KSATRIA LANGIT NUSANTARA

KSATRIA LANGIT NUSANTARA
ISTANA JULANG EMAS


__ADS_3

Mereka bertiga terbang menaiki punggung Bleta Bora, "Kita berangkat menuju Kadipaten Maung Bahari!" perintah Wijaya Kusuma melalui telepati.


"Mohon maaf yang mulia gusti prabu! ibunda yang mulia sedang berada di kota Julang emas. Kami berhasil merebut kota Julang Emas dari Adipati Durasa dan mengalahkan Bandit Dirgacitra," ucap Bleta Bora yang sedang terbang menuju kota Julang Emas melalui telepati.


"Baik menuju kesana sauadaraku!" perintah Wijaya Kusuma.


Hari sudah beranjak petang, semua burung kembali ke sarangnya masing-masing. Pasukan Bleta Bora terbang menuju kota Julang Emas menyusuri hutan urip mokswa.


Setelah satu jam perjalanan mereka akhirnya sampai di kota Julang Emas, hari sudah gelap bintang-bintang mulai bertebaran di langit yang gelap ditemani cahaya bulan sabit.


Wijaya melihat Drona di pusat Kota Julang Emas yang sedang di bangun, "Saudaraku itu paman Drona mari kita kesana!" perintah Wijaya sambil menunjuk ke arah paman Drona.


Bleta Bora menyuruh para Bleta Permoda kembali ke sarang di Kadipaten Maung Bahari. Wijaya turun perlahan dan turun dari punggung Bleta Bora.


Drona melihat Bleta Bora turun membawa Wijaya memerintahkan Prasetya untuk memberitahukan Shintadewi bahwa Wijaya sudah pulang, "Prasetya! beri tahu yang mulia putri mahkota bahwa pangeran sudah kembali!"


"Sendiko gusti! Prasetya membungkuk hormat lalu pamit undur diri menuju tambang julang emas menggunakan kuda.


"Hormat pada yang mulia pangeran!, selamat datang kembali!" Drona sambil membungkuk hormat.


"Terima kasih paman telah menyambut kami semua, kenalkan ini kakek Empu Culuk dan saudaraku binatang suci, Prabu Karbara Sayuta!" kata Wijaya sambil menunjuk dengan jempol kanan pada Empu Culuk dan Karbara Sayuta.


"Hormat pada Empu Culuk dan Prabu Karbara Sayuta!" Drona membungkuk hormat.


"Nak Drona! Lurai Jatmiko dimana?" tanya Empu Culuk.


"Empu Lurai Jatmiko berada di Kadipaten Maung Bahari sedang melanjutkan pembangunan Kadipaten Maung Bahari," jawab Drona.


"Kakek Empu pulanglah bersama Paman Drona ke Kadipaten Maung Bahari bersama saudaraku Bleta Bora. Katakan pada paman Jatmiko besok kita akan mengadakan rapat di Kadipaten Maung Bahari."


Dan suruh juga saudaraku Maung Bodas, kembali ke Kadipaten Maung Bahari dan suruh 200 pasukan Maung Lodaya untuk menjaga kota Julang Emas." Perintah Wijaya Kusuma dengan tersenyum manis.


Bleta Bora yang membawa Drona dan Empu Culuk, terbang pergi menuju markas bandit Dirgacitra untuk menjemput Maung Bodas lalu pergi menuju ke Kadipaten Maung Bahari.


Wijaya menggunakan ajian baladewa among slira untuk membuat kediaman adipati seorang diri, muncul 1000 kembara diri Wijaya Kusuma. Wijaya mengkonsumsi 3 energi sekaligus untuk membuat 1000 kembaran diri, yaitu Reiki, Qi, dan Chi. 3 energi itu langsung habis tak tersisa.

__ADS_1


Wijaya lalu mengerahkan 1000 kembaran dirinya untuk melanjutkan pembangunan kediaman baru adipati.


Karbara, 11 ksatria penjaga dan penduduk berdecak kagum melihat apa yang dilakukan Wijaya Kusuma.


"Luar biasa!"


Sangat tampan dan berbakat!"


Siapa dia, aku rela menjadi istrinya!"


Banyak teriakan penduduk yang memuji Wijaya Kusuma.


"Yang mulia paduka sangat luar biasa! aku tak salah mengikutinya. Meskipun aku adalah binatang suci terbengal dari semua binatang suci yang selalu membantah kosawa kurusetra sebelumnya, karena dia mesum!" gumam Karbara membatin.


"Aku akan menjadi lebih kuat seperti pangeran Wijaya!" gumam serentak 11 ksatria penjaga.


1000 kembaran diri Wijaya dan Wijaya bekerja keras membangun kediaman adipati yang baru tanpa henti selama 12 jam, "Hah, hah, hah, akhirnya selesai juga!" Wijaya mendengus pelan karna capek bekerja tanpa henti.


Akhirnya Wijaya tertidur pulas di depan gapura istana, kembaran diri Wijaya pun menghilang. Karbara menyelimuti Wijaya di yang sedang tertidur pulas, " yang mulia paduka sangat bekerja keras. Aku tak menyangka seorang yang punya pasukan dan wibawa mau melakukan perkerjaan ini sendiri," batin Karbara.


Matahari sudah sepenggalah naik, kicauan burung pun meramaikan suasana kota julang emas dan penduduk beraktivitas seperti biasa, ada yang berjualan dan ada yang bekerja di pusat kota.


Semua penduduk yang lalu lalang melewati bangunan yang di bangun Wijaya semalam terkagum-kagum dengan bangunan yang dibuat Wijaya yang begitu indah.


Dari arah pintu barat kota julang emas dua orang yang mengendarai kuda mendekat dengan sangat cepat, dia adalah Prasetya dan Shintadewi.


"Anaku dimana anaku!" teriak shintadewi yang terus melajukan kudanya dengan cepat.


Kuda yang dikendarai Shintadewi terus melaju cepat semua penduduk membukakan jalan karena tahu ia adalah putri mahkot Brabang Sari.


Melihat Wijaya tidur yang memakai selimut di depan gapura dan beralaskan tanah, Shintadewi langsung menarik erat tali kekang kuda dengan keras sehingga kuda mengerem mendadak.


Shintadewi langsung turun dari kuda dan memeluk Wijaya dengan erat sambil meneteskan air mata, "hiks, hiks, hiks, anaku kamu selamat! ibu sangat mengkhawatirkanmu, hiks, hiks, hiks!."


Karbara yang sedari duduk di samping Wijaya untuk menemani juga ikut menangis, "hiks, hiks, hiks, kenapa aku malah ikut menangis juga melihat pertemuan ibu dan anak seperti ini?" Karbara menyeka air matanya.

__ADS_1


Wijaya yang sedang tidur, tiba-tiba terbangun d karena pipinya terkena tetesan air mata Shintadewi, "hoaaam, apakah terjadi hujan begitu deras?" Wijaya membuka matanya perlahan dan menguap.


"Ibunda! ibunda kenapa menangis?" tanya Wijaya membelalakan mata melihat Shintadewi menangis.


"Tidak apa-apa nak, ibu hanya rindu dan khawatir padamu. Kami sudah mencarimu 4 hari namun belum menemukanmu keberadaanmu, hiks, hiks, hiks!" kata Shintadewi yang masih menangis.


"Sudah ibunda jangan menangis lagi, aku sudah pulang!" Wijaya melepaskan pelukan Shintadewi lalu menyeka air matanya.


"Sudah kita masuk ke dalam saja! aku sudah menyelesaikan kediaman adipati semalaman sendiri!" kata Wijaya dengan raut muka malas karena masih mengantuk.


Mereka bertiga masuk ke dalam kediaman adipati yang baru, dengan Wijaya berjalan beriringan dengan Shintadewi dan di belakang mereka berdua Karbara Sayuta.


Setelah satu jam beristirahat di dalam, Shintadewi keluar halaman kediaman dan memerintahkan beberapa pasukan bargawa untuk mengumpulkan warga Julang Emas berkumpul di balai warga kediaman Adipati yang baru.


Semua warga antusias berkumpul di balai warga untuk mendengarkan pengumuman pemimpin baru mereka.


"Masa tirani telah berlalu, dan kita semua berhasil melewati masa-masa itu. Kini songsong masa depan kota julang emas dengan penuh semangat. Pertama kediaman Adipati ini aku beri nama Istana Julang Emas."


"Kedua kami membutuhkan para pemuda untuk belajar di perguruan militer untuk menjaga keamanan dan ketertiban kota julang emas, barangsiapa mau menjadi ksatria akan kami beri gaji 3000 kiga/bulan."


"Ketiga pertambangan julang emas akan kami buka barang siapa yang mau bekerja di sana akan kami beri upah 2500 kiga/bulan."


"Keempat kami juga membutuhkan para ahli pemahat dan pembuat perhiasan untuk membuat jenis perhiasan-perhiasan yang unik dan menawan. Bagi para ahli yang mampu kami akan memberikan gaji 1 giga/bulan."


"Kelima kami juga membutuhkan pelayan untuk istana julang emas yang bisa ilmu kanuragan, kami gaji 4 mega/bulan." Teriak Shintadewi penuh semangat.


Semua warga bersorak gembira karena mereka bisa hidup nyaman dan sejahtera tanpa tekanan seperti sebelumnya.


**Terima kasih para readers masih setia membaca Novel pertama author Ksatria langit nusantara.


mohon maaf jika tulisannya masih amburadul, masih terus memperbaiki.


Semoga para readers bisa menikmatinya.


Yuk nikmati membaca sambil minum kopi jeng gorengan singkong.

__ADS_1


Mohon dukung author dengan memberikan like koment dan gift jika berkenan.


Jika suka silahkan klik tombol favorit**.


__ADS_2