
Sambala keluar dari dalam hutan membawa 100 tawanan termasuk putrinya Rusminda, Sambala mendekat lalu berlutut satu kaki, menundukan kepala dan meninju telapak tangannya," gusti saya membawa 100 tawanan!"
"Baiklah kalian semua ikut saudaraku Maung Bodas ini!" ucap Wijaya masih sambil mengupil, " baik gusti!" ucap Sambala yang masih menundukan kepala.
Rusminda yang melihat Wijaya Kusuma tersipu malu dengan pipi memerah lalu bergumam dalam hati, "pangeran Wijaya sangat tampan."
"Baik aku akan pergi ke kerajaan Dharma ayu untuk menyusul rombongan, kalian hati-hati di jalan!" ucap Wijaya kusuma sambil melambaikan tangan.
Wijaya melayang menggunakan ajian sagisaga gamana katakawa, lalu melesat terbang ke arah kerajaan Caruban Nagari.
Sementara Maung Bodas masuk ke dalam markas bandit Agrasara bersama Sambala. Untuk mengambil harta jarahan mereka di penyimpanan bawah tanah, mereka berhasil membawa 1 tera dan beberapa emas serta permata.
Para rombongan Maung Bodas dan para hajdut serta para tawanan akhirnya mereka pergi menuju Kadipaten Maung Bahari.
Wijaya masih terbang dengan kecepatan tinggi menggunakan evolusi energi reiki, energinya tidak cepat terkuras habis dan kecepatan terbangnya melebihi kecepatan suara.
Rombongan penghantar jalannya cepat juga mereka sudah sampai di desa Soka. Jarak tempu dari desa Lembarawa dan desa Soka adalah 6 jam perjalanan jika menggunakan kuda. Untuk sampai ke pusat kota kerajaan Dharma ayu membutuhkan waktu 1 setengah hari.
Wijaya melihat dari atas para rombongan penghantar ikan 1 km lagu sampai di desa Soka, lalu turun perlahan. "Sayuta," 100 kembaran diri Wijaya menghilang.
POFF...POFF...POFF...
Wijaya turun di barisan depan rombongan penghantar ikan dan melambaikan tangan untuk berhenti sebentar. Wijaya masih memakai seragam hajdut bandit Agrariyin dan harus menggantinya, jika tidak mereka semua akan disangka bandit Agrariyin yang akan merampok desa Soka.
Desa Soka sangat takut dengan bandit Agrariyin karena sering sekali berbuat onar, merampok, memperkosa, bahkan tak segan-segan membunuh penduduk desa Soka yang tidak bersalah.
Lurai desa Soka sering sekali meminta bantuan pada pihak Kadipaten Losari dan Kerajaan Caruban Nagari, namun tak pernah ada tindakan nyata untuk memberantas bandit Agrariyin.
Wijaya masuk semak-semak lalu mengganti pakaian set ereti vrashes dengan memakai topeng motif kelinci, raivaja Wijaya simpan di dalam ripela aksa di telapak tangan kanannya.
__ADS_1
Wijaya keluar dari semak-semak lalu melambaikan tangan untuk melanjutkan perjalanan. Akhirnya mereka sampai di pintu gerbang timur desa Soka, penjaga desa Soka yang melihat rombongan Wijaya panik, mereka mengira adalah rombongan bandit Agrairiyin.
Penjaga pintu gerbang menyembunyikan kentongan.
TONG...TONG...TONG...TONG...TONG...TONG...
"Ada bandit cepat sembunyi! cepaaat!" teriak penjaga pintu gerbang.
Semua warga desa Soka panik berhamburan, mereka berlari menuju rumah masing-masing untuk bersembunyi. Lurai Creswara keluar dari kedimannya menuju pintu gerbang timur, bagaimana pun juga mereka adala warganya yang harus dia lindungi.
Penjaga pintu gerbang timur ketakutan tubuhnya gemetaran dan wajahnya pucat pasi, keringat dingin keluar deras dari tubuhnya, doa berjongkok sembunyi di balik pos pintu penjagaan.
Lurai Creswara sampai di pintu pos penjagaan dengan berlari cepat melihat penjaga pintu seperti itu dia jadi kasihan, "tenanglah aku akan menghadapinya, keluarlah dari tempat itu!" perintah Creswara untuk menenangkan penjaga pinti gerbang.
Wijaya terus berjalan bersama rombongan, dia hanya melihat Creswara sedang berdiri di depan pinti gerbang, suasana sangat sepi tak ada satu warga pun yang lalu lalang beraktivitas.
Wijaya menghampiri Creswara, "mohon maaf paman apakah kami boleh lewat? kami akan pergi ke kerajaan Dharma ayu, kira-kira berapa lama lagi kami bisa sampai kesana?" tanya Wijaya dengan nada sopan.
"Tunggu! paman salah paham, kami dari desa Lembarawa untuk menghantarkan pesanan ikan. Jika paman tidak percaya boleh melihat barang yang kami bawa di dalam kereta kuda. Dan ini kami punya bukti jika kami telah memberantas bandit Agrariyin." Wijaya mengeluarkan miekha milik Bogadenta dari ripela aksa di telapak tangan kanannya.
Waktu di dalam markas, Wijaya berpikir akan lebih baik membawa miekha milik Bogadenta jika suatu saat ada yang mencurigai rombongannya sebagai bandit Agrariyin, ya sebagai rencana cadangan saja bahwa Wijaya berhasil mengalahkan bandit Agrariyin.
"I-i-itu bu-bukankah miekha milik pemimpin bandit Bogadenta?" Creswara dengan nada terbata-bata.
"Ya paman itu adalah miekha miliknya, kami berhasil membunuhnya. Jadi bolehkah kami lewat? ini paman buat membangun ekonomi warga desa Soka!" tanya Wijaya sambil memberikan kantong uang berjumlah 10 giga pada Creswara.
"Baiklah gusti silahkan kalian boleh lewat! terima kasih gusti telah menyelamatkan kami! kami tidak bisa membalas kebaikan gusti!" ucap Creswara sambil melambaikan tangannya ke kanan.
"Tidak usah sungkan paman, perkenalkan namaku Wijaya Kusuma, aku akan mampir lain kali. Aku harus buru-buru mengantar ikan!" ucap wijaya sambil menyodorkan tangannya untuk berkenalan.
__ADS_1
Creswara menangkap tangan yang disodorkan Wijaya untuk menjabat tangannya, "namaku Creswara lurai disini!"
Wijaya melambaikan tangan memberi isyarat untuk melanjutkan perjalanan, kereta kuda berjalan perlahan melewati pemukiman penduduk. Ketika sudah sampai pintu gerbang barat, Wijaya melambaikan tangan untuk berlair cepat.
Wijaya kembali melayang terbang di atas rombongan kereta kuda. Ketika suara kuda sudah tidak terdengar, warga desa Soka keluar dari rumah-rumah mereka.
"Hah," salah satu penduduk desa menghela nafas panjang, "hampir saja kalau tidak habis sudah, untung saja mereka sudah pergi." Creswara melihat kerumunan penduduk yang sedang melihat rombongan kereta kuda Wijaya telah jauh meninggalkan desa berkata, "kenapa kalian semua berkumpul disini?" tanya Creswara.
"Syukurlah lurai kita selamat kali ini, bandit telah pergi tapi bagaimana dengan lain kali?" tanya salah satu warga.
"Sudah tidak apa-apa rombongan kereta kuda tadi bukan bandit tapi penyelamat desa kita, mereka dari desa Lembarawa pemimpin mereka bernama Wijaya Kusuma telah berhasil mengalahkan pemimpin bandit Bogadenta dan memberikan kita semua 10 giga." Ucap Creswara sambil memperlihatkan miekha milik Bogadenta dan menancapkannya di tanah.
Warga yang melihat itu adalah miekha milik Bogadenta, histeris, riang bukan kepalang. "Lurai kita telah bebas, kita telah bebas!"
"Warga semua bagaimana kalau kita merayakan pesta malam ini sebagai rasa syukur terhadap dewata agung karna kita telah bebas dari angkara murka?" tanya Creswara.
"Setuju lurai!" teriak semua warga desa serentak.
"Aku akan berkunjung ke desa Lembarawa besok, kita bisa menjalin kerjasama dengan mereka." Gumam batin Creswara.
Untuk update author terus usahan sehari dua kali, untuk waktunya tidak menentu ya sahabat ksatria.
**Terima kasih para readers masih setia membaca Novel pertama author Ksatria langit nusantara.
mohon maaf jika tulisannya masih amburadul, masih terus memperbaiki.
Semoga para readers bisa menikmatinya.
Yuk nikmati membaca sambil minum kopi jeng gorengan singkong.
__ADS_1
Mohon dukung author dengan memberikan like koment dan gift jika berkenan.
Jika suka silahkan klik tombol favorit**.