannya mulai pudar dan kembali terrsenyum, "terima kasih paman Jatmiko! terima kasih saudaraku Maung Bodas! mari kita bekerjasama dan bergotong royong untuk membuat desa Lembarawa ini menjadi lebih baik untuk mereka."


Tak terasa matahari sudah keluar dari sarangnya di ufuk timur, muka-muka yang lelah karena berperang dan tak tidur semalaman begitu kusut dan muram.


Wijaya terbang ke atas gunungan mayat Maung Lodaya dan menangkupkan tangan sebagai penghormatan terakhir, "Selamat jalan saudaraku! semoga tenang di alam sana!." Wijaya melemparkan berdeva agni dari ripela alsa di telapak tangan kirinya.


BLARR...BRATAK...BRATAK...BRATAK...

__ADS_1


Semua mayat maung lodaya terbakar dan berubah menjadi abu kemudian terbang di sapu angin pantai yang semilir.


Semua kembali ke rumah masing-masing, Wijaya menuju kediaman lurai Jatmiko ditemani Bleta Bora dan Maung Bodas. Sedangkan para bleta permoda dan maung lodaya Wijaya perintahkan untuk ke bukit batu karang untuk beristirahat dahulu, lalu membangun pemukiman di sana.


*POV MARKAS BANDIT AGRARIYIN*


"Gusti Bogadenta! kabar buruk, kabar buruk," ucap salah satu hajdut terengah-engah yang telah menyelidiki pertarungan Jatmiko dan Wijaya.


"Cepat katakan apa yang terjadi! jangan mengganggu kesenanganku!" ucap Bogadenta yang sedang bertelanjang dada dan memangku perempuan yang cukup aduhai dengan sedikit baju terbuka.


"Jatmiko gusti! jatmiko," ucap hajdut yang masih terengah-engah dan meminum air yang diberikan temannya.


"Cepat katakan yang jelas!" ucap Bogadenta yang kesal sambil menggebrak meja di sampingnya dengan keras sampai meja itu terbelah dua.


BAM...KRAK...DUAR...


"Ampun gusti! ampun! Jatmiko telah di kalahkan oleh utusan dari kerajaan Brabang Sari dan menyerahkan kedudukan Lurai pada pemuda utusan itu. D-da-dan ju-ju-juga! dan juga! pemuda itu berhasil membantai habis siluman jauhetu roksa!" Ucap hajdut sedikit terbata-bata karena takut dengan Bogadenta.


BAM...KRAK...JDUAAR...


Bagaimana tidak, selama ini Jatmiko membiarkan mereka mengambil apapun dari Penduduk desa Lembarawa. Bukan berarti Jatmiko tak mampu mengalahkan mereka, namun Jatmiko diancam jika berani melawan tak segan-segan penduduk desa Lembarawa akan dibunuh dan keluarganya juga akan di habisi.


Setelah Lurai berganti maka bandit agrariyin tidak bisa lagi seenaknya keluar masuk desa Lembarawa, apalagi dengan adanya fakta Wijaya berhasil menumpas siluman jauhetu rota yang tidak pernah berhasil di kalahkan oleh bandit Agrariyin.


Ketika bandit Agrariyin menyerang siluman jauhetu rota selalu berakhir dengan kemalangan karena senjata Pamungkas mereka bledog jurig.


"Cepat pergi! Awasi mereka!" seru Bogadenta pada hajdut dengan melambaikan tangannya.

__ADS_1


Tanpa sepatah kata apapun hajdut pergi pamit undur diri, "Sial kau Bogadenta, aku akan membalasmu nanti lihat saja!" batin hajdut bernama Sambala sambil menyeringai jahat.


*POV BANDIT AGRARIYIN END*


Sementara itu di kediaman lurai Jatmiko, Wijaya yang ditemani Bleta Bora dan Maung Bodas sedang mengadakan rapat tertutup.


"Pangeran jabatan lurai ini akan resmi aku berikan padamu, semoga kamu bisa bertanggung jawab menjaga desa ini! lalu langkah selanjutnya bagaimana?" tanya Jatmiko dengan wajah yang serius.


"Kita telah kehilangan 20 hektar sawah nun masih tersisa 80 hektar, kami rakyat Maung Bodas akan ikuta andil membantu panen padi dari lahan yang tersisa. Sisanya akan menjadi ksatria binting untuk menjaga wilayah desa Lembarawa," Maung Bodas yang antusias memberikan solusi.


"Tanah yang terkena ledakan bledog jurig bisa kita manfaatkan menjadi sebuah wilayah ekonomi seperi pasar, sisanya kita bangun ladang sawah yang lain selain padi misalnya sayur-sayuran dan buah-buahan. Di dalam pasar kita bangun tempat makan, tempat pelelangan dan tempat menjual ramuan. Untuk masalah bangun membangun serahkan saja pada kami," ucap Bleta Bora dengan penuh percaya diri sambil menunjuk peta desa Lembarawa.


"Terima kasih saudaraku Maung Bodas dan Saudaraku Bleta Bora! sungguh ide yang sangat cemerlang," puji Wijaya Kusuma, " Aku juga sudah berbicara paman Jatmiko untuk memindahkan kediaman Lurai ke bekas markas jauhetu rota, menurut kalian bagaimana?" tanya Wijaya Pada Mereka bertiga.


"Begini saja yang mulia gusti prabu!, kita masih punya sisa senjata pamungkas milik jauhetu rota, tiga meriam bledog jurig. Kita tempatkan satu di menara pengintai dekat pintu penjaga, satu ditengah pemukiman penduduk kita bangun menara pengintai yang lebih tinggi, dan satu lagi di menara pengintai pintu masuk bekas markas jauhetu roksa di bukit karang. Bagaimana?" Bleta Bora menjelaskan pendapatnya.


"Aku setuju!" Wijaya Kusuma.


"Aku juga Setuju!" Maung Bodas.


"Kalu aku sih ya, ya, ya, setuju saja! tapi sumber dayanya darimana alias uangnya?" tanya Jatmiko penuh sangsi.


**Terima kasih para readers masih setia membaca Novel pertama author Ksatria langit nusantara.


mohon maaf jika tulisannya masih amburadul, masih terus memperbaiki.


Semoga para readers bisa menikmatinya.

__ADS_1


Yuk nikmati membaca sambil minum kopi jeng gorengan singkong.


Mohon dukung author dengan memberikan like koment dan gift jika berkenan. jika suka silahkan klik tombol favorit**.


__ADS_2