
Wijaya berpikir jika ia terus berada di pusat kota julang emas, kemungkinan pemimpin kota akan mengerahkan bala bantuan pasukan untuk menangkapnya. Namun kondisinya sekrang tidak memungkinkan melawan banyak pasukan lagi, karena energinya sudah banyak terkuras.
Wijaya terus meloncat bagaikan katak begitu lihai melewati atap rumah penduduk menuju arah hutan urip mokswa, Pokra juga menyusul mengejar Wijaya.
Wijaya terus melompat, tiba-tiba banyak anak panah melesat ke arahnya dan mengenai pipinya. Wijaya tak menyadari jika ia berlari menuju menara pengintai, bargawa sura telah membidiknya sedari tadi, karena melihat Pokra sedang mengejarnya dari belakang melalui teropong pengintai.
SHUA...SHUA...SHUA...SYAT...
Wijaya terus menuju dinding pembatas kota dan masih terus di hujani panah, lengak kirinya terkena anak panah, dengan tertatih melompati dinding pembatas setinggi 10 meter.
SHUA...JLEB
Pokra melihat kesempatan ini yang gemilang ini melempar buntar jagala, "ajian bedhama amogasakti, buntar jagala(akrepa tumboja/sengatan kalajengking)," teriak Pokra merapal ajian pamungkasnya, buntar jagala diselimuti aura ungu pekat, lalu Pokra melempar buntar jagala dengan sekuat tenaga dan mengarahkannya pada jantung Wijaya.
SHUA...BOOM
"Rasakan itu! berani kau bocah tengik melawan pasukan emas neraka, maka kematianlah yang akan mendatangimu, hahahaha!" teriak Pokra denga raut muka penuh kesombongan, karena berpikir Wijaya sudah terkena serangan buntar jagala miliknya.
Kepulan asap membumbung tinggi di dinding pembatas dekat menara pengintai, akibat lemaparan buntar jagala yang di lempar Pokra.
Penduduk kota julang emas yang dekat dengan dinding pembatas berhamburan keluar rumah, setelah mendengar suara ledakan dari dinding pembatas.
"Fyuh, hampir saja aku terkena buntar jagala itu, jika sedetik saja terlambat aku sudah menjadi tusukan!" Wijaya membatin dengan mengelap mukanya yang sudah pucat pasi.
Kepulan asap sudah hilang dari pandangan betapa kagetnya Pokra, menurutnya serangan itu sudah menewaskan Wijaya, "apa! bocah tengik! aku tak akan melepaskanmu!" Pokra menggertakan gigi penuh kekesalan karena serangan buntar jagalanya gagal.
Wijaya berhasil melompat melewati dinding pembatas dengan ketinggian 10 meter, chakra yang tersisa hanya 30%.
"Baladika adilaga, kami akan segera memanggil bantuan untuk mengerjar pemuda itu!" teriak bargawa sura di atas menara pengintai.
"Tidak perlu, aku akan mengejarnya sendiri dan mencincangnya sampai mati!" Pokra menyeringai jahat dan mengambil buntar jagala yang tertancap pada dinding pembatas. Pokra juga melompat melewati dinding pembatas untuk mengejar Wijaya.
Setelah melewati dinding pembatas pun Wijaya masih terus ditembaki banyak anak panah oleh bargawa sura.
SHUA..SHUA...SHUA...SHUA...SHUA...
__ADS_1
Wijaya lari sedikit terpincang menahan sakit karena kaki kirinya terkena anak panah. Darah terus menetes membasahi kaki kirinya. "Kalau begini terus aku bisa mati kehilangan darah!" Wijaya bergumam dalam hati dengan raut muka pucat pasi, karena darahnya banyak keluar.
Wijaya menyarungkan taiga maung loka dan menyimpannya pada ripela aksa di telapak tangan kanannya. Wijaya merobek sedikit celananya sambil terus berlari terpincang-pincang.
KROEEET...
Lalu menarik anak panah yang tertancap pada betis kirinya dengan sekuat tenaga sambil terus berlari dan berteriak karena sakit sekali, "Aaaaaaaargh!." Lalu mengikat betisnya dengan kain sobekan celananya.
Jarak Pokra dan Wijaya terpaut 20 meter karena Wijaya berlari terlalu cepat meskipun kakinya terluka. Wijaya masih berada pada jarak pandang Pokra, lalu Pokra menyarungkan jagala pada pinggang belakangnya, dan menambah kecepatan larinya untuk mengejar Wijaya.
Wijaya sudah memasuki hutan bagian luar, segera Wijaya melompat ke dahan pohon dan terus melompati dahan pohon secara cepat agar meninggalkan Pokra.
Namun Pokra juga tak mau kalah melihat Wijaya melompati dahan pohon, Pokra juga melompat ke dahan pohon dan mengikuti Wijaya.
Setelah setengah jam terjadi kejar-mengejar, Wijaya menemui jalan buntu karena di depannya jurang sedalam 10 meter, di bawah jurang ada sungai yang sangat jernih.
"Hahahaha, mau kemana lagi kau bocah tengik? kau tak bisa lari kemana-mana lagi?" teriak Pokra sambil menyeringai jahat.
Wijaya berdiri diam di antara tepi jurang, di depannya jarak 10 meter ada Pokra yang sudah siap menyerang bagai singa yang kelaparan dengan buntar jagalanya.
Wijaya kembali mengeluarkan taiga maung loka, dan bersiap dengan kuda-kuda teknik batoujutsu milik kensin himura yaitu kaki kanan di depan kaki kiri di belakang. Badan agak miring ke kiri dan di condongkan ke depan dengan tumpuan pada kaki kanan. Tangan kiri memegang sarung pedang tangan kanan memegang gagang pedang.
Jarak antara jurang dan Wijaya hanya 30 centimeter, jika Wijaya gagal maka ia akan tertusuk buntar jagala dan jatuh ke jurang. Jika Wijaya berhasil pun kemungkinan tidak jatuh ke jurang pun hanya sedikit berhasil.
Wijaya mengeratkan pegangan pada gagang dan sarung pedang, menyorotkan matanya dengan tajam serta menggertakan giginya, "ajian bedhama amogasakti, braza (panduroga kilin slasha/tebasan penghancur kilin)," gumam Wijaya merapal ajian pamungkasnya.
Chakra Wijaya terkuras 25%, taiga maung loka diselimuti aura berwarna hitam pekat, wiel aksa milik Wijaya pun bersinar merah pekat di tengah malam bulan purnama.
Pokra melesat maju menuju wijaya dengan ajian bedhama amigosakti, buntar jagala (akrepa mabutasa/tusukan kalajengking). Buntar jagala milik Pokra diselimuti aura ungu pekat dan terus maju menusuk Wijaya.
SHUA...
Wijaya masih diposisi yang sama tak bergeming menunggu momentum yang tepat untuk menarik taiga maung loka.
Pokra tersenyum jahat, "mati kau bocah tengik!" lalu mengambil jagala dipinggang belakang dengan tangan kirinya lalu melemparnya tepat ke arah jantung Wijaya.
__ADS_1
Wijaya yang menyadari jagala akan mengenai jantungnya segera merunduk.
SHUA..JLEB...CRAT...
Jagala yang dimiliki Pokra hanya mengenai pundak sebelah kiri Wijaya, "Akh." Pekik Wijaya menahan sakit tusukan jagala, namun kuda-kuda Wijaya tetap tak bergeming. Wijaya segera tersadar dari rasa sakitnya dan kembali menyorotkan mata yang tajam kembali.
Ujung buntar jagala masih terus lurus menusuk ke arah Wijaya, namun kini arah tusukannya berubah arah dari jantung menjadi kening Wijaya karena Wijaya merundukan badannya.
SHUA...
Ujung buntar jagala yang dimiliki Pokra berhasil menusuk kening Wijaya sedalam 1 centimeter, namun wijaya dengan secepat kilat menarik gagang taiga maung loka menebas kepala Pokra.
SLASH...SYAT...CRASH...
Kepala Pokra terpisah dari lehernya darah segar menyembur keluar seperti air mancur, Wijaya memundurkan diri agar ujung buntar jagala tak menusuk keningnya terlalu dalam.
Namun sayang, Wijaya lupa tak ada lagi tanah yang dipijak, Wijaya akhirnya jatuh ke jurang.
"!AAAAAAAAAAA," Wijaya berteriak keras kemudian jatuh ke dalam jurang dan masuk ke sungai yang cukup dalam, seketika pandangan Wijaya semakin gelap.
"Akankah aku akan berakhir disini!" Wijaya bergumam dalam hati.
**SWUUUUUUUSH...BYUUR...
Terima kasih para readers masih setia membaca novel pertama author Ksatria langit nusantara.
Mohon maaf jika tulisannya masih amburadul, masih terus memperbaiki.
Semoga para readers bisa menikmatinya.
Yuk nikmati membaca sambil minum kopi jeng gorengan singkong.
Mohon dukung author dengan memberikan like koment dan gift jika berkenan.
Jika ingin terus melihat novel author silahkan klik tombol favorit**.
__ADS_1