
Jangan lupa like, koment, gift, dan vote agar author semangat menulis lanjutan chapter novel ini.
Mohon kritik dan saran yang membangun agar novel ini lebih baik lagi, jangan sungkan langsung berikan komentar cabe sahabat readers di kolom komentar.
Untuk update sudah normal 1 chapter/hari pukul 20.00 WIB, maaf belum bisa crazy up lagi, maaf juga jika alur terlalu lambat. Yang kurang suka skip saja.
Fajar sudah menyingsing kidang kuning berubah jadi manusia. Seorang lelaki memakai mahkota dan baju bangsawan berwarna putih keemasan layaknya seorang raja. kulit sawo matang dengan jambang dan jenggot di sekitar muka, serta kumis yang tipis.
"Hormat pada paduka yang agung!" Ucap Kidang kuning, meninju telapak tangan lalu membungkuk hormat.
"........." Wijaya hanya diam dengan tersenyum lalu menanggukan kepalanya sedikit. "Mari kita pulang!" Ajak Wijaya. Mereka bertiga kembali ke penginapan padang bulan dengan berlari.
"Benar-benar edan! guru bisa menghidupkan siluman yang sudah mati! dia manusia atau iblis atau dewa?" Pikir Anarghya.
Sepanjang jalan Anarghya berpikir tentang siapa sebenarnya Wijaya, pemuda yang memberinya banyak hal. Anarghya tak habis pikir ada seorang pemuda seumuran dengannya kesaktiannya seperti tak tertandingi, bahkan bisa menghidupkan makhluk yang sudah mati.
Kidang Kuning meninggalkan rakyatnya demi mengikuti Wijaya. Dalam perjalanan Wijaya memikirkan tempat yang layak untuk rakyar kidang kencana, setiap siluman yang sudah dikontrak abadi oleh Wijaya, mereka semua bisa berubah 3 perubahan. Bentuk siluman, bentuk setengah siluman dan juga bentuk manusia.
Tentunya dengan begini mereka bisa berbaur dengan manusia seperti Bleta Bora, Maung Bodas, dan Karbara Sayuta yang sekarang hidupnya sangat sejahtera di bawah kepemimpinan Wijaya. Wijaya sudah meneriman Anarghya menjadi muridnya dan mengajari ajian bedhama gladiosa, agni pitayan (teknik senjata pedang, pedang 7 api) yang Wijaya buat sendiri ajiannya.
Akhirnya mereka bertiga sampai di penginapan padang bulan. "Guru aku akan pulang ke istana, nanti guru menyusul ya untuk mendaftar! soalnya aku hari ini di istana kerajaan ada sayembara pemilihan guru untuku. Meskipun guru adalah guru yang resmi untuku namun eyang Prabu memberiku syarat seperti itu!"
"Ya aku akan kesana, setelah membersihkan badanku!" Ucap Wijaya dengan raut muka datar. "Saudaraku kalau kamu cape istirahat saja di kamarku! aku akan pergi ke istana, setelah membersihkan diri. Mari masuk!" Ajak Wijaya sambil melambaikan tangan.
__ADS_1
"Permisi guru!" Anarghya membungkukan hormat.
"Ya!"
Anarghya pergi meninggalkan penginapan padang bulan, sedangkan Kidang uning dan Wijaya masuk ke kamar penginapan. Wijaya membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan pakaian pasukan Wasesa Jaya dan topeng kelinci lalu berjalan keluar dari penginapan padang bulan ke arah istana Kediri yang berada di bagian utara kotaraja. Sedangkan Kidang Kuning tidur di kamar Wijaya.
Wijaya berjalan perlahan akhirnya sampai di depan pintu gerbang istana, rakyat kerajaan Kediri sudah ramai berbondong-bondong untuk menyaksikan sayembara pencarian guru untuk pangeran Anarghya.
Para sesepuh dari berbagai perguruan sudah hadir di arena pertarungan untuk mengikuti sayembara. Matahari sudah sepenggalah naik, total ada 100 peserta dari 9 perguruan, setiap perguruan mengirimkan 9 sesepuh dan 10 dari luar perguruan. Wijaya menggunakan jalur VVIP karena pangeran Anarghya sendiri yang mendaftarkan tepat pagi tadi.
Prabu Raksa Wijaya berjalan menuju ke podium lalu berdiri di podium. "Hormat pada yang mulia gusti prabu!" Teriak semua rakyat serentak.
"........" Prabu Raksa hanya tersenyum dan melambaikan tangan di temani Ratu Darapuspita. "Salam sejahtera untuk kita semua, hari ini kami pihak istana ingin mengadakan sayembara pemilihan guru untuk pangeran Anarghya. Terima kasih semua sesepuh yang sudah berkenan hadir. Untuk hadiahnya kami akan memberikan upah perbulan 10 tera dan paviliun khusus di samping istana. "Baik untuk mempersingkat waktu kita mulai!"
"Pertandingan pertama perguruan bangau tong-tong melawan orang dari luar perguruan!" Teriak Patih Wirabumi.
Wijaya naik di arena 10 melawan ki mangun jagat dari perguruan bangau tongtong. Di 9 arena yang lain dalam 5 menit sembilan orang dari luar perguruan langsung dibuat tak berdaya dan langsung keluar arena.
"Cih memakai pakai pasukan seperti itu konon. kamu pikir aku takut, hyaaa!" Ki mangun jagat melepaskan pukulan ke arah Wijaya. Wijaya dengan muka datar masih terdiam, Pukulan keras yang dilancarkan ki mangun jagat menghantam dada Wijaya.
BANG....SHUAAA....BOOOM....
Arena 10 tertutupi kepulan asap dan debu. Wijaya dan Ki Mangun Jagat tidak terlihat karena terhalang kepulan debu dan asap. "Guhak! uhuk, uhuk, uhuk!" Ki Mangun jagat memuntahkan darah segar dan sudah berada di luar arena. Ternyata Ki Mangun Jagat terpental setelah memukul dada Wijaya.
__ADS_1
"Pemenangnya Wasesa Jaya!" Teriak Patih Wirabumi. Wijaya menyuruh Anarghya mendaftarkan dirinya sebagai Wasesa Jaya bukan sebagai Wijaya sendiri, karena kalau mendaftarkan dengan nama Wijaya pasti Prabu Raksa akan tahu dan itu yang tidak diinginkan Wijaya.
Pertandingan sudah berlangsung lama hanya tersisa 10 orang dari 9 perguruan dan termasuk Wijaya dari orang luar perguruan. "Baik karena tersisa 10 orang kami hanya akan mengundi dengan nama setiap peserta." Patih Wirabumi mengambil bola berisikan nama dari setiap peserta di dalam kotak.
"Ki Salikin melawan Ki Bogatjana!" Teriak Patih Wirabumi. Ki salikin membawa kipas besi sebagai senjatanya sedangkan Ki Bogatjana membawa dua celurit. Mereka berdua memasuki arena.
"Hai kakek tua! menyerah saja, nanti encokmu kambuh!" Cibir Bogatjana.
"Eleh, eleh, eleh bukannya kamu umur masih 40 tahun tapi anumu udah lembek!" Cibir lagi Salikin.
"Berani kau menghinaku kakek tua gila, rasakan celuritku ini!" Bogatjana termakan provokasi Ki Salikin dan langsung menebas-nebas Salikin. Namun Salikin sangat lincah dan tenang menghindari tebasan celurit Bogatjana. "Dasar ayam sayur kau kakek tua bisanya cuma menghindar, bagaimana kalau begini! Rasakan!"
SLASH...SLASH..SLASH...
Bogatjana melemparkan kedua celuritnya dan melayang mengejar Ki salikin. "Hebat juga pendekar anu lembek itu!" Batin Ki Salikin sambil menahan serangan celurit terbang milik Bogatjana.
TRANG...TRANG...TRANG...
"Ajian bedhama, kipas kamatayan (kipas kematian)!" Ki salikin mengalirkan energi chakra pada kipasnya lalu mengibaskan kipas besi miliknya. Angin besar berwarna hitam pekat muncul dan mengarah ke Bogatjana, celurit yang terbang di udara itu terpental dan menaancap di luar arena.
"Kau pikir dengan ajian seperti itu bisa mengalahkanku! sungguh tak berguna! Ajian pancer bantala, (dinding tanah)!" Bogatjana memukul tanah dengan keras muncul dinding tanah setinggi 10 meter diarena. Angin hitam itu menabrak dinding tanah dan langsung menghilang, Bogatjana menghilang dengan berkedip dari balik dinding lalu muncul di samping Ki Salikin menghantamkan tendangan keras ke dada Salikin.
BANG...SHUA...BOOM...
__ADS_1
Salikin terpental keluar arena. "Pemenangnya Bogatjana dari perguruan kumbang jantan!" Teriak Patih Wirabumi.