KSATRIA LANGIT NUSANTARA

KSATRIA LANGIT NUSANTARA
KEBERHASILAN


__ADS_3

Jangan lupa like, koment, gift, dan vote agar author semangat menulis lanjutan chapter novel ini.


Mohon kritik dan saran yang membangun agar novel ini lebih baik lagi, jangan sungkan langsung berikan komentar cabe sahabat readers di kolom komentar.


Untuk update sudah normal 1 chapter/hari pukul 20.00 WIB, maaf belum bisa crazy up lagi, maaf juga jika alur terlalu lambat. Yang kurang suka skip saja.


Mereka berlima pergi menuju halaman istana, kecuali Ratu Adiningrum menunggu di kamar khusus pengobatan untuk menjaga Prabu Angga, Patih Arya, dan Jatmiko.


Matahari sudah berada tepat di atas ubun-ubun. "Baik berbaris yang rapi!" Perintah Shintadewi pada mereka berempat. "Untuk bisa menguasai ajian aksamala, kalian harus melatih fokus terlebih dahulu. Yaitu pusatkan energi kalian pada titik aliran energi di kening yang namakan titik ajna. Coba pusatkan!"


Mereka berempat mencoba memusatkan energi masing-masing pada titik ajna. Wijaya mencoba dengan energi lapisan yang paling rendah yaitu chakra sampai Quantum dan berhasil membentuk sebuah tanda segel bulatan pelangi di keningnya.


Anjasmara juga berhasil dengan energi Quantum membuat tanda segel bulatan hitam di kening. Asmarini berhasil dengan energi Qi membuat tanda segel bulatan coklat di kening. Sedangkan Manggala berhasil dengan energi Chi membuat tanda segel bulatan biru di kening.


"Bagus kalian semua orang yang sangat berbakat. Hanya dalam sebentar saja sudah bisa membuat tanda segel ajian minaru prabangkara!" Puji Shintadewi. "Selanjutnya alirkan energi ke telapak tangan dan tangkupkan kedua tangan!"


Mereka berempat mulai menyalurkan energi ke telapak tangan dan menangkupkannya.


"Energi kalian sudah penuh ditelapak tangan. Sekarang letakan tangan kalian ke gulungan ini!"Shintadewi memberikan 8 gulungan, masing-masing 2 gulungan.


Shintadewi mengeluarkan dua gulungan lagi dari ripela aksanya. Lalu mendemontrasikan pada mereka berempat, cara memindahkan benda dari satu tempat ke tempat yang lain dengan ajian aksamala.


"Lihatlah! aku akan memindahkan kunai ini dari gulungan yang aku pegang ini, ke gulungan yang ada di sana! ajian minaru ini juga bisa memindahkan energi, bahkan meledakan target dari jarak jauh. Asal target sudah terkena tanda segel yang kita lepaskan ke bagian tubuh atau area sekitarnya." Jelas Shintadewi.


Shintadewi sudah menandai dua gulungan tadi dengan tanda segel miliknya. Lalu meletakan kunai di gulungan yang sudah dihamparkan.


POFF...


Kunai menghilang dan muncul dari gulungan yang Shintadewi taruh 10 meter dari gulungan yang di hamparkan. "Ajian yang sangat keren, luar biasa!" Puji Anjasmara.


"Baik sekarang lakukan dengan benar dan serius!" Perintah Shintadewi.


"Baik guru!" Ucap mereka berempat.


Wijaya mulai memindahkan kunai dari satu gulungan ke gulungan lain dengan sangat mudah. Sedangkan Asmarini, Anjasmara, dan Manggala begitu susah.


"Yaaaaaaa! sangat susah!" Manggala mencoba memindahkan akhirnya berhasil setelah 30 menit.


POFF...

__ADS_1


"Aaaaaaargh, sial, sial, sial, yaaaaa!" Anjasmara juga akhirnya berhasil setelah 40 menit beda 10 menit dengan Manggala.


Asmarini masih berkonsentrasi namun belum ada tanda-tanda bisa memindahkan kunai. Asmarini masih memejamkan mata, tiba-tiba muncul banyak tanda segel milik Asmarini dengan warna coklat di permukaan tanah.


"Hyaaaa!, rasakan ini keparat!" Asmarini berteriak lalu menekan kunai yang berada di gulungan dan menghilang. Muncul ribuan kunai keluar dari ribuan tanda segel di permukaan tanah dan langsung melesat tak beraturan.


POFF...POFF...POFF...SHUA...SHUA..SHUA...


"Ajian sagisaga, gamana katakawa!" Wijaya dengan sigap menghentakan telapak tangannya ke permukaan tanah.


PRAK...TRANG...


Ribuan kunai tertarik gravitasi bumi ke tanah. "Fyuh! hampir saja!" Wijaya mengelap dahinya.


"Woy, kau ingin membunuh kami ya!" Teriak Anjasmara dan Manggala.


"Maaf, maaf, aku tak sengaja!" Asmarini menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Gadis yang mengerikan!" Batin Shintadewi. "Tapi potensinya sangat berbakat jika diasah dengan baik."


"Nak Asmarini ikut denganku!" Ajak Shintadewi. "Kalian sudahi latihannya besok kita lanjutkan lagi!"


"Sudah jangan panggil guru, panggil saja ibunda sama seperti Wijaya. Kamu kan mau jadi menantuku, hehehe!" Goda Shintadewi. Asmarini mukanya langsung memerah semerah tomat.


"Nampaknya sebentat lagi kita akan dapat seorang ponakan, hahahah!" Goda Anjasamara dan Manggala.


"Ehem, ehem, ehem!" Wijaya berdehem keras. "Kalian saja yang duluan menikah aku masih muda tahu! masa seorang pangeran dan adipati belum punya pasangan?" Ledek Wijaya.


Muka Manggala dan Anjasmara langsung lesu, mendengar ledekan Wijaya. "Kenapa kalian ko malah sedih?" Tanya Wijaya.


"Aku ingat Ranti, orang yang kucintai kang mas!" Jawab Manggala dengan raut muka sedih.


"Aku juga kang mas ingat Gendhis kang mas. Tapi aku menyesal meninggalkannya, hanya demi kekuatan" Jawab Anjasmara dengan raut muka penyesalan.


"Maaf ya saudaraku semua jika perkataanku membuat kalian sedih. Aku berjanji pada kalian jika masalah ini sudah selesai kita akan pergi ke bimantala tempat kalian. Banyak yang harus aku harus kembalikan ke tempat yang semula." Wijaya dengan raut muka penyesalan.


"Baik kang mas kami akan menanti hari itu!" Ucap Serentak Manggala dan Anjasmara.


Matahari sudah masuk ke ufuk barat dengan warna yang sangat cantik. Wijaya sudah berhasil menguasai seluruh ajian aksamala minaru dengan berlatih sendiri."Aku harus membuat senjata yang baru, agar cocok dengan ajian aksamala ini!"

__ADS_1


Wijaya mencoba ajian aksamala miliknya, dengan menempelkan ribuan tanda segel ditempat mana saja secara acak dengan menggunakan ajian brabata naga.


SHUA...TAP...TAP...TAP...


POF..POF...POF...


Wijaya berteleportasi secara acak sesuai tanda segel yang sudah di tempel. Wijaya melempar satu kunai ke tanda segel yang berada di bawah kakinya.


SHUA...SYUUT...SHUA..SHUA...SHUA...


Ribuan kunai keluar dari tanda segel yang di tempel Wijaya secara acak di mana saja. "Ajian bedhama kunai, baladhama among slira (teknik senjata kunai, pasukan senjata bayangan)!" Wijaya melempar satu kunai ke arah ribuan kunai. Satu kunai yang dilempar Wijaya menjadi ribuan kunai dan bertabrakan dengan ribuan kunai yang keluat dari tanda segel.


SHUA..TRANG..TRANG..TRANG..


"Ajian yang sangat hebat, bisa menipu musuh!" Puji Wijaya.


"Kang mas memang maha jenius. Ajian aksamala yang tergolong tingkat tinggi dan sangat susah mempelajarinya saja, hanya beberapa jam bisa langsung di kuasai!" Batin Manggala.


"Aku tidak salah mengikuti kang mas Wijaya. Kekuatan itu tak harus di dapat dari bersekutu dengan iblis." Batin Anjasmara.


Mereka menyudahi latihan hari ini dan beristirahat di kamar masing-masing yang sudah disediakan oleh para pelayan istana Brabang Sari.


Esok paginya mereka sarapan bersama dan membahas nasib kerajaan demak bintoro yang telah ditinggalkan Majapahit. "Kakek prabu! bagaimana situasi Demak Bintoro saat ini?" Tanya Wijaya.


"Sungguh memprihatinkan paduka, rakyat kelaparan dan menderita. Mungkin kita mengirimkan beberapa makanan ke sana, semua wilayah kelaparan." Jawab Angga.


"Maaf kakek! jika hanya memberikan makanan, aku pikir itu tidak akan menyelesaikan masalah ke depannya. Demak Bintoro butuh pemimpin yang menaungi mereka saat ini. Dengan begitu masalah akan terselesaikan."


"Tapi Paduka, saat ini Demak Bintoro adalah medan peperangan. Jika kita mengklaim Demak Bintoro adalah wilayah kita, apakah kerajaan lain akan menerima. Jika Majapahit aku tidak mempermasalahkannya jika menolak tapi jika Kediri dan Mataram Bagaiamana?" Sanggah Angga.


"Tenang saja kakek, aku pastikan mereka akan menerimanya! siang nanti aku akan berangkat ke Kediri dan Mataram. Kakek buat saja cabang markas elang loka di tengah kotaraja Demak Bintoro dan kirimkan 10.000 pasukan dan beberapa senjata pamungkas serta bahan makanan." Titah Wijaya.


"Baik yang mulia paduka!" Ucap Angga.


"Kakek aku ini cucumu, dari tadi paduka-paduka terus. Kakek gak asyik!" Ledek Wijaya.


"Ya kamu kan sekarang kosawa kurusetra. Sudah ada 4 kerajaan tunduk padamu! Ya wajar saja kakek memanggilmu seperti itu!" Ucap Angga.


"Sudahlah kakek itu merepotkan, hmm!" Wijaya menggembungkan pipinya. ll

__ADS_1


"Hahahaha!" Semua orang yang ikut makan tertawa terbahak-bahak.


__ADS_2