
Akhirnya Manggala menceritakan semuanya bahwa dirinya adalah anggota pamilya Saputra yang terakhir karena kekejaman kosawa Hyang Dapunta Sri Jayanasa yang menelan batu mustika naga Sugriwa.
Batu itu konon ditemukan di pantai Dermaga tanjung sungai gerong di kotaraja Sriwijaya oleh Hyang Dapunta Sri Jayanasa ketika sedang berburu di hutan tepi laut palung sunda.
"Tuan apakah tanda bulatan kepala naga itu ada sejak lahir?" tanya Manggala pada Wijaya dengan menunjuk menggunakan jempolnya pada segel bulatan kepala naga yang ada di dahinya. Karena Wijaya lupa menonaktifkannya kembali setelah menyembuhkan Manggala Saputra.
"Oh ya kata ibundaku Shintadewi memang sudah ada sejak lahir!" Jawab Wijaya dan tak ingin menceritakan semua rahasianya pada khalayak ramai kalau dirinya terlahir dari batu bintang Bharatayudha dan mempunyai saudara kembar yaitu naga badranaya.
"Izinkan hamba mengabdi pada tuan!" Manggala berlutut satu kaki dan meninju telapak tangannya sambil menundukan kepala. Wijaya mempunyai firasat sepertinya Manggala mengetahui sesuatu, mungkin ada petunjuk untuk mencari saudara kembarnya.
"Baik, aku terima menjadi saudaraku. Aku tak ingin ada ikatan gusti dan hamba, yang aku inginkan hanya saudara biar tak ada batas di antara kita! tak ada terima kasih di antara kita" Ucap Wijaya Kusuma dengan tersenyum ramah dan mengangkat tubuh Manggala yang berlutut satu kaki.
"Ehem, ehem, maafkan kami karena membuang wakty berhargamu pangeran! sebaiknya pangeran dan nak Manggala tidur saja di istana Fonsamari, biar para pelayan yang menyiapkan kamar untuk pangeran dan nak Manggala. Besok pagi baru kita mengurus semua surat kepemilikan tanah, kereta kuda dan kapal besar milik pangeran yang dihadiahkan dari restoran Kala Asta." Pinta Raja Surya.
"Terima kasih gusti prabu!" ucap Wijaya dan Manggala serentak sambil membungkuk hormat.
Mereka semua beranjak ke kamar masing-masing, Wijaya dan Manggala satu kamar sebelum ke kamar Manggala ke ruangan khusus pengobatan untuk mengambil Nuolia Pasopati dan kitab pancer banu aigua rumi.
Manggala masuk ke dalam kamar, Wijaya sudah berada di dalamnya sambil membaringkan tubuh menengadah ke atas melihat langit-langit kamar. Wijaya beranjak dari tempat tidurnya setelah mendengar suara pintu yang dibuka Manggala.
"Pusakamu sepertinya sedikit rusak biar aku perbaiki sekarang! apa nama pusaka ini?" tanya Wijaya sambil memegang pasopati.
"Memang kak Wijaya bisa memperbaikinya. Pusaka ini salah buatan Empu Culuk yang terkenal dengan julukan 7 pusaka dari surga, namanya Pasopati. Pusaka ini rusak satu minggu lalu waktu terkena serangan nuolia kosawa bedebah itu. Aku berpikir tidak ada yang bisa memperbaikinya selain Empu Culuk. Kabarnya beliau menghilang di telan bumi entah kemana." Kata Manggala dengan raut muka sedih.
"Sudahlah tidur aku akan memperbaikinya jadi lebih baik lagi. Kalau aku bisa menemukan batu mustika yang mempunyai binatang suci dengan pancer banu mungkin akan lebih cocok denganmu!" Ucap Wijaya Kusuma.
__ADS_1
"Baik, mungkin nanti saja kak. Kalau kita bisa menangkap binatang suci Lembuswara. Keberadaannya juga sangat susah ditemukan meskipun berada di bimantala Suramatra." Ucap Manggala yang sudah berbaring di tempat tidur.
Manggala pun tidur, sedangkan Wijaya melanjutkan memperbaiki pusaka Pasopati milik Manggala. Wijaya menelan 10 pil tehostin dan menyalakan berdeva agni pada ripela aksa di telapak tangan kirinya. Lalu mengeluarkan formasi pagprorma dan melelahkan pusaka Pasopati menjadi cairan dengan mengkonsumsi energi reiki 5%
Selama 3 jam Wijaya berhasil memperbaiki Pasopati dengan bentuk sedikit berbeda, lengkungan panahnya lebih kecil sedikit dari sebelumnya berwarna biru laut dan senar panahnya bening seperti kaca.
Wijaya pun ngantuk lalu tidur dan meletakan nuolia pasopati di samping Manggala.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan paginya Wijaya dan Manggala beserta rombongan Raja Surya kembali ke istana Dharma Ayu untuk mengurus surat kepemilikan tanah dan kamar dagang untuk Wijaya.
Sedangkan Manggala pergi ke restoran Kala Asta menemui para nelayan dan para prajurit Wijaya untuk berkenalan dengan mereka. Kapal dan 100 kereta kuda sudah di siapkan di dermaga pantai Tirtamaya.
"Mohon maaf gusti putri! apakah sudah mengenal lama pangeran Wijaya?" tanya Manggala dengan raut muka penasaran, karena ketika perjalanan dari istana Fonsamari ke wilayah kerajaan Dharma Ayu mereka begitu sangat akrab.
"Tidak aku baru saja berkenalan dan bertemunya kemarin." Jawab Asmarini dengan tersenyum ramah. "Memangnya kenapa?". Manggala menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Tidak apa-apa, aku pikir kalian berpacaran, heheheh."
"Ah, tidak kami tidak berpacaran. Bagaimana mungkin baru bertemu bisa langsung jatuh cinta?" Asmarini menggembungkan pipinya dengan wajah semerah tomat karena malu.
"Hmmmm, nampaknya kita akan menghadapi perang kembali." Manggala menghela nafas panjang, "dimana-mana peperangan terus berkobar."
"Bagaimana kamu tahu kerajaan Dharma ayu akan berperang dengan kerajaan Batavia dan Bantani?" Tanya Asmarini dengan raut muka penasaran. "Aku tidak tahu hanya sebuah firasat dan firasatku selalu tepat!" Jawab Manggala dengan muka datar.
Lalu bagaimana sikapmu jika kerajaan Dharma Ayu berperang? aku tahu kau bukan dari Dharma Ayu." Ucap Asmarini dengan raut menyeringai sinis. "Aku sudah tak punya tanah air dan sekarang aku hanya punya kak Wijaya, jika aku memilih tentu aku akan membantu sekuat tenaga, bagaimana pun kalian telah menolongku sebagai balas budi. Meskipun tak sebanding dengan apa yang kalian berikan." Jawab Manggala dengan raut muka sedih.
__ADS_1
Asmarini sangat puas terhadap jawaban Manggala, pemuda yang penub prinsip. Asmarini meninggalkan Manggal di meja makannya. Masuk ke dalam ruangannya dan mengambil sebuah baju seragam berwarna hitam bercorak awan merah.
"Inilah baju seragam pasukan khusus Dharma Ayu yang aku buat, aku ingin kau memakainya sebagai bagian dari Dharma Ayu, kapanpun kamu kembali ke Dharma Ayu kami semua menerimamu!" Ucap Asmarini sambil memberikan seragam hitam corak awan merah.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Sementara itu di istana Dharma Ayu, Wijaya dan Raja Surya sedang berdiskusi tentang peperangan yang akan terjadi yang sudah di depan mata.
Wijaya punya ide gila yaitu membantai semua pasukan kerajaan Batavia dan Bantani sendirian, karena tidak ingin melibatkan kerajaan Dharma Ayu. Dengan begitu dalam rencana bisa mengambil 3 tempat sekaligus di kekosawaan Siliwangi dan semuanya berada di jalur pantai utara.
Wijaya ingin memonopoli perikanan, pertanian, dan pertambangan bawah laut, di kekosawaan Siliwangi untuk melemahkan kekuatan mereka sementara waktu sampai Wijaya bisa meredam gejolak api dalam sekam yang dibuat kekosawaan Siliwangi.
Sehingga target mereka akan berubah tidak lagi Kerajaan Dharma Ayu menjadi target pembunuhan tapu Wijayalah nantinya akan di targetkan. Namun Wijaya juga akan mengumpulkan kekuatan tempur dunia bawah yang sudah Wijaya susun dan rapi tanpa siapapun tahu, yaitu melobi kerajaan Caruban Nagari.
Posisi Kerajaan Caruban Nagari ada di tengah kekosawaan jika berhasil melobi mereka menjadi sekutu maka Wijaya akan diuntungkan secara posisi bisa menyerang semua kerajaan di kekosawaan Siliwangi baik jalur darat, jalur air melalui sungai maupun udara.
****Untuk update author terus usahan sehari empat kali, untuk waktunya tidak menentu ya sahabat ksatria.
**Terima kasih para readers masih setia membaca Novel pertama author Ksatria langit nusantara.
mohon maaf jika tulisannya masih amburadul, masih terus memperbaiki.
Semoga para readers bisa menikmatinya.
Yuk nikmati membaca sambil minum kopi jeng gorengan singkong******.
__ADS_1