
Jangan lupa like, koment, gift, dan vote agar author semangat menulis lanjutan chapter novel ini.
Mohon kritik dan saran yang membangun agar novel ini lebih baik lagi, jangan sungkan langsung berikan komentar cabe sahabat readers di kolom komentar.
Untuk update sudah normal 1 chapter/hari pukul 20.00 WIB, maaf belum bisa crazy up lagi, maaf juga jika alur terlalu lambat. Yang kurang suka skip saja.
Semakin lama suara itu semakin keras, api yang membumbung semakin tinggi. Lama kelamaan redup seperti terhisap oleh sosok yang berada di dalam kobaran api.
BOOOOOM....
GROAAAAR....
Energi yin yang berasal dari prajurit yang tewas menyelimuti udara malam di markas Rah Tengger. Bagaikan kabut hitam yang penuh kematian, kabut energi yin perlahan bergerak ke satu arah menuju manusia dlam kobaran api yang semakin lama semakin redup.
Hanya dua bola mata merah nampak bersinar terang dari balik kabut hitam. Wijaya merasakan firasat buruk akan hal ini. "Gawat, ini sungguh mengerikan. Seperti energi naga gokarya dengan itima agni (api hitam)."
Manggala dan Asmarini sudah menjauh sejauh mungkin, ada rasa khawatir di dalam hati mereka. Namun rasa khawatir itu mereka tepis jauh-jauh, karena percaya Wijaya pasti akan kembali. Meskipun mereka melihat raut wajah Wijaya yang panik ketika merasakan energi kegelapan dari balik reruntuhan markas Rah Tengger.
Wijaya melepas topeng motif kelinci dan menyimpannya bersama raivaja ke ripela aksa. Wijaya mengaktifkan buwana aksa yang telah berevolusi kembali menjadi eterna aksa (mata abadi) karena kapasitas energi chakra Wijaya yang tidak terbatas.
Wijaya mengedarkan pandangan ada reruntuhan markas Rah Tengger, suara raungan masih terus terdengar dan menggema di tengah hutan Alas Roban.
Nampak sesosok pria dengan mata merah bertaring. Bulu hitam tipis menyelimuti seluruh tubuhnya, tanduk hitam seperti tanduk kambing yang besar meliuk-liuk di atas kepalanya. Kuku-kuku yang panjang, tajam ditangan dan kakinya, hanya memakai ****** ***** berwarna hitam legam. Otot-otot dadanya menyembul keluar, dan perutnya begitu eight pack.
GROAAAR...
GROAAAR...
GROAAAR...
Ya dialah Rah Tengger, manusia setengah iblis. Manusia yang haus akan kekuatan lalu bersekutu dengan iblis, kabut hitam terus terserap dalam tubuh Rah Tengger. Otot-otot ditubuhnya semakin membesar dan nampak warna merah kehitaman.
BANG...BANG...BANG...
__ADS_1
BANG...BANG...BANG...
BANG...BANG...BANG...
Rah Tengger naik sembilan tahapan sekaligus dari dendawa inggil ke mahasura inggil. Gelombang kejutnya menghempaskan semua pepohonan di hutan Alas Roban, angin kencang berhembus menggulung membenguk tornado disertai petir, dan malam yang terang disinari rembulan tertutup awan gelap pekat.
"Hahahaha, hahahaha, hahahaha, hahahaha, ulat macam dirimu pasti mati ditanganku. Aku akan hisap seluruh tubuhmu hingga menjadi kering." Rah Tengger tertawa terbahak-bahak dengan menyeringai jahat.
Rah tengger melesat sangat cepat ke arah Wijaya dengan melayangkan pukulan. Wijaya menangkis pukulan Rah Tengger dengan pukulan ajian brajamusti.
BANG...
Tangan kanan Rah Tengger hancur jadi debu. "Hahaha, ajian seperti tak akan mempan padaku, aaaaargh" Tangan kanan Rah Tengger beregenerasi dengan cepat dan kembali utuh. "Yakinkah?" Ledek Wijaya yang sudah berada di samping Rah Tengger dan mendaratkan ajian baladewa siva naga futura (tendangan naga terbang).
BANG...SHUA...SHIUUUU....CWUSZH...
Rah Tengger tak sempat menangkis tendangan Wijaya, ia terpental sangat jauh sampai 1 kilometer. Wijaya kembali melesat sangat cepat, seperti berteleportasi dan muncul kembali di belakang Rah Tengger yang terpental melayang dan menghantam punggungnya dengan ajian yang sama ke atas langit.
BANG...SHUA...SHIU...
Wijaya mengakhiri serangannya dengan ajian baladewa naga kambal binjaka (pukulan naga kembar). Kedua tangan Wijaya dikelilingi siluet naga berwarna merah, lalu menghantamkan kedua pukulannya secar bergantian ke arah perut Rah Tengger.
BANG...SHUA...DOOM...KRAK...JDAAAR..
"Guhak!" Rah Tengger terpental ke permukaan tanah sangat keras dan memuntahkan banyak darah. Muncul kawah dibelakang tubuh Rah Tengger berdiameter 10 meter dan kedalaman 5 meter.
"Hahahaha, hanya itu saja kemampuanmu bocah ingusan! sekarang giliranku!" Cibir Rah tengger dan tertawa sangat keras, semua luka ditubuhnya kembali pulih. "Ajian pancer agni, bola itima agni (bola api hitam)!"
Rah Tengger menyemburkan bola api hitam yang sangat besar berdiameter 50 meter ke arah Wijaya. "Matilah kau bocah tengik!"
SWUSH...SHUA...
Wijaya tak sempat mengelak, bola api hitam segera menerjangnya. Wijaya menahan bola api hitam dengan kedua cengkraman telapak tangannya. "Aaaaaaargh, sial serangannya kuat sekali. Aku sudah tak mampu lagi bertahan."'
__ADS_1
KRASAK...KRAK...KRAK...
Wijaya yang menahan bola api hitam terus terpundur, telapak kakinya bergesekan dengan permukaan tanah. Semakin lama dan jauh semakin kaki Wijaya terbenam ke tanah. "Masih kuat juga kau bocah tengik, Rasakan ini, ajian pancer agni, sakrama itima agni (cakar api hitam)!"
Rah Tengger melepaskan cakaran secara diagonal menyilang seperi membentuk huruf. Muncul siluet 10 cakaran menyilang berwarna hitam pekat mengarah ke bola api hitam dan mendorongnya menjadi lebih cepat.
SLASH...SLASH...SLASH...SHUA...BAM...
Wijaya kewalahan dan sudah tak kuat lagi menahan serangan bola api hitam yang didorong cakaran api hitam Rah Tengger. Akhirnya Wijaya terkena bola api hitam dan meledak.
BOOOOM....DOOOM...JDAAR...
Baju Wijaya compang-camping tubuhnya di penuhi luka, darah bercucuran membasahi seluruh tubuh Wijaya yang terkapar di kawah berdiameter 100 meter dan kedalaman 10 meter. Rah Tengger masih belum puas dan menghilang, lalu muncul tepat di atas perut Wijaya dan menghantamkan lututnya tepat di bagian lambung Wijaya.
BAM...KRAK...DOOM...JDAAAR...
"Guhak!" Wijaya memuntahkan banyak darah segar dari mulutnya. Kawahnya semakin dalam, tanah disekeling Wijaya hancur karena hantaman lutut Rah Tengger yang begitu keras. Suara ledakannya juga cukup nyaring, hingga terdengar sampai radius 2 kilometer.
"Rayi, kang mas Wijaya belum kembali. Sudah lama seperti ini. Aku sangat cemas, bagaimana kalau kita menyusulnya." Ucap Asmarini dengan raut wajah cemas dan panik.
"Sabar nyi mas, percaya saja pada kang ms Wijaya pasti akan kembali." Manggala mencoba menenangkan Asmarini dengan mengelus pundaknya.
Rah Tengger dengan membabi buta dan kehilangan akal warasnya, terus memukuli Wijaya yang sudah terkapar dan tak sadarkan diri. Rah Tengger memegang betis Wijaya dan melemparnya ke langit, lalu melesat sangat cepat langsung muncul di samping Wijaya. Rah Tengger menyilang jari jemarinya dan menghantamkan pada dada Wijaya.
BANG...SHUA...BOOOM...KRAK...JDAAAR...
Wijaya terpental dan menghantam permukaan tanah, muncul yang sangat berdiameter 100 meter dengan kedalaman 20 meter. Kondisi tubuh Wijaya tulang rusuknya patah, nafasnya terengah-engah dan sangat memprihatinkan.
Rah Tengger masih melayang di atas langit, dan menyeringai jahat. "Akan aku akhiri hidupmu bocah tengik! ajian pancer agni, rakudara (bola semesta kehancuran)."
Rah Tengger mengangkat kedua tangannya dan menahan denngan telapak tangan menghadap ke atas. Muncul bola hitam dikelilingi api hitam dan petir seukuran bola baseball, semakin lama semakin besar hingga berdiameter 100 meter.
Rah Tengger mengarahkan kedua telapak yang menghadap atas ke arah Wijaya, bola semesta kehancuran meluncur sangat cepat untuk menimpa Wijaya yang sudah terkapar di kawah yang besar.
__ADS_1
SWUSH....BOOOM...JDAR....