KSATRIA LANGIT NUSANTARA

KSATRIA LANGIT NUSANTARA
PERANG GERILYA BAGIAN 7


__ADS_3

***Jangan lupa berikan like, koment, vote dan gift jika suka setelah membaca.


Selamat menikmati, mohon dukung karya author dengan memberikan kritik dan saran yang membangun agar karya author bisa memberikan kepuasan.


Update setiap hari pukul 20.00 WIB***


Kombayana mengeluarkan pusaka kameya (belati) kembar dari belakang pinggangnya, Prabu Bagaskara juga mengeluarkan keris dari pinggangnya. Mereka beradu senjata dengan gerakan yang sangat cepat selama 30 menit, menebas, menusuk, sampai bertukar ratusan gerakan jurus. Namun belum ada tanda-tanda siapa yang akan kalah.


STANG...STING..STANG...STING...


"Ajian pancer bantala sewu kameya (elemen tanah seribu belati)," gumam Kombayana merapal ajiannya. Permukaan tanah yang dipijak Prabu Bagaskara berubah menjadi belati, Kombayana menggerakan tangannya dari jarak jauh seribu belati yang terbuat dari tanah, untuk menyerang Prabu Bagaskara.


SHUA...STING...SHUA...STANG..SYAT..SYAT...


"Matilah kau raja keparat!" teriak Kombayana dengan raut wajah geram dari balik topengnya. Serangan seribu kameya tanah sangat cepat, beberapa kameya tanah berhasil ditangkis oleh Prabu Bagaskara namun kameya lainnya berhasil menyayat tubuh Prabu Bagaskara.


"Aaaaakh!" Prabu Bagaskara mengerang keras setelah terkena ratusan sayatan kameya tanah yang sangat tajam. Tubuh Prabu Bagaskara bersimbah darah dengan banyak luka sayatan ditubuhnya. "Hahahaha, rasakan itu raja jahanam!" umpat serentak 9 hajdut yang melihat Prabu Bagaskara terpojok dan bersimbah darah.


"Ajian pancer bantala, putika bitaga (jebakan lumpur)," gumam Kombayana merapal ajiannya dan menaruh kedua telapak tangannya pada tanah. Tanah yang dipijak Prabu Bagaskara bergetar dan berubah menjadi lumpur hisap, lama kelamaan setengah tubuhnya tenggelam.


"Sial, aaaaargh! lepaskan aku, lepaskan, aku akan memberimu harta, jabatan dan wanita. Apapun yang kau mau aku akan berikan!" teriak Prabu Bagaskara dengan wajah pucat pasi. Kombayana menyeringai licik, "ajian pancer bantala, thera bantala (elemen tanah, tusukan tanah)." Tanah di sekitar Prabu Bagaskara berubah jadi runcing, dan menusuk semua bagian tubuhnya yang masih belum tenggelam.


SRING...SHUA..JLEB..JLEB...

__ADS_1


"Guhak!" Prabu Bagaskara memuntahkan darah, tubuhnya bersimbah darah, lama kelamaan memejamkan mata dan akhirnya mati. Kombayana terjatuh ke tanah dengan berlutut satu kaki, salah satu hajdut bergerak cepat menopang tubuh Kombayana. "Paduka! terima kasih!" Batin Kombayana lalu tak sadarkan diri kehabisan energi chakra.


Diluar istana kini hanya tersisa Nehan dan pangeran Natakusuma yang sedang bertarung. Semua pasukan Wasesa Jaya tak tersisa satu pun termasuk 100 pasukan bargawa yang berada di atas dinding pembatas, semuanya tewas di tangan Pangeran Natakusuma dengan menggunakan ajian pancer bantala tinika (duri tanah).


"Sial, kau bajingan! aku tak akan memaafkanmu yang telah membunuh teman-temanku. Ajian buntar jagala, akrepa nakatutuya (sengatan kalajengking)!" teriak Nehan dengan wajah merah padam merapal ajiannya. Buntar Jagala miliknya diselimuti aura ungu penuh racun mematikan.


Nehan melesat cepat menusuk bagian dada Pangeran Natakusuma. Dia berhasil menangkis serangan Nehan dengan ajian pancer bantala lembu sekilan. Tubuh pangeran Natakusuma berubah menjadi sekeras besi.


TRANG...


Nehan menyeringai licik lalu salto ke belakang dengan menumpu pada buntar jagala. "Guhak, apa yang terjadi dengan tubuhku, menjadi seperti ini?" Pangeran Natakusuma memuntahkan darah berwarna hitam, tubuh bagian dadanya berwarna hitam dan terus menyebar ke seluruh tubuhnya.


Pangeran Natakusuma mematung, "Bodoh sekali kau pangeran bedebah, itu adalah tacun setingkat ajian pancer bantala, lembu diamanti (lembu berlian). Tubuh besi seperti itu tak akan mampu melawan racunku itu, hahahaha!" Umpat Nehan dengan menyeringai jahat.


TRANG...


Kondisi kerajaan Bantani sungguh mengenaskan akibat perang gerilya yang dilakukan pasukan Wasesa Jaya yang di pimpin Wijaya. Bangunan istana, pasar dan rumah penduduk porak poranda tak ada yang tersisa hanya tinggal 2000 penduduk yang masih hidup. Semua pejabat tinggi melarilan diri entah kemana, mereka semua pengecut hanya berani berlindung di ketiak raja mereka, setelah raja mereka mati malah meninggalkannya.


Salah satu hajdut memapah Kombayana untuk menemui nehan yang berada di luar dinding pembatas istana. Mereka semua melepas topeng motif kelinci termasuk Nehan. "Apakah masih ada yang sanggup mengantar surat kemenangan ini pada paduka Wijaya dan Prabu Surya?" tanya Nehan dengan raut wajah sedikit ragu karena melihat kondisi 9 hajdut dan Kombayana yang cukup terluka sedang.


Bagaimana pun juga daerah kerajaan Bantani harus segera di amankan, jika tidak wilayah ini akan menjadi perebutan kerajaan lain bahkan kekosawaan Siliwangi nantinya. "Saya siap pergi gusti!" kata Munta salah satu hajdut di belakang hajdut yang memapah Kombayana.


Nehan menyerahkan gulungan surat, Munta bergegas pergi meninggalkan pasukan Wasesa jaya yang tersisa, dengan mengendarai kuda.

__ADS_1


Di dalam hutan Dharma Ayu tepatnya di sebuah gua Manggala sedang merawat Wijaya yang terluka parah, sebelum membawanya ke sebuah gubuk dekat sungai.


Manggala memastikan denyut nadi Wijaya ternyata masih berdetak meskipun lemah, kondisi Wijaya memprihatinkan, tubuhnya dipenuhi luka dan darah yang mengering. Tubuh yang begitu putih seputih salju kini berubah sehitam batu hajar aswad.


Dalam alam maha sadar Wijaya bertemu dengan kembaran dirinya, namum memakai jubah bermotif naga gokarya (naga api) berwarna merah.


"Kamu belum mati, hanya pingsan saja. Kamu itu keras kepala, jangan lewati batas dirimu sendiri!" ucap lembut kembaran diri Wijaya yang mendekatinya lalu mengetukan kedua jari (jari telunjuk dan jari tengah) di kening Wijaya.


Lukanya perlahan sembuh di alam maha sadarnya dan juga di alam nyatanya, tubuhnya juga kembali semula seputih salju namun rambutnya berubah menjadi berwarna merah, semerah api.


Manggala yang berada di alam nyata melihat Wijaya seperti itu terkesima dengan adegan penyembuhan yang belum pernah dia lihat sebelumnya, "oh dewata agung terima kasih, terima kasih telah menyelamatkan kakakku!" gumam Manggala sambil bersujud menyembah-nyembah ke arah barat (kiblat).


Kembaran diri naga gokarya memperlihatkan sebuah bayangan membentuk seperti cermin berdiameter 5 meter, muncul bayangan Nehan, Kombayana, dan Abimanyu di dalam portal seperti cermin.


"Lihatlah jika kamu terlalu keras kepala!, kamu tak akan mampu melindungi mereka semua."


Wijaya menitikan air mata, bagaimana pun juga Wijayalah yang menyeret mereka untuk berperang dan mengikuti rencananya. "Maafkan aku, jika aku terlalu keras kepala dan egois. Aku, aku, aku berjanji akan melindungi saudaraku semua. Aku belum cukup kuat saat ini." Wijaya menyeka air matanya dengan menundukan kepala, raut wajahnya penuh kebimbangan.


"Aku tak yakin dengan ucapanmu. Tekadmu saja masih lemah." Ejek kembaran diri naga gokarya sambil mengacungkan jempol kebawah. "Apa yang bisa kau janjikan, jika hanya kelemahan yang kau punya. Berhentilah untuk membuat sesuatu yang mustahil!"


"Aku akan membuktikannya padamu!, aku tak akan menyerah. jika kau ingin menungguku menyerah maka kau akan menungguku selamanya. Aku masih punya harapan meskipun cahaya harapan itu hanya secercah cahaya lilin, lihatlah! aaaaaaaaargh!"


Wijaya meraung keras, tubuhnya diselimuti api yang menyala-nyala namun tak membakar tubuh dan bajunya. "Sudah aku hanya main-main saja, aku percaya padamu. Aku titipkan padamu, inilah kitab pancer agni sansinu munda (putaran alam) lebih lengkap dari kitab pancer agni, sansinu munda milik maung loka."

__ADS_1


Kembaran diri naga gokarya berubah menjadi bulatan cahaya berwarna merah seukuran bola basket, lalu melayang masuk ke dalam dada Wijaya Kusuma.


__ADS_2