
Setelah setengah jam berjalan pelan, akhirnya pasukan Wijaya sampai di tepi pantai. Namun mereka bersembunyi di gua bawah batu karang, sedangkan Wijaya coba menyelinap masuk untuk mencari informasi.
Karena mereka siluman Wijaya punya rencana, Wijaya menggunakan ajian baladewa, brabata naga dan ajian sagisaga gamana katakawa.
Tubuh Wijaya sangat ringan seringan kapas, kecepatannya juga sudah tanpa suara di tambah Wijaya menghilangkan aura keberadaan dirinya, lengkap sudah Wijaya dalam menyelinap mencari informasi.
Wijaya sembunyi di balik batu karang, ada sepuluh penjaga yang mondar-mandir menjaga pintu gerbang markas jauhetu rota.
Ciri jauhetu rota, mereka punya tubuh seperti serigala dewasa, panjang 3 meter, lebar 2 meter dan tinggi satu meter, kulit berwarna coklat dan dua gigi menonjol di depan.
"Akhirnya aku akan ikut pesta kembali, yang mulia prabu benar-benar tahu memanjakan rakyatnya," ucap salah satu penjaga sambil mengupil.
"Ya, memang luar biasa yang mulia sepanjang tahun kita selalu berpesta, pesta kali ini lebih meriah seperti pesta sebelumnya, sampai-sampai mengirimkan pasukan penuh, hanya menyisakan 50 prajurit elit, hahahaha. Sungguh ironi penduduk desa Lembarawa, mereka yang mencari dan menanam kita yang berpesta, hahahaha," ucap salah satu penjaga sambil menenggak arak.
Para jauhetu rota itu mereka bisa berdiri meskipun seekor tikus tanah.
Wijaya mendengar yang dikatakan jauhetu rota itu geram dan marah serta menggertakan giginya, "sialan dasar tikus jahanam, aku pasti akan membantaimu, tega-teganya menari di ataa penderitaan rakyatku," batin Wijaya yang masih menahan amarahnya, Wijaya hanya ingin mendapatkan informasi seakurat mungkin dan sebanyak mungkin.
Setelah menunggu setengah jam para siluman jauhetu rota mulai bergerak. Mereka di pimpin oleh salah satu jauhetu rogba setingkat dendawa asor.
BRAG...BRUG...BRAG...BRUG...BRAG...BRUG...
Mereka keluar dari markas mereka dari atas bukit karang menuju ladang sawah desa Lembarawa.
"Saudaraku, musuh mulai bergerak sembunyikan aura keberadaan kalian, dan berikan informasi pada Maung Citraksa dan Maung Korawa untuk bersiap menyambut mereka," batin Wijaya mengirim informasi melaluli telepati pada Maung Bodas.
"Sendiko gusti prabu!" jawab Maung Bodas membatin.
Setelah para jauhetu rota sudah sampai di ladang mereka hanya melihat kumpulan penduduk Lembarawa yang begitu banyak, mereka pikir mereka mau panen di malam hari, namun tiba-tiba suara suar merah terlihat di langit
SHUA...DUAR...
Semua Maung lodaya bertransformasi menjadi siluman harimau yang sangat besar, "groaaaar..., serang dan bantai!" teriak Maung Citraksa.
Maung Lodaya berlari cepat dan menyerang membabi buta.
GROAAAAR...SLASH...SLASH...SLASH...
Karena serangan kejutan yang dilakukan Maung Lodaya, seribu jauhetu rota tewas seketika.
"Pertahankan posisi, mereka hanya kucing kecil kita tak boleh menyerah, maju seraaang!" teriak jauhetu rogba.
__ADS_1
Jauhetu rota kembali bersemangat padahal ini sama saja dengan misi bunuh diri. Seluruh tubuh maung lodaya berubah merah, mata meraka juga semerah darah. Maung lodaya kembali menyerang secara brutal tanpa belas kasihan, "tembakan pulawa Agni," teriak Maung Citraksa.
Seribu Maung Lodaya menembakan bola api merah dari mulutnya, para Maung Lodaya yang mendengar teriakan Maung Citraksa segera menyingkir dari arena peperangan.
SWUSH...BOOM...BOOM..
BOOM...BOOM...BOOM...
Tubuh jauhetu rota banyak yang terpanggang, tiga ribu jauhetu rota tewas seketika, bau gosong menyebar kemana-mana.
Maung Korawa yang mendengar suara dentuman itu tertawa terbahak-bahak, "hahahaha, sungguh bodoh mau melawan pasukan dari kakang Maung Citraksa, dia itu suka meledakan musuhnya, hahaha."
"Woy,woy,woy, berisik sekali kau ini, sangat membosankan kita hanya menunggu seperti ini pasti kita tak kebagian pesta malam ini. Pangeran memang sungguh menyebalkan tak satupun siluman jauhetu rota itu disisakan untuk kita, sialan!" ucap Jatmiko kesal sambil mengupil dan menyandarkan badannya pada dinding.
Setelah dua jam pembantaian kini hanya tersisa 500 jauhetu rota termasuk jauhetu rogba, para maung lodaya juga banyak yang luka namun hanya luka ringan.
Tujuh ribu lawan lima ratus perbedaan kekuatan yang sangat jauh, namun tiba tiba jauhetu rogba tertawa terbahak-bahak, "hahaha, kalian pikir sudah menang, keluarkan senjata pamungkas kita bledog jurig!".
Muncul sepuluh moncong meriam yang di taruh pada kereta dan satu moncong meriam di tarik empat jauhetu rota. Moncong meriam sangat besar berdiameter 5 meter dengan tinggi 10 meter, panjang 15 meter dan lebar 5 meter.
"Siap, pemimpin pengisian chakra sudah selesai!, siap ditembakan!" ucap salah satu jauhetu rota yang memimpin pasukan bledog jurig.
Sepuluh meriam bledog jurig menembakan bola chakra berwarna merah sangat besar dengan diameter 4 meter.
BLOOM...BLOOM...BLOOM...BLOOM...BLOOM...BLOOM...
Maung Citraksa dan pasukan maung lodaya terkesiap, mereka tak sempat mengelak.
**BOOM...BOOM...BOOM...BOOM...BOOM...BOOM..
JDAAR...JDAAR...JDAAR...JDAAR...JDAAR**...
"Aaaakh, aaakh, aaakh, aaakh," suara teriakan maung lodaya yang terkena serangan bledog jurig.
Serangan bledog jurig sangat luar biasa dan berbahaya 6000 maung lodaya tewas seketika, sepuluh hektar sawah yang siap panen pun hangus terbakar, Muncul sepuluh kawah yang sangat besar berdiameter 30 meter.
"I_i_ini ti_ti_dak mungkin, kakang, kakang,kakaaang!" Maung Korawa terbata-bata merasakan hawa kehidupan Maung Citraksa telah lenyap, karna setiap maung lodaya ikatan batinnya sangat kuat.
"Aaaaaargh, awas kau siluman busuk aku akan membunuhmu siluman busuk!, pasukan ayo kita bantu saudara kita yang masih tersisa!" teriak Maung Korawa yang geram dan marah dengan wajah memerah.
Dua ribu Maung lodaya meninggalkan lumbung ikan menuju pasukan jauhetu rogba.
__ADS_1
"Kembali isi amunisi cepat!, perkuat pertahanan!, kita akan bumi hanguskan kucing kecil sialan itu!" teriak jauhetu rogba sambil menyeringai jahat.
BRAG...BRUG...BRAG...BRUG...
Dua ribu pasukan Maung Korawa sampai di arena peperangan, "cepat rawat saudara kita yang terluka!, Siapkan serangan balasan!, meski kondisi kita terdesak jangan menyerah balaskan dendam saudara kita," teriak Maung Korawa yang geram dan penuh semangat.
"Haah," teriak pasukan maung lodaya yang tersisa berteriak semangat. "Tembakan kembali pulawa agni!" teriak Maung Korawa.
Seratus maung lodaya menembakan pulawa agni, " menghindar!, masuk ke dalam tanah!" teriak jauhetu rogba.
SWUUSH...BOOM...BOOM...BOOM...
Serangan pulawa agni maung lodaya berhasil membunuh Seratus lima puluh jauhetu rota dan dua meriam moncong bledog jurig. Tiga ratus jauhetu rota berhasil menghindar dengan masuk ke dalam tanah.
Sedangkan lima puluh jauhetu rota yang masih menjaga sepuluh meriam moncong yang kini tersisa delapan bledog jurig banyak yang terluka parah.
Jauhetu rogba keluar dari dalam tanah dan tiga ratus pasukan jauhetu rota, "balas serangan!, tembakan kembali bledog jurig yang sudah terisi!" teriak jauhetu rogba melambaikan tangan.
"Komandan!, hanya ada tiga bledog jurig yang sudah siap!" lapor prajurit penjaga yang baru keluar dari tanah.
"Sudah lakukan saja! seraaang!" teriak jauhetu rogba melambaikan tangan kembali.
Bledog jurig kembali di tembakan.
BLOOM...BLOOM...BLOOM...
"Menghindar! lari secepat mungkin!" teriak Maung Korawa.
Namun sayang sekali mereka tak sempat mengelak, karna serangan bledog jurig terlalu cepat.
**BOOM...JDAAR...JDAAR...JDAAR...
Terima kasih para readers masih setia membaca Novel pertama author Ksatria langit nusantara.
mohon maaf jika tulisannya masih amburadul, masih terus memperbaiki.
Semoga para readers bisa menikmatinya.
Yuk nikmati membaca sambil minum kopi jeng gorengan singkong.
Mohon dukung author dengan memberikan like koment dan gift jika berkenan. jika suka silahkan klik tombol favorit**.
__ADS_1