KSATRIA LANGIT NUSANTARA

KSATRIA LANGIT NUSANTARA
PENINGKATAN BLETA BORA


__ADS_3

Matahari kini sudah agak condong ke arah barat. Kerjasama antara kerajaan Brabang Sari, Kerajaan Kediri dan Kerajaan Dharma Ayu juga telah di sepakati.


12 penjaga yang di pimpin oleh Dorna juga sudah berkumpul di halaman istana, Shintadewi pun sudah meminta izin untuk tinggal di Kadipaten Maung Bahari.


Raja Raksa ditemani senopati Duryudana dan Raja Surya ditemani senopati Wirabumi juga sudah berada di halaman istana untuk kembali pulang menuju kerajaan masing-masing.


Bleta Bora pun sudah siap menunggu sedari tadi, "Yang Mulia Prabu apakah sudah siap? tanya Bleta Bora.


"Oh, sudah saudaraku! semuanya sudah berkumpul," jawab Wijaya Kusuma.


Bleta Bora bertransformasi menjadi siluman lebah yang cukup besar, bisa untuk dinaiki untuk satu orang.


**POFF...


(note Semua binatang yang dikontrak abadi oleh Wijaya Kusuma bisa melakukan 3 perubahan setelah Wijaya naik tahapan ke ksatria inggil. Perubahan Manusia utuh, setengah siluman, dan bentuk siluman penuh**).


Raja Raksa, Raja Raksa, senopati Duryudana dan Senopati Wirabumi terkesiap, karena baru pertama kali melihat manusia bisa berubah menjadi siluman.


Begitu pula Raja Angga dan Ratu Adiningrum serta senopati Arya juga terkesiap. Sampai-sampai membelalakan mata dan menjatuhkan rahangnya. Meskipun Wijaya sudah memperkenalkan Bleta Bora pada mereka bertiga namun tubuh Bleta Bora waktu itu hanya setengah siluman, tidak seperti sekarang bentuk penuh siluman.


"Dasar bocah gemblung! lagi lagi bikin jantungku mau copot saja. Dia itu selalu membuatku seperti ini, andai saja itu adalah cucu kandungku sendiri!" batin Raja Angga dengan raut wajah sedikit sedih.


"Sayang sekali!, aku tak punya seorsng putri kalau punya aku akan menjodohkannya dengan pemuda gemblung itu!" batin Raja Raksa masih dengan raut wajah kaget.


"Mungkin cucu perempuanku akan menyukai bocah tengik itu, jika bocah tengik itu berkunjung aku akan memperkenalkan pada cucuku itu, siapa tahu jodoh?" batin Raja Surya dengan raut wajah tersenyum ringan.


Shintadewi mendekat pada Wijaya, "anaku! ibu minta maaf tidak bisa melakukan ajian pancer bajra, raja kidang kuning. Karena persepsi energi quantum ibunda tidak sanggup menjangkau wilayah Kadipaten Maung Bahari," ucap Shiblntadewi dengan raut muka sedikit sedih.


"Tenanglah ibunda aku masih ada beberapa cara. Jika naik kuda mungkin membutuhkan waktu satu minggu ke Kadipaten Maung Bahari. Ditambah jika melalui jalur darat kita akan melewati wilayah bandit Dirgacitra yang mempunyai banyak anggota, dan itu cukup merepotkan," Wijaya coba menenangkan Shintadewi.


Wijaya kemudian mendekati Raja Raksa dan Raja Surya lalu membungkuk hormat, " yang mulia gusti prabu Raja Raksa dan yang mulia gusti prabu Raja Surya. Untuk sementara ini aku belum bisa berkunjung ke kerajaan Dharma Ayu dan Kerajaan Kediri. Karena Jalur perdagangan Kadipaten Maung Bahari menuju dunia luar telah di tutup oleh para bandit, aku harus membereskannya dahulu. Aku ingin membuka beberapa kerjasama pada kerajaan Dharma Ayu dan Kerajaan Kediri suatu saat nanti," Ucap Wijaya Kusuma dengan nada yang lembut.


"Baiklah pangeran kami mengerti!" ucap Raja Raksa dan Raja Surya serentak dan mengangguk pelan.

__ADS_1


Wijaya berpikir biarlah para raja yang lain tahu. Tak perlu ada disembunyikan bahwa Wijaya pemilik Mahkota kurusetra bhrevara, Wijaya juga sudah menganggap mereka adalah orang yang baik.


Wijaya mengeluarkan mahkota kurusetra bhrevara dari ripela aksa di telapak tangan kanannya.


SYUUUUUT.....


Dan memakai mahkota kurusetra di kepalanya.


POFF...


Penampilan Wijaya berubah dengan memakai pakaian kosawa berjubah emas. Wijaya terlihat sangat tampan, gagah dan berwibawa.


Wijaya melayang mendekati Bleta Bora, lalu menempelkan tangannya pada kening Bleta Bora. Tubuh Bleta bora diselimuti aura berwarna merah, dan mulai membesar 10 kali lipat dari sebelumnya secara perlahan


DUNG...DUNG...DUNG...


Hampir memenuhi setengah dari luasnya halaman istana Brabang Sari. Orang-orang yang berdekatan dengan Bleta Bora perlahan mundur, menjauhi tubuh Bleta Bora yang perlahan membesar.


Di saat Wijaya masih melayang muncul di punggung Wijaya sepasang sayap malaikat berwarna putih, lama kelamaan sayap itu perlahan berubah berwarna merah, teru sampai berwarna merah pekat darah.


Bunyi dentuman ledakan dari dalam tubuh Wijaya, aura merah pekat menyelimuti tubuh Wijaya Kusuma, bola-bola kecil seukuran kelereng berwarna merah pekat terbang mengelilingi tubuh Wijaya.


Bleta Bora naik enam tingkatan sekaligus, dari dendawa Inggil naik ke suryarama inggil, orang-orang yang melihatnya sampai menjatuhkan rahang mereka.


Pasalnya naik satu tingkatan saja butuh latihan yang cukup lama dan sumber daya yang banyak, sedangkan melihat Wijaya menaikan tingkatan Bleta Bora enam tingkatan sekaligus hanya dalam waktu kurang lima menit.


Tentu saja membuat mereka sangat kaget dan putus asa, serasa ingin memuntahkan seluruh asam lambung dari perut mereka.


Bola-bola kecil berwarna merah pekat seukuran kelereng yang sangat banyak, masuk ke dalam perut Wijaya.


SLURP...SLURP...SLURP...


Wadah jiwa chakra Wijaya, sudah mencapai 100%, efek penggunaan ajian juga berkembang pesat, daya rusaknya juga meningkat dan pertahanan tubuhnya juga meningkat serta kecepatan serangnya juga jauh lebih signifikan cepat.

__ADS_1


"Akhirnya, aku bisa belajar menggunakan ajian pancer agni," gumam Wijaya Kusuma.


Wijaya mendekat menuju Raja Angga, Ratu Adiningrum, dan Senopati Arya lalu memeluknya satu persatu. Mereka bertiga mengelus rambut Wijaya Kusuma dengan lembut.


Shintadewi pun melakukan hal yang sama seperti Wijaya, memeluk mereka bertiga dan mereka bertiga mencium kening Shintadewi. Ada raut kesedihan di wajah mereka bertiga.


Mereka beranjak pergi untuk menaiki punggung Bleta bora, diikuti Drona dan 12 Ksatria Penjaga Brabang Sari juga menaiki punggung Bleta Bora.


Wijaya melepaskan mahkota lalu menyimpan pada ripela aksa di telapak tangan kanannya, "baik waktunya kita pergi!, saudaraku kita berangkat," sayap Bleta Bora mulai dikepakan secara cepat.


NGUNG...NGUNG...NGUNG....


Wijaya dan lainya melambaikan tangan, "selamat tinggal kakek raja, nenek ratu dan kakek arya!" teriak Wijaya Kusuma.


"Hati-hati di jalan! jangan lupa berkunjung!" teriak Raja Angga.


Sementara itu Raja Raksa ditemani Senopati Duryudana dan Raja Surya ditemani Senopati Wirabumi pamit undur diri untuk kembali ke kerajaan masing-masing.


"Mahkota kurusetra ya! menarik bocah yang menarik!" batin Raja Raksa menyeringai jahat dan terus berlajan menuju kereta kuda kerajaan Kediri.


"Aku harus mencari informasi tentang mahkota kurusetra, aku tak menyangka akan menemukan pusaka selangka ini hahahah!" batin Raja surya menyeringai jahat dan terus berlajan menuju kereta kuda kerajaan Dharma Ayu.


Wijaya mulai terbang tinggi melewati istana Brabang Sari, melesat cepat menuju arah Kadipaten Maung Bahari.


Bleta Bora terbang begitu gagah membelah awan dengan perubahan warna tubuhnya semula hitam legam kini berwarna emas dengan loreng merah.


Terima kasih para readers masih setia membaca Novel pertama author Ksatria langit nusantara.


mohon maaf jika tulisannya masih amburadul, masih terus memperbaiki.


Semoga para readers bisa menikmatinya.


Yuk nikmati membaca sambil minum kopi jeng gorengan singkong.

__ADS_1


Mohon dukung author dengan memberikan like koment dan gift jika berkenan.


Jika suka silahkan klik tombol favorit.


__ADS_2