
Jangan lupa like, koment, gift, dan vote agar author semangat menulis lanjutan chapter novel ini.
Mohon kritik dan saran yang membangun agar novel ini lebih baik lagi, jangan sungkan langsung berikan komentar cabe sahabat readers di kolom komentar.
Untuk update sudah normal 2 chapter/hari pukul 20.00 WIB, maaf belum bisa crazy up lagi, maaf jika alur terlalu lambat. Yang kurang suka skip saja.
"Sungguh pertanyaan yang sangat bagus, saudaraku Manggala!". Puji Wijaya Kusuma. Wijaya terdiam beberapa saat, dan terus mondar-mandir sambil mengelus dagunya.
"Pertama minta transfer pendekar atau guru yang mempunyai wadah jiwa energi yang kita inginkan. Tapi sangat beresiko, jika tidak kuat menerima transferan energi yang bukan wadah energi jiwa yang kita miliki, tubuh kita bisa meledak."
"Gluk!" Asmarini dan Manggala menelan salivanya setelah mendengar pernyataan Wijaya. Mereka berdua membayangkan tubuh mereka meledak, muka mereka menjadi pucat pasi. "Meledak?" Batin Asmarini dan Manggala.
"Tenang saja, aku punya solusi yang kedua. Dengan meminum pil tehostin buatanku sang maha jenius, hahahaha. Pil tehostin (pengembali energi) efektifitas 200%. Kegunaan pertama mengembalikan penuh energi jiwa yang sudah habis.
Kedua meningkatkan lapis evolusi energi jiwa, membutuhkan 1000 pil tehostin buatanku."
"Ketiga menambah kapasitas wadah energi jiwa sebanyak 5% per sekali minum, tapi hanya bisa digunakan satu minggu sekali. Keempat pil tehostin akan mengidentifikasi ajian pancer yang sering kita gunakan dan menambah energi wadah jiwa yang baru." Jelas Wijaya sambil mondar-mandir dan mengupil hidungnya.
Asmarini dan manggala yang berdiri dengan sikap istirahat di tempat hanya manggut-manggut mendengarkan penjelasan Wijaya. "Baik, sekarang kita akan langsung mempraktekannya, bersiaplah!" Wijaya mengeluarkan pil tehostin efek 200% dari ripela aksa di telapak tangan kanannya.
"Ini ambilah!" Wijaya menyodorkan tangan kanannya ke depan, Manggala dan Asmarini mengambil satu pil tehostin masing-masing.
"Kang mas pil ini sangat berharga, kenapa tidak dijual saja? Pasti harganya akan sangat mahal dan juga kita bisa meningkatkan kekutan tempur para ksatria kekosawaan kurusetra." Tanya Asmarini.
__ADS_1
"Itu benar. Aku sudah menjualnya pada kakek prabu Surya dan kakek Prabu Angga. Pagi tadi aku sudah mengirimkan 10.000 pil ke kerajaan Brabang Sari, dan 20.000 pil ke kerajaan Dharma ayu, hahahaha. Hari ini aku untung besar, hahahaha." Wijaya tertawa dengan muka bodohnya.
Wijaya menjual 1 pil tehostin harganya satu tera, harga yang sangat gila untuk satu buah pil. Tapi sebanding dengan efeknya yang luar biasa, padahal para bawana biasanya menjual pil tehostin hanya 1000 kiga per pil ya tentu saja efeknya cuma 5%. Semakin tinggi efek pil, semakin tinggi pula harga yang ditawarkan.
"Dasar kang mas Wijaya selalu mata duitan." Batin Asmarini sambil menggembungkan pipinya. "Andai saja aku lebih awal bertemu kang mas Wijaya, pamilya Saputra pasti tak akan lenyap dari benua nusantara." Batin Manggala dengan raut wajah yang sedih.
"Lupakanlah masa lalu, biarkanlah mengalir seperti air. Kita hidup di masa sekarang, berbuatlah yang terbaik hari ini untuk masa depan yang lebih baik suatu saat nanti." Ucap Wijaya sambil mengupil lagi.
"Bagaimana bisa kang mas Wijaya tahu isi hatiku, sial." Batin Manggala. "Kang mas ayo kita mulai latihanya!" Teriak Manggala untuk mengalihkan perhatian. Manggala dan Asmarini menelan pil tehostin yang diberikan Wijaya, lalu duduk bersila agak berjauhan, jaraknya kurang lebih 20 meter.
WUUNG...WUUNG...WUUNG...
Tubuh Manggala lebih dulu diselimuti aura berwarna biru. "Sepertinya pil itu sudah bereaksi sesuai yang Manggala inginkan energi chi, cocok untuk kitab aigua rumi yang berpancer banu." Gumam Wijaya dalam batinnya. Setelah satu jam menunggu Asmarini belum ada tanda-tanda akan menambah wadah jiwa energi.
BANG... Manggala naik tingkatan ke praburata baharu.
BANG... Manggala naik tingkatan ke praburata inggil.
"Ternyata pil tehostin juga bisa menaikan tahapan sangat cepat, pencampuran bahan daun rumput biru dan batu bintang bharatayuda juga sangat membantu rupanya."
Tubuh Asmarini baru bereaksi dipenuhi aura berwarna jingga. "Kenapa jadi berwarna jingga, bukannya pancer bantala adalah pancer dasar nyi mas Asmarini? Aneh sekali!" Pikir Wijaya sambil mengelus dagunya. Wijaya tidak mengetahui jika wadah jiwa Asmarini adalah chakra yang cocok dengan pancer agni.
Wijaya mengaktifkan maputi aksa untuk mengecek aliran energi wadah jiwa Asmarini. "Oh ternyata begitu ya. Untung saja aku punya maputi aksa ini, kalau tidak bisa salag perkiraan, hehehehe." Wijaya terus mengawasi mereka yang sedang bersemedi.
__ADS_1
Melihat bola energi yang berputar-putar di sekeliling tubuh Manggala karena efek naik tahapan sudah hilang. Wijaya mendekati Manggala lalu menempelkan telapak tangannya ke dahi Manggala. Tubuh Wijaya di aliri energi chi yanh sangat pekat.
Wijaya mencoba mentransfer semua isi kitab pancer banu aigua rumi, pada diri Manggala. "Dengan begini akan lebih cepat, Manggala memahami dan mempraktekan semua isi kitab aigua rumi." Batin Wijaya sambil terus mentransfer pemahaman isi kitab aigua rumi pada Manggala. "Hah, hah, hah, sudah selesai. Lelah juga ya melakukan hal seperti ini."
"Terima kasih kang mas Wijaya." Batin Manggala. "Akhirnya aku bisa menguasai seluruh kitab aigua rumi, ayahanda dan ibunda aku berjanji akan membalaskan dendam pamilya Saputra."
BANG... Asmarini naik tingkatan ke praburata asor.
BANG... Asmarini naik tingkatan ke praburata baharu.
BANG... Asmarini naik tingkatan ke praburata inggil.
BANG... Asmarini naik tingkatan ke suryarama asor.
Bola energi terus berputar mengelilingi tubuh asmarini, dan wadah jiwa energinya menjadi dua, dengan energi chakra serta Qi. Sedangkan Manggala mempunyai dua wadah jiwa energi prana dan mana. Belum pernah dalam sejarah ksatria di benua nusantara, bisa mempunyai dua wadah jiwa sekaligus.
Shintadewi sendiri yang dulu mempunyai wadah jiwa chakra, setelah bertemu dewata agung jayalaksana, hanya berubah wadah jiwa saja menjadi Quantum. Sedangkan Wijaya memang seorang maha jenius mempunyai 7 wadah jiwa energi, dan belum pernah ada dalam sejarah di benua nusantara, seorang pendekar mempunyai 7 wadah jiwa sekaligus.
Tubuh Asmarini yang semula beraura jingga, lama kelamaan warna auranya berubah menjadi merah kejinggaan. "Hmmm, aku pernah melihat pancer ini di kitab jagat buana di halaman pancer semesta. Jika pengguna ajian memiliki warna itu bukankah membentuk pancer lawa (elemen lahar)?" Pikir Wijaya yang terus mengamati Asmarini
Sedangkan Manggala yang tadinya aura ditubuhnya berwarna kuning berubah menjadi biru muda. "Manggala juga menciptakan pancer baru, pancer spiela (elemen cermin). Mereka sangat mengerikan, tapi aku sang maha jenius juga lebih mengerikan, hahahaha." Wijaya tertawa dengan raut mula bodohnya.
Manggala membuka matanya dua wadah jiwa energinya sudah mencapai kapasitas 100%. Asmarini belum membuka mata, "nampaknya energinya tidak stabil, aku lagi juga yang lelah." Wijaya mendekati Asmarini lalu menempelkan telapak tangannya ke dahi Asmarini. Untuk mentransfer isi dalam kitab pancer agni, sansinu munda.
__ADS_1