KSATRIA LANGIT NUSANTARA

KSATRIA LANGIT NUSANTARA
PENGIRIMAN


__ADS_3

Setelah satu hari, akhirnya Wijaya dan rombongan penghantar ikan, berhasil tiba di pintu pos perbatasan antara kerajaan Caruban Nagari dan kerajaan Dharma Ayu.


Wijaya sama sekali tidak beristirahat demi mengejar waktu, agar ikan yang dikirim kualitasnya tidak menurun.


Wijaya dan rombongan penghantar ikan melewati pos pemeriksaan perbatasan yang berada di desa Singaraja, letaknya di jalur pantai utara.


Dari perbatasan ke kota raja Dharma Ayu masih butuh waktu 1 jam perjalanan, Wijaya menyuruh berhenti sesaat untuk membagikan makanan dan minuman lalu melanjutkan kembali perjalanan.


Ikan yang akan di hantar ke restoran mewah Kala Asta adalah restoran khusus makanan ikan. Meskipun daerah kerajaan Dharma Ayu adalah pantai, namun kualitasnya ikannya kalah jauh dengan Kerajaan Brabang Sari.


Wilayah laut kerajaan Dharma Ayu tercemar, akibat penambangan bawah laut yang di lakukan kerajaan Batavia dan kerajaan Bantani.


Kerajaan Dharma Ayu sudah mengirimkan utusan untuk menegosiasikan masalah tersebut tapi selalu ditolak oleh dua kerajaan tersebut.


Kerajaan Dharma Ayu tak berani mengajukan perang meskipun ekonominya meningkat namun persenjataan dan kekuatan militer mereka lemah setelah hilangnya pamilya Jayantaka.


Pamilya Jayantaka dan pamilya Kusuma adalah pondasi besar kerajaan Dharma Ayu. Pamilya Jayantaka adalah ahli pembuat dan pemasok senjata sedangkan pamilya Wijaya adalah ahli strategi perang dan bela diri.


Setelah satu jam perjalanan akhirnya Wijaya dan rombongan sampai di pintu gerbang kota raja Dharma Ayu. Banyak penjaga lalu lalang dan silih berganti, baik di menara pengintai dan pintu gerbang utama kota raja.


Wijaya kembali melambaikan tangan untuk berhenti sesaat dan mencari semak-semak untuk mengganti pakaian bangsawannya. Maklum Wijaya punya mata yang bisa menyimpan apa saja seperti kantong ajaib doraemon.


Wijaya berjalan menuju pintu gerbang utama kota raja, lalu memberikan lencana yang diberikan raja Surya tempo hari pada ksatria binting yang menjaga, "mohon maaf paman, kami minta izin masuk! tujuan kami restoran Kala Asta!"


"Baiklah tuan silahkan masuk! tuan tinggal lurus saja! restorannya terlihat dari sini!" ucap ksatria binting setelah melihat lencana Wijaya. Ksatria binting tahu lencana itu adalah bukan lencana biasa melainkan tamu khusus raja. Jadi ksatria binting tak mau berurusan dengan tamu penting kerajaan.


"Terima kasih paman, mohon diterima sebagai rasa terima kasih kami!" ucap Wijaya sambil memberikan kantung uang berisi 10 mega.


"Terima kasih gusti apa perlu aku hantar?" tanya ksatria binting dengan mata berbinar-binar setelah diberi uang oleh Wijaya.


"Tidak perlu paman, terima kasih!" Wijaya menudukan kepalanya sedikit.

__ADS_1


Wijaya dan rombongan berjalan perlahan memasuki kota raja, banyak warga yang memperhatikan rombongan Wijaya yang begitu panjang berjalan. Ya bintang utamanya tentu saja Wijaya, banyak perempuan terpesona dengan ketampanan Wijaya yang berwibawa memakai baju kebangsawanan pangeran.


"Siapa itu sangat tampan?"


"Andaikan saja, andaikan saja, dia adalah miliku."


"Aku rela menjadi istri keduanya."


"Ketampanannya seperti malaikat."


Teriakan-teriakan perempuan kota raja yang memuja dan memuji Wijaya. "Yang mulia gusti prabu, anda sangat terkenal disini!" ledek salah satu berah adilaga yang berjalan di belakang Wijaya.


"Ah sudahlah, pesonaku memang tiada tanding!" Wijaya dengan raut wajah bodoh menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Setelah 10 menit berjalan Akhirnya sampai di restoran Kala Asta, bangunan megah berwarna coklat keemasan dengan gapura bercorak garuda di depannya, bak istana keraton. Banyak pelanggan restoran yang sedang duduk menunggu pesanan mereka.


"Permisi tuan! ada yang bisa kami bantu?" ucap salah satu pelayan dengan tersenyum ramah pada Wijaya dan rombongan. Kereta kuda yang membawa ikan berjejer rapi kebelakang di depan gapura restoran Kala Asta.


"Kami ingin bertemu pemilik restoran Kala Asta ini, kami mengirimkan pesanan ikan 10 ton yang telah dipesan oleh pemilik restoran ini. mohon bantuannya!" ucap Wijaya dengan tersenyum ramah.


Wijaya melihat para lija, berah adilaga dan nelayan mukanya begitu lesu membuatnya kasihan, karena sudah hampir 2 hari belum makan enak, hanya makan beberapa roti kering saja. "Paman semua, kalian duduklah dahulu dan pesan makanan sepuasnya!" ucap Wijaya dengan tersenyum ramah.


"Sendiko yang mulia gusti prabu!" ucap serentak para berah adilaga, para lija dan para nelayan. Suara mereka memenuhi ruangan restoran, semua orang yang duduk menoleh ke arah Wijaya.


"Ssst, jangan keras-keras tak enak kita mengganggu orang lain sedang makan!" ucap Wijaya sambil menaruh jari telunjuk di tengah bibirnya.


Mereka pun diam hening bening tak bersuara, "Pelayan! pelayan! kami ingin memesan!" Ucap Wijaya memanggil pelayan. "Ya tuan mau pesan apa?" tanya pelayan dengan tersenyum ramah. "Silahkan tanya satu persatu saudaraku ini semua!" Wijaya sambil menunjuk dengan jempolnya ke arah rombongan yang sedang duduk. "Baik tuan!" jawab pelayan dengan tersenyum ramah. Pelayan pun mulai bertanya satu persatu kepada rombongan perihal pesanan makanan untuk mereka.


Dari dalam restoran datang berjalan dengan anggun, seorang wanita berambut putih dengan kulit putih pasi seperti salju, berpupil mata maputi aksa, bibir merah alami, hidung mancung, mata agak sipit, dengan gunungan kembar yang cukup besar, memakai gaun kebangsawanan berwarna pink. Umur 19 tahun dengan tinggi 175 centimeter.


Wijaya menghampiri perempuan tersebut untuk menyambutnya, "perkenalkan saya Asmarini Kusuma pemilik restoran Kala Asta, mohon maaf jika menunggu lama!" ucap Asmarini sambil menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan.

__ADS_1


"Tidak apa-apa nona Asmarini, saya Wijaya Kusuma dari kerajaan Brabang Sari, senang berkenalan dengan nona Asmarini!" ucap Wijaya sambil menyambut tangan Asmarini.


"Oh dewata tangan yang halus dan lembut sekali, aku belum pernah merasakannya!" batin Wijaya dengan pipi memerah.


"Pria yang sangat tampan, mengapa jantungku berdegub kencang, ah!" batin Asmarini dengan muka memerah.


Mereka lama sekali berjabat tangan, ehem, ehem, ehem," pelayan di samping Asmarini berdehem keras. "Oh maaf, maaf, mohon tuan Wijaya tunjukan jalannya untuk melihat ikannya!" ucap Asmarini dengan tersenyum ramah.


"Baik, mari nona!" Wijaya dengan tersenyum ramah.


Wijaya dan Asmarini berjalan ke depan restoran untuk mengecek ikan yang dikirim Wijaya, Asmarini mulai mengecek satu persatu kereta kuda yang berisi kotak ikan.


Meskipun Asmarini bisa menyuruh pegawainya tapi Asmarini sangat senang jika ia bisa melakukannya sendiri dan mengontrol kualitas barangnya, "Silahkan tuan bawa masuk ikannya, kualitasnya sangat bagus, sebenarnya jumlah ini kurang dari yang kami pesan. Rumor tentang bandit Agrariyin membuat kami harus mengurangi pesanan karena takut dirampok ditengah jalan." Ucap Asmarini dengan raut muka kecewa.


"Kami bisa mengirim lebih banyak dengan kualitas yang sama, kami jamin dan mengamankan jalur perdagangan dari Brabang Sari, asalkan harganya dua kali lipat dari harga pasaran. Bandit Agrariyin sudah kami bersihkan, nona tenang saja. Jika kualitas kami menurun dan berat pesanan nona berkurang, nona tidak usah membayar kami, bagaimana nona?" ucap Wijaya menyeringai jahat.


"Dasar pria licik, berlidah manis!" batin Asmarini.


"Baik kita bicarakan perjanjiannya di dalam, bawa masuk dahulu tuan ikannya ke gudang penyimpanan di belakang restoran!" seru Asmarini.


"Baik nona!" ucap Wijaya lalu merapal ajian," ajian sagisaga, gamana katakawa!." Wijaya menjentikan jarinya, semua kotak berisi ikan yang berada di kereta kuda melayang dan Wijaya juga melayang dan terbang menuju gudang penyimpanan ikan di belakang restoran Kala Asta.


Untuk update author terus usahan sehari dua kali, untuk waktunya tidak menentu ya sahabat ksatria.


**Terima kasih para readers masih setia membaca Novel pertama author Ksatria langit nusantara.


mohon maaf jika tulisannya masih amburadul, masih terus memperbaiki.


Semoga para readers bisa menikmatinya.


Yuk nikmati membaca sambil minum kopi jeng gorengan singkong.

__ADS_1


Mohon dukung author dengan memberikan like koment dan gift jika berkenan.


Jika suka silahkan klik tombol favorit**.


__ADS_2