KSATRIA LANGIT NUSANTARA

KSATRIA LANGIT NUSANTARA
PERMINTAAN UJIAN KELULUSAN LEBIH AWAL


__ADS_3

Setelah 3 jam terbang Wijaya Kusuma akhirnya sampai di bekas goa Bleta Permoda.


Kemampuan terbang Wijaya Kusuma dengan menggunakan ajian sagisaga gamana katakawa, belum maksimal karna tingkat evolusi energi Qi Wijaya Kusuma hanya 20% dan juga kecepatan terbangnya masih belum bisa cepat karna belum terampil.


Bleta Bora dan Wijaya Kusuma masuk goa, di dalam goa ada sarang yang sangat besar. Terakhir kali Wijaya melihatnya hanya sebesar gua dengan ukuran diamater 10 meter dan tinggi 15 meter. Sekarang sudah berubah sangat besar ukuran diameter 120 meter dan tinggi 50 meter.


"Yang mulia gusti prabu! madu hitam itu ada di dalam sarang besar itu!" tunjuk Bleta Bora.


Wijaya melayang menuju sarang besar Bleta Permoda lalu mengaktifkan ripela aksa di telapak tangan kanannya dan menyerap sarabg Bleta Permoda yang besar itu.


SYUUUUUT.....


Setelah 15 menit semua sarang Bleta Permoda masuk ripela aksa di telapak tangan kanan Wijaya Kusuma.


" Baik saudaraku! kita sudah berhasil mengambilnya kita kembali dahulu menuju istana kerajaan Brabang Sari," seru Wijaya Kusuma.


"Sendiko yang mulia gusti prabu!" Bleta Bora yang masih dalam bentuk lebah membungkuk hormat.


Mereka berdua keluar dari goa Bleta Permoda, Wijaya kembali menaiki punggung Bleta Bora dan terbang menuju istana kerajaan Brabang Sari.


Bleta Bora menambahkan kecepatannya sehingga mereka berdua sampai ke istana Brabang Sari hanya dalam waktu 30 menit.


NGUNG...NGUNG...NGUNG...


"Itu di sana istana Brabang Sari, mari kita turun!" perintah Wijaya Kusuma.


"Sendiko yang mulia gusti prabu!" ucap Bleta Bora.


Wijaya mulai perlahan turun di halaman istana, namun para ksatria binting mencurigai ada siluman yang akan menyerang istana.


"Ada penyusup! ada penyusup! cepat kepung! cepat kepung!" teriak salah satu ksatri binting.


30 ksatria binting dan 10 ksatria inggil bersiap serta 30 bargawa siap menyerang dengan senjata mereka, "nampaknya mereka salah paham," gumam Wijaya Kusuma.


"Tahan! ini aku Wijaya kusuma pangeran kalian!" teriak Wijaya dari atas punggung Bleta Bora.

__ADS_1


"Tahan! jangan menyerang! turunkan senjata kalian!" perintah Arya yang berlari dari aula Istana sambil melambaikan tangan.


Wijaya dan Bleta Bora pun turun perlahan ke halaman Istana, sedangkan Shintadewi, Raja Angga, dan Ratu Adiningrum pun menyusul ke halaman istana. Wijaya pun turun dari punggung Bleta Bora. Bleta Bora kembali bertransformasi ke bentuk manusia.


POFF...


"Hormat pada yang kakek arya! hormat pada ibunda! hormat pada yang mulia kakek prabu Angga! Hormat pada yang mulia nenek ratu Adiningrum!" Wijaya Kusuma sambil membungkuk hormat, di ikuti Bleta Bora membungkuk hormat.


"Anaku kamu kembali," Shintadewi dengan wajah penuh kerinduan lalu mencium kening Wijaya.


"Mari kita bicara di dalam," titah raja Angga.


Wijaya Kusuma di temani Bleta bora, Shintadewi, Ratu Adiningrum dan Raja Angga kembali memasuki aula istana.


"Semua prajurit bubar! kembali ke posisi masing-masing" teriak Arya.


"Sendiko gusti senopati Arya!" ucap serentak semua prajurit yang berada di halaman istana.


Arya Puntadewa pun menyusul masuk ke dalam aula istana Brabang Sari.


"Perkenalkan ini saudaraku Bleta Bora, saudaraku ini adalah siluman raja lebah!" Wijaya sambil menunjuk dengan jempol pada Bleta Bora.


Wijaya tidak mengatakan bahwa siluman ratu lebahlah yang telah meracuni Raja Angga dan Ratu Adiningrum, karena takut memperkeruh suasana.


"Hormat pada yang mulia prabu Angga dan Ratu Adiningrum!" Bleta Bora membungkuk hormat, ada rasa penyesalan di wajahnya karena ratunya telah meracuni mereka berdua waktu itu.


"Silahkan duduk!" titah Raja Angga.


"Begini! mohon maaf kakek raja ada 4 hal yang ingin aku sampaikan. Pertama kami sudah menumpas siluman jauhetu rota yang telah mencuri setiap musim panen ladang sawah yang siap panen, meskipun kami harus berperang dan kehilangan 8551 prajurit Maung Lodaya. Kedua aku telah menjadi lurai di desa Lembarawa meski harus adu tanding dengan paman Jatmiko dan berhasil mengalahkannya. Ketiga karena aku sedang mengawasi pembangunan desa Lembarawa dan adanya ancaman dari para bandit di sekitar Lembarawa aku meminta ujian kelulusan lebih awal dari perguruan kerajaan Brabang Sari, apapun syaratnya aku akan siap menerimanya!. Keempat aku ingin bertanya informasi tentang Empu Culuk dan Nyai Sindang Barang, apakah ada yang mengetahui?" Jelas Wijaya Kusuma sambil bertanya.


"Bagus sekali cucuku kamu hebat sekali bahkan kami pun tak mampu menumpas siluman itu, tapi kami turut berduka cita atas gugurnya prajurit Maung Lodaya. Sebagai penghormatan dan Jasa demi membela kerajaan, desa Lembarawa akan di ganti nama menjadi kadipaten Maung Bahari dan 100 tera sebagai hadiah!" puji Raja Angga.


"Terima kasih kakek raja!" Wijaya meninju telapak tangannya dan membungkuk hormat.


"Apa! kamu berhasil mengalahkan tua bangka gila itu?" Arya tersentak kaget seolah tak percaya. "Kamu memang cucu kakek yang luar biasa!" Puji Arya.

__ADS_1


"Tunggu pangeran! mohon maaf aturan perguruan harus belajar minimal 1 tahun dahulu, dan memiliki nilai perguruan yang baik, serta sudah di tahap ksatria baru bisa mengajukan ujian kelulusan lebih awal. Pangeran saja baru mendaftar dan belum mengikuti pembelajaran di perguruan, bagaimana mungkin bisa mengajukan kelulusan lebih awal," bantah salah satu baladika adilaga yang memimpin perguruan kerajaan Brabang sari.


"Lancang sekali kamu baladika adilaga Dorna! aku tak akan segan memenggal kepalamu!" teriak Shintadewi karena niat Wijaya Kusuma serasa di halangi oleh Dorna.


"Tenang ibu!" ucap Wijaya Kusuma menenangkan Shintadewi.


"Aku mengerti paman Dorna! tapi aku akan bertaruh dengan paman Dorna. Jika aku kalah maka aku akan melepaskan kebangsawananku sebagai pangeran dan pergi dari kerajaan Brabang Sari serta berhak atas kepemimpinan Wilayah Kadipaten Maung Bahari. Namun jika paman Dorna kalah, paman harus melepas jabatan baladika adilaga dan ikut dengan menjadi prajurit di kadipaten Maung Bahari! bagaimana paman setuju?" Wijaya menyeringai jahat dan menyodorkan tangan


"Baik aku menerimanya," Dorna menyeringai jahat dan menyambut tangan Wijaya untuk berjabat tangan sebagai tanda persetujuan.


"Cih, hanya seorang pangeran sampah mau mempermalukanku! tunggu 10.000 tahun baru kamu bisa menandingiku," batin Dorna meremehkan dengan wajah penuh kesombongan.


"Ujian akan di laksanakan esok hari, jangan sampai kau tidak datang pangeran!" ledek Dorna dengan menyeringai sinis. Dorna pun pamit undur diri kepada Raja Angga dan Ratu Adiningrum untuk menyiapkan Ujian kelulusan Wijaya.


"Ya," ucap Wijaya dengan santai.


"Anaku apakah kamu tidak berlebihan dengan hal itu?" tanya Shintadewi penuh Khawatir.


"Ya cucuku!" Arya juga khawatir.


"Ya cucuku Wijaya!" Raja Angga dan Ratu Adiningrum juga khawatir.


"Tenang saja ibunda, kakek arya, kakek raja dan nenek ratu! percaya saja padaku!" Wijaya penuh percaya diri sambil menunjuk dada bidangnya.


Waktu pun tak terasa matahari sudah tenggelam di ufuk barat, Wijaya dan Bleta Bora beristirahat di kamar milik Wijaya.


**Terima kasih para readers masih setia membaca Novel pertama author Ksatria langit nusantara.


mohon maaf jika tulisannya masih amburadul, masih terus memperbaiki.


Semoga para readers bisa menikmatinya.


Yuk nikmati membaca sambil minum kopi jeng gorengan singkong.


Mohon dukung author dengan memberikan like koment dan gift jika berkenan.

__ADS_1


Jika suka silahkan klik tombol favorit**.


__ADS_2